My Best Photo

My Best Photo
Ketemu Mantan


__ADS_3

Maura menghentikan langkahnya di depan restaurant. Agak ragu melangkah masuk ke dalam. Apakah keputusannya untuk menerima ajakan makan siang dari Patrick adalah sesuatu yang baik? Ataukah ini sebagai pelarian untuk menghibur hatinya yang sedang galau karena menanti kepastian cinta Ben?


"Selamat siang nona. Mari silahkan masuk!" ajak si penjaga pintu membuyarkan lamunan Maura.


"Terima kasih." Maura melangkah masuk. Seorang pelayan langsung mengantarnya ke meja tempat Patrick duduk saat Maura menyebutkan nama Patrick.


"Hai....!" Patrick langsung berdiri melihat Maura.


Agak terkejut sebab Patrick mencium pipi kiri dan kanannya.


Dengan sopan, Patrick menarik kursi untuk Maura, mempersilahkan ia duduk lalu ia sendiri duduk di depan Maura.


"Senang sekali rasanya kau menerima ajakan makan siangku. Suamimu tidak marahkan?"


Maura menggeleng.


"Baguslah!" Patrick nampak senang. Ia lalu mempersilahkan Maura memilih menu makanan.


Setelah selesai memesan makanan keduanya menikmati anggur yang tersedia.


"Aku tak menyangkah bisa bertemu lagi denganmu. Dulu kau agak tomboy. Namun sekarang kau sangat cantik dengan gaun ini. Walaupun kalau mau jujur aku suka gaya tomboymu itu. Kau masih suka membawa motor?" tanya Patrick membuka percakapan.


"Ya. Walaupun sudah agak jarang sekarang"


"Mungkin karena kamu sudah sering menggunakan gaun dari pada celana jeans"


"Iya" jawab Maura. Dia ingat, Patricklah yang mengajari dia mengendarai motor. Dulu, mereka selalu kencan naik motor.


"Rasanya sangat bodoh dulu meninggalkanmu dan memutuskan komunikasi diantara kita. Lihat saja sekarang, baru ketemu sekali aku justru ingin merebutmu dari suamimu"


"Patrick!" Maura terkejut


"Maaf, aku hanya bercanda" Patrick langsung tertawa.


Maura tersenyum lega.


"Bagaimana kabarmu sekarang Patrick? Apakah kau sudah menikah?"


"Aku baru saja menyelesaikan studi S2 ku. Aku belum menikah. Pacar saja aku tak punya" kata Patrick sedikit terlihat muram.


"jangan bohong, Patrick."


"Aku terlalu serius kuliah. Memang aku sempat pacaran dengan teman kuliahku. Namun hubungan kami tak berjalan baik. Hanya beberapa bulan saja dan kami akhirnya berpisah. Pacarku selanjutnya adalah seorang model, teman kakakku. Namun hubungan kami pun tak berjalan baik. Pacaran dengan gadis yang lebih tua dariku rasanya kurang menyenangkan. Jadi beginilah aku. Jomblo sejati" Patrick tertawa sambil menepuk dadanya sendiri.


"Kau pasti akan menemukan pasangan yang cocok denganmu suatu saat nanti" kata Maura.


Patrick tersenyum "Sebenarnya aku ingin pasanganku itu adalah orang yang membuat aku merasa nyaman saat bersamanya. Dan tidak ada perempuan satupun yang membuatku merasakan hal itu selain kamu. Sayangnya kamu sudah menjadi milik Ben."


Maura meneguk anggurnya kembali. Tak menyambung perkataan Patrick.


"Ra, kamu bahagia dengan Ben?"

__ADS_1


Maura menatap Patrick "Kenapa kamu tanyakan itu?"


"Maaf jika aku lancang menanyakan ini. Malam itu, aku kembali ke tempat peragaan busana setelah mengantar kakakku. Dan aku melihat Ben pulang sendiri. Tak lama kemudian kamu juga pulang diantarkan oleh sopir mamanya Ben. Dan aku mengikutimu. Ternyata kamu pulang ke rumah orang tuamu. Kalian bertengkar?"


Maura menunduk. Menarik napas perlahan dan menghembuskan kembali dengan perlahan pula.


"Kami sedang ada masalah sedikit. Namun sejauh ini kami baik-baik saja. Aku hanya kangen saja dengan orang tuaku"


Patrick menatap Maura dengan penuh rasa cinta. Diraihnya tangan Maura dan dipegangnya erat.


"Ra, kalau kau tak bahagia dengan Ben, aku selalu ada untukmu. Aku masih menyimpan sejuta rasa cinta untukmu. Seperti waktu pertama aku menyatakan perasaanku padamu, begitulah perasaanku sekarang"


"Sayang.....kau di sini?"


Jantung Maura seperti berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah suara itu dan secara spontan menarik tangannya dari genggaman Patrick.


"Hallo Ben!" sapa Patrick berusaha menekan rasa cemburu di hatinya.


Maura salah tingkah. Ia tak tahu harus bicara apa.


"Aku baru saja selesai makan siang dengan beberapa rekan kerjaku di sini. Coba tadi kamu bilang kalau mau makan siang di sini, kita kan bisa datang bersama" kata Ben dengan sangat tenang. Tak terlihat ada nada marah atau cemburu.


"Aku juga nggak tahu kalau kamu akan ke sini" Maura akhirnya menemukan kalimat yang tepat untuk bicara.


Pelayan datang membawakan makanan yang dipesan oleh Patrick dan Maura.


"Aku pergi dulu ya. Mereka sudah menungguh. Sampai ketemu di rumah" kata Ben lalu mencium bibir Maura sekilas dan segera melangkah pergi.


Kenapa Ben tak terlihat cemburu menemukan aku sedang dipegang tangannya oleh lelaki lain? Apakah benar dia memang tak mencintaiku? Dia terlihat begitu tenang.


"Ra.....!" panggil Patrick


Maura tersentak kaget dari lamunannya.


"Ayo di makan"


"Baik"


Maura mencoba menikmati makan siangnya walaupun dengan hati yang galau.


Untunglah Patrick adalah teman bicara yang baik. Mereka pun larut dalam cerita SMA dulu. Itu cukup mengalihkan perhatian Maura pada Ben.


Selesai makan, Patrick mengajak Maura untuk menonton. Maura menolaknya dengan alasan bahwa dia masih harus belanja bulanan.


Patrick pun menurunkan Maura di sebuah mall.


Maura tak belanja. ia hanya ingin jalan-jalan sendiri. Menikmati keramaian orang yang sedang jalan-jalan di mall.


Langkah Maura terhenti melihat Ben sedang berdiri di depan sebuah toko perhiasan dengan brand ternama. Bersama seorang perempuan yang dikenalnya sebagai Patricia.


Kenapa mereka bisa bersama? Bukankah tadi Ben bilanh ada urusan dengan rekan bisnisnya? Dasar lelaki playboy. Bodoh sekali aku jika harus percaya dengan kata-katanya yang bilang kalau ia akan setia padaku.

__ADS_1


Maura menghentakan kakinya dengan kesal. Ia menyesal telah menolak ajakan Patrick untuk menonton. Dengan segera ia membalikan badannya dan setengah berlari ia menuruni eskalator sambil menahan tangisnya.


Sementara itu Ben yang sedang ada di toko perhiasan itu ssbenarnya secara tak sengaja sudah melihat Maura berdiri tak jauh darinya dari pantulan kaca yang ada di toko itu.


Saat melihat Maura pergi, Ben pun tersenyum


Sayang, kau masih saja gengsi dan menyakiti dirimu sendiri. Kau memang belum dewasa.


"Ben aku rasa yang satu ini sangat cocok" kata Patricia sambil mengangkat sebuah gelang.


"Aku rasa itu cantik. Apakah dia akan menyukainya?"


"Aku yakin dia menyukainya." ucap Patricia sambil tersenyum. Ia menoleh ke belakang.


"Dia sudah pergi?" tanya Patricia.


"Ya. Aku yakin sekarang dia sedang menangis"


Patricia hanya menggelengkan kepalanya. Ia akui kalau Ben yang sekarang tidaklah sama dengan Ben yang dulu ia kenal.


Bagi Patricia, kalau Ben yang sekarang adalah Ben yang sangat setia.


**********


Maura membanting pintu kamarnya dengan kesal. Ia menangis begitu mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Naomi yang baru selesai mengatur pakaian Maura dalam lemari terkejut melihat majikannya itu pulang.


"Ada apa nona?"


"Aku benci Ben. Dasar playboy. "


Naomi mendekat. Lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Apa yang sudah tuan Ben lakukan?"


"Aku melihatnya bersama Patricia disebuah toko perhiasan. Pasti Ben membelikan perhiasan itu untuk si genit Patricia"


"Sudah bibi katakan. Jangan biarkan tuan Ben sendiri. Yang suka padanya sangat banyak. Dekati suamimu, nona. Buat dia tergila gila padamu dengan tetap berada di sampingnya"


Maura terpana. Ia menatap Naomi tanpa ekspresi apapun.


Haruskah aku pergi kembali ke apatemennya?


MAKASI SUDAH BACA PART INI.


JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU YANG BERJUDUL :


LERINA..

__ADS_1


__ADS_2