My Best Photo

My Best Photo
Pertemuan lagi


__ADS_3

Setelah 2 hari bolos latihan karena Maura harus menghilangkan tanda merah dilehernya itu, hari ini ia kembali datang ke markas tempat The Crown biasa latihan dan berkumpul.


"Hallo semua...." sapa Maura saat memasuki ruangan. Sudah ada beberapa temannya di sana. Kelly, Lety dan Clief.


"Apakah kamu sudah sehat?" tanya Clief.


Maura mengangguk. Ia memang mengatakan kalau dirinya kurang sehat.


"Hanya sakit kepala. Namun sudah baik. Di mana Alan?"


"Alan keluar sebentar. Dia berpesan kalau semua sudah terkumpul segera untuk menghubunginya "Kata Lety.


Maura hanya tersenyum tipis, ia lalu segera ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Ketty menyusulnya.


"Maura? sebenarnya ke mana kamu malam itu saat dua orang berpakaian hitam menarikmu?"


"Kau sudah dengar penjelasanku pada Alan, kan?"


"Tapi yang ku lihat malam itu motormu masih ada di tempat parkir. Keesokan pagi pun saat aku datang ke sana motormu masih ada."


Maura menatap temannya itu "Aku tidak ingin lagi mengungkit masalah minuman yang diberi obat perangsang itu. Jadi berhentilah menanyakan masalah itu lagi." Maura melangkah.


"Setahuku tempat itu milik dari Ben."


Langkah Maura terhenti "Ben?" tanyanya sambil menoleh.


"Ya. Ben. Dia adalah fotografer yang datang bersama Aliana. Dia seorang play boy yang banyak digilai oleh kaum hawa." ujar Kelly.


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Aku lihat malam itu, saat wawancara, kamu sedikit gugup melihatnya"


Maura menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia buru-buru tersenyum " Kau salah mengartikan tatapanku. Di mataku, hanya Alan yang paling aku suka" lalu ia kembali melangkah menuju ke ruangan latihan.


3 jam mereka latihan dan Maura berusaha untuk konsentrasi walaupun ia sebenarnya wajah Ben tiba-tiba saja melekat dipelupuk matanya.


"Baby, what happen to you?" tanya Alan saat sudah selesai latihan.


"Aku tidak apa-apa." Maura berusaha tersenyum.


Alan menarik tubuh Maura dan melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu. Ia menatap Maura dengan seksama.


"Ada sesuatu yang kau sembunyikan?"


"No..."


Alan membelai wajah Maura "Mengapa aku merasa kalau kau sedikit menghindar dariku? Kau bahkan jarang membalas pesanku"


"Hp ku disita oleh papaku. Dia mau aku istirahat total" Maura berbohong lagi.


"Tinggalkan rumah itu. Hiduplah bersamaku."


"Aku tak bisa Alan."


"Aku bisa membuatkan kau rumah yang besar. Kau tidak akan kekurangan apapun saat hidup bersamaku. Lupakan tentang warisan ibumu."


Maura menunduk. Alan memegang dagu Maura dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih melingkar dipinggang Maura.


"Aku merindukanmu, sayang" ucapnya pelan dan menunduk untuk mendapatkan bibir gadis itu.


"Maura, aku pulang bareng..." langkah Kelly terhenti. Maura buru-buru melepaskan dirinya dari pelukan Alan.


"Aku pulang dulu Alan. Selamat malam. Ayo Kelly!" ajak Maura sambil meraih tasnya.


Alan mendengus kesal karena niatnya untuk merasakan manisnya bibir Maura tak kesampaian. Maura adalah wanita yang sangat sulit didapatkannya. 6 bulan mereka pacaran namun Alan tak pernah berhasil membawa gadis itu ke ranjangnya. Jangankan menyentuh bagian tubuhnya yang lain, mencium Maura saja rasanya baru beberapa kali Alan rasakan. Itu pun bukan seperti ciuman panas dan menggairahkan. Karena saat Alan ingin merasa lebih, Maura selalu menolaknya dengan alasan yang klasik " Aku belum siap, Alan. Maaf"


Justru karena hal inilah Alan begitu tertantang untuk menaklukan Maura. Dia merasa bahwa Maura adalah wanita yang pantas untuk menemaninya sampai tua.


************


Maura mengantarkan Kelly ke apartemennya karena memang mereka ada di arah yang sama. Setelah itu ia kembali menjalankan motornya menuju ke suatu tempat. Di mana lagi kalau bukan sungai Thames. Entah mengapa dia sangat menyukai tempat ini.


Saat ia menghentikan motornya, ia berusaha melihat sekeliling seolah takut kalau Ben ada di sana.


Dia pasti tak ada. Lagi pula ini masih jam 9 malam, guman Maura lalu ia turun. Membuka helmnya dan merapihkan rambutnya sebentar sebelum melangkah mendekati pagar pembatas.

__ADS_1


Tatapannya kembali lurus ke depan sambil melihat aktivitas orang-orang di sekitar.


"Halo sayang....dua hari kau tak datang, aku sangat merindukanmu"


Deg. Jantung Maura berdetak sangat cepat mendengar suara itu. Namun ia berusaha tak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.


"Ternyata kau cantik juga dilihat dari samping"


Maura akhirnya menoleh. Menatap tajam ke arah pria yang sedang menatapnya.


Melihat wajah tampan itu, ingin rasanya Maura menonjok wajah Ben.


"Apa maumu?"


"Menjadi kekasihmu"


"Are you crazy?"


Ben mengangguk "Yes...i'm crazy abaut you"


"Dasar penguntit!" ketus Maura sambil membuang muka.


"Aku bukan penguntit. Aku menungguhmu di sini. Dan aku senang kamu akhirnya datang ke sini."


"Ini hari terakhirku datang ke sini"


"Jangan sayang. Kau akan mematahkan hatiku jika berhenti datang ke sini. Karena tempat ini telah menjadi awal manis kita bertemu." kata Ben begitu lembut.


Maura diam sejenak.


"Berhentilah mengikuti aku. Jangan mendekat jika kau melihatku. Anggaplah jika kita tidak pernah bertemu" katanya sambil membalikan badannya dan menatap Ben tajam.


"Aku tak bisa melakukan itu"


"Kenapa?"


"Karena setiap kali melihatmu, seperti ada seribu magnet yang menarik aku untuk mendekatimu."


What the hell...


Maura tersenyum miris "Kau tak dapat merayuku, Ben. Karena aku tahu bahwa kau seorang play boy"


Bukan Ben namanya jika kehilangan kata-kata manisnya.


"Ah.....senang rasanya saat kau menyebut namaku. Aku akui bahwa dulunya aku seorang play boy. Namun salahkah jika aku ingin menyukai seorang wanita saja mulai sekarang ini? Dan apakah salah jika wanita itu adalah kamu, Maura?"


"Berhentilah merayuku, kau takan berhasil" Maura kembali memalingkan wajahnya. Entah mengapa tatapan mata Ben membuat jantungnya berdebar.


"Ini bukan rayuan. Ini adalah kata hatiku" Ben semakin mendekat. Kini berdiri sejajar dengan Maura.


"Mari kita berteman. Siapa tahu dengan berteman kita bisa menjadi pasangan yang sebenarnya"


"Aku tak mau menjadi pasanganmu" pekik Maura ketus.


"Bahkan untuk anak yang akan kau kandung nanti"


"Aku belum tentu hamil. Dan jika itu terjadi, aku akan menggugurkannya."


"Kau akan membunuh darah dagingmu sendiri? Aku tidak akan pernah mengijinkannya."


Maura menatap Ben dengan sinis " Siapa kamu yang mau mengatur hidupku?"


"Calon suamimu"


"Hei....berhentilah mengatakan kalau kau adalah calon suamiku" Maura menghentakan kakinya. Hilang sudah seleranya untuk menikmati malam di tempat kesayangannya ini. Ia bermaksud akan pergi meninggalkan pria paling menyebalkan yang ia kenal baru 5 hari ini.


Namun saat Maura berbalik, Ben tiba-tiba menghadang langkahnya, melipat kedua tangan gadis itu kebelakang dan mendorong tubuhnya sehingga Maura kembali bersentuhan dengan pagar pembatas sungai.


Sebelum Maura bicara, Ben sudah mengunci kaki Maura dengan menempatkan kedua kakinya diantara kaki Maura lalu ia menunduk dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.


Maura terpana, tubuhnya seperti membatu. Ia bahkan tanpa sengaja membuka mulutnya sedikit dan membuat Ben semakin leluasa membuat ciuman itu semakin panas.


Ciuman itu berlangsung cukup lama dan membuat Maura hampir kehilangan pasokan oksigen di paru-parunya.


Ben mengahiri ciumannya membuatnya napas keduanya sama-sama saling memburu untuk menarik oksigen sebanyak mungkin.

__ADS_1


Wajah Maura memerah menahan marah.


Namun Ben justru tersenyum "Aku mohon, jaga dia kalau memang sudah tumbuh disini" Ben mengusap perut Maura yang dilapisi jaket hitamnya. Lalu cowok itu pergi tanpa menoleh lagi.


Perlahan Maura seolah tersadar dari sihir si play boy yang sudah menjauh itu.


"Dasar cowok gila.....! Aku benci kamu...!" teriak Maura dalam bahasa Indonesia.


Ben yang melangkah masih mendengar teriakan Maura. Ia hanya tersenyum dengan wajah puas. Jiwa petualangnya muncul lagi.


" Wellcome to my heart sweet girl" gumannya lalu menyeberangi jalan menuju ke apartemennya.


Tak jauh dari situ, sebuah mobil mercy putih baru saja bergerak. Di dalamnya ada seorang nyonya cantik yang nampak elegan dengan dandanannya. Siapa lagi kalau bukan Alicia Aslon.


Ia segera membuka layar hp nya. Mengotak-atik hp nya. Setelah menemukan sesuatu, ia pun tersenyum puas.


"Antarkan aku ke apartemen anakku" katanya kepada Sopir itu.


********


Ben terkejut ketika membuka pintu apartemennya dan menemukan mamanya ada di sana.


"Hi...Mommy. What are you doing here?" tanya Ben sambil menggeser tubuhnya, mempersilahkan mamanya untuk masuk.


"Mengapa kau mengganti kode masuk apartemenmu?" tanya Alicia lalu melangkah masuk dan duduk di atas sofa.


"Mommy berhentilah mengikuti aku. Berhentilah meminta orang untuk memata-matai aku. Aku ini sudah besar. Sudah dewasa" Ben iku duduk di samping mamanya.


"Ben, mommy sedih kau lebih banyak menghabiskan waktu di sini."


Ben menyandarkan kepalanya di bahu mamanya "Mommy, anak mommy itu ada 3. Kenapa hanya aku yang mommy ikuti terus."


"Mommy akan tenang kalau kamu sudah menikah Ben. Usiamu sudah lebih dari cukup"


"Usiaku baru 27 tahun, mom"


"2 bulan lagi genap 28 tahun. Kamu itu sudah tua sayang..." Alicia membelai kepala anaknya.


"Siapa bilang aku sudah tua? Aku ini berwajah bagai remaja 17 tahun"


Alicia menyentil dahi anaknya dan membuat Ben meringis.


"Ben, kali ini cobalah untuk dekat dengan gadis pilihan mommy. Setidaknya......"


"Stop, mom. Aku tak ingin lagi"


"Apakah selamanya kau akan menjadi playboy? Tuhan akan menghukummu sayang.."


"Tuhan memang sudah menghukumku, mom" kata Ben getir. Sesaat bayangan Faith melintas dimata Ben.


Alicia mengambil hp nya. "Cobalah lihat gadis ini. Dia anak sahabatku"


Ben menjauh dari mamanya tanpa memandang hp yang disodorkan oleh Alicia.


"Sudahlah, mom. Kau membuatku kesal saja"


"Tapi dia gadis Indonesia, Ben."


Ben yang sudah berdiri kembali duduk lagi. Ia mengambil hp mamanya dan melihat foto seorang gadis yang ada di sana.


Wajah Ben yang tadinya kesal tiba-tiba langsung tersenyum. "Aku mau menikah dengannya, mom"


"Sebaiknya kalian tunangan dulu untuk saling mengenal."


"Aku pikir itu terlalu lama, mom. Aturlah pernikahannya dan jangan katakan identitasku kepada gadis itu sampai kami menikah"


"Why?"


Ben tersenyum " itu adalah persyaratanku untuk menerima perjodohan ini. Sekarang aku ke kamar dulu ya....ngantuk" pamit Ben meninggalkan mamanya yang nampak bingung dengan perkataan putranya.


# makasi sudah baca bagian ini


#Sudah baca juga novelku yang berjudul LERINA?


#jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya juga ya?

__ADS_1


__ADS_2