
Sosok misterius itu terus berteriak sembari berjalan mundur. Ketika ia berhasil menggapai pintu dan membukanya, segera dia berlari tenggang langgang. Pintu kembali tertutup. Hantu tanpa kepala itu berbalik arah. Berjalan ke arahku, seperti biasa hantu itu menenteng kepalanya yang hampir membusuk. Dia berjalan sembari menyanyikan senandung tanpa syair.
Dia mendekat dan terus mendekat, tangan kanannya membelai rambutku hingga belatung ada yang berguguran mengenai tubuhku. Ada rasa takut dan juga geli tapi setidaknya aku sedikit lega karena terbebas dari ancaman pembunuhan itu.
Aku berusaha mengucapkan terima kasih meski itu hanya di dalam hati.
Dia hanya menyeringai kemudian berlalu dan menghilang di balik dinding bangsal rumah sakit. Dia memang menyeramkan tapi setiap kali dia ada akhir-akhir ini merasa tenang. Dari tragedi Wulan, dia pula yang menemaniku untuk menyelamatkan Intan meski gagal, dan sekarang pembunuh misterius itu.
Tidak berapa lama, Ridwan masuk dengan menenteng beberapa kantong plastik. "Astaga! Kamu kenapa, Yang?"
Pria itu begitu terkejut melihat kondisiku yang diikat di brankar. "Yang, kenapa? Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Dia nampak begitu kebingungan dengan keadaanku.
"Tunggu sebentar ya. Aku akan minta pertolongan pada petugas." Ridwan bergegas berlari keluar sembari berteriak-teriak memanggil suster ataupun petugas keamanan. Tidak lama Ridwan masuk bersama tiga orang perawat yang terlihat bangun tidur. Begitu pula penjaga keamanan tampak menggaruk kepala.
"Lihat! Bagaimana bisa kecerobohan ini terjadi pada pasien. Ini rumah sakit yang tidak terlalu besar lo. Kenapa tidak ada pengamanan yang ketat. Bagaimana orang luar bisa masuk di saat bukan jam besuk pasien?" Ridwan nampak emosi dan memarahi petugas yang ada di sana.
"Ma-maaf atas keteledoran kami, Pak. Kami akan bantu melepaskan pasien dan segera memeriksa keadaan pasien." Perlahan para petugas rumah sakit melepaskan ikatan demi ikatan yang menjeratku. Lakban yang membungkamku juga telah dilepas. Selang infus juga sudah dibenarkan posisinya.
Seorang petugas keamanan baru saja datang setelah mengecek kamera pengintai yang tersebar di beberapa sudut. Tidak ada orang yang datang ke rumah sakit semenjak dua jam belas malam.
"Sekali lagi, kami minta maaf atas insiden ini, Pak, Bu."
Ridwan sepertinya belum puas menumpahkan amarahnya, bahkan dia mengancam akan melaporkan insiden ini ke pihak manajemen rumah sakit dan juga pihak kepolisian. Ada benarnya apa yang Ridwan lakukan, tindakan orang misterius itu termasuk tindak kriminalitas karena sudah melakukan upaya pembunuhan terhadapku. Namun, melihat wajah-wajah perawat yang memohon untuk tidak dibesarkan kasus ini, membuatku jatuh iba pada mereka. Bagaimana pun kejahatan selalu bisa mengambil celah dari kelelahan manusia.
"Yang, sudah. Aku tidak apa-apa. Kasihan mereka kalau mereka kita bawa ini ke atas. Bisa saja mereka dipecat. Kasihan kan, kalau mereka anak orang kaya mah terserah tapi bagaimana kalo sama seperti mereka? Atau malah lebih parah."
"Ta-tapi, Yang. Ini itu menyangkut keselamatan nyawa kamu lo!"
"Sudah, yang penting aku baik-baik saja."
Dengan menunduk mereka meninggalkan bangsalku setelah tidak terhitung lagi mereka terus meminta maaf. "Yang, kamu kenapa sih bebaskan mereka? Ini itu fatal lo."
"Sudah, tidak perlu dibahas. Orang yang ingin mencelakai aku yang jelas punya dendam padaku. Hanya saja aku tidak tau siapa dan kenapa. Seingatku selama tinggal di sini tidak punya masalah, kecuali Intan."
"Apa mungkin Intan?"
"Rasanya tidak mungkin dia, karena setahuku dia sudah dibawa ke alam penari itu. Lagi pula jika tadi itu Intan, kenapa tubuhnya tidak berbau busuk?"
"Lalu siapa?"
Banyak pertanyaan yang terus terlintas dalam benakku, memikirkan kira-kira siapa yang sangat ingin melenyapkanku. Apakah si pemilik indekos? Sepertinya tidak, dia itu bertubuh tidak terlalu tinggi hampir sama denganku. Bu Wati? Tidak mungkin karena wanita itu tidak ada masalah denganku selama ini. t
Tenaganya juga tidak akan sekuat tadi.
"Ya sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang kamu makan yuk. Biar besok kita dokter visit lagi, kamu sudah fit dan boleh pulang."
Ridwan membuka bungkusan kantong plastik yang tadi diletakkan begitu saja di atas lemari kecil. Rupanya isinya nasi goreng dengan toping hati ampela ayam yang melimpah dan telur mata sapi.
"Aaak, buka mulutnya. Aku suapin kamu ya. Tapi maaf ya, nasi gorengnya sudah dingin."
__ADS_1
Ridwan menyuapiku dengan lembut. Aku melirik jam dinding yang ada menempel di atas pintu. Ini hampir jam dua malam. Andai saja ibu masih ada bersamaku, pasti dia akan melarangku makan jam segini. Aku ingat wanita yang begitu aku cintai itu mengomeli bapak yang menyupaiku dengan martabak di tengah malam, saat aku sedang belajar untuk persiapan ujian kelulusan. Kedua orang tuaku berdebat hanya karena sepotong martabak. Ibu tidak ingin tubuhku menjadi gemuk. Sementara ayah adalah orang yang sangat ingin aku bertubuh gemuk. Dua orang pribadi yang berbeda tapi disatukan dalam sebuah hubungan manis bernama cinta.
"Kenapa menangis? Kamu terharu ya, disuapi sama orang terganteng sepabrik?" goda Ridwan sembari mengerjapkan matanya genit.
"Inget orang tuaku. Kalau ibuku tau makan jam segini pasti akan menyanyikanku dari pagi ketemu pagi lagi."
Ridwan tersenyum lebar. "Semoga saja kelak aku bisa mendengar omelan ibuku sepertimu."
"Bagaimana perkembangan ibumu? Maaf ya, gara-gara aku konsentrasimu harus terbelah dua."
"Ibuku sudah mulai tenang sekarang, sudah jarang mengamuk lagi. Dia mulai bisa diajak beraktivitas misal menyiram pohon."
"Syukurlah, semoga bisa semakin membaik seiring waktu."
"Amin. Rasanya tidak sabar mengenalkanmu pada ibuku nanti. Begitu dia sembuh, dia akan mendapat menantu yang baik dan cantik seperti dirimu."
Ridwan kembali menyuapiku sembari bercerita di masa-masa perjuangannya menyelesaikan pendidikannya. Bekerja sana-sini demi bisa mendapatkan uang jajan. Dia tidak pernah ingin menyusahkan kakek dan neneknya yang sudah cukup terbebani dengan keadaan ibunya. Dari semua cerita ini membuatku semakin yakin untuk menjatuhkan pilihan padanya sebagai teman hidupku nanti. Aku ingin hubunganku dengan Ridwan seperti bapak dan ibuku yang hanya dipisahkan oleh maut.
"Kembalilah tidur. Aku akan menjagamu." Pria itu menyelimuti tubuhku kemudian mengusap rambutku lembut. Genggaman tangannya yang hangat membuatku nyaman dan tertidur dengan pulas."
Pagi hari saat aku terbangun, Ridwan sudah tidak ada di sampingku. Ah, mungkin sedang ke kamar mandi apalagi aku dengar ada suara air mengalir dari dalam sana. Ketika pintu kamar mandi terbuka, nyatanya yang keluar bukanlah pria jangkung itu tapi Wulan.
"Wah, putri tidur sudah bangun?" Wanita itu mengembangkan senyumnya begitu cantik meski beberapa luka di wajahnya belum kering benar.
"Pagi, Lan. Kapan kamu datang? Kenapa aku tidak mendengarnya? Lalu di mana..."
Wulan berjalan mendekatiku sembari celingukan ke kanan dan ke kiri. "Han, memang benar ya, semalam ada yang mau celakain kamu?"
"Iya, untungnya ada si hantu kepala itu yang ngusir."
"Jangan-jangan hantu tanpa kepala itu sebenarnya itu lo, kaya penjagamu."
"Nggak lah. Kalau dia penjagaku kenapa baru munculnya sekarang. Kenapa pas di Ungaran aku tidak pernah mengalami kejadian mengerikan berturut-turut seperti ini ya, Lan? Apa lebih baik aku pulang saja ke rumah Bapak? Soalnya di sana itu hawanya beda, lebih adem dan tidak ada hal gaib yang mengusik."
Wulan memintaku untuk memikirkan baik-baik keputusanku. "Han, kira-kira orang misterius yang nyerang kamu siapa ya? Kamu memang tidak punya bayangan gitu kalau dilihat dari bentukan orangnya?"
Aku mencoba mengingat ciri-ciri orang itu. Aku tidak tau dia itu perempuan atau laki-laki karena dia mengenakan baju yang kedodoran dan celana yang besar pula. Wajahnya tertutup masker hitam sementara rambutnya entah cepak atau panjang karena tertutup oleh topi.
"Tinggi badannya seberapa? Se Ridwan atau se siapa?"
"Enggak, dia mungkin sama tingginya kaya aku. Eh pendek sedikit, mungkin sama sepertimu, Lan." Aku membekap mulutku. "Jangan-jangan pelakunya itu kamu, Lan? Hii, serem!"
"Mulutmu!" Wulan memukulku dengan botol air mineral yang sudah kosong. "Kalau bicara asal jeplak. Kalau aku pelakunya, sudah dari dulu aku gigit kamu!"
Aku tertawa melihat ekspresi wajah Wulan yang terlihat kesal denganku. "Uluh... Aku cuma bercanda. Lagi pula mana mungkin sahabatku yang paling cantik dan baik ini berubah menjadi monster seperti itu."
Ketika aku tengah tertawa terbahak, tiba-tiba saja wajah Wulan mendekat, matanya menatapku tajam dan ekspresi wajahnya menunjukkan kebengisan.
"Kalau memang aku adalah orang yang akan menghabisimu, kamu bisa apa?"
__ADS_1
Aku mendorong tubuhnya pelan, meski aku tau saat ini dia tengah menggodaku tapi tetap saja mengerikan jika membayangkan orang misterius itu tadi adalah Wulan.
"Lah, kenapa mukamu jadi pucat begitu, Hanna? Aduh, maaf ya. Aku cuma bercanda kok. Mana mungkin juga aku yang menyakitimu. Aku itu sudah menganggapmu sebagai saudariku sendiri. Kamu ada di saat terberatku."
"A-aku tau kok, hanya saja aku ingat orang misterius yang begitu menakutkan itu."
"Maaf ya. Oh iya, kamu mau mandi dulu tidak? Tadi kata perawat dokter akan visit sekitar jam delapan. Mending kamu siap-siap dulu."
Aku menuruti ucapan Wulan untuk mandi, aku pun tidak tahan dengan bau lumpur yang masih menempel di badanku akibat insiden yang bisa merenggut nyawaku kemarin. Usai mandi, badanku lebih terasa segar dan tidak lengket. Wulan menyiapkan sarapan yang sudah diantar oleh pihak rumah sakit.
"Lan, apa kita tidak bisa pesan nasi rawon atau nasi rendang gitu, biar ada rasanya. Makanan di rumah sakit saja hambar," keluhku saat menyantap makananku dengan sedikit rasa malas. Lidahku yang terbiasa masakan yang banyak bumbu terasa asing saat memakannya.
"Namanya juga rumah sakit mesti makanannya hambar tapi sehat. Kalau makan enak ya di restoran, sayang."
Memang benar kata Wulan, lidahku harus bisa berkompromi dengan masakan rumah sakit setidaknya untuk sarapan kali ini saja. Semoga saja saat kunjungan dokter nanti aku diperbolehkan pulang.
Nasib baik menaungiku, dokter mengijinkan aku untuk pulang hari ini juga karena semua hasil pemeriksaan dalam keadaan baik-baik saja. Dokter hanya berpesan seharian ini aku harus istirahat dulu. Aku segera menghubungi Ridwan untuk memberitahu kabar baik ini. Tadi pagi aku sempat membaca pesannya agar memberitahu hasil kunjungan dokter.
Aku dibantu oleh Wulan bersiap untuk pulang sembari menunggu proses administrasi dari pihak rumah sakit selesai. Ridwan pun sudah datang ke rumah sakit untuk menjemputku.
Sebuah pesan masuk ke ponselku, rupanya Indah bertanya keadaanku dan aku berada di ruang mana karena dia beserta orang tuanya akan berkunjung menjengukku. Aku segera membalas pesannya bahwa aku akan segera pulang Jadi tidak perlu repot-repot ke rumah sakit.
Saat proses administrasi sudah selesai, aku, Wulan dan Ridwan bergegas pulang ke Indekosku.
"Yang, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya. Oh ya, karena sore ini semua kerja, kamu di dalam kamar saja. Nanti aku tidak bisa mengantar kalian ke kamar karena aku ada harus mengantar ibu kontrol rutin."
"Makasih ya, kamu begitu baik. Salam ya buat ibumu. Semoga segera pulih."
"Amin."
Tidak lama, tibalah kami di depan indekos kami yang selalu memberi kesan angker bagi yang melihatnya. Bu Wati menyambut kedatangan kami sembari berlari kecil.
"Syukurlah, Mbak Hanna sudah pulang. Sini, Mbak, biar saja saja yang bawa." Wanita paruh baya itu mengambil tas dari tanganku.
Melihat kebaikan hati yang selalu ditunjukkan padaku, membuatku semakin yakin untuk mencoret nama Bu Wati dari daftar orang-orang yang aku curigai sebagai penyerang misterius kemarin malam.
Saat ada di lantai dua, Bu Wati mengajak kami ke kamarnya sebentar untuk mengambil sesuatu. Aku dan Wulan memilih berdiri di depan pintu.
"Mbak, tadi Ndoro Kakung datang ke mari karena beliau mendengar kamu masuk rumah sakit. Sebenarnya beliau ingin membesuk ke rumah sakit tapi karena beliau sibuk, cuma bisa nitip ini buat Mbak Hanna."
Aku dan Wulan saling pandang, perasaan kemarin saat pertemuan akan berakhir, dia menimbulkan kesan angker di mata kami. Namun, sekarang mengirim buah-buahan yang banyak. Belum juga kebingungan itu usai, tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu yang tergeletak di kasurnya.
Aku segera menerobos masuk ke dalam mengambil benda itu. Benar saja, ini topi yang sama dengan si penyerang misterius itu.
"Bu Wati kan yang mau nyerang Hanna?"
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1