Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 62: Dia yang Tidur di Kasurku


__ADS_3

Aku hanya bisa melihat tanpa bisa berucap sepatah kata pun, saat Melati berusaha menghabisi nyawa Gayatri dengan belitan selendangnya. Saat napas Gayatri sudah tersengal, tubuh Priyambodo yang tadinya lemah dia menyelamatkan Gayatri dengan sisa tenaga.


"Ambil saja aku! Jangan Gayatri! Aku yang salah karena telah menjadikannya pelampiasan napsuku waktu itu!"


Saat itu belitan agak longgar, Gayatri melepaskan diri dan atas permintaan pria yang tengah meregang nyawa dia pergi sejauh mungkin. Sementara Melati terduduk lemah, matanya yang nyalang kian meredup.


"Gayatri hanyalah korban kebiadaban kami bertiga. Tolong, lepaskan dia. Dia hanya sedang buta oleh karena dendamnya pada kami saja."


"Kau kasihan padanya? Untuk apa? Dia saja dari awal sudah berniat menghabisimu juga dengan bantuan junjunganku. Sementara aku telah bersumpah tepat sebelumnya nyawaku tercerabut dari ragaku, akan aku habisi Gayatri dengan tanganku meski aku harus rela menjadi penghuni neraka dan menjadi budak sang penari!" Melati tampak menyeringai begitu mengerikan.


"Jangan, Gayatri sudah berniat ingin berobat!"


"Tidak! Dia adalah milik sang penari, selamanya akan begitu! Kau pun juga miliknya!"


Melati melesat pergi meninggalkan pria yang mulai memejamkan mata kembali, tubuhnya kini menegang kemudian kaku, tidak bergerak sama sekali. Priyambodo sudah mati.


Kakiku lemas karena melihat semua tragedi yang baru saja terjadi. Kini aku terduduk sembari memandangi jasad pria itu. Tiba-tiba saja indera pendengaranku menangkap suara gedoran pintu yang cukup kencang. Akan bertemu siapa lagi aku ini, semoga saja bukan makhluk mengerikan.


"Hanna! Hanna, buka pintunya!" Suara itu kenapa mirip sekali dengan suara Ridwan. Mungkinkah sekarang ini aku ada di dunia nyata?


Aku bergegas turun ke bawah. Lantai bawah yang tadinya terang benderang kini berubah gelap. Bau dupa menyeruak dari sudut ruangan ini. Aku berusaha abai dengan suasana yang menakutkan di sini, satu-satunya yang aku ingini sekarang adalah keluar dari gedung ini dan kembali bertemu dengan orang-orang yang aku cintai.


Setelah menemukan pintu yang sudah penuh karat, aku mencoba membukanya tapi sial pintu itu sepertinya macet.


"Hanna! Buka pintunya, Han!" Gedoran itu membuatku sedikit yakin bahwa yang di luar adalah Ridwan atau siapapun itu yang penting manusia sungguhan.


"Ridwan! Tolong, ini pintunya macet!"


"Hanna, kamu sudah sadar, Han?" Suara itu seperti Mbak Juni. Semoga saja mereka bisa membantuku.


"Tolong Hanna, Mbak!" Aku terus menggedor pintu. Di luar pintu bisa aku dengar kepanikan yang terjadi dari suara-suara yang terjadi dari suara-suara yang terus berganti.


"Bagaimana ini, Wan? Pintunya macet." Itu pasti suara Bu Ning.


"Tunggu, Bu. Saya coba tarik dulu, mungkin karena sudah berkarat jadi macet."


Saat mereka tengah berusaha membuka pintu, indera penciumanku mencium bau yang sangat harum, sama seperti wangi yang tercium di ruang produksi. Benar saja, wanita tanpa rupa itu berdiri di belakangku sembari menangis kencang.


"Tolong, aku mau pulang!"


Aku menggedor pintu lagi agar segera dibebaskan dari sini. "Wan! Tolong keluarkan aku dari sini!"

__ADS_1


Aku tidak berani menengok ke belakang karena aku tidak mau bertatapan dengan wanita tanpa rupa itu. Bisa saja aku akan terjebak di kampung tak kasat mata seperti tadi.


"Tolong aku! Di sini gelap sekali! Aku takut!" Tangan yang penuh lumpur dan sebagian melepuh itu menyentuh bahuku.


"Pergi, aku mohon jangan ganggu aku!" Sementara itu, aku terus menggedor pintu.


"Tolong, aku mau pulang!" Rintihann wanita itu terdengar mengerikan tapi juga ada rasa sedih di sana.


"Ka-kamu mau pulang ke mana? Kan kamu sudah ada di duniamu."


"Aku mau pulang." Tangan dengan kuku yang hitam dan panjang ini tidak hanya menyentuh tapi juga mencengkeramku dengan erat.


"Aduh, sakit," erangku. Bukannya melepaskan, justru dia semakin mengencangkan cengkeramannya, rasanya kini panas dan perih sekali.


"Lepaskan, sakit sekali!" Aku berusaha menepis tangannya tapi apa ini, aku seperti menepis angin. Aku bisa merasakan cengkeramannya tapi tidak bisa menyentuhnya.


"Han, kamu kenapa?" Teriakan Ridwan membuatku terkesiap. Aku harus segera bebas dari sini. Dengan menahan rasa sakit, aku kembali menggedor pintu itu.


"A-aku tidak apa-apa, tapi tolong segera keluarkan aku dari tempat gelap ini, Wan!"


"Sebentar lagi, Han. Aku sedang berusaha membongkar pintu ini. Kamu jangan berhenti berdoa, Han. Jangan biarkan pikiranmu kosong!"


Ucapan Ridwan menyadarkanku, karena terlalu kalut dalam ketakutan, membuat doaku terputus begitu saja. Lirih dan dengan suara bergetar aku melangitkan doa agar aku dalam perlindungan-Nya.


"Aku takut, Wan," ujarku di sela tangis antara takut dan lega.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu takut lagi ya. Kan sudah ada aku yang akan menjagamu." Dengan lembut pria itu mengusap rambutku, sesekali aku bisa merasakan kecuupan yang dilayangkan di puncak kepalaku.


"Aku takut, Wan. Tadi aku tersesat di perkampungan tidak kasat mata dan hampir tertangkap oleh rombongan penari yang mengerikan. Untunglah aku bisa melarikan diri."


"Ya sudah, kita keluar dari sini dulu ya. Kamu kuar jalan tidak?"


Ridwan awalnya memapahku dibantu oleh Mbak Juni. Tapi melihatku yang gemetaran, tiba-tiba saja pria itu menggendongku. "Wan, aku jalan saja."


"Sudah, jangan membantah. Kamu lemas begini bisa tahun depan kita sampai."


Di musala Bu Ning dan beberapa teman sudah menungguku. Ridwan membaringkanku di karpet dan menyodorkan segelas teh hangat. "Minum dulu, biar tenang. Habis itu baru cerita sebenarnya tadi kamu kenapa. Mengapa tiba-tiba kamu teriak-teriak terus pingsan, pas sudah sadar kamu malah lari dan masuk ke gedung spinning?"


Aku menceritakan semua yang aku alami baru saja, dari tersesat di kampung tidak kasat mata sampai melihat kematian Priyambodo serta wanita tanpa rupa yang terus meriintih ingin pulang.


"Memang Priyambodo diduga bunuh diri, Han. Karena cintanya ditolak oleh Gayatri saat itu. Aku tidak habis pikir kenapa Priyambodo bisa tergila-gila dengan Gayatri. Padahal saat itu, gadis itu wajahnya rusak sebagian. Banyak spekulasi yang berkembang kenapa wajah secantik Gayatri bisa begitu mengerikan seperti itu. Ada yang bilang karena salah pemakaian skincare, tapi ada juga yang mengatakan akibat ilmu hitam. Bu Ning berucap sembari matanya menerawang jauh ke depan. Dia dan pria itu masih terbilang kerabat. Karena Priyambodo adalah adik sepupu Bu Ning.

__ADS_1


"Wajah Gayatri rusak karena dia berhenti menggunakan bedak pelet, Bu. Sebelum menghilang dia sempat bercerita pada saya, ingin bertobat. Dia siap dengan segala akibat yang akan terjadi. Rasa bersalahnya karena secara tidak langsung menjerumuskan sahabatnya dalam lingkaran setan juga pembunuhan yang dilakukannya pada pria yang mati tertimbun kain, membuatnya menyadari seharusnya dia tidak melangkah sejauh ini."


Aku terperangah dengan ucapan Mbak Juni, rupanya dia tau banyak tentang Gayatri. Aku bisa melihat air matanya meleleh. "Aku tau Gayatri salah jalan, setiap kali aku ingatkan dia selalu marah. Mungkin dia sudah terpengaruh si penunggu bedak itu. Yang selalu jadi pertanyaanku, mengapa gadis cantik Gayatri memakai bedak pelet, juga bisa membunuh seseorang," ucap Mbak Juni dengan sesenggukan.


"Mbak, yang dilakukan Gayatri memang salah besar, tapi mungkin saat itu dendam dan kemarahannya menguasai hatinya jadi dia ambil jalan pintas."


"Gayatri menyimpan dendam tapi dengan siapa dan kenapa? Karena setahuku dia tidak pernah memiliki musuh di sini."


"Entahlah, hanya saja aku pernah melihat Gayatri dirudal paksa oleh tiga orang pria..." Aku menelan ludah sebentar sebelum mengatakan apa yang pernah ditunjukkan oleh wanita tanpa rupa itu, "tiga orang itu adalah pria yang mati tertimbun gulungan kain, pria bertompel yang juga kekasih Melati dan Priyambodo."


Semua yang mendengar penuturanku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka. "Benarkah itu, Han? Selama ini aku tidak tau dan tidak pernah mendengar semua yang kamu katakan."


Aku hanya bisa mengangkat bahu, inilah penyebabnya selama ini aku diam. Toh kebenaran cerita ini hanya Tuhan dan empat orang itu yang tau.


"Jadi ini yang dikatakan Priyambodo tentang penebusan dosa. Cerita yang disampaikan Hanna mungkin memang benar terjadi, Jun. Karena Priyambodo selalu berkata padaku bahwa dia bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Gayatri. Dia tidak pernah mau menurutiku agar menjauhi Gayatri. Jadi ini alasanmu, Pri, kenapa tidak bilang sama aku? Kalau bilang aku kan bisa minta bantuan kyai atau siapalah. Agar membantu kalian."


"Mungkin ini sudah takdir, Bu. Kita hanya bisa berdoa saja, Bu."


Meski semua orang melarangku untuk kembali bekerja, tapi aku memaksakan diri. Tidak enak rasanya membebankan tanggung jawabku pada petugas QC sift malam.


"Kamu yakin?" tanya Bu Ning sembari menatapku.


"Inshallah, Bu. Ini kan tanggung jawabnya Hanna, lagi pula hari ini banyak pekerjaan terbengkalai gara-gara Hanna."


"Ini bukan salahmu, Han. Bertahun-tahun di sini, aku sudah sering mendapati kasus seperti ini. Hanya memang tidak sesering sekarang. Ya sudah, nanti aku bantu pekerjaanmu biar cepat selesai."


Aku mengangguk dan kembali masuk ke ruang produksi ditemani bu Ning, Mbak Juni, dan Ridwan. Kembali ke mejaku, aku bisa melihat beberapa rekan kerjaku ada yang berbisik-bisik sembari menatapku tajam, entah apa yang mereka bicarakan. Aku berusaha tidak memedulikannya.


Untung saja sampai berakhirnya jam kerja, wanita tanpa rupa itu tidak lagi muncul di depanku. Saat aku pulang pun, dengan setia Ridwan bersamaku dengan alasan untuk memastikan aku tiba di indekos dengan selamat. Tanganku melambai saat aku hendak masuk ke indekos sebagai tanda perpisahan kami.


Wulan tampak terlelap saat aku masuk ke kamarku. Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang terasa lengket ini. Selesai mandi, aku ke parkiran karena ponsel dan tasku tertinggal di jok motor. Sebelum masuk ke kamar, aku menyempatkan untuk melihat beberapa pesan masuk, salah satunya dari Wulan. Hampir satu jam yang lalu dia mengirim pesan suara kepadaku.


"Han, aku tidur di kamar atas ya. Soalnya dari tadi entah kenapa aku merinding saat hendak tidur di kamarmu. Aku langsung naik ke atas saja."


Aku segera mengirim pesan suara padanya karena aku melihat dia masih online.


"Lan, ka-kamu di mana?"


"Aku ada di kamar atas. Cepat naik ya, Han. Aku mau cerita penting," jawabnya melalui pesan suara. Seketika kakiku gemetar. Jika Wulan tidur di kamarnya, lalu siapa tadi yang tidur di balik selimut jarik coklat itu? Perlahan aku melihat di dalam kamarku melalui jendela yang tirainya tersingkap. Dia masih menyelimuti dirinya. Saat aku masih bertanya-tanya siapakah gerangan yang tengah tidur di matrasku. Tiba-tiba saja, sebuah wajah mengerikan berada di balik jendela tepat di hadapanku.


"Ka-kamu!"

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2