
Ben menatap cermin yang ada di depannya. Tuksedo putih sudah membungkus tubuhnya.
Hari ini dia akan menikah dengan seorang gadis yang bahkan belum tahu kalau dia adalah calon suaminya.
Entah apa yang dirasakan Ben saat ini.
"Hai....sudah siap?" tanya Edward yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Ben menatap sepupunya itu. "Kau kelihatan ganteng, dude"
"Kau juga kelihatan sangat tampan. Sudah siap? Aku yang akan mengantarmu ke gereja. Paman, bibi dan Gracia sudah pergi duluan"
Ben mengambil kotak berwarna perak dan menyerahkannya kepada Edward. "Ini cincin pernikahanku."
"Terima kasih menjadikanku sebagai pendamping mu. Aku berdoa supaya keputusanmu ini tepat. Jangan permainkan sebuah pernikahan"
Ben memeluk Edward sambil menepuk pundak sepupunya. Ia tahu bagaimana terlukanya Edward saat ini. Percakapan mereka semalam membuat Ben semakin mengerti bahwa sebuah hubungan itu janganlah dipermainkan.
"Ayo kita berangkat" ajak Edward.
Keduanya melangkah menuruni tangga. Meninggalkan Mansion yang sudah sepi karena sebagian besar pelayan ada di tempat pelaksanaan pernikahan.
Edward dan Ben tiba di gereja. Sudah banyak tamu yang datang.
"Ben....semangat!" kata Faith dan Ezekiel yang sengaja menunggunya di depan pintu masuk.
"Terima kasih" Ben memeluk pasangan suami istri itu dengan rasa senang.
"Terima kasih sudah datang. Dimana si kembar?"
"Chloe sedikit demam jadi Caleb juga ditinggalkan bersamanya. Opa dan oma yang menjaganya" jawab Faith.
"Ayolah ke depan." Ezekiel mendorong tubuh Ben.
Ben melangkah sambil tersenyum ke arah para tamu yang sudah datang Ada rasa gugup yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.
Pendeta yang sudah berdiri di depan altar pun tersenyum.
"Kalian datang hampir bersamaan. Pengantin wanitanya sudah datang" ucap Pendeta Markus.
Ben menoleh ke belakang. Dadanya tiba-tiba berdetak dengan kencang.
Bagaimana kalau Maura menolak ku? Bagaimana jika dia ingin membatalkan pernikahan ini saat melihatku?
Ben frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Gerald yang menggandeng putrinya merasakan kalau tangan Maura bergetar. Langkah Maura pun terasa berat.
"Ada apa sayang?" bisik Gerald.
Maura tak bersuara. Karena dibalik cadar yang menutup wajahnya, ia sepertinya mengenali laki-laki itu.
Ya Tuhan, apa mungkin dia? Benecdik Jeremia Aslon? Ya Tuhan.....tentu saja dia...Maura mulai merasakan kakinya seperti kesemutan.
"Sayang....jangan bersikap aneh. kita hampir sampai" bisik Gerald kembali melihat anaknya yang seperti ingin melarikan diri.
"Papa, apakah boleh....aku mun..."
__ADS_1
"Jangan permalukan papa, sayang" Gerald memotong ucapan putrinya.
Mereka pun sampai didepan altar.
"Aku menyerahkan milikku yang paling berharga padamu, Ben. Tolong jaga dan sayangi dia seumur hidupmu" kata Gerald sambil melepaskan tangan Maura dan memberikannya pada Ben.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku" kata Ben.
Maura menatap pria disampingnya dengan perasaan yang tak menentu. Laki-laki ini adalah calon suamiku? Ya Tuhan kutuk apa yang sudah melandaku? Mengapa aku tak mencari tahu dulu siapa Benecdik Aslon itu?
Pendeta memulai upacara pemberkatan nikahnya.
Ben dan Maura diminta untuk saling berpegangan tangan.
Ben dapat merasakan tangan Maura yang sedingin es. Tangan gadis itu bahkan gemetar dalam genggamannya.
"Benecdik Jeremia Aslon, apakah kau menerima Maura Belinda Nasution sebagai istrimu yang sah. Maukah kau berjanji untuk terus menyayangi dan mencintai baik sehat maupun sakit, baik dalam kelimpahan dan kekurangan, tetap setia seumur hidupmu sampai mau yang memisahkan?" tanya pendeta.
"Ya. Dengan segenap hatiku" jawab Ben mantap.
"Maura Belinda Nasution, apakah kau menerima Benecdik Jeremia Aslon sebagai suamimu yang sah. Maukah kau berjanji untuk terus menyayangi dan mencintai baik sehat maupun sakit, baik dalam kelimpahan dan kekurangan, tetap setia seumur hidupmu sampai mau yang memisahkan?" Pendeta bertanya pada Maura.
Maura diam. Ia bahkan menarik tangannya dari genggaman Ben.
Masih ada kesempatan untuk membatalkan semua ini Maura, bisik hatinya.
Ia mundur selangkah.
Ben terkejut. Wajahnya menjadi pucat. Apa yang dia takutkan terjadi. Maura menolaknya.
Ya Tuhan jatuhlah reputasi ku sebagai play boy kelas dunia. Gadis ini menolaknya tepat dihari pernikahan mereka. Ini pasti menjadi berita skandal terbesar di dunia.
Apa yang harus aku lakukan mama? Haruskah aku menikah dengan laki-laki ini? jerit Maura dalam hati.
Ia menatap ke arah papanya. Tatapan mata pria itu seolah ingin mengatakan jangan lakukan itu Maura.
Maura menjadi bingung.
Ia sekali lagi menatap papanya. Tatapan mata papanya masih sama.
Semua yang ada di dalam gedung gereja menjadi tegang. Sangat sunyi, semua menanti jawaban Maura.
Gadis itu menatap pria didepannya. Ia melihat Ben yang menatapnya tanpa berkedip. Tak ada lagi tatapan mata nakal yang sering menggodanya.
"Maura, apakah jawab mu?" tanya pendeta sekali lagi.
Maura menarik napas panjang. "Maaf pendeta, aku sangat gugup."
"Ya. Aku bersedia"
Ben menarik napas lega. Seumur hidup ia tak pernah merasa takut seperti ini.
Semua pun tersenyum senang.
"Pantaslah kalau ia gugup, siapa yang tak gugup berhadapan dengan lelaki yang digilai banyak wanita"
"Gugup itu hal yang biasa. Apalagi yang dia nikahi adalah salah satu pria paling terkenal di kota ini."
__ADS_1
"Mungkin gadis itu merasa dia bagaikan Cinderella yang bertemu pangeran sehingga jadi gugup"
Demikianlah beberapa komentar yang diungkapkan oleh para tamu.
"Pakailah cincin ini sebagai tanda ikatan kasih diantara kalian" Pendeta menyerahkan cincin itu ke tangan Ben.
"Maura, ku pakaikan cincin ini padamu sebagai tanda ikatan kasih diantara kita" kata Ben lalu memasukan cincin itu ke jari manis Maura.
"Benecdik, aku......" kalimat Maura terhenti. Ia jadi bingung lagi. Kembali ia menatap papanya. "ku pakaikan cincin ini padamu sebagai tanda ikatan kasih diantara kita"
"Sekarang kalian resmi sebagai suami istri. Silahkan membuka cadar dan memberikan ciuman kudus mu, Ben." kata pendeta.
Ben membuka cadar yang menutupi wajah Maura. Mata mereka bertemu. Maura menatap Ben seolah ingin berkata aku akan membunuhmu, Ben.
Ben pun tersenyum. Ia mendekat dan mencium dahi Maura dengan sangat lembut.
"Terima kasih karena tidak menolak ku" bisiknya lalu mencium pipi Maura.
Semua langsung bertepuk tangan.
Maura melihat papanya menangis. Pria parubaya itu bahkan berusaha keras menahan air matanya namun ia tak bisa. Hatinya terlalu bahagia. Sebagai papa ia telah melaksanakan amanat mendiang istrinya. Mengantar Maura sampai di altar pernikahannya.
Acara foto bersama pun dilaksanakan. Maura berusaha tersenyum. Ia tak ingin melihat kebahagiaan di wajah papanya menjadi pudar.
Acara dilanjutkan di ballroom hotel The Thomson. Sekitar seribu undangan hadir. Pengawalan sangat ketat karena tak seorang pun yang diijinkan masuk membawa kamera dan ponsel. Ketentuan itu sudah tertera di undangan.
Edward Kim, pianis yang terkenal itu mengiringi Arnold Manola yang menyanyikan lagu terbarunya yang khusus ia ciptakan bagi sahabatnya Ben.
Lagu romantis yang berjudul Love is you itu menjadi dansa pertama bagi pasangan itu.
"Aku akan membunuh, Ben. Kau sangat licik sudah menjebak ku." kata Maura ketika dansa mereka berakhir.
"Aku siap kau mengacak-acak diriku malam ini" bisik Ben lembut.
Maura akan bicara lagi namun ia mengurungkan dirinya melihat ada pasangan yang mendekati mereka.
Maura ingat dengan foto yang ada di ruangan studio Ben.
"Hai....selamat ya...." Faith dengan hangat memeluk Ben lalu menatap Maura.
"Bahagiakan temanku ini, Maura. Dan kalau dia macam-macam, katakan padaku karena aku orang pertama yang akan memukulnya." kata Faith membuat Ben terkekeh dan Maura hanya tersenyum.
"Kami pulang dulu ya....Anak kami sedang demam. Selamat berbahagia ya..." pamit Ezekiel.
Ben dan Maura sama-sama mengangguk. Menatap pasangan itu yang melangkah pergi.
Banyak yang menatap iri dengan kemesraan mereka.
"Ayo kita ke kamar" ajak Ben.
"Kau pria gila yang mengharapkan kalau aku mau tidur denganmu" Maura mencubit tangan Ben yang merangkul pinggangnya. Namun Ben tetap bertahan.
"Aku akan menahan sakit ini, sayang. Karena aku tahu sebentar kamu yang akan kesakitan" ucap Ben sedikit meringis menahan sakit di tangannya.
#Makasi sudah baca part ini
#Komentar dan like nya jangan lupa
__ADS_1
😍😍😍😍😍