Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 72: Terjebak di Kampung Gaib Lagi


__ADS_3

Mulut hantu tanpa kepala itu terus meneteskan air liur yang kehitaman dan beberapa belatung terus berjatuhan seolah tidak ada habisnya. "Ikutlah denganku, akan aku tunjukkan padamu." Sebuah kata itu mengerikan tapi juga punya kekuatan hipnotis yang kuat. Aku terus berjalan mengikutinya tanpa memedulikan teriakan-teriakan orang-orang. Bahkan setiap ada tangan yang berusaha menghentikan pun, dengan mudah aku singkirkan. Aku terus berjalan mengikuti hantu tanpa kepala itu pergi.


Langkahku berhenti bersamaan dengan hilangnya hantu tanpa kepala itu di depan sebuah gapura besar. Tulisan pada gapura itu pun ditulis dengan aksara Jawa yang memudar. Aku mencoba menggali ingatanku karena sepertinya aku pernah kemari sebelumnya.


Belum juga mengingat, aku terperanjat dengan suara jeritan yang teramat keras serta melengking dari dalam sana. Telingaku sampai berdenging mendengarnya


Saat suara itu bergema, aku melihat wanita tua berkebaya cokelat nampak berdiri di dekat gapura. Wajah wanita itu pun seperti tidak asing.


"Masuklah, Nduk cah ayu. Jangan takut, kami akan menjagamu. Kamu datang dengan keadaan sehat jiwa dan raga, maka kamu pulang dengan keadaan yang sama."


Saat mendengar suaranya yang bersahaja, aku baru mengingatnya. Dia adalah simbok, penjaga desa gaib yang keramat karena banyaknya makhluk tidak kasat mata di sini.


"Nduk Hanna, ke marilah!" Tangan yang penuh keriput itu melambai ke arahku. Hatiku sebenarnya berkata, apa sebaiknya pulang saja. Namun, saat aku menoleh ke belakang rupanya perkampungan yang aku lalui tadi sudah berubah menjadi hutan belantara. Terpaksa aku menyeret langkahku untuk memasuki gapura itu.


Simbok berjalan mendahuluiku masuk ke dalam kampung gaib yang begitu gelap. Apa karena ini dunia yang lain dari duniaku, wanita serenta simbok bisa gesit sekali melangkah, sampai-sampai aku kewalahan berjalan di belakangnya. Terkadang aku harus berlari agar bisa menyamakan langkah dengan simbok. Dari kejauhan bisa aku lihat rumah dengan dua obor yang menjadi penerang rumah ini.


"Duduklah dulu sejenak, setelah itu akan aku antar keliling kampung ini."


"Terima kasih," jawabku dengan gemetar.


"Jangan gemetar, kamu harus melangkah dengan kuat!"


Aku hanya mengangguk dan menatap langit-langit rumah ini yang tidak sekotor dengan saat pertama kali aku datang. Rumah yang bahkan aku tau wujudnya saat di dunia nyata itu, nyatanya membuatku merasa lebih aman ketimbang berkeliaran di luar rumah seperti saat aku terjebak di sini untuk kedua kalinya dan melihat Intan dicambuk karena berhenti menari.


"Nduk, minumlah ini!"


Ingin rasanya aku menolaknya. Makanan dari dunia lain ini, tidak bisa aku tebak. Dulu ketika aku makan di angkringan tidak kasat mata yang aku kira nasi dan sayur-mayur, nyatanya hanyalah tanah yang ditaburi dedaunan kering juga bunga kamboja. Sedangkan minuman ini, aku tidak tau isinya apa.


"Jangan takut. Ini air putih biasa, diambilnya juga dari sendang yang ada di duniamu. Ini akan menjagamu untuk bisa tetap hidup selama di sini."


Air dari sendang langsung, artinya air ini tidak direbus dulu. Bagaimana kalau aku sakit perut karena ada kuman yang ada di air ini.


"Cepat diminum! Kalau kamu tidak mau minum, kamu akan terus terjebak di sini dan tidak akan pernah kembali ke duniamu untuk selamanya!"


Hardikan dari simbok membuatku segera menenggak isi dalam gelas dari bambu itu. Rasa air itu tawar sama seperti saat aku meminum air putih biasa. Namun, setelah meminumnya tenagaku seolah pulih kembali.


"Bagaimana? Sudah enak kan badannya?"


"Iya, Mbok. Sudah segar juga!"


Wanita renta itu duduk di sampingku sembari tersenyum. "Nduk, sekarang kamu keluarlah dan temui temanmu. Ajak dia pulang tapi jika di pinggangnya sudah terlilit sampur atau selendang yang biasa digunakan untuk menari, maka jangan kamu tegur. Pergilah segera darinya."


"Memangnya kenapa, Mbok, kalau dia sudah mengenakan sampur?"

__ADS_1


"Artinya temanmu sudah mati dan sudah menjadi budak sang penari, sementara raganya tetap akan di dunia ini. Dia tidak akan ditemukan di duniamu, seolah hilang ditelan bumi."


"Berarti bila aku berhasil mengajak Intan pulang, dia akan tetap hidup ya, Mbok?"


Wanita itu bukannya menjawabku malah menatap langit-langit rumahnya. "Tidak, jiwanya tetap akan di sini karena bagaimana pun dia sudah terikat perjanjian dengan sang penari, maka tetap saja dia akan menjadi budak di sini. Jika dia mau kembali, maka sesampai di duniamu dia hanya punya waktu beberapa menit, sebelum akhirnya mati. Paling tidak jasadnya akan dikembalikan ke tanah dengan layak."


Meski berat, aku harus memikul tanggung jawab ini yaitu harus mencari dan menyelamatkan raga Intan, ya hanya raganya saja. Simbok mengantarkanku ke jalan setapak yang penuh bebatuan.


"Jalan saja mengikuti jalanan ini. Nanti kamu akan bertemu dengan mereka. Pesanku, jika ada yang mengajakmu masuk ke rumah, jangan pernah mau sekalipun itu aku. Ingat! Kamu hanya boleh masuk di rumahku. Satu-satunya rumah yang mempunyai dua obor. Semegah apapun atau seterang apapun rumah itu nantinya, jika hanya terpasang satu obor maka jangan masuk ke sana."


"Apa akibatnya jika aku masuk ke rumah itu, Mbok?"


"Kamu akan terjebak di rumah itu selamanya. Jangan pula kamu makan atau minum meski itu hanya sebiji beras atau setetes air. Jika kamu sudah menyelesaikan tujuanmu entah itu berhasil atau tidak, berbaliklah lalu ambil jalan sebelah kanan, maka kamu akan temukan jalan keluar. Namun, jika memilih jalan sebelah kirimu, kamu akan semakin jatuh ke dalam kampung ini."


Aku terperangah mendengar aturan-aturan yang dijabarkan simbok. Terdengar sederhana tapi jika salah mengambil keputusan, maka akibatnya akan sangat fatal. Harus aku ingat baik-baik, setiap aturan yang diucapkan simbok.


"Aku tidak bisa mengantarmu sampai di sana. Nanti kalau kamu kesulitan, ada dia yang akan membantumu."


"Di-dia? Dia siapa, Mbok?" Mataku menelisik kampung ini, begitu senyap dan tidak ada seorang pun terlihat.


"Tidak perlu kamu mencarinya. Dia ada di sekitarmu dan terus mengawasimu."


Di dekat batu besar tempat pertama kali aku bertemu dengannya, simbok meninggalkanku agar aku bisa melanjutkan misi pencarianku. Jika boleh memilih, lebih baik aku pulang dan membiarkan Intan terjebak di sini. Apalagi mengingat baru saja nyawaku hendak melayang karena ulahnya.


Dengan langkah gontai disertai hati yang penuh ketakutan, aku menyusuri jalan setapak dengan bebatuan yang cukup tajam ini. Kakiku berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh simbok. Aku mengamati kampung tidak kasat mata ini dengan teliti, sunyi tanpa ada suara sedikitpun.


"Hanna, kamu sudah pulang, Nduk? Cepat masuk dan cuci tangan, habis itu makan. Ibu sudah goreng lele sama sambal terasi."


"I-ibu," panggilku dan berlari ke arah wanita yang sangat mirip dengan ibuku, bahkan daster yang dikenakannya sama persis yang sering dipakai ibuku sebelum meninggal. Langkahku terhenti ketika menyadari hal itu. Seketika aku teringat simbo, bahwa jangan pernah masuk ke rumah siapapun kecuali rumahnya yang diterangi oleh dua obor. Aku melirik obor yang tepat di belakang wanita yang mirip sekali dengan ibuku, hanya ada satu obor. Bisa jadi dia adalah penghuni kampung ini yang menyerupai ibuku.


Melihat langkahku yang terhenti sosok yang menyerupai ibuku itu melambaikan tangannya. "Nduk, Han. Kenapa berdiri saja di situ? Masuklah dan makan. Perutmu pasti keroncongan kan? Ibu mau menyelesaikan menyiram pohon ini."


Pohon mawar merah adalah tanaman kesayangan ibu. Aku ingat betul di hari keempat puluh Ibu berpulang, mawar merah itu pun layu dan perlahan mati. Semua orang abai padanya karena masih dalam keadaan berduka.


"Nduk, cepat masuk. Setelah itu makan, keburu nasinya dingin. Kan kamu sukanya nasi yang panas dan masih mengepulkan asap, kan?"


Ingin rasanya aku memeluknya dan mengobati rasa rinduku padanya. Tapi aku sadar, semua yang aku lihat ini hanyalah sebuah tipuan dari bangsa tidak kasat mata. Belum tentu saat aku masuk nanti suasana rumah sama dengan rumahku di Ungaran sana. Mungkin sebenarnya rumah itu begitu mengerikan.


Aku memilih berbalik arah dan berjalan menuju tujuan keberadaanku di sini. Aku berusaha menghiraukan panggilan-panggilan yang suaranya mirip sekali dengan mendiang ibuku itu. Aku terus bergumam bahwa dia bukan ibuku, agar aku tidak goyah dan kembali ke rumah itu. Entah apa yang akan aku temui jika aku terjebak di sana.


Langkahku terus maju sampai suara panggilan itu menghilang. Karena penasaran, aku menoleh ke belakang. Benar saja, rumah yang mirip dengan rumahku di Ungaran itu hilang berganti rumah berdinding anyaman bambu. Benar saja, semua itu tadi adalah tipuan saja agar aku mau tinggal di sana dan terjebak di kampung yang mengerikan ini.


Dari kejauhan aku bisa mendengar suara gending bertalu-talu. Ah, itu pasti rombongan penari itu. Aku segera mempercepat langkahku dengan harapan bisa membawa Intan pulang. Rombongan penari itu sudah mulai dekat karena aku bisa mendengar suara gending yang semakin keras dan jelas.

__ADS_1


Aku harus bersembunyi dulu sembari terus mengawasi rombongan itu. Karena bisa saja sang penari itu melihatku dan menjadikanku sebagai budaknya, seperti Intan dan Melati. Tidak berapa lama aku menunggu, aku melihat beberapa pria mencambuki tangan dan kaki Intan yang kaku dan tidak mau menari.


"Ampun! Kembalikan aku ke dunia untuk membalas dendam pada musuh-musuhku," ujar Intan di sela rintihann kesakitannya.


"Kami sudah memberikan waktu kepadamu, tapi sampai waktu yang ditentukan, kau gagal membawa dua nyawa sebagai ganti hukumanmu! Jadi terimalah hukumanmu!"


Suara lecutan cambuk terus menggema di antara ramainya suara gending yang bertalu. Teriakan kesakitan terus bergema membuat hatiku ikut merasakan sakitnya penyiksaan yang dirasakannya. Meski aku menyadari Intan sama sekali tidak punya hati karena berniat menjadikanku dan Wulan sebagai tumbal pengganti atas kesalahan yang dilakukannya. Geram sekali rasanya, apa lebih baik aku mengurungkan saja niatku untuk mengajaknya pulang. Aku hendak berbalik badan, tapi tiba-tiba hantu tanpa kepala itu mencegahku.


"Jangan tenggelam dalam amarah. Segera bergegas untuk membantu dia. Jika dia menolak, maka pergilah. Kamu akan pulang dengan selamat, tapi bila kamu pulang sekarang, selamanya kamu akan terjebak di sini."


Usai berucap, hantu tanpa kepala itu hilang entah ke mana. Apakah benar yang diucapkannya, bahwa aku harus membantu Intan jika mau pulang. Ah, pilihan yang sulit harus menyelamatkan musuh itu. Rasanya sangat tidak rela, tapi baiklah akan aku lakukan. Sejahat-jahatnya Intan, dia pernah begitu baik padaku.


Aku menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri intan dan mengajaknya kabur dari tempat mengerikan ini. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku menemukan waktu yang aman, saat para pria pembawa cambuk itu pergi dan bergabung di antara rombongan penari serta meninggalkan Intan yang terkulai tidak berdaya dengan darah serta nanah yang terus mengalir dari tubuhnya. Intan terus saja meriintih kesakitan.


"Intan!" panggilku dengan suara yang sangat lirih. Bisa disebut hampir berbisik. Namun, Intan diam saja, bisa jadi karena tidak mendengar panggilanku.


"Intan!" panggilku lagi, kali ini dengan suara sedikit lebih keras. Lagi-lagi Intan tetap bergeming.


Saat panggilan ketiga, dia mulai melihat sekitarnya. Sepertinya dia mendengar panggilanku. Perlahan aku keluar dari semak-semak tempat persembunyianku.


"Intan, ayo, kita pergi dari tempat mengerikan ini," ajakku sembari aku ulurkan tangan padanya.


Mata Intan yang semula redup berubah menjadi nyalang dan memerah saat melihat kehadiranku. Ditepisnya uluran tanganku dengan kasar.


"Pergi! Aku tidak perlu belas kasihanmu. Lagi pula, lebih baik aku tersiksa di sini daripada harus kembali ke dunia, tersiksa lahir batin. Kamu tau, gara-gara ulah kalian wujudku telah berubah seperti monster yang membuat orang takut mendekat padaku. Selain itu, aku tidak mau menderita di sana karena kenyataannya Mas Adnan, pria yang aku cintai sepenuh hati dengan gampangnya membatalkan rencana pernikahan kami yang sudah tinggal menghitung hari. Dan semua ini karena kesalahan kalian berdua yang sudah membuang bedak dari junjunganku! Harusnya yang pantas mati adalah kalian berdua!"


Wajahku memanas karena ucapannya yang justru menyalahkanku dan Wulan. Padahal semua ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri yang telah bersekutu dengan iblis. Ingin rasanya aku ungkapkan semua kata makian, tapi ucapan hantu tanpa kepala itu yang melarangku untuk tenggelam dalam amarah agar bisa pulang ke duniaku dengan selamat, membuatku memilih untuk menahan diri.


"Intan, mari kita pulang. Soal Adnan, kita bicarakan nanti bagaimana baiknya. Yang terpenting sekarang adalah kamu bebas dari siksaan penari dulu."


"Tidak sudi, aku berhutang nyawa padamu! Lebih baik aku tersiksa di alam ini!"


Intan, kenapa kamu susah sekali dibujuk. Aku sudah berusaha meredam amarahku dan juga melawan rasa takutku agar bisa membawamu pulang, tapi gadis itu menolak.


"Intan, aku mohon pulanglah bersamaku. Pikirkanlah orang tuamu yang pasti akan kehilangan kamu."


"Diam! Tutup mulutmu!"


Tiba-tiba saja bibir Intan menyunggingkan senyuman yang teramat misterius. Seketika hati ini merasa bahwa dia mempunyai rencana licik. Benar saja, tiba-tiba dengan sekuat tenaga dia berteriak.


"Wahai, sang penari junjunganku! Dengarkan aku! Aku bawakan kepadamu satu nyawa pengganti atas diriku. Ambil nyawanya dan nyawa anak yang ada dalam kandunganku! Bebaskan aku seperti janjimu!"


Aku terperangah mendengar teriakannya. Ibu macam apa dia ini, yang menyerahkan anak yang bahkan belum dilahirkan ke dunia demi keselamatannya sendiri. Kaki ini gemetar tatkala rombongan penari itu berhenti bergerak, para penabuh gamelan juga menghentikan alunan gendingnya. Semua mata kini tertuju kepadaku. Tak hanya itu, perlahan mereka merangsek mendekatiku yang berdiri mematung tanpa bisa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2