
Esok harinya, mereka berangkat ke villa milik keluarga Maura yang ada di dekat danau Toba.
Maura sangat senang karena Pamannya mengundang gank nya waktu SMP.
Mereka berangkat dengan bus milik travel yang dikelolah oleh pamannya.
Suasana bahagia tercipta selama perjalanan. Para sahabat Maura selalu menggoda Ben.
"Ben, mengapa kamu mau menikah dengan Maura? Kamu kan orang terkenal, bangsawan, sementara temanku ini kulitnya nggak terlalu putih, sedikit tomboy, suka berkelahi dan entahlah.." kata Judika disambut tawa yang lain.
"Jodoh itu datang tanpa bisa kita duga. Tapi, aku justru tertarik karena Maura bisa bela diri. Dia kelihatan seksi saat berkelahi." kata Ben sedikit sensual sambil memberikan kecupan di pipi Maura.
"Bule.....mana bule....aku juga mau bule" pekik Susi yang memang masih jomblo.
Mereka kembali tertawa. Membuat Dodi dan Lina sedikit heran melihat tingkah mereka yang seperti anak SMP.
Bus yang membawa mereka akhirnya tiba di kompleks Villa keluarga Maura. Di dekat sebuah bangunan utama, terdapat rumah cottage yang jumlahnya ada puluhan.
"Rumah Cottage nya saat ini lagi full, jadi kita di rumah utamanya. Kamarnya di sana ada 6, jadi kita tidak akan tidur berdesakan.
Maura dan teman-temannya segera menuju ke kamar kamar masing.
Judika satu kamar dengan Dodi, Letty sekamar dengan Lina, sementara Intan dan Susi ada di kamar yang sama.
Kamar Eric dan Rara, serta kamar Maura dan Ben ada di lantai 2.
Maura mengatur barang-barang yang dibawanya ke dalam lemari lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Jujur saja ia mengantuk karena Ben membuatnya tidur jam 3 subuh lalu mereka harus bangun jam 7 pagi karena bus sudah siap jam 8 pagi.
Sementara Ben sudah berada di balkon kamar dengan kameranya sambil membidik semua yang dianggapnya indah.
Hp Maura berbunyi. Masuk pesan dari Susi.
Jalan-jalan, yuk. Bosan di kamar
Maura bangun. Sekalipun tubuhnya lelah namun ia tak mau mengecewakan teman-temannya.
"Ben....!" panggilnya
Ben membalikan tubuhnya sambil menatap Maura tajam.
Salah lagi aku, bisa-bisa dihukum nih...
"Papa, boleh nggak mama jalan-jalan dengan teman-teman mama?"
"Nggak boleh!"
" Mengapa?" tanya Maura dengsn suara merajuk.
__ADS_1
"Nggak boleh kalau nggak sama papa" ujar Ben sambil mengacak rambut hitam istrinya.
Keduanya pun keluar kamar bersama.
Jalan-jalan di sekitar danau Toba menjadi kesenangan tersendiri bagi Maura dan teman-temannya. Apalagi ada Ben yang menjadi sumber perhatian orang-orang yang ada di sana karena ketampanannya, sikap ramahnya dan tatatapan matanya yang memabukan banyak wanita.
"Inda, kamu pasti tiap hari mabuk kan?" tanya Tetty secara tiba-tiba saat mereka sedang bersama menikmati kopi hangat disebuah cafe.
"Mabuk? Nggaklah. Aku jujur memang pernah minum namun sama sekali nggak pernah mabuk kecuali.." Maura diam sejenak sambil menatap Ben. Ia ingat saat malam dimana Ben menolongnya dari pengaruh obat perangsang itu.
"Dia selalu mabuk kalau aku menciumnya" kata Ben tak terduga membuat teman-temannya semakin heboh menggoda Maura.
"Sebenarnya itu maksud pertanyaanku. Apakah kamu nggak mabuk setiap bangun tidur selalu berhadapan dengan mahluk seganteng ini?" ungkap Tetty sambil tersenyum menggoda Maura.
"Kalian ini....! Ganti topik. Nanti suamiku jadi kegeeran lagi!" Maura pura-pura marah.
"Biarkan saja, ma. Berbagi kisah bahagia kita pada orang lain kan memberikan juga motivasi bagi mereka untuk juga melakukan hal yang sama jika mereka menikah nanti. Papa nggak keberatan. Atau papa saja yang ceritakan?" kata Ben lembut.
"Wah...wah...panggilannya mesra....lagi , papa...mama nggak kuat aku...pingin segera cari jodoh. Jodoh...mana jodoh..." teriak Judika.
Maura menendang kaki Ben dari bawa meja membuat Ben sedikit kaget tapi kemudian ia langsung tersenyum. Menyesah kopinya perlahan dan lalu berbisik di telinga Maura "Mau papa hukum siang ini?" tanyanya dengan nada sensual membuat Maura merinding.
Untung saja teman-temannya tidak memperhatikan Maura sehingga ia lolos dari godaan mereka.
Selesai minum kopi, mereka pun melanjutkan jalan-jalan. Ben membeli banyak ole-ole untuk para kru nya di London.
***********
Selesai makan malam dan berbincang sebentar dengan pamanya, Maura memilih untuk segera mandi dan tidur. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk.
Saat tegah malam, Maura terbangun. Ia melihat tempat tidur di sampingnya kosong. Ia mencari Ben dan melihat pria itu sedang asyik dengan tablet nya.
"Belum tidur?" tanya Maura sambil melirik jam yang sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam.
"Papa juga tadi ikut berbaring bersama mama. Namun bangun lagi saat Luna menelepon. Ada beberapa foto yang harus ditambah untuk pernikahan Rachel"
Maura turun dari tempat tidur dan ikut bergabung dengan suaminya di sofa. Saat Maura duduk, Ben memangkas jarak diantara mereka dengan duduk merapat dan melingkarkan tangannya di bahu Maura.
"Apa yang papa lihat saat akan menggambil sebuah objek foto?" tanya Maura penasaran saat dilihatnya tangan Ben yang satu masih asyik dengan tabletnya.
"Pertama objek itu menarik perhatianku, kedua aku ingin membuatnya nampak sempurna dalam pandanganku, ketiga dengan foto itu aku ingin bercerita tentang apa saja." Ben melepaskan tablet yang ada ditangannya. Lalu menyentuh pipi Maura dengan jarinya.
"Mama tertarik dengan dunia fotografi?"
Maura menggeleng.
"Apakah papa pernah mengambil foto gadis-gadis yang berpakaian bikini?" tanya Maura sedikit penasaran.
__ADS_1
"Ya. Setiap kali ada keluaran model bikini terbaru dibeberapa agensi terkenal termasuk rancangan mamaku, aku yang menjadi fotografernya."
"Pasti senang ya melihat gadis-gadis dengan bentuk badan yang nyaris sempurna bahkan hampir telanjang "
"Mata nggak bisa bohong. Tapi aku harus profesional. "
"Pernah ada cinta lokasi?"
"Ya. Beberapa model pernah kencan denganku"
"Kencan dalam dalam arti tidur bersama?"
"Ya."
Maura melepaskan tangan Ben yang melingkar di bahunya. Ia duduk menjauh dari Ben.
"Hei...mama cemburu?" tanya Ben terkejut dengan sikap Maura.
"Siapa yang cemburu?" Elak Maura.
"Ma, papa nggak ingin ada rahasia diantara kita. Papa ingin mama tahu tentang masa lalu papa. Jujur, papa memang play boy. Sudah tak terhitung berapa banyak gadis yang tidur dengan papa. Mama juga bukan perawan pertama yang tidur dengan papa. Tapi, semua itu hanya masa lalu. Sekarang papa hanya ingin bersama mama. Tidak ada perempuan lain lagi" kata Ben penuh kesungguhan.
"Mama ngantuk" Maura berdiri dan langsung naik le atas tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai di leher.
Mengapa hatiku sakit mendengar pengakuan Ben? Membayangkan dia memeluk dan mencium para model yang cantik dan seksi itu, dibandingkan dengan diriku ini...
Mengapa juga aku harus marah? Bukankah aku sudah tahu tentang masa lalunya?
Ben menatap istrinya yang sudah berbaring di atas ranjang. Apakah dia marah? Aku kan hanya ingin jujur.
Ben berdiri dan naik ke atas ranjang. "Sayang...." panggilnya sambil menyentuh bahu Maura.
Maura diam tak bicara.
"Something wrong?" bisik Ben.
Maura masih tetap diam.
" I am sorry...if i make you hurt" Ben mencium pipi Maura, lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya lalu memeluk Maura dari belakang.
"Sweet dream.." ucapnya sebelum memejamkan mata.
TERIMA KASIH SUDAH BACA...
JANGAN LUPA LIKE, COMENT AND VOTE YA
😍😍😍
__ADS_1