
Aku menarik Wulan mundur dan sedikit menjauh agar tidak diserang oleh Intan yang terlihat penuh amarah. "Di mana bedakku? Lihat, karena ulah kalian yang menyembunyikan bedakku. Itu menyebabkan luka di wajahku. Kembalikan bedakku atau..."
"Atau apa? Katakan padaku. Kau akan apakan kami. Wahai, wanita selingkuhan suamiku?" Wulan bertanya dengan suara yang sedikit keras hingga membuat beberapa orang mulai memperhatikan kami bertiga. Dia melepaskan tanganku dan melangkah maju mendekati Intan.
"Aku akan menghabisimu!" desis gadis yang menutupi sebagian wajahnya dengan selendang itu.
"Oh, aku takut sekali. Tolong jangan habisi aku," ujar Wulan dengan suara yang gemetar. Namun, sejenak kemudian Wulan tertawa terbahak rupanya tadi dia hanya berpura-pura takut.
"Kami dengar Hanna, wanita ini mengancam akan menghabisiku, mengerikan dan menakutkan sekali bukan?" Wulan terbahak hingga tubuhnya terguncang.
"Wulan, pulang saja yuk. Kita jangan buat keributan di sini." Aku menyeret tubuhnya ke arah motor sementara itu dua matanya masih melotot ke arah Intan.
"Bawa temanmu yang pecundang ini jauh-jauh, Han. Ingat, setelah itu kamu harus pergi jauh darinya, jika tidak ingin hidupmu sial. Dia itu terakhir sial karena ibunya mati saat melahirkan dia, bapaknya mati..."
"Kurang ajarr!" geramku. Hatiku rasanya mendidih saat Intan tidak tau malu mencaci maki Wulan, wanita yang dia sakiti. Aku melepaskan peganganku pada Wulan dan berjalan mendekatinya.
"Tan, tadi kamu bilang apa? Aku tidak terlalu dengar soalnya," tanyaku dengan lembut dan senyum yang merekah.
"Wulan adalah anak sial, kamu ja..."
Sebuah tamparan keras aku layangkan di pipinya yang tertutup selendang hingga aku melihat sudut bibirnya ada setitik darah. "Bukan Wulan yang anak sial tapi kamu yang sialann!"
"Hanna! Kita tidak punya masalah tapi karena tamparanmu ini, kamu pun akan menerima kemurkaanku." Ada kilatan amarah di matanya. Nyaliku hampir menciut karena tatapannya yang sangat tajam. Untunglah nasihat bapak untuk tidak takut jika berada di pihak yang benar terus terngiang.
"Kemurkaanmu? Hmm, lucu sekali kamu, Tan. Siapa kamu yang bisa menghukum orang sesuka hatimu? Aku tidak takut menghadapi ular seperti dirimu!"
Wanita ular, mungkin panggilan itu yang pantas untuk Intan. Berbisa dan dibenci banyak orang.
"Han, kamu jangan sembarangan menjuluki aku seenak hatimu!" Tangan Intan terayun hendak melayangkan tamparan ke arahku.
"Turunkan tanganmu, jalangg!" Wulan kini sudah ada di depanku. Tangannya menarik selendang yang menutupi wajah Intan.
"Astaga!" Hampir semua orang yang ada di situ berteriak melihat wajah Intan yang sekarang pipi kirinya melepuh seperti terbakar. Ada darah serta bercampur dengan nanah dan menguarkan bau yang sangat busuk.
"Pergi! Jangan sampai pelangganku kabur karena melihatmu!" hardik sang empunya warung. Intan segera membenarkan selendangnya kembali.
"Saya mau beli kenapa anda usir?" jawab Intan sengit.
"Pergi! Kehadiranmu mengganggu pelangganku!" Si empunya warung memberi uang koin lima ratusan kepada Intan sembari mendorong tubuh mungilnya agar menjauh. Bisa aku lihat mata Intan memerah penuh amarah, pasti dia kini merasa harga dirinya tengah diinjak-injak karena disangka seorang pengemis.
"Kurang ajarr!" umpat Intan sembari melemparkan uang koin ke warung itu. "Dengarkan aku, Pak Tua. Aku bukan pengemis bahkan jika aku mau, warungmu dan dirimu bisa aku beli. Kamu tidak tau siapa aku saja jadi berani menganggapku seperti pengemis!"
"Sudah jangan banyak bicara. Pergi atau aku siram kamu!" Pria tua itu mengangkat ember yang berisi air bekas rendaman tahu.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pergi, Tan. Ketimbang kamu dikeroyok massa yang tidak tahan dengan kebusukanmu itu!" Wulan tampak tersenyum senang melihat wajah Intan yang menjijikkan itu.
Intan tampak mengedarkan pandangannya kemudian memilih pergi. Saat ia tengah menyalakan motornya, Wulan tiba-tiba saja menghampirinya dan terlihat tengah berbisik pada gadis itu. Entah apa yang diucapkan oleh Wulan tapi aku melihat dengan jelas mata Intan terbelalak serta wajahnya memucat dan langsung tancap gas.
"Ayo, Han. Kita pulang!"
Aku menurut saja dengan Wulan, sengaja tidak aku tanya perihal bisikannya pada Intan. Aku yakin nanti dia akan cerita sendiri. Sepanjang jalan Wulan bersenandung riang.
"Lan, kamu kelihatannya bahagia sekali, kenapa?"
"Aku senang karena Intan perlahan mendapat balasannya."
"Tapi, jujur aku bingung, Lan. Kenapa wajah Intan sudah seperti ini padahal ini baru beberapa hari dia tidak menggunakannya."
"Karena tempat yang dia gunakan itu asli milik si penari."
"Dari mana kita tau itu asli atau tidak? Padahal kotak seperti ini banyak dijual."
"Ha.. Apa? Aku tidak dengar, Han. Kita lanjutkan perbincangan di indekos saja. Di atas motor kita harus teriak." Aku menyetujui ucapan Wulan. Memang berbincang di atas motor yang berjalan terkadang suara kita ikut terbawa angin serta tidak terdengar jelas karena harus menembus kebisingan jalan raya.
"Jangan lupa, ya, Lan. Kita mampir dulu ke rumah Indah." Wulan hanya mengangguk. Motor Wulan mulai menembus jalan di tengah pemakaman. Jika siang, suasana tidak terlalu menyeramkan, suasana yang sepi dan menyejukkan berbanding terbalik dengan keadaan kawasan industri yang sangat panas ini.
"Han, apa kamu melihat mereka lagi?"
"Tidak. Mana ada mereka muncul siang hari bolong begini, Lan."
Motor Wulan berhenti di depan rumah Indah. Rumah itu terlihat sepi, mungkin semua sedang istirahat. Setelah mengetuk beberapa kali, Bu Yuni membukakan pintu dan menyambut kedatanganku dengan senyuman dan rentangan tangannya, membuatku menghambur di pelukannya.
"Hanna, bagaimana kabarmu, Nduk? Beberapa hari tidak ada kamu di sini rasanya sepi. Tidak ada yang menemani ibu masak lagi." Ibu Yuni memelukku erat.
Setelah mengobrol sebentar, aku mengungkapkan niatku untuk kembali ke indekos untuk menemani Wulan.
"Yakin, Nduk? Kamu sudah tidak takut sama hantu penunggu indekosmu itu?"
"Masih takut, Bu. Tapi Hanna kan punya Sang Pencipta yang akan melindungi, lagi pula ada Wulan, Bu."
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, Nduk. Semoga kamu selalu dalam perlindungan Sang Pencipta. Jangan lupa sering-sering main ke sini."
"Indah di mana ya, Bu?" Aku celingukan mencari gadis yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri itu.
"Tadi dia pergi sama teman SMA nya."
Aku pun memohon ijin untuk mengemasi barang-barangku di kamar Indah. Nenek masuk ke kamar. "Nduk, kamu mau ke mana? Kenapa semua barang kamu masukkan ke tas? Apa kamu punya masalah sama Indah?"
__ADS_1
Aku mencium tangan yang penuh kerutan sisa-sisa perjuangan hidupnya. "Tidak, Mbah. Hanna mau kembali ke indekos bukan karena ada masalah tapi ada temannya Hanna yang harus ditemani biar tidak kesepian."
"Ya sudah. Kuatkan hatimu, Nduk. Karena rahasia besar yang tersimpan begitu lama akan terkuak. Suatu saat nanti kamu akan menemukan alasan kenapa kamu ditakdirkan datang ke kota ini."
"Rahasia? Rahasia apa, Mbah?"
Wanita berusia senja itu hanya tersenyum dan berlalu setelah mengusap kepalaku dengan lembut, meninggalkan segudang pertanyaan di benak. Ah lebih baik aku cepat mengemas barangku, selain ucapan nenek yang mengundang jutaan tanya, ada juga perbincanganku dengan Wulan yang belum selesai.
Setelah berpamitan dengan diiringi derai air mata dan doa, aku dan Wulan meninggalkan rumah joglo ini. Ya keluarga ini begitu baik, sudi menyayangi orang lain sepertiku.
Setiba di indekos, aku menata baju-baju di almari. Aku dan Wulan memutuskan untuk tinggal di kamarku dulu sampai keadaan dirasa aman karena kami masih takut Intan akan datang dan bisa saja dia melancarkan aksinya untuk menghabisi aku dan Wulan.
"Lan, kita lanjutkan pembicaraan kita tadi yuk." Ucapanku membuat wanita yang tengah memainkan ponselnya itu mendongak.
"Pembicaraan yang mana?"
Aku menepuk jidatku sendiri karena gemas dengan sifat pelupa Wulan yang terkadang menjengkelkan itu. "Itu soal bagaimana kita tau kotak itu asli atau tidak. Ingat tidak?"
Wulan tampak menggaruk kepalanya. "Oh, soal itu, ngomong dong, Han. Jadi aku tidak pusing mengingatnya," ucapnya sembari memukul lenganku.
"Ya ampun. Kenapa aku punya teman yang pikun seperti ini?" Aku mengelus dadaku, sementara Wulan hanya meringis memamerkan gigi gingsulnya.
"Jangan marah dong, Han. Jadi kemarin aku sempat ngobrol dengan Lina, untuk menguji keaslian kotak ini mudah tapi sangat berisiko. Bakar saja kotak itu, dia tidak akan menjadi abu seperti kotak-kotak yang dijual bebas di luaran."
"Kalau seperti itu saja namanya tidak ada risikonya dong." Aku menautkan kedua alisku, di mana letak risiko besar yang dikatakan Wulan tadi.
"Tentu saja besar, jika kita membakarnya maka wajah si pemakai juga ikut terbakar." Aku membekap mulutku, jadi wajah Intan yang melepuh karena semalam Wulan mencoba membakar kotak itu.
"Mengerikan sekali, Lan. Aku pikir tadinya itu kotak kota bakar saja biar tidak ada yang menyalahgunakan lagi. Agar tidak ada yang tertarik menggunakannya lagi. Lalu sekarang bagaimana kita bisa memusnahkannya?"
"Tidak ada yang tau bagaimana caranya. Kata Lina, kotak ini akan hilang jika yang memusnahkan adalah pemiliknya sekarang tapi itu pun belum tentu bisa. Lagi pula setelah tau bahwa pemiliknya akan musnah bersamaan dengan musnahnya kotak ini, banyak yang mengurungkan niatnya. Jika tetap ingin memusnahkannya pun si penari tidak akan tinggal diam. Dia akan menghabisi mereka dulu dan membawa mereka ke alamnya. Untuk dijadikan budak."
Aku hanya bisa bergidik ngeri membayangkan akibat dari benda sekecil itu bisa membuat nyawa melayang. Aku jadi ingat apa yang aku lihat semalam, Gayatri yang tengah dikejar seorang penari yang buruk rupa. Apa nasib yang sama akan dialami Intan, hidup tidak akan tenang karena akan terus mendapat teror dari si penari itu.
"Lalu mau kita apakan kotak ini, Lan? Tidak mungkin kita menyimpannya terus."
"Sementara kotak ini akan aku jadikan senjata untuk mengancam Intan agar tidak menyakiti kita." Ada seringai misterius yang muncul di wajah Wulan.
"Apa benar kamu menyimpan kotak ini hanya untuk menakutinya saja atau kamu punya tujuan lain, Lan? Kamu mau balas dendam misalnya?"
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1