
Aku terkejut dengan ucapan yang bijak sekali dari mulut wanita yang telah banyak menahan rasa sakit akibat tindakan sahabatnya itu. Bagaimana bisa ada wanita berhati bidadari seperti Wulan yang sanggup merawat anak hasil perselingkuhan suaminya.
"Kamu serius, Lan? Mau merawat jika anak itu benar-benar ada?"
"Tidak apa-apa. Anggap saja aku tengah beramal pada anak terlantar." Ada senyum getir yang terlukis di wajah ayu itu.
"Lan, aku berharap apa yang diucapkan Intan itu hanya bualan belaka. Jadi kamu tidak perlu melihat hasil dari sebuah pengkhianatan itu seumur hidupmu. Aku tidak mau kamu tersiksa seumur hidup dengan melihat anak itu."
"Aku pun berharap demikian, Han. Ini hanya bicara kemungkinan terburuk saja."
Aku memeluk wanita yang berusaha tegar setelah diterpa masalah yang berat bertubi datang padanya. "Kenapa hatimu bisa sekuat ini sih, Lan? Andai aku yang menghadapi permasalahan sebesar ini pasti tidak akan mampu."
"Tidak, aku tidak sekuat itu. Dendamku pada Intan masih membara, aku belum puas sebelum melihat kehancurannya dengan mataku sendiri. Semoga saja, Han, kamu tidak mengalami hal menyakitkan seperti yang aku alami ini. Semoga jodohmu nanti tidak melakukan kesalahan yang diperbuat Adnan. Mulai sekarang kamu harus hati-hati menghadapi rayuan gombal dari para kaum buaya. Jangan mudah tersentuh oleh mulut manis kaum adam. Mayoritas para pria itu hanya penasaran dengan yang tertutup oleh kain. Jarang sekali ada yang benar-benar tulus mencintai wanita, kalaupun ada mungkin hanya satu di antara sejuta."
Ucapan Wulan mengingatkanku tentang Ridwan yang terus terus saja menghujaniku dengan kata-kata yang manis. Bisa saja dia seperti para buaya yang hanya ingin sesuatu saja. Apalagi kata Indah, Ridwan sangat senang membuat anak baru termakan oleh bujuk rayunya. Aku sepertinya harus memupus rasa cinta yang mulai tumbuh di hati. Aku tidak ingin kecewa di kemudian hari karena jatuh cinta pada orang yang salah.
"Han, aku yang banyak masalah malah kamu yang terlihat melamun. Kenapa? Apa kamu tidak mau berbagi cerita denganku?"
"Bukan masalah sih, Lan. Lebih tepatnya aku sedang memikirkan kata-katamu barusan. Memangnya semua pria itu sama ya, manis di awal saja?"
"Dulu Adnan seolah akan menjadi imam sampai maut menjemputku. Makanya aku mau menikah dengannya padahal selisih usia kami sangat jauh. Aku pikir dia akan menjadikanku ratu. Namun, lihat saja sekarang. Dia memilih perempuan lain sebagai teman tidurnya."
"Aku jadi takut mau membuka hati."
"Tidak perlu takut dalam sebuah hubungan. Kalau kamu mau jodoh yang baik pastikan kamu baik juga karena jodoh itu cerminan diri. Dulu aku tidak baik jadinya dapat pria bajingaann seperti Adnan."
Aku hanya mengangguk, dari kata-kata Wulan, aku bisa menarik satu kesimpulan adalah bagi kaum jomblo silakan memantaskan diri menjadi seperti pria idamanmu.
"Han, kamu istirahat saja dulu, kan kamu baru pulang sift malam. Pasti kamu ngantuk banget." Wulan menasihatiku karena dari tadi aku menguap lebar.
"Bentar lagi deh." Aku meregangkan otot di badanku yang terasa begitu kaku dan tegang, terutama di bagian tengkuk.
"Han, tadi itu pas mau naik, aku ketemu sama Bu Wati. Nah pas ngobrol gitu, iseng aku nanya tentang yang dilakukannya di kamar kamu malam jumat kemarin. Tau tidak, dia jawabnya kaya gelagapan gitu. Ngomong juga tergagap dan belepotan tidak jelas."
"Memang Bu Wati jawabnya apa? Kenapa dia sampai begitu?"
__ADS_1
"Dia kira tidak ada orang saat itu. Bu Wati masuk ke kamarmu itu untuk mengusir penghuni kamarmu. Katanya biar tidak menggangu dan meresahkan penghuni indekos lainnya." Mulutku membulat membetuk huruf O, saat mendengar penjelasan Wulan.
"Tapi, Lan, bukannya dengan ritual seperti itu bukan mengusir tapi malah justru mengundang makhluk seperti mereka semakin banyak ya. Lalu ayam cemaninya itu buat apa?"
"Kata Bu Wati disembelih di kamar mandi setelah itu dagingnya dicacah terus dibuang di sungai. Katanya agar para hantu itu ikut hanyut ke sungai. Entahlah, Han. Kata Bu Wati itu atas perintah pemilik indekos ini. Agar aman dan tidak ada gangguan dari makhluk tidak kasat mata lagi."
"Siapa sih pemilik indekos ini?"
"Aku juga tidak tau, Han."
Cukup lama aku berbincang dengan Wulan. Namun, akhirnya aku menyerah dengan rasa ngantuk yang terus saja menggelayutiku. Aku tertidur bahkan hingga azan Asar berkumandang, aku masih terlelap dalam mimpi panjangku. Baru sekitar jam lima sore, Wulan membangunkanku.
"Han, bangun! Sudah sore lo."
Aku terkejut karena sudah sore ini aku melewatkan salatku. "Ini aku tidur kaya kebo, tidak dengar apa-apa. "Maaf ya, Lan. Tadi aku ketiduran pas kita lagi ngobrol, soalnya aku ngantuk banget."
"Ya, tidak apa-apa, Han. Aku paham kok kamu semalam begadang, belum lagi semalam kamu menemani aku yang sedang galau karena ulah dua hewan itu. Sana! kamu salat dulu, mumpung ini belum masuk waktunya salat Magrib. Setelah itu kita pergi cari makan ya. Aku laper banget, Han. Oh ya, tadi makanan yang kamu bawa sudah aku makan, terima kasih ya. Aku tidak tau nih kalau aku sedang stres bawaannya pengen makan terus, laper terus," ujar Wulan sembari mengusap perutnya.
"Tidak apa-apa ketimbang kalau stres larinya yang aneh-aneh, mending larinya ke makan aja kali ya. Tunggu sebentar ya aku mau salat dulu setelah itu kita cari makan sama-sama."
Aku bergegas melakukan kewajiban dengan bersujud kepada-Nya. Setelah itu mandi dan bersiap untuk mencari makanan. Angkringan yang tidak jauh dari pabrik tempatku bekerja menjadi pilihan akhir aku dan Wulan untuk menuntaskan rasa lapar ini. Segelas es jahe aku pilih sebagai pelepas dahaga. Rasa pedas dari jahe yang digeprek kemudian dibakar menambah harum dan sensasi dinginnya membuat mata yang tadinya masih menyisakan kantuk langsung lenyap sementara Wulan memilih es cokelat agar moodnya membaik.
"Teman? Kami datang cuma berdua lo, Pak," jawabku dengan Wulan hampir berbarengan. Aku pun ikut menoleh ke belakang ke arah di mana tatapan bapak itu berlabuh.
"Itu yang pakai baju biru, dia pasti kakaknya kamu ya, Mbak. Wajahnya sangat mirip."
Tengkukku mulai tidak nyaman, sudah dua kali ini ada yang bilang aku bersama dengan wanita yang mirip sekali denganku. Dulu neneknya Indah sekarang bapak penjual angkringan, padahal tidak ada siapapun di belakangku.
"Pak, tidak ada siapa-siapa lo. Cuma kamu berdua lo yang datang."
"Jangan bercanda, Mbak. Orang saya lihat, kalian tadi berboncengan bertiga. Si Mbak yang itu duduk paling belakang."
Aku dan Wulan semakin yakin bahwa itu mungkin hantu yang menghuni kamarku. Apalagi kami keluar saat langit senja mulai kemerahan. Saat itu para jin dan manusia ada dalam satu frekuensi. Dia yang tidak terlihat ikut naik ke motor hingga ke angkringan.
"Tapi bener, Pak. Kami dari indekos cuma berdua. Coba bapak lihat sekarang yang bapak bilang teman saya ada dimana?"
__ADS_1
Pria berkumis tebal itu menelisik ke sana ke mari. Pandangannya beredar ke sekitar angkringan. Sesekali pria itu menggaruk kepalanya.
"Hilang, Mbak. Tadi perempuan yang mirip Mbaknya berdiri persis di belakangmu, Mbak. Sementara tangannya bersedekap di dada. Matanya menang sedikit merah dan kulitnya pucat. Sebenarnya pergi kemana? Apa jangan-jangan dia hantu?" Wajah bapak itu memucat karena mungkin ketakutan.
"Mungkin bapak salah lihat, Pak. Tidak usah dipikirkan, Pak. Saya minta nasi bandeng bungkusnya dua sekalian bakarannya ya, Pak. Sate usus satu, tahunya dua, dan mendoannya dua, dibakar pakai kecap ya, Pak. Kamu apa, Lan?"
"Sama deh, Pak, cuma dibakarnya biasa saja dan tidak pakai kecap. Tambahin bacem kepala ayam ya, Pak."
"I-iya, Mbak." Masih bisa aku mendengar ada suara bergetar yang keluar dari mulut pria itu.
Aku dan Wulan memilin duduk di lesehan agar bisa meluruskan kaki sembari menunggu pesanan datang, aku dan Wulan mengobrol tentang hal yang ringan. Seperti tingkah laku anak-anak Wulan yang menggemaskan.
"Lihat, Han. Ini anakku yang besar. Umurnya empat tahun. Dia sepertinya berbakat jadi vlogger karena selalu fasih menirukan para konten kreator. Wulan menunjukkan padaku saat sulungnya membuat vlog ketika sang nenek memasak. Suaranya yang cadel membuatnya semakin lucu dan menggemaskan.
"Lan, coba deh itu anak-anakmu videonya kamu unggah di sosial media siapa tau ada yang mau mengorbitkan jadi artis atau apa lah itu namanya yang mempromosikan produk terus di akun sosmednya lalu kemudian dapat penghasilan di sana."
"Kapan-kapan deh, Lan. Aku takut nanti dibilang mengeksploitasi anak lagi."
Saat perbincangan itu masih berlangsung pesanan kami datang. "Pak, kami kan tidak pesan burung puyuh bakar tapi kok dikasih."
"Oh itu pesanannya temennya Mbak yang tadi. Katanya buat ehm.. namanya Mbak Hanna suka sekali mengonsumsi itu."
"Orangnya yang mana, Pak?"
"Itu yang duduk di kursi panjang menghadap ke sini!" Pria itu berucap sembari membereskan gelas-gelas yang baru saja selesai dipakai pelanggan lainnya tempat melihat ke arah yang ditunjuknya. Kembali aku dan Wulan kebingungan karena di sana kosong tidak ada orang yang duduk di sana.
"Pak, yang mana? Kok saya tidak melihat apa-apa?"
"Mbak ini pasti mau ngerjain saya kan. Itu lo Mbaknya sedang senyum melambaikan tangan ke kita." Pria itu hendak membawa gelas-gelas kotor, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Gelas yang ada di tangannya dilepaskan begitu saja, tentu saja gelas-gelas itu pecah berhamburan. Matanya melotot. Buru-buru aku bangkit berdiri untuk mengetahui keadaan pria itu.
"Ke-kenapa, Pak?"
"I-itu temannya bukan ma-manusia. Dia tertawa, ta-tapi perlahan kulitnya terkelupas hingga dagingnya kelihatan serta darah mengucur deras tapi perempuan itu tetap tertawa bagai tidak merasakan kesakitan meski tengah dikuliti seperti itu. Dari dagingnya muncul belatung yang sangat banyak." Perlahan tubuh pria itu lemas dan ambruk.
Wanita yang wajahnya terkelupas dan penuh belatung? Apakah dia hantu yang tinggal di indekosku?
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...