
Maura menuruni tangga dengan sedikit berlari. Hari ini ia ingin lebih dulu berada di dapur dan menyiapkan sarapan. Kemarin, pulang dari latihan, ia dan Ben singgah di supermarket Asia dan membeli beberapa bahan makanan. Gadis itu bahkan bersorak gembira saat ia menemukan ikan asin. Rasanya memang sudah lama sekali ia tak makan ikan asin.
Ben juga membelikan magic com untuk memasak nasi. Ia tahu kalau Maura memang suka makan makanan Indonesia.
Maura sudah meminta resep makanan pada tantenya di medan, termasuk cara memasak nasi yang benar.
Selama satu jam lebih ia membuat menu sarapan pagi. Ada telur mata sapi, ikan asin goreng dan sambal terasi. Ia juga mengupas mentimun.
Maura menyiapkan juga roti bagi Ben.
Gadis itu senang karena selama 2 malam ini, Ben hanya memeluknya. Tangannya ada di pinggang Maura dan tidak bergerilya kemana-mana.
"Wah..baunya sangat enak" ujar Ben saat ia sudah ada di dapur.
"Duduklah. Aku siapkan sarapanmu"
Ben mengikuti perintah Maura. Ia duduk di depan meja makan sambil menungguh makanannya disiapkan.
"Aku juga mau makan nasi" kata Ben saat melihat nasi yang Maura siapkan hanya satu piring.
"Aku juga mau ikan asin"
Maura terkejut. Ia menatap Ben meminta penjelasan.
"Aku sudah beberapa kali ke Indonesia. Aku pernah ke Bali, Manado, Surabaya dan Medan. Ikan asin adalah salah satu menu faforitku saat datang ke negerimu itu"
Maura pun menyiapkan makanan yang Ben inginkan.
"Wah....sambal terasi enak walaupun agak pedas⁰" guman Ben saat makanan masuk ke mulutnya.
"Ini pertama kali aku buat sambal. Mungkin tomatnya sedikit."
Ben menatap Maura dengan rasa bangga "Makasih sayang, kau mau belajar memasak untukku"
Maura mengkerucutkan bibirnya "Aku mau belajar memasak bukan karenamu , hanya saja aku baru tahu kalau memasak itu sangat menyenangkan"
"Setidaknya kau mau belajar memasak sejak menikah denganku. Berarti pernikahan kita membawa perubahan positif untukmu" kata Ben sambil menatap Maura dengan mesra.
"Habiskan saja makananmu" Maura pura-pura melanjutkan makannya karena ia tak mau jantungnya semakin berdebar dengan semua tatapan dan rayuan Ben untuknya.
Ben tersenyum senang "Ma, jam berapa lombanya dimulai?"
"Jam 5 sore"
"Masih di tempat yang sama?"
Maura mengangguk.
"Pak Leo akan mengantarmu. Nanti aku menyusul soalnya hari ini ada pemotretan untuk iklan"
"Ok" jawab Maura singkat lalu mulai membereskan meja dan mengumpulkan semuanya di tempat cuci piring.
Ben berdiri dan memeluk Maura dari belakang.
"Ben.....!" Maura menyiku pinggang Ben "Lepaskan!"
"Makasih untuk sarapannya yang enak. Sekarang biarkan aku yang membereskan dapur ini. Kamu siapkan saja semua yang harus dibawa ke lomba dance"
"Baiklah!" Maura mencuci tangannya. Ia menepuk tangan Ben yang masih melingkar diperutnya.
Ben terkekeh, sebelum ia melepaskan pelukannya, ia mengecup pipih Maura.
"Ben...!" teriak Maura menghadiahkan sebuah tinju di perut Ben.
"Aow....sakit....! Aku jadi mau muntah...!" Ben meringis sambil memegang perutnya.
"Ya ampun Ben. Maafkan aku. Tapi aku kan memukulmu tidak kuat...!" Maura jadi merasa bersalah. Ia segera memegang perut Ben.
Melihat Maura yang sedikit menunduk membuat Ben kembali memeluk gadis itu dan mengecup bibirnya secara cepat lalu segera berlari sebelum kaki Maura menyerangnya.
"Dasar cowok menyebalkan !" pekik Maura kesal karena tak berhasil menendang Ben. Ia lalu menaiki tangga dengan kaki yang sengaja disentak-sentak.
Ben tertawa lepas. Entah mengapa ia selalu senang melihat Maura yang selalu kesal.
Saat melihat Maura telah menghilang di ujung tangga, Ben pun meraih hp nya dari
***********
The Crown akan tampil paling akhir. Mereka sudah siap dengam kostum yang sesuai dengan tema malam ini.
"Maura...., ada yang mencarimu!" teriak Letty.
Maura yang sedang melakukan pemanasan bersama Alan, menghentikan gerakannya. Ia menuju ke pintu masuk ruang tunggu itu.
"Pak Leo? Ada apa?" tanya Maura heran.
__ADS_1
"Tuan Ben menitipkan ini..." Pak Leo menyerahkan setangkai bunga mawar dan secarik kertas.
"Makasi pak Leo" Maura menerimanya dengan senang hati.
Pak Leo pun langsung pergi.
Maura dengan tak sabar membuka gulungan kertas itu.
Ma, aku ada di depan untukmu
Aku tak peduli grup kalian menang atau tidak
Yang pasti aku ingin melihat penampilan
terbaikmu. Sebab aku punya kejutan...
B E N
Senyum Maura langsung mengembang. Ia mencium bunga mawar itu dengan hati yang berdebar.
Aku memang sudah gila. Hanya membaca tulisan seperti ini mengapa membuat aku tak bisa menahan senyumku ini ya? Guman hati Maura.
"The Crown bersiaplah!" teriak salah satu panitia.
Maura menyimpan mawar dan kertas itu ke dalam tasnya. Lalu ia segera bergabung dengan teman-temanya.
Ben berdiri diantara penonton. Ia sudah siap dengan kameranya.
Saat melihat The Crown menaiki panggung, Cowok itu langsung tersenyum manis..Walaupun ia agak kesal melihat tangan Alan yang melingkar indah dipinggang Maura.
Musik diputar, penonton langsung bersorak gembira saat melihat the Crown yang nampak hebat memadukan tari dan gerakan yang lain dari semua peserta malam ini.
Ben sesekali mengarahkan kameranya pada Maura. Ia bangga melihat tim itu begitu kompak.
Maura pun yang melihat Ben menjadi sangat bersemangat. Ia benar-benar memberikan penampilan terbaiknya malam ini.
Setelah penampilan The Crown selesai, mereka pun segera bergabung dengan tim yang lain menungguh pengumuman.
15 menit kemudian salah satu juri naik ke atas panggung.
"Pemenang juara 3 tahun ini adalah The Lion Team, juara 2 adalah the shadow team dan juara 1 adalah The Crown..."
Tim the Crown bersorak gembira. Mereka bukan hanya memenangkan sejumlah uang yang sangat banyak tapi juga kesempatan untuk tampil di video clip terbaru penyanyi R & B yang sedang naik daun di Inggris saat ini, Junior Alba.
"Aku juga bisa membeli tas yang sangat aku sukai.." Mona pun tak kalah serunya. Masing-masing langsung mengunhkapkan barang apa yang akan dibeli saat menerima pembagian uang itu.
Maura yang mendengarnya pun hanya tersenyum.
"Kita akan merayakannya malam ini sampai pagi. Ayo semuanya ke pub!" ajak Alan.
Maura jadi ingat dengan Ben. Ia pun mengambil tasnya.
"Kamu tak ikut?" tanya Kelly.
"Nggak tahu. Aku harus tanya Ben dulu"
"Iya ya...aku lupa kalau kamu sudah punya suami" kata Kelly sambil tersenyum.
"Bagaimana sakitmu?"
"Aku sudah sembuh"
"Nyonya, tuan sudah menungguh di mobil" kata pak Leo.
Maura mengangguk dan segera mengikuti langkah pak Leo.
Saat tiba di mobil, Ben langsung memeluknya"Selamat ya, Ma. Penampilanmu sangat bagus"
"Ben, aku berkeringat!" Maura berusaha melepaskan diri.
"Kita juga akan sering berkeringat bersama" Ben melepaskan
"Memangnya kita mau olahraga bersama?"
"Ya..."
"Olahraga apa?"
Ben menarik hidung Maura dengan gemas. "Jalan pak!" katanya pada Pak Leo tanpa menjawab pertanyaan Maura.
"Ben, kita mau kemana? Aku ingin pergi dengan teman-temanku merayakan kemenangan kami"
"Jangan pergi dengan mereka. Aku takut minumanmu dicampuri obat perangsang lagi"
"Tapi Ben...."
__ADS_1
"Sudah diamlah..." Ben pura-pura memejamkan matanya.
Pak Leo membelokan mobilnya ke studio milik Ben. Mobil itu langsung masuk ke dalam garasi.
"Mengapa ke sini?" tanya Maura sambil ikutan turun dari mobil.
"Kau boleh mandi dan ganti baju yang sudah kusiapkan di kamar. Cepatlah, waktu kita tak banyak."
Maura merasa heran. Namun ia malakukannya juga tanpa membantah.
Selesai mandi dan ganti baju, Maura pun keluar dari kamar Ben yang ada di lantai 2.
Begitu ia turun, matanya langsung bersentuhan dengan sebuah foto berukuran jumbo.
Maura mengenalnya. Perempuan yang ada di foto itu adalah Faith, istrinya Ezekiel.
"Ayo kita pergi !" ajak Ben sambil meraih tangan Ben, mengalihkan perhatian Maura pada foto itu.
"Ben, mengapa ikut jalan belakang?" Maura terkejut karena studio ini ternyata punya jalan rahasia.
Ben hanya tersenyum. Ia ingat bagaimana Faith yang membuat ide ini. Waktu itu Faith berkelakar.
"Jalan rahasia ini untuk membuatmu menghindari para perempuan yang akan mengejarmu.."
Waktu itu Ben hanya tertawa. Ia tak menyangkah kalau jalan ini sangat berguna saat ini, terutama untuk mengelabui anak buah Alan yang memang sejak tadi sudah mengikuti mereka.
Saat Maura dan Ben naik ke sebuh mobil yang sudah menungguh mereka di jalan belakang dengan 2 orang pengawal yang sudah disiapkan Ezekiel, garasi studio kembali terbuka. Pak Leo membawa mobilnya dengan tenang bersama beberapa orang pria didalamnya menuju ke kediaman Aslon.
Mata Maura terbelalak saat ia melihat mereka memasuki bandara dengan pintu masuk khusus.
"Ben, kita mau kemana?" tanya Maura yang agak berlari mengikuti langkah kaki Ben yang panjang.
Ben tak menjawab. Ia terus melangkah sampai akhirnya mereka ada di ruangan yang sangat luas dan ada 2 sebuah pesawat pribadi yang sudah menungguh mereka
Pesawat yang satu bertuliskan The Thomson dan yang satu The Aslon.
Namun mereka justru naik ke pesawat yang bertuliskan The Thomson.
Tentu saja Joe sudah memikirkan ini. Bertukar pesawat untuk mengelabui para anak buah Alan yang mungkin mengikuti mereka sampai ke bandara.
Dalam pesawat The Aslon ada Joe dan 2 orang stafnya yang akan berangkat ke Scotlandia untuk urusan bisnis.
"Ben.....! Kita akan ke mana?" tanya Maura kesal.
"Duduklah dengan manis. Perjalanan kita sangat jauh. Kita akan ke luar negeri"
Maura duduk masih dengan wajah yang kesal.
"Kita mau kemana, Ben? Kau mau menculikku?" teriak Maura kesal.
"Mana ada suami yang menculik istri" ujar Ben sambil duduk di samping Maura.
"Lalu kita mau kemana? Jika memang mau pergi jauh, setidaknya aku harus menyiapkan baju dan pasportku kan?"
Ben mengacak rambut Maura dengan gemas "Sebenarnya ini mau jadi kejutan. Namun karena kamu memaksanya, aku terpaksa mengatakan sekarang. Kita akan pergi ke Medan"
Maura terperanjat "Medan? Kamu nggak bohong kan, Ben?" tanpa sadar ia memegang tangan Ben.
Ben tersenyum "Tidurlah. Kamu akan bangun dan melihat Indonesia tercintamu, melihat kota Medan kesayanganmu"
Maura menjadi haru "Terima kasih, Ben"
"Berterima kasihlah secara benar"
Maura menatap Ben "Maksudnya?"
"Cium aku" kata Ben sambil menunjuk pipihnya.
"Dasar mesum!" Ketus Maura sambil mengenakan sabuk pengamannya. Ia langsung memejamkan matanya. Ah, Medan...aku datang....
Cup
Maura membuka matanya kembali saat ia merasakan ada ciuman hangat di pipinya.
Ketika ia menoleh, nampak Ben sudah menutup matanya.
"Dasar bule gila...!" umpatnya sambil tersenyum.
Ben tertawa dalam hati. Tunggulah bule gila ini akan membuatmu lelah saat kita olahraga bersama di sana, sayang...batin Ben.
#Makasi sudah baca part ini
#jangan lupa like dan komentarnya jika suka ya
#Vote juga bisa..😚😚😚
__ADS_1