
Aku menyeringai, ya aku punya cara untuk membalas rasa sakit yang didera Wulan akibat perbuatan Intan. Aku menggenggam erat kotak kayu itu serta kemudian memasukkannya ke dalam saku bajuku. Tunggu saja Intan, kamu akan memohon-mohon padaku.
Senandung tanpa syair yang aku dengar dari hantu tanpa kepala, tiba-tiba saja aku nyanyikan. Namun, tidak lagi rasa takut tapi rasa bahagia saat aku lantunkan itu. Ah, sepertinya aku mulai terbiasa mendengarnya.
Selesai membersihkan kamar yang sempat berantakan bagai kapal pecah ini. Aku bergegas turun untuk melihat keadaan Wulan. Semoga saja dia masih terlelap."
Suara tangisan lirih terdengar dari dalam kamar. Jika ini terjadi malam hari aku pasti memilih kabur dan meninggalkan kamar. Namun, kali ini berbeda aku tau persis siapa yang tengah menangis tersedu di balik pintu.
"Lan!" panggilku pada wanita yang tengah duduk sembari memeluk lutut serta menyembunyikan wajahnya.
"Lan, sudah dong. Jangan menangis lagi. Ingat kamu masih punya anak-anak juga aku."
"Aku masih tidak percaya, Han. Begitu kejamnya dua manusia itu. Kamu tau, Han. Dulu Intan sering bertandang ke indekosku memang ingin menjalin persahabatan denganku tapi rupanya kedatangannya untuk mencari perhatian Mas Adnan."
"Tunggu, sebenarnya bagaimana hubungan kalian awalnya. Mengapa kamu bisa satu kamar dengan Intan sementara kamu punya suami?"
Dengan panjang lebar dan sesekali terdengar sesenggukan menahan tangis, Wulan menceritakan awalnya dia dan Adnan mengontrak rumah bersama dua anak mereka yang kecil-kecil. Keluarga mereka punya impian besar akan sukses dan memiliki rumah dan usaha sendiri. Wulan dan Adnan untuk sementara menitipkan kedua anak mereka di desa sementara keduanya bekerja keras di kota ini. Apalagi Wulan diterima sebagai karyawan di sebuah pabrik obat terbesar. Perusahaan yang sama dengan tempat Adnan bekerja sebagai salah satu supervisor. Meskipun begitu, keduanya di tempatkan di gedung uang berbeda. Adnan di bagian pembuatan obat-obatan kimia berbentuk kaplet sementara Wulan di bagian ekstraksi.
Sudah menjadi hal yang lumrah jika di gedung satu tidak ada pekerjaan maka akan dipindahkan dan diperbantukan, sementara di gedung yang sangat membutuhkan tambahan personel. Karena itulah Wulan mengenal Intan, gadis yang manis dan ramah pada siapapun.
Hingga satu tahun yang lalu, Adnan dipindahtugaskan ke anak perusahaan di kota lain dengan jabatan lebih tinggi. Membuat Wulan mengambil keputusan untuk mencari indekos saja, karena tinggal di kontrakan sendirian rasanya aneh. Intan menawarkan untuk berbagi kamar jadi biaya yang mereka keluarkan lebih sedikit. Wulan menyetujui begitu pula Adnan yang tinggal di luar kota juga menyerahkan keputusan pada sang istri.
Sejak keduanya berpisah justru banyak percekcokan yang terjadi. Api cemburu dan kecurigaan Adnan terus membuat konflik panas antara mereka. Apalagi Adnan justru mengurangi jatah nafkah untuk anak-anak mereka dengan alasan biaya hidup di kota tempatnya sekarang sangat mahal. Sampai pada puncaknya Adnan mengucapkan kata talak pada Wulan hanya melalui panggilan telepon. Tiga bulan Adnan tidak lagi menafkahi anak-anaknya, membuat Wulan harus bekerja giat lagi. Intan seringkali datang memberi bantuan merasa Intan adalah malaikat penolong tapi semua itu berubah setelah hari saat Intan tidur dengan Adnan.
"Aku pikir Intan itu bidadari, nyatanya dia hanyalah benalu yang menghancurkan induk semangnya sendiri. Kau ingat, Han, beberapa waktu lalu Intan mentraktir kita dengan sepotong daging steak dan dia bilang itu uang adalah pemberian pacarnya?"
"Iya, aku mengingatnya. Aku tidak makan karena aku takut Intan itu mendapatkan uang dengan cara menjual tubuhnya."
"Jika itu dari pacarnya berarti uangnya dari Adnan. Satu hari sebelum itu aku sempat menghubungi Adnan, uang untuk berobat jalan si sulung kurang seratus ribu tidak diberikan dengan alasan tidak punya uang dan dia tidak yakin bahwa anak-anak adalah darah dagingnya. Sakit hatiku, Han. Apalagi setelah tau kenyataan yang sebenarnya yang Adnan habis di tangan sahabatku."
Wulan kembali tergugu. Aku lega karena waktu itu memilih tidak makan karena jika aku makan pasti sekarang dihantui rasa bersalah karena ada hak-hak anak-anak Wulan yang tidak dipenuhi demi sepotong daging.
Azan Magrib baru saja berkumandang, aku bergegas mandi agar bisa menjalankan kewajibanku. Bau amis menyeruaknya di kamar mandiku, seingatku kemarin aku sempat membersihkan kamar mandi dan menuang banyak karbol agar baunya harum. Namun, kenapa sekarang sangat amis. Bulu kuduk ini mulai merinding saat tiba-tiba saja tengkuk ini terasa ada yang meniupi. Dengan cepat aku selesaikan mandiku dan segera keluar.
"Cepat banget, Han? Kamu mandi apa cuma cuci muka?" Aku tidak menjawab pertanyaan Wulan, aku tidak mau membuatnya panik.
"Lan, nanti aku masuk malam kamu tetap mau tidur di sini?"
"Aku bingung kalau di kamar ini sendiri rasanya ngeri tapi kalau tinggal di kamarku, rasanya aku tidak sanggup jika harus tidur di kasur yang sama dengan yang digunakan dua hewan itu bercumbu rayu."
"Sudah sekarang lebih baik tidak lagi memikirkan mereka. Mulai fokus sama anak-anak saja. Aku yakin kok jodoh itu cerminan diri."
__ADS_1
"Halah, kaya kanu sudah laku saja." Mendengar ucapan Wulan membuat pipiku memerah karena malu, usiaku sudah 21 tahun tapi aku tidak merasakan jatuh cinta apalagi pacaran. Tawa Wulan menggema, biarlah dia hari ini mengejekku sepuasnya agar bisa melupakan sejenak kesedihan serta kekecewaannya pada dua orang terdekatnya.
Pembicaraan kami terhenti ketika tiba-tiba mendengar suara kecipak air seperti seseorang yang sedang mandi padahal di dalam tidak ada seorangpun.
"Lan, kita ke atas aja yuk!" Tanpa berpikir panjang lagi aku dan Wulan segera meninggalkan kamar.
"Gila, kamarmu itu. Hantunya bener-bener ingin dianggap ada," ujar Wulan setelah kami duduk di kamarnya. Senyumku melebar saat melihat Wulan sangat gemetaran akibat ulah para penghuni kamar tiga belas.
"Ini belum ada apa-apanya, Lan. Kalau kamu terus bertahan di sana bukan tidak mungkin kamu bisa melihat asli bentukan mereka. Kamu mau?"
"Ihh, ogah mending aku berada di kamar ini ketimbang harus bertemu wujud asli para hantu itu," ujar Wulan sembari mengetuk-ngetuk lantai.
"Lan, aku mau tanya. Memang semalam kamu lihat apa di kamarku?"
"Nah, ceritanya aku kan sama si pelakor itu pulang bareng. Biasalah ada sesi curhat dan lain-lain, aku sama dia pulang sekitar jam satu. Kami lihat, itu kamarmu terlihat lampunya berkedip-kedip terus pintunya terbuka sendiri. Otomatis aku lari ketakutan dan naik ke atas. Di lantai dua kami bertemu Bu Wati menenteng ayam cemani dan juga sebilah pisau. Pas aku tanya, perempuan paruh baya itu cuma menjawab dengan senyum tipis. Dia terus berlalu meninggalkanku dan si pelakor yang masih termangu atas sikapnya yang sungguh aneh. Terus dengan tanpa suara kami memutuskan mengikutinya, entah apa yang dilakukannya tapi yang jelas Bu Wati masuk kamarmu habis itu lampu gelap gulita."
"Masuk kamarku? Kenapa ya?" Wulan hanya mengangkat bahunya.
"Coba saja kamu tanya Bu Wati nanti kalau ketemu."
"Lan, apa yang naburin bunga kantil dan tanah kuburan itu adalah Bu Wati?"
Dalam benak ada banyak pertanyaan tentang alasan Bu Wati menenteng ayam cemani dan masuk ke kamarku. Apakah dia melakukan ritual klenik di sana. Jika iya, apa tujuannya. Apa untuk mengusir atau malah justru memberi para hantu penunggu kamar itu makan. Ah, pening kepalaku memikirkan itu.
Saat tengah berpikir, perutku berbunyi sangat keras. Baru aku ingat seharian ini kami hanya makan sekali, itu pun tadi pagi sepulang bekerja. Ah, pantas saja cacing ini pada demo.
"Lan, kita keluar yuk cari makan. Lapar nih aku."
"Enggak. Aku tidak nafsu makan, Han." Wajah Wulan kembali sendu, mungkin dia masih sangat marah dan sedih.
"Lan, pokoknya kita makan. Kamu tidak perlu bersedih berlarut begini. Ingat kamu punya anak-anak yang membutuhkanmu. Lupakan pengkhianat seperti mereka. Lagipula, Lan, sepertinya ya, ini baru dugaanku..." Aku menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapanku, "sepertinya aku menemukan petunjuk bahwa kejadian ini tidak salahmu maupun salah Adnan."
"Petunjuk? Petunjuk apa?"
Aku mengangsurkan kotak berisi bedak tabur ke tangan Wulan. Sepertinya Wulan pun tidak mengetahui bedak tabur bukan bedak sembarangan. Bedak ini berefek luar biasa bagi pemakainya.
"Ini apa? Kenapa ada nama pelakor dan Mas Adnan tertulis di sini?"
"Ini bedak pelet kalau kata Lina. Kemungkinan si Intan menggoda suamimu dengan ini. Pada dasarnya iman Adnan juga tidak kuat, jadi mudah terserang ilmu gaib."
"Kurangg ajar, Intan! Terus bedak ini harus diapakan, Han, biar efek peletnya hilang?"
__ADS_1
"Aku tidak tau pasti bagaimana tapi kata Lina jika si pengguna ini tidak melakukannya satu minggu saja, kulitnya akan melepuh dan membusuk."
Ada seringai di wajah Wulan, "Bagaimana kalau kita buat wajah pelakor itu hancur?"
Benar saja, aku dan Wulan mempunyai pemikiran yang sama. Intan harus menerima hukuman melalui senjatanya sendiri. Jika dengan bedak ini dia hancurkan pernikahan sahabatnya maka dengan bedak yang sama, dia akan kehilangan semua.
"Lan, kita sudah punya cara untuk memberi pelajaran untuk Intan, sekarang giliran penunggu perut yang juga harus kita urusi."
Ada senyum yang terbit setelah seharian itu begitu sendu dan murung. "Iya, ayo, kita makan besar karena kemenangan sudah di depan mata."
Lesehan ayam bakar kami pilih untuk mengisi perut kosong kami.
"Han, kamu lihat hantu enggak di sini? Entar tiba-tiba ada pocong lagi kaya yang di sana."
"Aman kok, tenang saja."
Makan malam ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk hubungan manusia dengan manusia yang lain. Setiap hal ada awal dan akhirnya. Begitu pula persahabatan Intan dan Wulan. Jika dulu yang bergema adalah kebaikan Intan, maka semua yang dilontarkan oleh Wulan adalah keburukan Intan, semua rahasia Intan terkuak.
Perut ini rasanya sesak karena kekenyangan. Aku dan Wulan memutuskan untuk pulang. Sesampai di indekos, alangkah terkejutnya kami saat pintu kamar terbuka lebar. Di dalam kamar terlihat Intan tengah mengacak kamar.
"Wah si pelacuurr sudah pulang. Kenapa sayang? Kamu dibuang juga sama bekasku?" ejek Wulan.
"Tidak mungkin Mas Adnan meninggalkanku. Aku bukan sepertimu, Lan. Aku sedang mencari barangku saja!"
Wulan masuk ke kamar mandi, setelah itu berteriak memanggil Intan.
"Intan! Apa kamu sedang mencari ini?" Mata Intan membulat saat dia melihat Wulan menuangkan bedak taburnya ke dalam kloset.
"Wulan, hentikan! Kembalikan, itu milikku!" teriak Intan sembari berusaha merebut bedak dari tangan Wulan.
"Oh, maaf. Kamu belum beruntung, Tan. Isinya sudah habis. Aku siram dulu ya." Dengan santai Wulan menyiram air sampai seluruh bedak itu hilang.
"Kurang ajar kamu, Wulan." Tangan Intan terayun hendak menampar Wulan, tapi berhasil dicekal oleh Wulan.
"Tidak akan aku biarkan pelaacuur sepertimu merebut suamiku. Satu hal yang akan aku pastikan padamu, Mas Adnan hanya milikku dan anak-anakku. Dia akan pulang ke rumahnya dan meninggalkanmu karena sihir yang kamu gunakan untuk menjeratnya sudah aku buang."
Intan justru tertawa mendengar ucapan Wulan. "Dengarkan aku baik-baik tapi sebelumnya kuatkan hatimu. Dengan bedak atau tidak, Mas Adnan akan tetap menjadi milikku. Karena ada adik untuk anak-anakmu di sini!"
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1