
Perayaan hari ulang tahun yang pertama si kembar Caleb dan Chloe sudah selesai. Ben pun sudah membereskan peralatannya dan sudah dibawah pulang oleh asistennya.
Faith mendekati Ben yang sedang duduk sambil menikmati kopinya.
"Makasi ya, Ben. Aku senang sekali hari ini, perayaan ulang tahun anakku dan juga lamaran Joe kepada Rachel semuanya berjalan dengan baik."
Ben menatap wanita disampingnya. Wajahnya nampak keibuan. Dia bahkan terlihat lebih dewasa dengan dandanannya yang sekarang.
"Kau cantik, Faith"
"Kau sudah mengatakannya sejak pertama datang tadi"
Ben terkekeh. Jujur kalau ia mau akui, dulu ia sempat berpikir untuk menculik Faith dari Ezekiel, suaminya. Namun melihat bagaimana perjuangan cinta mereka, Ben sekarang hanya ingin menjadi sahabat bagi pasangan suami istri itu.
"Siapa gadis itu, Ben?" tanya Faith.
"Gadis yang mana?"
"Yang akan menikah denganmu. Aku jadi penasaran saat kau katakan bahwa gadis itu bahkan tak tahu kalau dia akan menikah denganmu"
"Aku bertemu dengannya secara tak sengaja. Dan kebetulan mommy mau menjodohkanku dengannya"
"Kau setuju karena suka dengannya atau...?"
"Kau tahu aku sulit jatuh cinta dengan wanita."
"Ben, pernikahan bukan mainan. Setidaknya biarkan kalian kenal dulu baru memutuskan untuk menikah"
"Statusku sebagai play boy justru membuatnya takan pernah menyukaiku. Dia berbeda dengan kebanyakan gadis yang ku kenal. Rayuanku bahkan tak mempan untuknya" Ben tersenyum miris.
"Jadi, kau cinta padanya atau hanya terobsesi untuk menaklukannya?"
Ben menggeleng " Mungkin, bukan dua-duanya"
"Aish...Ben, jangan menikah jika ini hanya sebuah permainan. Kamu lihat sendiri kan bagaimana aku dan Ezekiel harus melewati ujian berat untuk keluar dari permainan pernikahan kami?" Faith sedikit kesal.
"Dia gadis dari Indonesia...."
"Apakah karena dia orang Indonesia sehingga kau tertarik? Ini bukan tentang a...."
"Kau sudah menjadi saudara bagiku, Faith. Aku tak akan mengubah takdir kita" Ben memotong ucapan Faith.
Faith tersenyum senang. Saat itu Ezekiel muncul diantara mereka.
"Sayang, anak-anak sudah tidur di mobil. Ayo kita pulang..." ajaknya.
Faith mengangguk. Setelah mereka berpamitan pada Ben, pasangan itu pergi. Ben menarik napas panjang. Setelah menghabiskan kopinya, ia pun meninggalkan gedung itu.
*******
Maura yang baru selesai ganti baju meraih hp nya yang berbunyi. Ia kaget melihat nama crazy man.
Ada apa dia meneleponku?
"Hallo..." Maura akhirnya mengangkat telepon dari Ben.
"Hai....kamu sudah tidur?"
"Ya. Kau sungguh menganggu" Maura pura-pura bohong.
__ADS_1
"Maaf. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Semoga kamu lebih berhati-hati lagi kedepan."
"Makasi Ben"
"Aku ada di depan rumahmu"
"Ha...? Sedang apa kamu di sana?"
"Kangen saja ingin melihatmu"
"Ih.....berhentilah merayuku Ben. Kamu tahu itu takkan mempan dan itu takkan mungkin. Aku akan menikah"
"Kan belum menikah. Jadi aku masih punya kesempatan."
"Ben, aku ngantuk. Bye...." Maura mengahiri pembicaraannya dengan Ben. Ia meletakan hp nya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah itu mematikan lampu kamarnya.
Tiba-tiba hp nya berbunyi lagi. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya Maura pun mengangkatnya.
"Ben, sudah kukatakan kalau aku mengantuk"
"Siapa Ben?"
Deg...!
Maura terkejut karena itu suara Alan.
"Siapa Ben?" terdengar suara Alan yang berbicara lebih keras lagi.
"Alan, aku mau tidur"
"Apakah kau sekarang berhubungan dengan laki-laki lain?"
"Aku mencintaimu, Maura. Aku begitu takut kehilanganmu. Mengapa kau tak datang dan mendengarkan penjelasanku?" suara Alan terdengar frustasi.
"Aku sibuk bye...." Maura langsung mengahiri percakapan. Ia bahkan menonaktifkan hp nya.
"Alan....aku masih sakit membayangkan kau dan Kelly yang bercinta saat itu" guman Maura lalu membaringkan tubuhnya lagi. Ia memeluk bantalnya mencoba mencari damai untuk tidur malamnya. Namun yang dia ingat adalah kejadian kemarin saat Ben mencium dan mengelus pahanya.
Ah...aku pasti sudah gila. Mengapa justru aku membayangkan hal itu? Maura menepuk kepalanya sendiri.
Sementara itu di depan rumah Maura, Ben masih memarkir mobilnya di sana. Ia terus memandang rumah megah itu sambil tersenyum.
Ia sendiri tak mengerti mengapa ia harus datang ke rumah ini.
*********
Alicia terkejut melihat anaknya pulang ke mansion malam ini.
"Ben apa kamu sakit? Tumben pulang ke rumah" sapa Alicia.
Ben hanya tersenyum. Ia memeluk mamanya dan kemudian mendekati papanya yang sedang menonton TV.
"Hallo, dad" sapanya sambil duduk di samping papanya.
Bryan Aslon memandang putranya sejenak. "Kau sedang ada masalah?"
"Entahlah, dad. Aku hanya bingung saja"
Alicia yang duduk di depan 2 lelaki kesayangannya itu tersenyum " Bingung kenapa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau pernikahannya ditunda dulu?"
"Ben, kamu sudah gila ya? Persiapannya sudah hampir 100%. Undangannya saja sudah mulai dibagikan. Kamu mau mempermalukan mommy dan daddy? Siapa yang mau supaya pernikahan ini cepat dilaksanakan? Kamu sendirikan ? Jadi jangan pernah menarik diri dari kata-katamu sendiri. Jadi pria itu harus punya tanggungjawab" Alicia langsung bereaksi mendengar perkataan anaknya. Suaranya langsung melengking tinggi membuat Ben dan papanya sedikit menutup kuping mereka.
"Ben, daddy dan mommy dulu juga dijodohkan. Namun karena kami berdua memegang komitmen pernikahan, mencoba saling mengenal satu dengan yang lain, akhirnya kami saling cinta. Dan lahirlah kalian bertiga" kata Bryan sambil menepuk pundak anaknya.
Ben menarik napas panjang. Mau mundur juga tak ada gunanya
"Baiklah.Maafkan aku, mom. Cuma kalau boleh jangan pake acara siaran langsung lagi ya? Aku justru tak ingin ada wartawan di pernikahan kami. Boleh kan, mom?"
Alicia mengangguk walaupun sebenarnya dia sudah mempersiapkan pernikahan Ben diliput secara live oleh salah satu stasiun TV milik keluarga Aslon.
Ben segera menuju ke kamarnya. Kamar yang sudah jarang ia tempati. Ia membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya, sambil membayangkan wajah Maura.
Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Melebihi rasa cinta yang pernah kumiliki untuk Faith? Ataukah Maura hanya sekedar obsesi yang setelah kudapatkan akan ku lepaskan seperti para gadis yang selama ini dekat denganku?
**********
Wajah Maura sedikit menegang saat melihat Kelly dan Alan datang ke rumahnya pagi ini.
"Ada apa?" tanya Maura sedikit sadis sambil duduk di atas sofa. Ia bahkan tak mempersilahkan 2 orang itu duduk.
Kelly langsung menubruk tubuh Maura dan bersimpuh dikakinya.
"Ra, aku mohon maaf. Maafkan aku " tangisnya langsung pecah.
Maura tak tega melihat Kelly yang bersimpuh dikakinya.
"Bangunlah, jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan kalian"
Kelly tak mau berdiri. Ia masih bersimpuh di kaki Maura "Jangan marah pada Alan, Ra. Aku yang menggodanya. Aku memberikan dia air minum yang sudah kucampurkan dengan obat perangsang. Maafkan aku, Ra. Aku memang jalang...."
Maura menarik tubuh Kelly sehingga temannya itu kini duduk berdampingan dengannya.
"Jangan menghina dirimu sendiri. Itu tidak baik."
Alan menatap Maura "Aku mohon, Ra. Kembalilah ke club. Anak-anak begitu ingin mengikuti lomba itu. Namun tak akan bisa jika kamu tak ada."
Maura menunduk "Aku tak bisa. Aku sudah janji pada papaku untuk berhenti". Maura enggan menceritakan pernikahannya.
"Ra, aku akan keluar dari club kalau memang aku yang jadi penghalangnya" kata Kelly masih dengan deraian air matanya.
"Aku juga siap meninggalkan club jika aku memang penghalangnya." Alan pun berbicara.
Maura masih bungkam. Ia bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
"Aku.....akan usahakan datang. Kalian berdua jangan berhenti sebab tanpa kalian pun club itu tidak ada gunanya. Aku akan coba bicara pada papaku"
Kelly tersenyum. Ia memeluk Maura "Terima kasih, Ra. Anak-anak pasti akan senang mendengar hal ini"
"Dan Alan. Aku ingin kita menjadi teman saja. Supaya semuanya akan berjalan baik".
Alan memandang Maura dengan tatapan tak relah. Namun demi club dia harus menahan sedikit egonya.
"Baiklah, Ra. jika itu yang kau inginkan" kata Alan dengan wajah lesuh. Kali ini aku mengalah, namun sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu Maura Belinda. Kata Alan dalam hatinya.
#makasih sudah baca part ini
#Jangan lupa like dan komentarnya
__ADS_1
😊😊😊