
"Rupanya kalian ada di sini, bikin kuatir saja!" Wanita itu tersenyum menatapku, "rupa-rupanya kalian pandai mencari kesempatan dalam kesempitan."
"A-anu, Mbak, tadi itu Hanna digangguin lagi sama hantu yang di gedung spinning. Untung ada Mas Ridwan yang nolongin." Aku berucap dengan tergagap, berusaha menjelaskan agar tidak ada salah paham.
"Iya menolongmu dengan memberi kehangatan di saat menjelang subuh seperti ini."
Tawa Mbak Juniyati yang menggema, memberikan rona merah di wajahku. "Bener, Mbak, tadi itu ada hantu yang mengganguku. Kalau tidak ada Mas Ridwan mungkin aku akan terjebak lagi."
"Ciyee, manggilnya sekarang pakai Mas Ridwan. Ehem... Kayanya aku harus minta jatah pajak jadian nih." Wanita berusia tiga puluhan tahun itu mengerlingkan mata dan membuatku salah tingkah.
"Doakan saja, Jun. Supaya hati Hanna terketuk dan mau menerima aku jadi kekasih hatinya," ujar Ridwan sembari melemparkan senyumnya. "Ayo, kita kembali ke gedung. Han, jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa aku tunggu jawabanmu."
Belum jauh Ridwan melangkah, tiba-tiba pria itu berbalik arah. Dengan cepat ia layangkan sebuah kecupan di dahi. Aku tidak sempat mengelak karena tindakannya itu tidak terduga serta sangat cepat.
"Ini adalah obat agar aku kuat menunggumu." Bisikan Ridwan membuat bulu kuduk ini meremang membuatku tersipu.
"Dasar messum!" Sebuah pukulan Mbak Juniyati melayang di lengan pria berperawakan tinggi itu.
"Biarin dong. Biar aku kuat menahan rindu pada Quality Control tercantik sepabrik ini, Mbak."
"Cowok tidak jelas!" Ridwan berlari meninggalkanku yang masih terdiam agar tidak kena bogem mentah Mbak Juniyati.
"Han, jangan melamun lagi." Mbak Juniyati menepuk pundakku.
"Hanna tidak melamun, Mbak, cuma kaget saja. Seumur-umur Hanna belum pernah diperlakukan seperti ini."
"Mungkin kamu sedang jatuh cinta, Han. Cuma tetap kamu harus hati-hati, jangan mudah percaya dengan kaum pria. Semua yang akan kamu lakukan harus pakai akal sehat. Jangan sampai kesalahan Gayatri terulang kembali."
Sampai saat ini aku tidak pernah mengerti Mbak Juniyati selalu mengatakan Gayatri telah melakukan kesalahan yang fatal hingga menyebabkan dia hilang secara misterius.
"Han, lebih baik kita duduk di sana dulu. Kamu harus tenangin diri kamu. Jangan menangis seperti ini, nanti cantiknya hilang lo."
Ridwan mengajakku masuk dan duduk di kursi panjang yang ada di lobi. Jemari Ridwan terus menggenggamku erat. "Kamu harus tenang ya."
Aku mencoba menenangkan hatiku yang masih terasa takut karena kehadiran pocong yang baru saja menggangguku.
"Mbak Hanna, ada apa? Kenapa menangis? Mas Ridwan, ada apa?" Indah yang terbangun langsung menghampiriku dan duduk di antara kami.
"Tadi ada hantu pocong yang neror aku, Ndah. Aku rasanya capek sekali harus berurusan dengan mereka."
"Astaga, kenapa Mbak Hanna tidak membangunkan aku? Terus kenapa ada kamu di sini, Mas? Bukannya seharusnya kamu tidur di musala?" Mata Indah menatap tajam ke arah Ridwan, membuat pria itu tampak bingung dan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Tadi aku mau ke kamar mandi...."
"Kan ada kamar mandi luar. Kenapa harus masuk ke gedung? Jangan bilang kamu mau ngintipin para karyawati, iya?" Indah melotot ke arah Mas Ridwan seolah bersiap mengeluarkan tanduknya.
"Asem, aku tidak semessum itu." Ridwan menoyor kepala Indah dengan lembut.
"Lo terus kenapa bisa masuk? Padahal kan pintu dikunci setiap kali para karyawati istirahat."
"Makanya dengar dulu, jangan asal nuduh. Tadi itu aku mau ke kamar mandi, lihat pintunya terbuka lebar, aku pikir ada yang keluar gedung. Pas aku mau nutup pintunya, ada Hanna yang lagi berdiri seperti ketakutan. Ternyata ada hantu yang meneror dia. Makanya aku ajak duduk di sini."
Tatapan garis itu kini beralih kepadaku. "Apa benar seperti itu kejadiannya, Mbak? Si kadal burik itu tidak bohong?"
"Iya, benar. Kalau tidak ada Mas Ridwan aku bisa mati berdiri karena pocong itu."
"Baiklah. Karena ini keluar dari mulut kamu, Mbak, aku percaya. Mbak, jangan dekat-dekat sama kadal burik ini, nanti bisa ketularan sinting kaya dia."
Aku tertawa kecil saat kedua orang ini beradu mulut, saling mengejek. Bagai kucing dengan tikus yang tidak pernah akur. Mungkin karena kehebohan keduanya, beberapa orang nampak terbangun, termasuk Mbak Juniyati.
"Kalian yang di sana, kenapa ribut banget sih?" tanya Mbak Juniyati tampak mengusap matanya. Matanya membulat saat menyadari ada Ridwan di dalam sini. Dalam hati, aku hanya berharap Mbak Juni tidak membahas masalah semalam saat melihat Ridwan mengecup keningku.
"Eh, Ridwan! Jadi kamu penyebab kegaduhannya. Lagi pula kamu ini ngapain masuk ke gedung. Mau mengintip apa mau mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi?"
Aku langsung mengerutkan dahi, berharap Mbak Juni tidak keceplosan menceritakan semuanya. Aku belum siap ada gosip tentangku nantinya.
"Iya.. Iya. Aku pergi."
Aku tersentak saat tiba-tiba saja tangan Ridwan meremas tanganku yang tertutup oleh tubuh Indah. Ada gelanyar yang tidak biasa, bagai tersengat alur listrik, getarannya sampai di seluruh tubuh ini.
"Kadal burik, cepat pergi! Sebelum aku pukul pakai sapu!" Indah yang berdiri membuatku segera melepaskan genggaman tangan. Untung saja saat Indah berbalik tanganku sudah terbebas dari cengkeraman pria berlesung pipit itu.
"Mas, kamu mau pergi baik-baik atau aku seret keluar!" ujar Indah sembari berkacak pinggang.
"Siap dimengerti, Juragan," jawab Ridwan. "Apa semua perempuan itu diciptakan galak ya?"
"Biar saja. Kalau tidak digalaki para pria itu suka sembarangan."
Ucapan Indah ditanggapi oleh Ridwan dengan tawa yang membahana. "Oalah, Ndah. Kamu itu masih kecil, masih bau kencur sama minyak telon. Memangnya kamu paham kepribadian pria itu bagaimana?"
"Jangan menghina, biar aku masih kecil begini, aku itu tau semua."
"Iya, terserah kamu. Sebahagiamu, sesukamu, sesenengmu. Kalau aku ngeyel, aku juga yang repot harus membelikan permen, biar kamu tidak nangis lagi."
__ADS_1
Hatiku terasa ada yang aneh, saat Ridwan mengacak rambut Indah. Ada rasa tidak suka dengan perlakuan manis yang ditunjukkan Ridwan untuk gadis lain, sekali pun itu Indah. Apakah ini yang dinamakan cemburu? Entahlah, tapi yang pasti perasaan ini harus aku tepis karena kata orang cemburu itu bisa merusak segalanya bahkan menghilangkan nyawa.
Selepas kepergian Ridwan, Indah pamit ke kamar mandi untuk mencuci mukanya karena harus segar saat nanti bekerja lagi apalagi waktu istirahat tinggal lima menit lagi. Aku dan Mbak Juni duluan masuk ke ruang produksi.
"Han, memang benar tadi ada pocong yang gangguin kamu?"
Mataku menelisik ruangan yang sangat luas dan penuh dengan mesin-mesin jahit. Aku takut jika pocong atau wanita tanpa rupa itu tiba-tiba saja muncul kembali.
"I-iya, Mbak. Awalnya wanita tanpa rupa itu terlihat merayap di atasku kemudian ada pocong di sampingku. Aku teriak minta tolong tapi tidak ada yang bangun dan menolong, teman-teman semua tidur. Aku hendak lari ke luar gedung tapi saat tiba di pintu, sudah dihadang oleh pocong itu dengan terus-menerus meminta tolong. Nah, pas aku mau balik dan minta bantuan teman-teman lagi, pocong itu sudah ada di depanku, Mbak. Hilangnya saat Mas Ridwan datang."
Aku menceritakan semua dari awal sampai akhirnya hantu itu pergi pada Mbak Juni.
"Aku bingung, Han. Jika teror ini berkaitan dengan pantangan yang sudah berlaku puluhan tahun lalu, harusnya yang diteror itu aku, bukan kamu."
"Kok bisa kamu, Mbak? Yang masuk ke gedung spinning kan aku sementara Mbak hanya datang untuk menyelamatkanku."
Mbak Juni menceritakan sesuatu yang tidak pernah aku duga sama sekali. Malam kemarin, saat aku terjebak di gedung spinning. Dia pun seperti dibuat bingung. Mbak Juni tidak dapat menemukan pintu masuk gedung itu meski dia paham betul letak pintu masuk gedung tepat menghadap parkiran sepeda motor para karyawan.
"Terus bagaimana caranya Mbak Juni bisa masuk ke gedung itu?"
"Jadi gini, setelah beberapa kali mengitari gedung ini, tiba-tiba saja di dekat gedung itu ada aroma dupa yang menyengat. Waktu aku cari ternyata ada sebuah besek kecil. Isinya adalah kopi serta beberapa kembang dan satu lagi sebungkus rokok. Tanpa sengaja aku tersandung dan jatuh tepat menduduki besek itu. Ajaibnya pintu gedung tiba-tiba saja terlihat dan letaknya ada di depanku."
"Kok bisa ya, Mbak?"
"Entahlah, makanya aku segera mengajakmu keluar. Kamu tau, Han, di gedung spinning itu aku hampir salah ajak orang. Awalnya aku kira dia kamu, nyatanya dia adalah Gayatri. Hanya saja..."
"Gayatri? Bukannya dia menghilang beberapa tahun yang lalu di kamar indekosku, Mbak."
"Iya."
"Kenapa bisa dia muncul di gedung spinning?"
"Makhluk seperti mereka bisa ada dimana saja. Lagi pula di gedung spinning adalah tempat dimana dosa terbesar dilakukan Gayatri."
"Dosa besar?"
"Ya, di gedung itulah dia mengkhianati sahabatnya sendiri dan bercinta dengan calon suami sahabatnya sendiri di salah satu ruang yang ada di sana. Ruangan itu seringkali digunakan oleh karyawan untuk salat karena dulu di pabrik sebesar ini hanya punya satu musala kecil.
Aku terperangah mendengar penuturan Mbak Juni tentang Gayatri sebelum dia hilang bak ditelan bumi. Tunggu, jika Gayatri ternyata selingkuh dengan calon suami sahabatnya sendiri, apakah itu artinya Gayatri telah mengkhianati Melati.
"Tapi kenapa Gayatri hilang di kamar indekosku? Apa hubungannya, Mbak?"
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...