My Best Photo

My Best Photo
Getaran


__ADS_3

Sebuah restaurant Jepang dipilih Ben menjadi tempat makan siang mereka.


"Kau mau makan apa?" tanya Ben.


"Kau saja yang pilihkan"


"Aku bisa menebak, kamu belum pernah ke sini kan? Pada hal restaurant ini adalah salah satu tempat makan terfaforit orang Asia"


Maura menunduk "Kamu tahu aku tidak suka jalan-jalan di London ini. Tempat yang kutahu hanyalah sekolahku, mall di dekat kampusku dan beberapa tempat makan di sekitar tempat latihan. Dan tentu saja sungai thames"


"Belajarlah mencintai kota ini. Karena kita akan menghabiskan banyak waktu di sini bersama. Kita akan menua bersama di tempat ini" kata Ben lembut sambil menyentuh tangan Maura.


Kata-kata Ben sangat menggetarkan hati Maura. Namun gadis itu berusaha untuk membuang setiap getar yang coba hadir di hatinya.


"Aku rindu Indonesia" kata Maura tanpa menepis tangan Ben.


"Kita akan pulang ke Indonesia untuk mengobati rindumu. Kalau perlu bulan madu kita pergi ke sana"


"Benarkah, Ben?" tanya Maura dengan mata yang berbinar. Ia tanpa sadar menggengam tangan Ben.


"Ya. Apapun itu asalkan kau senang"


"Terima kasih, Ben"


"Kita akan ke Indonesia untuk bulan madu, jangan kau lupa itu. Bulan madu..." Ben sengaja menekan kalimat terakhir dengan tatapan mata yang sungguh menggoda.


Maura menarik tangannya dari genggaman Ben. Ia memalingkan wajahnya yang terasa panas.


"Kamu mesum, Ben" katanya setengah berbisik.


Ben akan bicara, namun seorang pelayan datang untuk mengambil daftar pesanan mereka.


"Aku ini suamimu, sayang. Masa bulan madu dianggap mesum?" Ben melanjutkan perkataannya yang sempat tertahan tadi.


"Ben, aku...." kalimat Maura terhenti saat melihat seorang gadis yang berpakaian seksi berjalan ke arah meja mereka.


"Ben...." panggil gadis itu manja.


Ben menoleh ke arah suara itu. Senyumnya langsung melebar melihat siapa yang datang.


"Rebeca?" Ben berdiri.


"I miss you so much, Ben" Gadis yang bernama Rebeca itu langsung memeluk Ben dan menghadiahkan sebuah ciuman di pipi Ben sehingga ada tanda lipsticknya di sana.


Maura yang melihatnya langsung terpana. Gadis cantik yang tingginya hampir sama dengan Ben itu tersenyum manja. Ia menghapus bekas lipstick itu sambil tertawa manja.


"Maaf, Ben. Aku mengotori wajahmu"


"Kamu memang selalu begitu"


"Ben, aku boleh duduk di sini?" tanyanya manja.


"Silahkan"


Rebeca langsung menarik kursi yang ada di samping Ben dan duduk dengan manis di sana. Ia sekilas menatap Maura, namun tak menyapanya. Badannya diputar sedikit menyamping ke arah Ben.


"Ben, katanya kamu sudah menikah ya?" tanya Rebeca


"Iya."


"Sedih aku mendengarnya, Ben. Siapa memangnya gadis itu? Apakah dia lebih cantik dariku?"


Ben tersenyum "Dia ada di depanmu"


Rebeca terpana. Ia seakan tak percaya. "Maaf ya...aku pikir dia adalah salah satu anak buahmu"


Rebeca memaksakan sebuah senyum ke arah Maura.


"Seleramu sudah berubah, ya?" tanyanya sedikit berbisik.


"Cinta mengubah segalanya" Kata Ben sambil meraih tangan Maura " Ini istriku. Maura Belinda Aslon. "


Maura menatap Rebeca yang seakan memandang iri padanya. Sial, beruntung sekali gadis ini. Apa sih kehebatannya? batin Rebeca.


Si tatap seperti itu, Maura justru tersenyum manis. Tanpa diduga, kakinya yang mengenakan sepatu kets menginjak kaki Rebeca yang sedang memakai sandal hak tingginya


"Aow....!" teriak Rebeca kaget. Namun Maura pura-pura memainkan hp nya.


"Ada apa, Re?" tanya Ben bingung melihat wajah Rebeca seperti menahan rasa sakit.


"Aku pergi dulu." Rebeca buru-buru berdiri. "Dasar wanita gila" pekiknya kesal sambil menatap Maura lalu sediki tertatih ia meninggalkan meja itu.

__ADS_1


"Bye...." kata Maura sambil melambaikan tangannya.


"Apa yang kamu lakukan padanya, Ma?" Tanya Ben


"Aku menginjak kakinya" kata Maura sambil menahan tawanya.


"Apa?" Ben terkejut sehingga suaranya agak kuat.


"Kamu marah aku menginjak kaki wanitamu? Ayo sana kejar dia dan oles kakinya dengan minyak"


"Aku senang. Itu artinya kau cemburu" kata Ben dengan senyum menggoda.


"Cemburu katamu?" Maura tersenyum mengejek "Kau seperti tak tahu siapa aku ini. Jika aku cemburu, dia akan pergi tanpa kaki dari sini. Aku hanya kesal saja dengan caranya menatap aku. Kayaknya dia meremehkan aku karena bisa menjadi istrimu"


"Dia iri denganmu karena kau cantik"


"Jangan bicara gombal lagi, Ben" kata Maura ketus pada hal hatinya kembali berdesir mendengar rayuan itu.


"Kau berusaha menutupi kata hatimu kan?" tanya Ben membuat Maura jadi salah tingkah. Gadis itu lupa jika yang ada dihadapannya ini adalah seorang play boy yang sudah sangat berpengalaman dengan perubahan wajah seorang gadis.


"Kata hati apa?" Maura pura-pura bingung.


"Kau menyukaiku, Ma"


Maura tertawa. "Kau gila, Ben. Dan kau lelaki paling percaya diri yang pernah aku kenal. Aku kan pernah bilang kalau aku tak akan mungkin jatuh cinta padamu."


"Waktu bisa mengubah segalanya"


"Tidak denganku, Ben"


Ben semakin tersenyum. Ia tahu semakin Maura menyangkalnya maka semakin gadis itu menunjukan perasaannya yang sebenarnya. Ben semakin tertantang untuk menaklukan gadis di depan itu.


Makanan pesanan mereka datang. Mereka menikmatinya dengan diam. Sampai akhirnya makan siang itu selesai.


"Kau suka?" tanya Ben.


"Ini enak, Ben." ujar Maura


"Aku senang kalau kau suka. Kita dapat datang ke sini lagi jika kau mau"


Maura hanya mengangguk.


Selesai makan, keduanya pun meninggalkan restaurant dan segera menuju ke markas The Crown.


"Boleh. Aku turun dulu ya...hati-hati." Maura melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam.


Ben pun kembali menjalankan mobilnya untuk menuju ke studionya.


*********


Wajah cantik Maura sesekali melirik ke arah pintu masuk.


Mengapa aku begitu berharap dia datang ya? Apakah aku ini sudah terjerat pesona si playboy itu? Ah, tidak-tidak....


"Maura, ada apa denganmu? Kenapa kamu nampaknya kurang konsentrasi? Ulangi lagi!" perintah Alan sedikit kesal.


"Maaf..."


"Kita istirahat dulu, Alan. Kami pun agak capeh. Ini sudah hampir jam 10 malam" keluh Letty.


"Baiklah. Kita istirahat 15 menit" Alan masih dengan wajah kesal mengambil handuknya dan melangkah meninggalkan ruang latihan.


"Selamat malam" Ben pun akhirnya muncul.


Maura tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Ia segera mendekati Ben.


"Sudah selesai latihannya?" tanya Ben.


"Belum. Tadi kami mulainya sudah jam 4 sore. Makanya sampai sekarang masih latihan"


"Kau pasti kecapean" tanpa diduga Ben menghapus keringat yang ada di wajah Maura.


"Ben, ada teman-temanku"


"Biar saja. Aku kan suamimu"


Maura mengajak Ben duduk sambil mengalihkan pembicaran mereka yang membuat jantung Maura kembali berdetak.


"Kamu sudah makan?" tanya Ben


"Sudah. Kau sendiri sudah makan?"

__ADS_1


Ben mengangguk. Tangannya menyentuh pipi Maura.


"Jangan latihan terlalu keras. Nanti kamu sakit"


Maura hendak menepis tangan Ben namun ia tak ingin mempermalukan Ben di depan teman-temannya. Jujur saja sentuhan Ben di pipinya membuat gadis itu senang namun ia berusaha membuang perasaan itu lagi.


Alan yang kembali ke ruang latihan kaget melihat ada Ben di sana. Ia berusaha menekan rasa cemburu yang membakar hatinya.


"Latihan kita akhiri saja. Aku ada pekerjaan penting malam ini" kata Alan. Sebenarnya ia tak tahan melihat Ben ada di sana.


Maura pun segera meraih tasnya "Aku ganti baju dulu ya..."


Ben mengangguk. Maura pun segera melangkah ke toilet.


Selesai membersihkan diri dan ganti baju, ia segera menemui Ben.


"Maaf ya...lama antri" bohong Maura pada hal ia lama menyisir rambutnya dan sedikit memoles wajahnya.


"Kamu cantik" puji Ben.


Alan yang melihat kedua sejoli itu langsung memalingkan pandangannya ke arah lain. Saat keduanya pamit pun Alan hanya membalasnya dengan lambaian tangan.


Maura...aku akan merebutmu kembali!


**********


Selesai mengganti pakaiannya didalam walk in closet, Ben pun mengambik bantal dan selimut.


"Kau mau kemana Ben?" tanya Maura.


"Aku akan kembali tidur di sofa"


"Tapi, kamu belum sembuh benarkan?"


"Aku memang belum sembuh benar. Namun berada di sisimu, membuatku tersiksa"


"Mengapa? Apakah cara tidurku mengganggumu? Atau aku mendengkur terlalu kuat? Ah, Ben maafkan aku ya...." kata Maura dengan wajah polosnya.


Ben mendekat, melepaskan bantal dan selimut yang dipegangnya di atas tempat tidur.


Dia mendekat membuat Maura mundur, langkahnya kembali mendekat dan Maura pun kembali mundur sampai akhirnya punggung gadis itu menyentuh dinding kamar.


"Kau mau apa, Ben?" tanyanya sambil memasang kuda-kuda hendak memukul Ben.


Namun Ben sudah bisa membaca gerakan Maura sehingga ia dengan cepat meraih tangan Maura, menautkan jari mereka dan menempelkannya didinding tanpa melepaskan tautan tangan itu.


"Aku sangat menginginkanmu. Aku mungkin tak bisa menahan diriku jika terus berada di sampingmu. Menatapmu tidur beberapa malam ini membuatku sedikit frustasi karena aku tak bisa menyentuhmu pada hal kau adalah milkku yang sah" kata Ben parau.


Maura diam, sambil membuang muka dari kontak mata dengan Ben.


Ben mendekatkan wajah mereka dan perlahan ia mencium dahi Maura, turun ke pipinya lalu menyatukan bibir mereka.


Maura ingin memberontak namun ciuman itu begitu menggodanya. Tubuhnya merespin ciuman memabukan itu. Tentu saja Ben yang sangat ahli berciuman tahu bagaimana supaya Maura tak menolaknya.


Maura merasakan darahnya berdesir. Ia membuka mulutnya, membiarkan lidah Ben masuk dan melakukan apa yang dia mau di sana.


Pegangan tangan mereka terlepas. Maura pun mengalungkan tangannya dileher Ben.


Tangan Ben tak tinggal diam. Ia menyentuh gundukan kenyal itu. Membuat satu erangan lolos dari mulut Maura.


Ben tiba-tiba mengahiri ciuman dan aktivitas tangannya.


"Good night, baby.." ucapnya diujung bibir Maura lalu melangkah ke tempat tidur, mengambil selimut dan bantalnya lalu meninggalkan kamar.


Apa maksudnya? Kenapa dia meninggalkan aku begitu saja? Apakah aku ini kurang menarik baginya? Hei....Maura mengapa juga kamu menikmati ciuman dan sentuhannya itu? Dimana jurus karatemu yang membuat para cowok lari terbirit-birit?


Maura memegang dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa sesak napas. Ia duduk di atas lantai sambil mengepal tangannya dan memukul lantai dengan wajah kesal.


Aku masuk lagi dalam jebakannya. Sungguh bodoh aku ini.....


Sementara itu Ben tersenyum senang didalam ruang kerjanya.


Aku ingin kau yang memintanya sayang.....


Aku ingin kau sendiri yang menyerahkan dirimu dengan rela.


Lalu Ben membaringkan tubuhnya di atas sofa. Menyentuh bibirnya sendiri dengan senyum penuh kemenangan.


#Terima kasih sudah membaca part ini


#Dukung aku ya dengan memberi LIKE, KOMENTAR

__ADS_1


DAN VOTE


😍😍😍😍😍


__ADS_2