
Iriana terkejut melihat Alicia Aslon memasuki ruang kerjanya.
"Hai......tumben sekali kau mau datang ke sini" Iriana langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aku memang sengaja datang" kata Alicia setelah pelukan mereka berakhir.
Iriana mengajak Alicia untuk duduk. Setelah menawarkan minuman, keduanya duduk saling berhadapan.
"Bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Alicia.
"Seperti yang kau lihat kalau aku terlalu mencintai pekerjaan ini. Sehingga bisnis keluargaku di kelolah oleh Gerald" kata Iriana. Dia adalah seorang hakim yang sangat terkenal di kota London ini.
"Tak terasa usia kita semakin tua. Ah, andai saja Eldmon dan Kiela masih hidup, kita pasti akan sering reuni."
"Mereka memang pasangan yang sejati"
"Seperti juga dengan kau dan Gerald. Dulu kau begitu putus asa saat Gerald menikah tapi siapa yang sangka kalau takdir mempertemukan kalian kembali."
Iriana hanya tersenyum.
"Oh ya bagaimana kabar anak sambungmu itu?"
"Maura maksudmu? Dia sudah selesai kuliah. Dia sangat pintar seperti Gerald. Sebenarnya aku ingin dia bekerja di perusahaan kami namun akhir-akhir ini dia sibuk dengan club dancernya."
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja Maura dengan anakku, Ben."
"Apa? Alicia, kita sudah ada di zaman semodern ini dan kau masih ada dipemikiran primitif. Aku pikir kalau masalah jodoh biarkan saja mereka yang menemukannya."
"Aku melihat Ben dan Maura berciuman kemarin di dekat jembatan Thames."
Alicia terpana "Mereka sudah pacaran?"
"Entahlah. Saat kutunjukan foto Maura pada Ben, dia bahkan langsung memintaku untuk melamar Maura. Namun dengan satu syarat, Maura tak boleh tahu kalau Ben adalah calon suaminya. Mungkin dia akan memberi kejutan."
Iriana menggeleng "Aku tak tahu harus bicara apa. Sebaiknya aku diskusikan ini dengan Gerald. Karena hubunganku dengan Maura tidak begitu bagus. Aku tak mau sampai dia semakin jauh jaraknya dengan aku."
"Baiklah. Telepon aku kalau kamu sudah bicara dengan suamimu. Aku pergi dulu ya....." pamit Alicia lalu kembali meninggalkan ruangan Iriana di gedung pengadilan ini.
********
Latihan hari ini cukup melelahkan bagi anggota club the.Crown. Waktu pertandingan yang tinggal satu bulan lagi membuat Alan menambah waktu latihan dari yang biasa hanya 2 jam menjadi 3 jam.
Maura menghapus keringatnya lalu duduk sambil membuka sepatu ketsnya. Ia ingin mandi dan merenggangkan otot-ototnya.
"Selesai ini kita ke pub yuk....!" ajak Lety yang sedang duduk di sampingnya.
"Boleh. Hanya kita berdua?"
"Beberapa teman cowok juga akan ikut."
"Baiklah. Aku mandi dulu ya...." Maura segera menuju ke kamar mandi. Ia merasa segar saat membasahi tubuhnya dengan air hangat.
Tak sampai 15 menit, ia sudah keluar dengan rambut basah dan pakaian yang rapih.
"Hai...sayang..." Alan yang ada di ruang latihan segera menarik tangan kekasihnya itu dan membawanya ke ruangan lain yang adalah kamar Alan.
"Ada apa? Aku mau ke pub bersama anak-anak"
Alan langsung memeluk Maura "Kau harum. Aku suka sekali mencium harummu." tangan Alan membelai wajah Maura. Lalu ia mencium dahi Maura, turun ke pipinya dan berhenti dibibir Maura.
"Kau tahu sayang, bibirmu ini menjadi candu untukku. Aku sangat gila setiap kali memikirkannya" Alan mencium Maura. Namun gadis itu tak membalas ciumannya.
"Why?" Alan menatap Maura karena merasa pacarnya itu tak membalas ciumannya.
"Alan...mereka sudah menungguhku" Maura mendorong tubuh Alan perlahan. Namun Alan justru menahan tangannya.
"Tinggalkan rumah itu. Hiduplah bersamaku. Jadilah wanitaku seutuhnya"
__ADS_1
"Aku tidak bisa Alan."
"Kau ada di negaraku. Tinggal bersama itu hal yang biasa. Atau kalau kau mau, aku bisa menikahimu sekarang juga. Aku sungguh serius denganmu, Ra. Dan aku sangat frustasi karena belum bisa memilikimu seutuhnya" Kata Alan sambil menatap Maura. Tatapan mata itu nampak putus asa.
"Aku belum mau ada ikatan apapun" Maura melepaskan tangan Alan. Ia membuang pandangannya di sembarang tempat.
"Tapi kamu tersiksa hidup di rumah itu kan? Tinggalah denganku, Ra. Aku bisa membuatmu bahagia."
Maura menarik napas panjang. "Maaf, aku pergi dulu" Maura segera melangkah meninggalkan Alan yang nampak kesal.
Di depan pintu, Maura berpapasan dengan Kelly.
"Apakah Alan ada di dalam?" tanya Kelly
Maura hanya mengangguk dan segera menemui Lety dan beberapa teman yang sudah menungguhnya. Mereka segera menuju ke sebuah pub yang tak jauh dari markas The Crown.
Belum satu jam mereka ada di sana, Maura tiba-tiba ingat Alan. Ia merasa tak enak meninggalkan Alan sendiri.
Alan selama ini sudah begitu baik padaku. Apakah dengan menikah aku bisa merasakan kebahagiaan? Mungkin Alan akan mengijinkan ku pulang ke Indonesia batin Maura.
"Let, aku kembali ke markas sebentar ya" pamit Maura dan langsung pergi tanpa menungguh persetujuan Lety.
Saat ia tiba di sana, mobil Alan masih ada di tempat parkir. Ia senang mengetahui Alan ada di sana. Ia segera masuk. Lampu ruang latihan sudah dimatikan. Maura terus melangkah. Mungkin Alan masih ada di kamarnya.
Saat ia sudah mendekat, ia mendengar suara desahan dari 2 orang yang saling bergantian.
Jantung Maura sepertinya berhenti berdetak. Pintu kamar Alan masih terbuka sedikit. à
Maura mendorong pintu itu sesaat. Ia terpana menyaksikan pemandangan di atas ranjang Alan. Nampak Alan dan Kelly dalam keadaan telanjang bulat, sepertinya sedang mengumbar napsu mereka masing-masing dengan posisi Kelly yang ada di atas tubuh Alan.
Maura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. ia mundur perlahan karena tak tahan melihat semua itu, sampai tak sengaja punggungnya menyentuh kursi yang ada di belakangnya.
Alan dan Kelly sama-sama terkejut.
"Maura....!" pekik Alan lalu mendorong tubuh kelly.
pikirannya kacau. Ia tak menyangkah kelly, sahabat baiknya ternyata memiliki hubungan khusus khusus dengan Alan.
Dan Alan, pria yang selama ini selalu menjanjikan perlindungan padanya, ternyata begitu mudahnya jatuh dalam pesona Kelly.
Maura akui, Kelly memang cantik dengan rambut merahnya. Kulitnya yang putih mulus, tinggi badan yang hampir sama dengan Alan serta bentuk tubuh yang seperti gitar spanyol memang menjad idola para pria.
Maura menjalankan motornya tanpa tujuan, dan akhirnya ia berhenti sembarangan. Ia turun dari atas motor lalu duduk dipinggir jalan. Perasaannya terasa sakit.
Maura meletakan kepalanya di atas lututnya. Tanpa sadar ia terisak. Selama ini dia memang tak menyadari bagaimana perasaannya pada Alan. Ia tidak bisa memenuhi keinginan Alan untuk dapat bercinta dengannya karena ia sangat menjaga janjinya pada mamanya bahwa lelaki pertama yang akan merengut kesuciannya haruslah lelaki yang sudah menjadi suaminya.
Memang bagi sebagian orang apalagi di budaya tempat tinggalnya sekarang, akan dianggap sesuatu yang justru memalukan jika di usia 21 tahun, seorang gadis masih perawan.
Maura merasakan kalau hujan mulai turun. Ia mengangkat wajahnya. Ada gedung berringkat didepannya yang bertuliskan THE THOMSON COMPANY.
Maura kembali tertunduk. Ia tiba-tiba merasa pusing. Sebelum kesadarannya menghilang ia masih sempat merasakan sebuah tangan menyentuh lengannya.
************
"Kau sudah sadar?"
Maura membuka matanya perlahan mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya itu.
Ia mendapati dirinya tertidur di atas sebuah sofa. Gadis itu mencoba bangun dan memeriksa pakaiannya. Ia bersyukur karena pakaiannya masih lengkap.
"Aku tidak meniduri gadis yang pingsan." kata Ben. Ia mendekat meletakan segelas susu di atas meja yang letaknya tepat di depan Maura duduk.
"Minumlah susu ini. Kamu pingsan karena tidak makan. Penyakit gastritismu kambuh. Sebentar lagi makananmu akan tiba. Kau juga harus makan. Setelah itu minum obat yang sudah dokter tinggalkan untukmu"
"Kamu mengikuti aku lagi?" tuduh Maura.
"Percaya diri sekali kamu ya..." Ben tersenyum mengejek. "Kamu itu pingsan di depan studioku. Untung saja aku yang menemukanmu. Jika orang lain maka kamu pasti akan segera di perkosa."
__ADS_1
"Aku mau pulang.." Maura berdiri. Namun ia duduk kembali saat merasakan perih dibagian perutnya.
"Sudah kukatakan minumlah susumu. itu susu khusus yang punya penyakit maag sepertimu"
Maura menarik napas panjang. Ia ingat sejak siang ia memang belum makan karena sibuk latihan. Akhirnya ia mengambil susu itu dan menegukny sampai habis. Harus ia akui, ia memang sangat lapar.
"Tuan, ini makanannya" Luna, gadis yang menjadi asisten Ben datang membawakan makanan.
"Makanlah. Aku sengaja memintanya untuk membelikan makanan di restaurant Asia."
Maura menatap makanan yang diletakan Ben didepannya.
Ada nasi dan ikan ayam kecap, dan kangkung tumis. Air liur Maura hampir menetes. Ia memang sudah lama tidak pulang ke Indonesia namun bukan berarti dia lupa dengan makanan khas negara asalnya.
"Silahkan makan" Ben meninggalkan Maura sendiri.
Maura langsung menikmati makananya dengan lahap. Ia sudah lama di London namun belum pernah bertemu dengan makanan seenak ini.
"Enak kan?" tanya Ben saat ia kembali dan menemukan bahwa tempat makanan itu sudah kosong.
Maura tak menjawab.
"Minumlah obatnya"
"Bagaimana aku bisa tahu kalau obat ini bukan obat perangsang?"
"Apa?" Ben terkejut. Sedetik kemudian ia tertawa. " Kau masih ingat kejadian malam itu? Rasanya aku ingin mengulanginya"
"Dasar mesum"
"Hei....siapa yang mesum?" Ben melotot. Ia mendekati Maura, lalu duduk di samping gadis itu, meletakan obat itu di atas tangan Maura.
"Kau dapat membuka internet dan melihat obat apa ini."
Maura mengambil hp nya yang sudah diletakan di atas meja. Ia segera mencari nama obat seperti yang ada dibungkusnya. Setelah itu ia langsung meminum obat itu setelah tahu manfaat dari obat tersebut.
"Terima kasih" ucap Maura tanpa menoleh ke arah Ben.
"Sama-sama" Maura berdiri " Aku mau pulang"
"Di luar masih gerimis. Biarkan aku mengantarmu"
"Aku bahkan tetap akan pulang walaupun hujan sedang deras" Maura melangkah.
"Jangan menangis di sembarang tempat jika kau ada dalam masalah. Teleponlah aku dan menangislah di bahuku"
Maura berhenti melangkah dan menoleh ke arah Ben "Itu adalah sesuatu yang mustahil"
"Kau pasti suatu saat akan memerlukan bahuku"
Maura terus melangkah tanpa peduli lagi dengan kata-kata Ben.
Saat ia sudah berada di atas motornya, hp nya berbunyi. Maura melihat ada 40 kali panggilan tak terjawab dari Alan, 5 kali dari Kelly dan 3 kali dari Lety. Sebuah notivikasi pesan wa masuk.
Baby....i am sorry
where are you?
we need to talk
Maura tersenyum miris saat tahu pesan itu dari Alan.
ia segera mengenakan helmnya dan meninggalkan studio Ben.
Ben menatap kepergian Maura dari balik kaca. Ia tersenyum sendiri. Gadis sombong itu harus berhasil ku taklukan. Jangan panggil aku Ben si play boy kalau aku tak berhasil menaklukannya.
#makasi sudah baca part ini.
__ADS_1
#like, komentarnya dong supaya lebih semangat.