Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 83 : Madu Mongso


__ADS_3

Amarahku rasanya membuncah dan seperti hendak meledak. Napasku memburu serta jantungku berdetak dengan cepat. Tangan ini bergetar saat memegang topi itu. Wajah Bu Wati tidak kalah tegang dan keceriaan yang sempat ditunjukkan saat kedatanganku tadi lenyap berganti dengan muka yang pucat pasi.


"Jawab! Bu Wati kan yang semalam mau menghabisiku?" Aku kembali berteriak kepadanya yang hanya diam dan terpaku. "Wulan, letakkan keranjang buah itu! Aku tidak yakin buah itu aman jika kita konsumsi. Bisa jadi buah itu mengandung racun!"


Wulan segera meletakkan keranjang berisi buah segar itu ke lantai dan berjalan mendekatiku.


"Astaga, Mbak Hanna. Kenapa menuduh saya? Saya itu dari semalam tidur nyenyak. Lagi pula ngapain saya berniat buruk seperti itu?"


"La-lalu kenapa tadi malam Ibu bilang mereka gagal? Siapa mereka yang Bu Wati maksud? Apa ada hubungannya dengan tenggelamnya Hanna?" Wulan ikut mencecar Bu Wati yang diam seribu bahasa. Tidak membantah atau pun mengiyakan perkataan kami.


"Me-mereka yang gagal itu adalah tim sepak bola di kampung saya. Mereka gagal menang di babak final melawan kampung sebelah. Padahal satu orang pemain lawan terkena kartu merah. Masa sebelas orang kalah sama yang cuma sepuluh orang. Kan malu-maluin orang sekampung, Mbak."


Aku tidak percaya dengan ucapan wanita yang masih lajang, di usianya yang terbilang sangat matang itu. "Lalu, apa bisa Bu Wati tentang topi ini? Topi ini itu sama persis yang digunakan oleh penyerang misterius itu. Aku hapal betul itu!"


"Soal topi ini, ini itu saya beli baru dua hari lalu karena saya lihat di ponsel ada yang pasang iklan, katanya diskon lima puluh persen, harganya jadi dua puluhan ribu saja."


"Kamu pakai ini kan semalam?"


Wanita itu terus menggeleng, ia berdalih topi itu belum pernah dipakainya sama sekali. "Masa, Mbak. Saya pakai topi ini yang masih ada bandrolnya seperti itu."


Entahlah, meski tidak ada bukti yang menguatkan dugaanku tapi aku yang tadinya hendak menghapus nama Bu Wati dari daftar orang yang aku curigai sebagai penyerang itu, kini semuanya berubah nama Bu Wati justru menjadi orang pertama yang harus aku curigai dan pasti akan aku selidiki motifnya. Karena seingatku tidak pernah mempunyai masalah dengan wanita itu sebelumnya, bahkan aku juga tidak mengenalnya.


Ponselku berdering menandakan bahwa ada yang menghubungiku melalui panggilan video karena setiap notifikasi aku beri nada dering masing-masing berbeda satu dengan yang lainnya. Aku melihat layar ponselku yang menyala, tertulis nama Indah yang tengah menghubungiku.


Aku bergegas keluar dari kamar Bu Wati sembari menggenggam erat topi itu. Disambungan panggilan video kami, rupanya Indah hendak memberitahu bahwa dia beserta ayah dan ibunya dalam perjalanan menuju indekos berdarah untuk menjenguk keadaanku.


"Iya, iya. Hati-hati ya, Indah. Langsung naik ke kamar atas saja. Aku mau istirahat di kamar Wulan saja."


Setelah mengucapkan salam, telepon segera aku tutup karena aku harus menyelesaikan permasalahan dengan Bu Wati. Bagaimana pun caranya aku harus membuat dia mengakui perbuatannya yang jahat dan keterlaluan.


"Bu Wati tidak sedang berbohong kan padaku?"


"Demi Tuhan, Mbak. Saya tidak pernah menyerang Mbak Hanna. Saya ini sudah tua, tidak mungkin sanggup melawan Mbak Hanna yang masih muda dan tenaganya besar. Saya tidak bisa segesit kamu."


Aku menatap tajam wanita yang tengah memeras ujung bajunya yang bermotif bunga mawar merah. Aku melihat ujung matanya mulai berair. Ada sedikit rasa bersalah karena terlalu mudah menuduhnya hanya karena topi kepunyaan Bu Wati sama seperti yang dipakai penyerang itu. Namun, aku lupa siapa saja bisa memiliki topi seperti itu. Toh, topi seperti itu pasti ada banyak sekali yang punya ini tapi bukan yang dari brand terkenal yang hanya membuat satu saja di muka bumi, sedangkan topi seperti ini bisa sampai jutaan yang diproduksi.


"Astaghfirullah!" ucapku lirih untuk meminta ampunan karena telah menuduh orang sembarangan. Aku memeluk tubuh yang tengah terduduk lemah itu dengan penuh rasa bersalah karena selain menuduh tanpa bukti yang jelas, aku juga sudah tidak sopan dengan bicara dengan nada yang tinggi pada Bu Wati yang usianya lebih dari dua kali lipat usiaku.


"Mbak, maafkan Hanna ya. Hanna harusnya tidak menuduh sembarangan hanya karena sebuah topi yang sama."


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya paham dengan kondisi emosi Mbak Hanna pasti sedang labil apalagi topi ini mengingatkan Mbak Hanna dengan pelaku biadabb itu. Dia berusaha menghabisi Mbak Hanna dengan pisau tajam serta mengikat tubuhmu dengan kuat sehingga menyatu dengan brankar. Itu pasti membuat Mbak Hanna ketakutan pada semua orang kan? Hanya saja saya tidak menyangka bahwa tuduhan itu akan langsung dialamatkan kepada saya. Jujur itu menyakitkan sekali rasanya."


Berkali-kali aku meminta maaf padanya atas kebodohanku yang cepat sekali tersulut emosi sampai-sampai menuduhnya berbuat.


"Mbak, buah ini pemberian dari Ndoro Kakung, tidak mungkin ada apa-apanya, apa lagi racun atau hal-hal yang berbahaya. Kalau tidak percaya biar saya makan duluan. Kalau ada racunnya biar saja saya yang mati duluan". Wanita itu meraih apel merah yang aku tapi aku tepis tangannya. "Hanna percaya kok sama Bu Wati."


Aku terperanjat ketika Wulan tiba-tiba saja menyela pembicaraanku dengan Bu Wati.


"Makan saja, Bu. Aku pun penasaran dengan buah yang Ibu berikan tadi. Namun, dengan satu syarat, aku yang akan memilihnya untukmu."


Jika tadi aku yang terlihat sinis kepada Bu Wati, kali ini giliran Wulan yang terus saja menatap tajam ke arah wanita yang tadinya aku peluk tubuh wanita yang rambutnya terdapat banyak uban. Bergantian Wulan menatap Bu Wati kemudian berpaling ke arah keranjang buah itu.

__ADS_1


"Bu Wati, tolong makan anggur hijau itu."


wanita itu hanya mengangguk perlahan kemudian membuka plastik bening yang menutupi buah yang sudah terangkai dengan cantik itu dengan cepat Bu Wati memasukkan beberapa butir anggur ke dalam mulutnya sembari mengunyah wanita itu berkata Dia pasti baik-baik saja karena memang tidak ada racun yang perlu dikuatirkan.


Aku semakin yakin tuduhanku pada wanita itu salah besar. Aku segera meminta maaf pada Bu Wati kemudian menyeret Wulan untuk naik ke atas.


"Lan, aku sudah salah duga dengan Bu Wati. Dia tidak mungkin terlibat dalam penyeranganku kemarin." Aku berucap sembari merebahkan diri ke atas kasur tipis ini.


"Aku justru kebalikannya. Aku justru semakin yakin bahwa dia ada hubungannya dengan penyeranganmu. Dia tau detail penyerangan padahal kita belum sempat menjabarkan kronologi perkaranya. Coba deh kamu pikirin baik-baik, pasti kamu setuju denganku." Dengan suara pelan Wulan mengemukakan pendapatnya yang cukup masuk di akal itu.


Ucapan Wulan membuatku terbangun lagi. Kembali aku paksa otakku untuk bekerja. Memang janggal sih, Bu Wati tau setiap peristiwa itu dari mana, kalau bukan dia adalah pelakunya. Aku bergidik ngeri jika benar Bu Wati pelakunya, itu artinya di indekos pun aku tidak akan aman apalagi nanti aku akan sendirian di kamar selama Wulan pergi bekerja.


"Sudah, tidak usah dipikir dulu. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Biar tenagamu pulih bener."


Baru saja aku pejamkan mata, aku mendengar suara pintu diketuk. Wulan yang bermain ponsel segera bangkit untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum!" sapa tamuku yang baru saja datang.


"Waalaikumsalam!"


Aku tersenyum lebar ketika yang datang tidak hanya satu saja tapi langsung tiga orang, yaitu Indah dan kedua orang tuanya yang juga menyayangiku sebagai putri mereka.


"Nduk, apa kamu sudah baikan? Apa yang terjadi sebenarnya, sampai-sampai kamu bisa seperti ini. Apa tidak lebih baik kamu kembali tinggal ke rumah kami. Setidaknya di sana tidak semenyeramkan di sini."


Bu Yuni mengusap rambutku perlahan serta membujuk agar kembali ke rumah mereka. Aku tetap bersikukuh tinggal di indekos berdarah yang menyeramkan ini. Selain karena tidak mau merepotkan orang lain, aku juga ingin bisa saling menjaga dengan Wulan.


"Han, malam ini saja kamu tinggal sama keluarganya Indah. Biar di sana si penyerang tidak berani mengganggumu." Wulan pun melakukan hal yang serupa yaitu tinggal di rumah Indah.


Aku menggeleng kuat karena keinginanku tetap kuat yaitu tinggal di sini saja. "Tidak, Lan. Nanti kalau kamu berangkat, kamar ini bakal aku kunci rapat-rapat agar tidak ada yang datang mengganggu."


"Siap, Bos." Aku meletakkan telapak tanganku di pelipis, sama seperti posisi hormat saat upacara.


Tawa berderai dari setiap orang yang ada di kamar itu setelah tawa mereda, Bu Yuni mengajak kami semua untuk menikmati makanan yang beliau bawa bersama-sama. Mataku tertuju pada sesuatu yang dibungkus dengan warna-warni yang cantik dan dibentuk seperti permen. Namun saat aku pegang, isinya tidak keras bahkan cenderung lembek.


"Bu, ini apa ya?" Aku menunjukkan pada Bu Yuni, makanan yang mirip permen itu.


"Oh, itu namanya madu mongso, Nduk."


"Apa itu, Bu? Sepertinya Hanna pernah dengar."


"Mesti pernah dengar. Ini itu makanan khas lebaran yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya. Madu mongso ini terbuat dari tape ketan hitam yang dicampur dengan gula dan santan kental kemudian dibungkus kecil-kecil.


Mendengar resepnya saja sudah terbayang bagaimana manisnya tape ketan hitam masih ditambah gula dan santan, sudah pasti rasanya sangat manis. Benar kata Bu Yuni, enak sekali dan bikin ketagihan.


Kedua orang tua Indah membawakanku berbagai macam makanan agar aku cepat sehat katanya. Mereka mendahului pulang karena nenek sendirian di rumah. Sementara Indah akan berangkat kerja bersama Wulan dan mengambilkan Wulan motornya yang semalam aku tinggal di pabrik. Tidak mungkin Wulan masuk ke area pabrik karena hanya karyawan yang bekerja di sana yang diijinkan masuk. Itu pun harus menggunakan kartu identitas karyawan.


"Ingat, Han. Kunci rapat-rapat pintunya. Jangan keluar dan jangan bukakan pintu pada siapa pun! Siapa saja bisa menjadi penyerangmu," ingat Wulan sebelum berangkat kerja.


"Iya Juragan, saya akan menurut. Akan hamba ingat-ingat senantiasa titah dari kamu." Indah tertawa melihatku yang berbicara seperti di film-film kolosal.


Kamar indekos begitu sunyi selepas kepergian kedua sahabatku itu. Aku memilih kembali merebahkan tubuhku yang masih pegal-pegal dan bermain game di ponselku. Entah berapa lama aku larut dalam permainan di ponselku hingga aku dengar suara ketukan pintu cukup nyaring.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Mbak Hanna!"


I-itu suara Bu Wati, bergetar hati ini karena ketakutan. Jangan-jangan benar prediksi Wulan, dialah penyerang misterius itu. Suara panggilan dan ketukan terdengar kembali. Aku mengintip dari tirai jendela. Mataku terbelalak rupanya wanita itu tidak sendiri tapi bersama pria pemiilik indekos ini. Mau apa mereka? Apa mereka bekerja sama akan menyelakaiku? Ah, lebih baik untuk berjaga-jaga aku mengantongi bubuk cabe yang biasa aku gunakan saat makan mie instan


"Assalamualaikum!"


Aku berusaha setenang mungkin membuka pintu kamarku. Wa-waalaikumsalam," jawabku dengan suara bergetar.


Pria yang kemarin menatapku dengan misterius, kali ini terlihat lebih ramah. "Maaf ya, ganggu istirahatnya ya?"


"Ti-tidak, Pak. Ada apa ya? Saya kan sudah bayar indekos lunas untuk satu tahun ke depan?"


Pria yang sepertinya usianya empat puluhan tahun itu tertawa renyah, tawanya membuatku teringat pada Ridwan. Cara tertawanya bahkan kerutan di hidungnya mirip sekali dengan Ridwan. Bahkan lesung pipit yang hanya ada di pipi kirinya itu persis dengan kekasihku.


"Kamu tenang saja. Saya ke sini bukan untuk menagih uang indekos kamu. Namun, saya ingin menjenguk kamu. Kata Wati kamu habis kena musibah?"


"Iya, Pak."


Setelah cukup lama berbincang rupanya si pemilik indekos ini baik dan jauh dari kata angker seperti pertama kali aku melihatnya kemarin. Dia adalah pria yang humoris dan bisa mencairkan suasana yang tadinya kaku. Dia pulang setelah menerima panggilan dari seseorang.


"Han, itu kue bika ambonnya dihabiskan ya," ujarnya sebelum beranjak dari kamarku.


"Terima kasih, Pak."


"Jangan panggil saya dengan sebutan bapak, lupa ya?"


"Iya, Om." Pria itu mengacungkan ibu jarinya lalu kemudian pergi diekori oleh Bu Wati yang berjalan di belakangnya.


Senja telah berlalu, aku menjalankan ibadahku dengan khusyuk kali ini, meminta Sang Pencipta selalu melindungiku dalam setiap keadaan.


Aku melirik jam yang ada di layar ponselku. Baru jam delapan tapi rasanya mata ini berat sekali. Mungkin ini efek obat yang aku minum. Aku bergegas mengunci pintu dan mencabut anak kuncinya seperti biasanya dan menaruhnya di atas lemari.


Saat tidurku mulai pulas, aku mendengar suara pintu yang terbuka. Mataku mengerjap saat seseorang berdiri di depan pintu. "Wu-wulan, kamu sudah pulang?"


Sosok yang aku kira Wulan itu diam saja dan mengunci pintu kembali. Dengan cepat dia mendekat dan membekap mulutku. Mataku terbelalak, dia bukan Wulan tapi dia adalah penyerang misterius itu.


"Kamu ingin tau siapa aku bukan?" bisiknya dengan suara parau. "Diam dan nikmati saja pertunjukannya."


Entah sebenarnya dia itu punya kekuatan apa, aku tiba-tiba saja tidak bisa bergerak dan berbicara. Tanpa perlawanan dia mengikat kakiku dan tanganku juga membekap mulutku.


"Lihat baik-baik siapa aku? Bisa jadi akulah orang terakhir yang akan kamu lihat."


Orang itu perlahan membuka topinya. Rambut panjangnya tergerai. Dia pun membuka masker hitamnya kemudian menyeringai lebar.


"Kamu mengenaliku bukan, Nona manis?"


Bangsattt, rupanya dugaanku benar. Penyerang misterius itu adalah Bu Wati. Kenapa dia menaruh dendam padaku?


"Kamu pasti saat ini bertanya apa dosamu padaku sampai aku berusaha menghabisimu?" Wanita yang dipenuhi uban itu tersenyum sinis.


"Karenamu, Ndoro Kakung menyebut nama wanita yang sangat aku benci. Karenamu jalanku akan semakin terjal untuk mendapatkan hatinya. Padahal sudah puluhan tahun aku yang ada di sampingnya, memujanya. Namun, orang lain yang selalu mendapatkan cintanya!"

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2