
Hatiku gentar mendengarnya, seandainya tadi aku di kamar sendiri dan membukakan pintu pasti sekarang aku menjadi budaknya. Bulu kudukku bergidik tidak sanggup membayangkan jika itu terjadi. Aku dan Lina jadi budak di dunia lain. Tentu saja setiap saat harus melayani makhluk yang pasti berwujud mengerikan itu. Aku meremas tangan Lina yang sama gemetarannya denganku.
"Lina, ini bagaimana?"
"Tenang, Mbak. Sebelum ada aba-aba dari Bu Wati, lebih baik kita duduk diam saja, jangan ngapa-ngapain. Kira berdoa saja sekarang."
Ah, bagaimana aku bisa lupa aku belum menunaikan salatku. "Lin, aku boleh pinjam mukenamu?"
Gadis itu tidak menjawab, justru menggaruk kepalanya. "Mbak, Lina tidak mungkin punya mukena karena Lina kan berbeda keyakinan dengan Mbak Hanna."
Aku menepuk dahiku, pantas saja aku tidak pernah melihatnya berkerudung. "Maaf ya Lin."
"Tidak apa-apa, Mbak."
Dengan kegelisahan yang teramat sangat, aku menanti kembali kabar selanjutnya tentang kondisi terharu dari Wulan. Aku sangat ingin melihat keadaan Wulan sekarang, semoga saja sahabatku itu baik-baik saja.
Aku tidak bisa salat bahkan sampai azan Magrib berkumandang, aku tetap duduk diam di kamar yang letaknya tepat di samping kamar Wulan itu. Mungkin satu jam sejak Bu Wati mengirim pesan peringatan itu, ponsel Lina berdering. Aku menunggu semoga saja ada kabar baik dari Bu Wati. Namun, jika aku lihat ekspresi muram saat Lina mendengar ucapan dari seberang sana, ketakutanku semakin menjadi. Apa mungkin telah terjadi hal buruk pada Wulan. Ah, lebih baik aku menepis saja segala pemikiran buruk itu. Lagi pula yang menelepon Lina belum tentu Bu Wati.
Setelah menutup sambungan teleponnya gadis manis itu terduduk lemah di sampingku. Dia mengambil bantal dan dibenamkan wajahnya di sana. Dia menangis tanpa suara, hanya bahu dan tubuhnya yang terguncang.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanyaku dengan lembut meski di hati terus kuatir, takut mendengar kabar buruk tentang Wulan.
"Di-dia, dia sudah meninggal, Mbak!"
Apa ini, kenapa aku justru mendengar kabar buruk ini. Benarkah Wulan meninggal dunia karena makhluk tadi tidak menemukan pengganti. Ah, hatiku rasanya remuk dan hancur jika memang itu terjadi. Rasanya tidak akan aku maafkan diriku karena semua ini. Kenapa tadi aku harus meninggalkannya di kamar? Jika tadi aku terus menjaganya di kamarku, maka tidak ada kejadian menakutkan dan membahayakan nyawanya itu.
"A-apa? Meninggal?" tanyaku dengan terbata, tentu saja air mata ini sudah mengalir membasahi pipi.
"Iya, Mbak. Dia sudah meninggal. Lina sedih banget dan hancur banget hati ini."
Aku dan Lina berpelukan dan menangis bersama. "Kenapa secepat ini sih perginya? Bagaimana dengan anak-anaknya? Kasihan mereka," desis Lina di sela tangisannya.
"Iya, siapa yang akan ngurus anak-anaknya nanti? Mana lakinya model garangan begitu."
"Kalau anak-anaknya sih, bisa aku jual, Mbak, tapi dia itu yang paling..."
Aku melepaskan pelukanku dari Lina. Ini anak kenapa bicara seenaknya sendiri. Mana bisa anak-anak Wulan mau dijual. Apa Lina itu sejenis mucikarii yang tega menjual anak-anak di bawah umur.
"Gila kamu, mereka kan masih kecil. Bukannya kamu lindungi, malah mau kamu jual."
"Lo, Mbak. Justru kalau aku biarkan mereka sendiri, kasihan mereka jadi terlantar dan tidak ada yang mengurus." Gadis berambut blonde itu terlihat menautkan alisnya.
"Kan ada neneknya di kampung? Sebagai teman kita itu harus saling menolong bukan menghancurkan seperti kamu. Apa kamu mau dihantui rasa bersalah karena menjual anak-anak teman kita? Apa tidak ada sedikit rasa iba di hatimu? Harusnya kita bantu mereka dengan berbagai rejeki kita pada mereka, bukan seperti ini!"
__ADS_1
Aku sangat kecewa dengan pikiran Lina saat ini. Harusnya di saat yang penuh duka ini dia mendoakan Wulan agar diterima di sisi-Nya, bukan malah berniat buruk pada anak-anak malang itu, yang bahkan berita kematian ibunya mungkin belum sampai ke telinga mereka di kampung halaman. Aku sampai berkacak pinggang dan melotot saat berbicara dengan nada tinggi padanya.
"Kok Mbak Hanna jadi nyolot sih? Suka-suka aku dong mau bagaimana? Lagi pula ibuku pasti marah kalau aku titipi anak-anaknya!"
Aku menautkan alisku menanggapi perkataannya yang tidak kalah tinggi denganku. "Apa urusannya sama ibumu? Mereka kan sama neneknya di kampung, dilihat dari sisi mana kalau mereka akan merepotkan ibumu?"
"Ya, merepotkan, Mbak. Ibuku itu tidak suka pelihara apa pun. Ngurus emaknya saja setiap hari pasti ngomel. Gimana sekarang kalau harus mengurus lima anaknya yang masih butuh perhatian itu?"
"Lima? Bukannya cuma dua ya?"
"Lima, Mbak. Orang tua aku menemaninya lahiran."
Aku semakin bingung saja, setahuku anak Wulan dengan Adnan hanya dua. Bagaimana busa berubah jadi lima dan tadi kata Lina, dia menemani Wulan melahirkan? Bukankah gadis ini asli dari Klaten sementara Wulan itu dari Sragen?
"Kok bisa? Kamu bukannya tinggal di Klaten sementara Wulan di Sragen. Bagaimana ketemunya?"
"Apa urusannya dengan Mbak Wulan, coba?"
"Lah tadi kamu mau jual anak-anaknya Wulan kan? Anaknya Wulan kan cuman dua, yang tiga anak siapa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku yang penuh emosi ini, gadis itu justru tertawa terbahak sampai terbatuk. Lina segera meminum segelas air sampai habis. Kemudian melanjutkan bagaimana tawanya.
"Kamu itu tertawa seperti sinetron saja, ada iklannya. Harusnya kamu bilang, jangan kemana-mana, tawa akan dilanjutkan setelah pariwara berikut ini." Mulutku mencebik karena hatiku dongkol melihatnya.
"Syukurin," desisku perlahan.
"Mbak, siapa yang mau jual anak-anaknya Mbak Wulan? Siapa pula yang menemaninya dia lahiran?" tanyanya setelah tawanya mulai mereda dan dia mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Kamu kan bilang tadi, lupa kamu? Jahat banget sih kamu ternyata, Lin. Lebih jahat dibandingkan Intan. Dia merebut suaminya Wulan sementara kamu mau jual anak-anaknya bahkan saat mayat ibu mereka belum dikebumikan!"
"Mbak, tenang dulu. Siapa yang bilang Mbak Wulan meninggal?"
"Kamu! Kamu bilang dia meninggal kan tadi?" Gadis itu mengangguk berarti aku benar menganggap Lina adalah gadis yang jahat.
"Dengerin Lina, Mbak. Memang benar tadi Lina bilang dia meninggal tapi bukan berarti yang meninggal itu Mbak Wulan."
Aku terdiam, apa itu artinya tadi aku salah paham dengan ucapan Lina tentang dia meninggal. Ucapan Lina begitu ambigu, membuatku yang tengah kuatir dengan keadaan Wulan menjadi mengaitkan ucapan Lina dengan Wulan.
"Lah terus, siapa yang meninggal kalau bukan Wulan? Bu Wati?"
Dengan wajah yang berhias senyum simpul Lina berkata kepadaku.
"Yang meninggal itu si Kitty, Mbak, bukan Mbak Wulan."
__ADS_1
"Kitty? Siapa itu? Pemilik salon tempatmu bekerja? Namanya lucu banget."
"Sembarangan saja! Kitty itu kucingku, baru seminggu lalu lahiran lima anak sekaligus. Eh baru saja kata ibuku dia mati ketabrak motor. Nah itu anaknya yang lima biji, Mbak. Soalnya ibuku suka marah-marah karena anak-anak Kitty kalau pup suka sembarangan. Kadang di kasur, di sofa, dan dimana-mana. Namanya juga hewan, diomeli kaya apa juga percuma."
Mulutku ternganga sementara pipiku memerah karena malu. Rupanya aku salah paham dengan Lina. "Ja-jadi yang meninggal bukan Wulan? Yang kamu jual itu anak kucing?"
"Iya, Mbak. Makanya tadi Lina bingung, kenapa Mbak Hanna sampai mencak-mencak seperti itu."
Gadis itu membekap mulutnya tapi tawanya tetap bisa ditangkap oleh indera pendengaranku. Aduh malunya aku ini. Kenapa aku bisa salah paham seperti ini.
"Maaf ya, Lin. Tadi soalnya pikiranku penuh dengan keadaan Wulan. Duh, jadi malu karena sudah marah-marah dan berburuk sangka sama kamu," ujarku sembari menutup wajah dan mataku dengan kedua telapak tanganku.
"Sudah, tidak apa-apa, Mbak. Namanya juga salah paham, Lina paham kok," ucapnya sembari mengusap lenganku. Aku memeluk erat tubuhnya yang masih mengenakan seragam salon tempatnya bekerja.
Tidak menunggu lama, sebuah pesan dari Bu Wati masuk. Dia mengabarkan bahwa kondisi sudah kondusif tapi dilarang berkerumun karena bisa memancing keingintahuan warga. Bu Wati hanya mengijinkan aku dan Lina untuk turun dan menemui Wulan.
"Lin, aku mau lihat keadaan Wulan dulu. Kamu mau ikut ke bawah sekalian tidak?"
"Nanti saja aku menyusul, Mbak. Ini aku mau packing persiapan besok pagi aku mau balik ke Klaten."
"Pulang ke Klaten? Kenapa?" Aku heran seingatku Lina baru pindah beberapa hari yang lalu. Kenapa sekarang mau pulang ke tanah kelahirannya.
Gadis itu menepuk dahinya. "Mbak Hanna lupa? Aku kan harus memakamkan kitty. Kasihan dia kalau terlalu lama dibiarkan begitu saja."
Aku hanya mengangguk, aku tau rasanya kehilangan hewan kesayangan. Dulu saat umurku sembilan tahun, aku kehilangan si dessy duck, si bebek kesayangan pun aku menangis seharian, sampai-sampai tidak mau makan.
"Ya sudah. Aku ke bawah dulu ya."
"Hati-hati, Mbak."
Perlahan aku membuka pintu kamar. Aku berdoa semoga tidak ada satu pun makhluk tidak kasat mata yang menunggu di luar pintu. Aku menengok kiri dan kanan, lorong indekos tiga lantai ini sepi dan remang karena belum apa penghuni yang berani keluar kamar semenjak tadi.
Aku menyalakan lampu dengan menekan saklar yang kebetulan ada di dekat pintu kamar Lina. Lumayan suasana mengerikan dan mencekap sedikit berkurang.
Dengan hati-hati aku menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Tunggu, kenapa amu mendengar ada dia suara derap langkah, apakah ada yang sedang berjalan di belakangku. Pasti itu Lina yang menyusulku.
"Lin, katanya kamu mau packing dulu?" tanyaku sembari menoleh ke belakang. Namun, tidak ada siapa-siapa di belakangku. Ah, mungkin tadi aku hanya dengar-dengaran saja. Aku melanjutkan langkahku, kembali aku dengar suara derap langkah orang lain tapi bukankah tadi tidak ada orang. Aku berjalan lagi, terdengar suara lagi dan saat aku berhenti suara itu juga hilang. Seolah ada orang yang mengikutiku.
"Lin! Jangan bercanda deh!" Teriakanku menggema di tangga yang remang-remang karena lampunya mati. Aku hendak melanjutkan langkahku untuk menuruni anak tangga yang tinggal empat biji. Tepat saat itu, tengkukku terasa ada yang meniup. Ketakutan seketika menyergapku saat tiba-tiba ada suara yang begitu dekat di telinga kiriku.
"Hanna, aku ada di sini."
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...