Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Perjanjian Siren karya baru Parasian


__ADS_3

Jika berkenan berkunjung ke karya baruku ya❤️



Bab 1 : Anwar Prasetyo


Hari ini adalah hari kelulusan Anwar Prasetyo di kampusnya. Dia masuk jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta di Yogyakarta dengan hasil IPK pas-pasan. Kedatangan orang tua Anwar saat itu tidak membuat putra semata wayangnya senang, malah justru malu.


"Eh, itu orang tua siapa yang seperti orang desa?"


"Mana? Mana?"


"Itu, tuh!"


"Wah, nggak tau. Bukan orang tuaku, lah."


Bisik-bisik teman sekampus Anwar membuatnya gusar. Ternyata orang tua yang dibicarakan itu adalah orang tua Anwar. Bapak Rahmat dan Ibu Ratna membesarkan Anwar di pelosok Bantul, Yogyakarta. Mereka memiliki perkebunan sendiri dan kolam ikan untuk mata pencaharian yang tidak seberapa luas, tetapi cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari. Mereka tidak menyangka selama kuliah empat tahun ini putranya menyembunyikan banyak hal kepada kawan-kawannya. Pantas saja tidak ada teman Anwar yang bertamu ke rumah.


Anwar berjalan ke arah lain, pura-pura tidak melihat orang tuanya. Namun saat itu Pak Rahmat melihat putranya hendak ke samping panggung. "Anwar!" seru Pak Rahmat membuat semua orang di sekitar Anwar menatap ke arahnya.


'Mampus! Kenapa juga teriak begitu kencang. Dasar bapak!' batin Anwar dengan geram. Mau tidak mau dia menoleh ke arah ayahnya.


"Anwar... Ibu sama bapak dari tadi cari kamu, lo," tutur lembut Bu Ratna sambil mendekati putranya.


Bukan sambungan yang baik diterima justru Anwar kesal dan membentak. "Heh, sopir dan pembantu! Kenapa masuk ke sini? Bukankah papah dan mamahku bilang kalian mewakili tapi di luar saja?!"


Kawan-kawan Anwar mulai berbisik satu dengan yang lain. Menengok keadaan yang makin tidak kondusif, Anwar dengan kasar menarik tangan ibunya dan mengajaknya keluar dari gedung wisuda.


"Anwar... Nak, kenapa kamu seperti ini? Salah Ibu apa? Bapak ke sini juga bawa mobil. Biasanya bapak tidak mau bawa mobil," kata Bu Ratna mencoba menghentikan putranya yang terus menarik tangannya.


Anwar masih bertindak kasar dengan menarik tangan kanan ibunya. Pak Rahmat pun menyusul dan segera melepaskan tarikan tangan Anwar dari Bu Ratna. Bukannya membuat redam permasalahan, Anwar justru menarik perhatian orang-orang.


"Lepaskan tangan Ibumu! Kali ini kamu sudah keterlaluan!"


Suara tangan Pak Rahmat yang berayun kencang ke pipi Anwar membuat seluruh orang di dalam gedung wisuda terkejut dan terdiam. Anwar memegang pipinya yang merah dan merasa malu menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Bapak keterlaluan!" geram Anwar sambil mengepalkan tangannya.


Beberapa teman dekat Anwar langsung menghampiri dan melerai. "Bro, sudah. Jangan begitu sama orang tua," ujar kawan Anwar yang bernama Damar.


"Mereka bukan orang tua gua!" Anwar masih mengelak kalau Bapak Rahmat dan Ibu Ratna adalah orang tuanya.


"Kurang ajar kamu, Anwar!" seru Pak Rahmat yang hampir menamparnya lagi. Namun Bu Ratna langsung menengahi hal itu. Bersamaan dengan itu, dosen pun datang.


"Pak, jangan. Ibu mohon biarkan saja Anwar," pinta Bu Ratna pada suaminya yang sudah meradang dengan tingkah laku putranya.


"Maaf, Bapak dan Ibu, ada masalah apa? Anwar tolong hormati orang tuamu. Jangan seperti ini," kata Dosen pengampu mata kuliah serta menjadi Rektor.


Seketika Anwar terdiam karena malu luar biasa. Dia pun berlari menghindari kerumunan. Damar dan keempat temannya berlari mengejar Anwar. Sedangkan Dosen itu meminta maaf kepada Bapak Rahmat dan Ibu Ratna.


"Mohon maaf atas kelakuan Anwar ya, Pak dan Bu. Silakan duduk di kursi orang tua yang sudah disediakan," ucap Dosen sambil menundukkan kepala.


"Tidak usah, Pak. Maaf membuat gaduh hari ini. Kami pulang saja." Pak Rahmat memilih pulang dengan istrinya.


Dalam penampilan dan wajah, memang Bapak Rahmat dan Ibu Ratna terlihat ketinggalan zaman. Namun mereka termasuk orang terpandang di desa. Usahanya pun terbilang cukup maju sehingga bisa membeli mobil sedan second. Perjuangan orang tua selalu salah di mata Anwar karena malu memiliki orang tua terlihat kampung atau desa. Anwar ingin mewah seperti kawan-kawannya dengan mobil baru dan orang tua yang elite.


"Ngakunya aja anak orang kaya, anak pejabat. Ternyata..."


"Pejabat desa kali... Hahaha..."


Anwar segera keluar dari gedung setelah acara wisuda berakhir. Kelima kawannya menyusul. Sebenarnya hanya Damar yang benar-benar peduli karena sudah sejak lama berteman dengan Anwar. Keempat kawan lainnya hanya senang mendapatkan traktiran dari Anwar.


"Bro... Bro! Jangan seperti itu lah. Kan aku sudah tau dari SD. Jangan merasa malu atau rendah diri," kata Damar mencoba membesarkan hati kawannya.


"Kamu ini nggak ngerti perasaanku! Sekarang pasti nggak ada yang mau main denganku gara-gara orang tuaku udik (kampungan)." Anwar masih kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"War... perasaan dulu kamu nggak seperti ini. Kita berteman dari SD, lo. Please jangan merasa rendah diri," ucap Damar yang malah disalahartikan oleh Anwar.


"Kau sih, enak! Udah jadi anak orang kaya karena mamahmu cerai dan nikah lagi. Lah, gua? Masih aja jadi orang desa!" gerutu Anwar tak pernah bersyukur. Padahal Bapak Rahmat dan Ibu Ratna termasuk orang terpandang di desanya meski pelosok Yogyakarta bagian selatan.


"War, heran banget sama kamu. Kenapa sih, bersyukur sedikit saja nggak bisa? Orang tuamu sampai jual tanah warisan, kan, buat biaya kuliah kamu di sini?!" Damar mulai terpancing emosi. Anwar pun langsung menggertak.

__ADS_1


"Bodo amat! Gua juga nggak minta orang tua kampungan seperti itu!"


......................


Satu bulan kemudian...


Semenjak pertengkaran saat wisuda, hubungan Anwar dengan orang tuanya renggang. Terutama dengan Pak Rahmat, sebagai kepala rumah tangga pastinya merasa terhina dengan perlakuan putra semata wayangnya. Selain itu, Damar dan kawan Anwar lainnya juga kesal dengan kelakuan lelaki berusia dua puluh dua tahun itu. Mereka tidak mau menghubungi Anwar lagi.


"Huh, punya teman mata duitan semua! Oh, iya. Ini email dari perusahaan yang beberapa waktu lalu aku ajukan lamaran kerja, kan? Wah, yes! Aku diterima! Akhirnya aku bisa kerja di Jakarta dan mengubah nasib!" seru Anwar yany masih berbaring di ranjang saat menggunakan ponselnya.


Anwar langsung keluar dari kamar dan bergegas menemui ibunya. Mungkin kalau ayahnya masih kesal, setidaknya ada ibunya yang selalu mendukung Anwar.


Terlihat Ibu Ratna berada di dapur saat itu. Anwar langsung mendekati ibunya dan merangkul perempuan tua itu. "Bu... Ibu masih marah, ya?"


"Apa, Nak? Oh, tidak. Ada apa, Anwar?" tanya Bu Ratna sambil menatap wajah putranya yang tampan.


"Bu, Anwar diterima kerja di perusahaan besar daerah Jakarta. Anwar jadi akuntan di sana. Pekerja kantor, Bu!" kata Anwar dengan antusias.


"Benarkah, Anwar? Alhamdulillah... ayo kita bilang Bapak. Ini kabar bagus! Bapakmu pasti senang!" seru Bu Ratna dengan bahagia. Dia bersyukur meski nilai kelulusan putranya pas-pasan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang bagus.


Bu Ratna menggandeng putranya dan mengajak ke tempat suaminya yang berada di belakang rumah.


Pak Rahmat sedang memberi makan ikan-ikan di kolam yang begitu banyak. Mereka menjalani kehidupan sederhana demi menabung dan mewujudkan apa yang Anwar inginkan. Mereka hanya menyewa orang untuk panen ikan dan hasil kebun saja.


"Pak! Pak! Ada kabar baik, Pak!" Bu Ratna sangat bersemangat memberi kabar kepada suaminya soal pekerjaan yang Anwar dapatkan.


Ada apa, Bu? Kok, girang sekali? Lah, kenapa anak ini ikut ke sini?!" Pak Rahmat masih kesal dengan putranya yang tidak punya sopan santun dan tidak mengakui orang tuanya.


"Wah, benar, Nak! Alhamdulillah... Bapak bangga denganmu, Nak!"


Siang itu kegembiraan hinggap di hati orang tua Anwar karena mendapatkan kabar putra semata wayangnya diterima bekerja dalam perusahaan besar. Sebuah prestasi yang membanggakan karena selama ini Anwar selalu saja menyusahkan orang tuanya. Setelah itu, Anwar mulai mengajukan beberapa hal dan permintaan kepada orang tuanya untuk persiapan ke Jakarta. Selain tiket pesawat, Anwar juga meminta uang untuk membayar tempat tinggal di sana selama tiga bulan awal, serta beberapa kebutuhan lain sebagai penunjang. Ya, uang dan uang yang selalu Anwar minta kepada orang tuanya tanpa peduli betapa susah payah orang tuanya mencari uang.


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


Lanjut baca di sana ya guys! Happy reading😊


__ADS_2