
Perlahan Ben membuka pintu kamar. Ia baru saja pulang dari studionya. Hari ini ia sengaja ke studio untuk melihat jadwal pemotretannya yang mulai padat. Saat mereka tahu kalau Ben sudah pulih, tawaran kerja kembali membanjirinya. Namun kali ini Ben harus lebih selektif memilih pekerjaannya karena ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Maura.
Saat Ben sudah masuk, ia tersenyum melihat Maura masih tertidur. Ia mendekat ke arah ranjang. Membungkukan tubuhnya sebentar lalu mengecup kepala istrinya itu dengan penuh kasih.
Perlahan Maura membuka matanya "Ben...kau sudah pulang?"
Ben duduk di pinggir ranjang. Membelai rambut istrinya dengan penuh kasih. "Iya."
"Jam berapa sekarang?"
Ben menatap arlojinya "Jam 4 sore"
"Aduh, aku tidurnya cukup lama. Dari jam 1 siang tadi."Maura mencoba bangun dan Ben membantunya sehingga ia bisa duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
"Apakah masih muntah?" tanya Ben dengan penuh kasih. Tangannya sudah terulur membelai perut Maura yang masih rata.
"Iya. Tadi aku muntah terus dari jam 10 pagi sampai jam setengah dua belas. Untung mommy Iriana datang. Membawa kacang Sihobuk dan bika Ambon dari Medan. Rasanya enak sekali. Perutku bahkan menjadi keras karena aku makannya sangat banyak. Kalau kau mau, aku masih menyisahkan sedikit untukmu. Tuh...!" dengan mulutnya Maura menunjuk makanan yang dimaksud yang masih ada di atas meja.
"Kamu saja yang habiskan. Aku lebih suka memakan dirimu" kata Ben menggoda membuat Maura tersenyum. Ia mendekat dan memeluk Ben dari samping. Membenamkan kepalanya didada bidang suaminya sambil menghirup bau khas Ben.
"Sayang, aku berkeringat. Aku mandi dulu ya...." ujar Ben.
Maura menggeleng "Aku suka baumu yang sekarang. Tak memakai minyak wangimu yang menyengat itu"
Ben tertawa. Ia membalas pelukan istrinya dan mencium kepala Maura secara berulang-ulang.
"Saat ini kau bilang minyak wangiku baunya menyengat namun disaat aku pergi, minyak wangiku yang kutinggalkan di apartemen selalu kau pakai sampai tak tersisa."
Maura semakin erat memeluk Ben. "Waktu itu aku sangat merindukanmu. Dengan memakai minyak wangimu, aku merasa kalau kau ada bersamaku"
Ben melepaskan pelukannya "Akan ku tebus semua waktu yang terbuang saat aku tak bersamamu. Kehadiran anak ini adalah anugerah yang sangat luar biasa. Aku akan berusaha membagi waktu terbaik antara kau, anak kita dan pekerjaanku"
Maura menatap Ben "Haruskah kau pergi bekerja?"
"Sayang, aku bisa saja tak bekerja karena penghasilanku bukan hanya dari menjadi fotografer saja. Namun, mereka yang bekerja denganku di studio pasti akan kehilangan pekerjaan."
Maura memegang tangan Ben "Masalahnya, aku..., aku sering cemburu melihatmu memotret para gadis yang hampir telanjang itu. Mereka rata-rata punya postur tubuh yang nyaris sempurna dan kau sering menyentuh mereka saat mengatur pergerakan mereka."
"Jadi kau masih ragu akan kesetiaanku?" tanya Ben sambil menatap mata istrinya secara lekat.
"Aku percaya padamu, Ben. Hanya saja, mana ada perempuan yang rela melihat suaminya dikelilingi oleh perempuan-perempuan cantik. Mereka bahkan sering menatapmu dengan senyum menggoda" kata Maura sambil mengkerucutkan bibirnya.
Ben tersenyum. Dipegangnya kedua pipi Maura dengan tangannya. "Di mataku tak ada wanita yang sempurna, yang mampu menggetarkan hatiku, yang mampu menggodaku dengan tubuh indahnya selain dirimu."
"Tapi Ben, wanita hamilkan biasanya akan menjadi gendut. Apakah aku akan tetap kelihatan cantik dimatamu?" tanya Maura sedikit tersipu.
Ben mengangguk. Di belainya wajah cantik Maura dengan ibu jarinya "Sekalipun wajahmu ini kelak akan mulai berkeriput, atau berat badanmu naik 2 kali dari berat badanmu yang sekarang, rambut hitammu ini akan berubah menjadi putih, aku akan tetap mencintaimu."
Senyum diwajah Maura menunjukan kebahagian hatinya " I love you, Ben"
"I love you too!" ujar Ben lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman panjang yang menggairahkan.
"Sayang...kita mandi bersama, yuk!" ajak Ben saat ciumannya berakhir.
Maura mengangguk. Namun sebelum ia turun dari tempat tidur, ia menahan tangan Ben.
"Sayang, kalau kau mau mengambil gambar para model dengan pakaian seksi, aku boleh ikutkan?"
Ben mengangguk.
"Dan jika kau ingin mengarahkan gaya para gadis itu, bolehkan Luna saja yang menyentuh mereka?"
Ben kembali mengangguk.
"Dan jangan pernah menerima model foto dari mantan pacarmu"
Ben tertawa. Dia membungkuk dan langsung mengangkat tubuh Maura dalam pelukannya.
"Apapun untukmu, istriku"
Maura tersenyum bahagia. Ia mencium leher Ben dengan gemas.
__ADS_1
Sesampai di kamar mandi, Ben menurunkan Maura. saat Maura sedang membuka bajunya dan Ben mengisi buthtup dengan air hangat, Ben kemudian bertanya.
"Sayang, karena saat ini kamu tidak merasakan mual dan muntah bolehkah aku..." Ben sengaja menggantungkan kalimatnya.
Maura menurunkan gaun rumah yang dipakainya ke lantai "Apapun untukmu, suamiku" sela Maura lalu mencium punggung Ben dengan gaya menggoda.
Ben tersenyum bahagia. " Aku janji akan sangat hati-hati"
Maura mengangguk sambil tersenyum bahagia.
************
Setelah terkurung di rumah saja karena masa awal proses kehamilan yang membuatnya pusing dan muntah, hari ini Maura boleh keluar rumah. Ia ikut Ben ke butik Alicia karena akan ada pemotretan di sana.
"Sayang, aku ke kedai kopi Mira ya...nanti kalau pengambilan gambarnya sudah dimulai, telepon aku" kata Maura begitu turun dari mobil.
"Baiklah." ujar Ben.
Maura segera melangkah menyeberangi jalan lalu menuju ke kedai kopi Mira.
"Selamat datang!" sapa salah satu pelayan.
"Terima kasih!"
Mira yang ada di pantry tersenyum melihat Maura "Wah...suatu kejutan melihatmu di sini" Ia langsung mendekati Maura dan mereka saling berpelukan sebentar sambil memberikan ciuman pipi kanan dan kiri.
"Duduklah. Aku akan menyiapkan kue dan coklat hangat untukmu!" Mira bergegas ke dapur dan menyiapkannya untuk Maura.
Tak sampai 10 menit, Mira sudah kembali dengan aroma kue dan coklat panas yang sangat menggoda selera makan Maura.
"Aku suka...ini enak..! Anakku juga suka. Aku bahkan tak merasa mual!" ujar Maura saat coklat panas itu masuk melalui indra perasanya.
"Aku senang kalau kau menyukainya."
Maura memasukan potongan kue itu ke dalam mulutnya. Matanya langsung bersinar karena rasa enak dari kue isi coklat keju itu.
"Mira, kau sangat pintar membuat kue. Bolehkah aku tambah lagi?" tanya Maura sedikit malu.
"Tentu saja bisa!" Mira berdiri dan mengambil beberapa potong kue lagi untuk Maura.
"Boleh. Datanglah kapan saja kau suka. Dan...ah..." Mira tiba-tiba saja memegang perutnya.
"Ada apa?" tanya Maura khawatir.
"Dia bergerak. Dia sangat aktif...!" ujar Mira sambil memegang perutnya.
"oh ya? Apakah nanti aku akan mengalami hal yang sama?"
"Tentu saja. Sesuai dengan umurnya, dia akan bergerak dan menimbulkan rasa cinta dalam hati kita. Aku bahagia memilikinya walaupun awalnya aku sempat ingin menolaknya" kata Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah kau sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Maura penasaran
"Ya. Dia seorang perempuan."
"Dia pasti cantik seperti mamanya"
"Aku berharap begitu"
Keduanya pun tertawa bersama. Tak lama kemudian Ficlen datang sambil membawakan sebuah boneka.
"Hallo....2 calon mama...!" sapa Ficlen manis sambil mencium pipi Maura dan Mira secara bergantian.
"Hai Fic...apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Maura
"Membawakan boneka untuk pacarku!"
Bola mata Maura membesar. Ia tanpa sadar membuka mulutnya "Kalian sudah jadian?" tanya Maura penasaran.
Mira mengangguk malu-malu.
"Dia sudah menerima lamaranku semalam. Rencananya 2 minggu lagi kami akan menikah" kata Ficlen dengan wajah yang berbinar gembira.
__ADS_1
"Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga Tuhan senantiasa memudahkan jalan kalian menuju kebahagiaan bersama" kata Maura haru.
"Amin...terima kasih Maura!"
Hp Maura berbunyi.
"Hallo sayang....!" sapa Maura.
"Pengambilan gambar akan segera di mulai!" kata Ben dari seberang.
"Ok sayang. Aku ke sana!"
Maura berdiri. "Aku mau ke butik mommy. Sekali lagi selamat ya. Oh ya berapa aku harus membayar minuman dan makanan ini?"
"Gratis untukmu!" kata Mira.
"Terima kasih ya...." ujatlr Maura senang lalu ia segera menuju ke pintu keluar.
Mira menatap Ficlen "Fic...apakah kau sudah berbicara dengan orang tuamu?Bagaimana tanggapan mereka?"
"Orang tuaku sangat mengerti dengan keputusanku. Mereka setuju dengan keinginanku untuk menikahimu. Mereka bahkan ingin mengundangmu untuk makan malam." ujar Ficlen sambil menggengam tangan Mira.
"Benarkah? Wah..aku harus buat kue untuk dibawa ke sana."
"Terserah padamu. Yang penting kamu jangan sampai lelah"
Mira mengangguk. Hatinya sangat bahagia.
*********
Pemotretan kali ini adalah koleksi baju untuk gaun musim panas. Jadi gaun-gaun yang dikenakan adalah kain-kain berbahan ringan dan sedikit terbuka.
Maura duduk tak jauh dari Ben. Setiap kali para model tidak mengikuti keinginan Ben maka Ben akan menatap Luna dan Luna yang akan mendekati model itu untuk mengatur rambut atau letak gaun para model.
Awalnya para model agak kaget namun saat mereka melihat Maura tersenyum sambil memegang perutnya para model itu pun mengerti.
"Oh....pasti keinginan istrinya yang lagi hamil ya?"
"Keinginannya aneh, kenapa Ben tak boleh mengarahkan kita secara langsung?"
"Ah...Ben sangat manis. Demi istrinya, dia siap melakukan apa saja.."
Berbagai komentar muncul. Namun Maura tak marah. Yang penting Ben sama sekali tidak dekat-dekat apalagi menyentuh gadis-gadis cantik itu.
Alicia dan Bryan yang melihat itu dari jauh tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepala.
"Sayang....Ben benar-benar sudah ditaklukan oleh Maura. Dia mampu melakukan apa saja bahkan yang tak pernah dia lakukan sebelumnya." kata Alicia sambil menatap Maura dan Ben.
"Aku bahagia karena Ben sudah bertemu dengan wanita yang tepat. Aku dapat pastikan kalau anak mereka nanti lebih posesif terhadap Ben dari pada Maura" ujar Bryan sambil tertawa.
Ben menatap Papa dan mamanya yang berdiri disudut ruangan sambil tertawa bahagia. Ben yakin mereka pasti sedang membicarakan dirinya dan Maura.
Pemotretan sudah selesai. Ben membiarkan para pekerjanya membereskan semua peralatan yang dipakai.
"Sayang...kita makan siang bersama?" tanya Ben kepada Maura yang sedang duduk sambil memainkan hp nya.
"Baiklah. Tapi aku mau makan ayam kari, Ben!" rengek Maura.
"Ya ampun sayang...makan apa lagi itu?"
"Ayam yang menggunakan santan kelapa. Ayo kita ke restaurant Asia. Aku pernah melihat kalau menu itu ada di sana." kata Maura antusias.
Ben menoleh ke arah papa dan mamanya. Tadi memang mereka sudah mengatakan pada Ben untuk mengajak Maura makan siang bersama. Namun sepertinya kali ini harus gagal lagi.
"Mom...dad...sorry...selera Indonesia lagi...!" teriak Ben sambil menggandeng istrinya erat.
Maura pun menatap kedua mertuanya dengan senyum manisnya. Ia memegang perutnya sebagi tanda bahwa itu kemauan calon cucu mereka.
Ah....Maura apapun semua untukmu kali ini...
senangnya jadi ibu hamil...
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTARI DAN VOTE