
Matahari baru saja menyapa bumi dengan sinar hangatnya, namun Maura sudah lebih dulu bangun, meninggalkan Ben yang masih tertidur hangat demikian juga dengan Gracia.
Sebenarnya Maura masih mengantuk. Ia bahkan tidur sudah hampir subuh akibat tangan Ben yang tidak pernah diam menyentuhnya dimana-mana.
Setelah membasuh wajahnya, Maura pun turun ke lantai satu.
Beberapa pelayan sedang melaksanakan tugas untuk bersih-bersih dan beberapa lainnya ada di dapur menyiapkan sarapan.
"Nyonya muda, kenapa sudah bangun?" tanya Londra.
"Saya ada latihan pagi hari ini. Takutnya terlambat. Ada yang bisa ku bantu?"
Londra menggeleng "Sarapannya masih satu jam lagi baru selesai. Nyonya muda mau minum dulu?"
"Aku mau minum susu dan makan roti saja."
Londra dengan cepat menyiapkan roti dan susu untuk Lerina.setelah gadis itu sarapan, ia pun segera menuju ke kamar Ben dan mandi.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Ben baru saja masuk ke kamar dengan rambut yang basah. Dia pun sepertinya baru selesai mandi.
"Mau latihan pagi ini?" tanya Ben melihat Maura yang sudah siap.
"Ya. Latihannya jam 8 pagi"
"Tunggulah sebentar. Biar aku mengantarmu"
"Tapi kamu kan belum sarapan. Biar aku diantar oleh Pak Leo saja."
Ben mendekat dan tanpa diduga ia memeluk Maura dari belakang dan langsung mendaratkan ciumannya dileher Maura.
"Ben...apa yang kamu lakukan?" Maura berusaha melepaskan diri namun Ben sangat kuat memeluknya.
"Semalam kamu bilang akan membunuhku pagi ini." kata Ben tepat ditelinga Maura.
Maura berusaha melepaskan diri sekuat yang dia mampu. Namun hembusan napas Ben di lehernya membuat lutut Maura menjadi lemas.
"Aku akan membunuhmu sekarang, makanya lepaskan aku..."
Ben memutar tubuh Maura. Keduanya kini berhadapan.
"Kau akan membunuhku di sini?" Ben menunjuk dadanya.
"Atau di sini?" Ben menunjuk perutnya.
Maura bermaksud akan mundur namun Ben dengan cepat melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.
"Kill me with your kiss" ucapnya sensual dan langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Maura.
Tangan Maura memukul dada Ben namun bibirnya sendiri tak sanggup ia tarik dari ciuman Ben.
Ben mendorong Maura perlahan sehingga gadis itu sudah terbaring di atas tempat tidur.
Ciuman Ben semakin panas karena tangannya juga sudah mendarat ditempat faforitnya.
Maura merasakan tubuhnya menjadi panas. Pikirannya mulai tak bisa dikontrol lagi karena ciuman Ben yang sudah berpindah ke lehernya kini semakin turun ke bawah menyentuh semua yang ada di dadanya. Kaos yang dipakainya sudah terangkat ke atas.
"Ben......" Maura mendesah. Memanggil nama Ben dengan mata yang terpejam.
Ben tak bersuara karena tangan dan mulutnya sibuk menyentuh semua bagian sensitif Maura.
Maura semakin melambung menikmati semua rasa nikmat yang baru pertama alami. Ia sudah pasrah. Ia bahkan merasa sudah siap jika Ben hendak melakukan lebih dalam lagi.
"Ini sudah jam setengah delapan. Nanti kamu terlambat" Ben tiba-tiba melepaskan ciumannya di perut Maura. Ia turun dari tempat tidur.
"Aku ganti baju dulu" katanya lalu masuk ke dalam walk in closet.
what the hell...!
Dia mengantung aku seperti ini?
sungguh memalukan aku selalu terlena dengan permainannya. kamu memang sangat bodoh, Maura!
__ADS_1
Maura segera bangun, merapihkan kaos dan celananya yang sudah hampir terlepas dari tubuhnya. Merapihkan kembali rambutnya yang nampak berantakan.
"Ayo kita pergi!" Kata Ben yang sudah siap dengan setelan baju casualnya. Pria itu dengan wajah tenang melangkah keluar.
Maura mengikutinya tanpa bersuara. Begitu juga saat mereka sudah berada di dalam mobil. Keduanya saling diam.
"Telepon aku jika latihannya sudah selesai." kata Ben sebelum Maura turun.
"Ok" kata Maura.
Ben menatap istrinya yang berjalan masuk ke dalam markas The Crown.
Aku sungguh gila pagi ini. Hampir saja aku lepas kontrol. Padahal pertandingannya tinggal 2 hari lagi. Bisa'-bisa takkan ikut lomba dia jika aku menyerangnya pagi ini. Sabar Ben....dia sudah ada dalam genggamanmu.
Ben tersenyum manis. Setelah itu ia menjalankan mobilnya menuju ke studio.
***********
Foto-foto prawedding Joe dan Rachel sudah selesai dicetak.
"Bos, apakah semuanya sudah bisa diantar?" tanya Tommy salah satu anak buahnya.
"Ya. Antar ke kediaman Thomson"
Tommy mengangguk dan segera pergi.
Tak lama kemudian Joe muncul bersama Ezekiel.
"Fotonya sudah aku antar, Joe" kata Ben
"Aku dan Ezekiel ke sini bukan karena foto. Tapi ada sesuatu yang sangat penting yang harus kami bahas denganmu" Joe menarik kursi dan mempersilahkan Ezekiel duduk lalu ia mengambil kursi yang lain dan duduk disamping Ezekiel.
"Anak buah kami sudah menyelidiki tato yang dimiliki oleh orang-orang yang menyerang Maura dan yang merusak mobilmu. Mereka adalah kelompok mafia yang bernama Knife. Ini pemimpinnya" kata Joe sambil menyerahkan sebuah foto.
Ben mengambil foto itu "Ya Tuhan ini adalah Alan"
"Ya. Istrimu ada di sarang penjahat itu. Alan memang baik karena peduli dengan orang-orang yang terlantar. Tapi kau sudah mengambil gadis yang dicintainya" kata Ezekiel tegas.
"Alan tak mungkin melakukan sesuatu sekarang ini karena lomba 2 hari lagi akan dimulai. Tapi aku memang harus waspada. Polisi yang menyelidiki kecelakaanku sampai sekarang masih terus mencari siapa orang-orang itu" Ben nampak tegang.
"Jangan takut, Ben. Aku akan memberikan beberapa pengawal pribadiku yang sangat terlatih dalam memberikan perlindungan. Mereka akan menyebar tanpa diketahui. Mereka juga sangat ahli dalam menembak." Ezekiel menawarkan bantuan.
"Terima kasih, Joe....terima kasih Ezekiel...."
"Kau tahu aku harus melakukan ini tanpa diketahui oleh Faith. Istriku itu akan panik jika dia tahu bahwa kau dalam bahaya. Dia sudah mengangapmu sebagai pahlawannya." Ezekiel mengangkat kedua bahunya disambut tawa Ben dan Joe.
"Oh ya....aku akan meretas CCTV di studio dan apartemenmu. Kamu tidak menaruh CCTV di kamarmu kan?" tanya Joe.
"Tentu saja tidak. Kalau di depan kamar ada. Mengapa memangnya?"
"Kalau begitu, bercintalah didalam kamar. Jangan disembarangan tempat. Karena aku bisa melihatmu sekarang..." kata Joe sambil terkekeh.
"Tenanglah. Aku bahkan belum menyentuhnya" aku Ben jujur.
"Apa?" Ezekiel dan Joe terkejut.
"Dia masih perawan. Makanya dia sering melawanku karena rasa takut. Aku juga tak mau dia menyerahkan dirinya karena terpaksa. Sebab dia adalah istriku. Dia tidak sama dengan semua perempuan yang selama ini pernah kusentuh." kata Ben sambil menatap foto pernikahan mereka yang ada di atas meja.
"Tenang saja, Ben. kau pasti akan mendapatkannya disaat yang tak pernah kau duga." ujar Ezekiel sambil mengingat bagaimana dulu ia dan Faith akhirnya bersama.
"Apakah menghadapi gadis perawan sesulit itu?" tanya Joe. Rachel memang sudah mengaku padanya bahwa ia tak pernah berhubungan dengan laki-laki lain.
"Sebenarnya jika pernikahan diawali dengan cinta maka tak akan sesulit itu. Aku dan Faith memulai hubungan karena ancamanku, Ben dan Maura karena dijodohkan. Kau dan Rachel menikah karena saling mencintai." Ezekiel menyandarkan bahunya dikursi.
"Tapi jika adikku juga merasa takut, kau jangan mengancamnya ya..." ujar Ezekiel sambil menatap Joe tajam membuat mereka akhirnya tertawa bersama.
************
Aku sudah selesai latihan
Ben yang memang sudah berada di dalam mobil tersenyum membaca pesan istrinya.
__ADS_1
Tunggulah, aku sudah menuju ke sana sayang
Maura tersenyum manis membaca pesan balasan suaminya. Ia memasukan hp nya ke dalam tas lalu kembali menatap wajahnya ke cermin. Mengoles bibirnya dengan lipstick.
Saat ia akan melangkah meninggalkam ruang ganti, Ia mendengar ada orang yang sedang muntah di kamar mandi.
Saat ia mencari, dilihatnya Kelly keluar dari salah satu kamar mandi dengan wajah pucat.
"Ada apa denganmu, Kelly? Kau sakit?" tanyanya cemas.
"Aku baik-baik saja"
"Kamu kan yang muntah-muntah tadi? Apakah kamu masuk angin?" Maura menyentuh tangan Kelly.
Kelly menggeleng. Ia tiba-tiba saja memeluk Maura sambil menangis.
"Kamu ada masalah?" tanya Maura
Kelly kembali menggeleng. Ia melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya"Aku pulang dulu ya..."
Maura menatap kepergian temannya itu dengan wajah penuh tanda tanya.
Ia pun melangkah meninggalkan ruang ganti. Di ruang latihan masih ada beberapa temannya yang menungguh. Maura pun segera pamit dan keluar.
Tak sampai 5 menit menungguh, mobil Ben muncul.
Ia pun segera masuk ke dalam.
"Bagaimana latihannya?" tanya Ben
"Baik. Besok latihan terakhir."
Ben hanya mengangguk lalu menjalankan mobilnya kembali.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Kamu sendiri sudah makan?"
Ben menggeleng "Tadi di studio ada yang ulang tahun. Jadi kami makan jam 4 sore. Sekarang aku masih merasa kenyang."
"Oh...." hanya itu yang Maura katakan lalu ia diam begitu juga Ben.
Tiba di apartemen, Ben pun masuk ke kamar untuk mengganti bajunya. Saat ia akan keluar kamar, Maura memanggilnya.
"Ben, tidurlah di sini" kata Maura
Ben menoleh dengan kaget.
"Kamu bilang sangat tidak nyaman tidur di sofa. Lagi pula tempat tidur ini luas. Kita bisa saling berbagi"
"Baiklah. Jika kau memaksa. " Yes, akhirnya...teriak Ben dalam hati.
"Tidurlah. Kamu juga harus istirahat yang cukup" Ben mematikan lampu kamar. Ia pun berbaring dengan nyaman.
Maura agak ragu ikut membaringkan tubuhnya. Ia tidur membelakangi Ben.
Tiba-tiba tangan Ben sudah melingkar di pinggangnya.
"Ben...apa yang kamu lakukan. Lepaskan.." Maura memukul tangan Ben.
"Aku hanya akan memeluk. Aku tak akan menyentuhmu di mana-mana. Tidurlah" Ben semakin mengeratkan pelukannya.
Maura diam. Ia tak bisa menolak lagi. Ia sebenarnya merasakan perasaannya hangat menerima pelukan Ben.
Aku tidak boleh jatuh cinta...
Ben bukan pria yang kuimpikan...
Maura berusaha menyangkal isi hatinya. Ia takut suatu saat Ben akan menyakitinya. Makanya sekuat apapun perhatian Ben untuknya, Maura berusaha menutup pintu hatinya.
#Makasi sudah baca bagian ini...
__ADS_1
#Like dan komentarnya jika suka ya....