My Best Photo

My Best Photo
Gagal


__ADS_3

Sebelum baca jangan lupa


LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA..🥰🥰


Kamar VVIP dengan kualitas interior supermewah merupakan kamar dengan harga termahal di The Thomson hotel ini.


Maura sedikit merinding saat memasuki kamar ini.


Ia bahkan sempat bingung saat Alicia Thomson mengantarnya masuk ke kamar ini.


"Istirahatlah di sini sebentar. Ben sedang berpamitan pada beberapa temannya. Selamat menikmati malam pengantin kalian ya. Terima kasih karena sudah menjadi menantu keluarga Aslon. Aku sangat bahagia." lalu ciuman kasih seorang ibu mendarat dipipi kanan dan kiri Maura.


Maura menatap kepergian Alicia dengan perasaan yang tak menentuh.


Aku adalah istri Ben sekarang. Ya Tuhan, bagaimana bisa ini terjadi?


Maura mengingat kembali percakapannya dengan Ben beberapa hari lalu. Ia menghentakan kakinya kesal. Dia sudah tahu kalau aku adalah calon istrinya dan dia sengaja mempermainkan aku?


Pintu kamar terbuka. Ben masuk dengan jas yang sudah dipegangnya dan kemeja yang sudah digulung sampai ke lengan.


"Hai....!" sapa Ben nampak sedikit canggung.


Maura membuang muka. Ingin rasanya ia melempari wajah Ben dengan sepatu highheels yang masih terpasang di kakinya.


Ben melangkah masuk setelah menutup pintu dibelakangnya. Ia mendekati Maura yang sedang duduk ditepi tempat tidur.


"Jangan mendekat!" Maura mengangkat tangannya menghentikan langkah Ben.


Akhirnya Ben duduk di atas sofa yang berhadapan dengan tempat tidur.


Keduanya saling diam selama hampir 10 menit.


"Sebaiknya kau ganti baju dan istirahat. Kau pasti capeh. Aku akan menungguh di balkon sampai kau selesai" Ben berdiri dan segera menuju ke balkon dan menutup pintunya.


Maura berdiri dan duduk di depan kaca. Ia membuka semua asesoris yang menempel ditubuhnya, kemudian membuka sepatunya.


Ia melihat kalau ada tisue dan pembersih make up di atas meja rias itu. Dia pun membersihkan wajahnya.


Begitu selesai, gadis itu berdiri hendak membuka gaun pengantinnya yang cukup berat untuknya.


Namun ia kesulitan karena gaun itu harus dibuka dari belakang.


Dem....aku harus minta bantuan dari mana? Hp ku juga nggak ada. Maura menggerutu sendiri.


"Perlu bantuan untuk membuka gaun pengantinmu?" tanya Ben saat ia sudah masuk kembali.


"Aku tak butuh bantuanmu!" ketus Maura.


"Baiklah kalau kamu mau tidur dengan gaun itu" Ben berjalan santai menuju ke kamar mandi.


Maura semakin panik rasanya. Bagaimana mungkin aku akan tidur dengan gaun pengantin ini?

__ADS_1


Tak lama kemudian Ben sudah keluar dari kamar mandi. Ia nampak segar dan membuat Maura segera memalingkan wajahnya melihat cowok itu hanya mengenakan sebuah handuk untuk menutup tubuh bawahnya. Bentuk bandannya sangat bagus.


Maura menggerutu dalam hati karena ia mengagumi hal itu.


"Tidak ingin kubantu?" tanya Ben lagi.


Maura tak punya pilihan. Ia membalikan tubuhnya sehingga punggungnya menghadap Ben.


"Bukalah. Dan jangan macam-macam" kata Maura memperingati.


Ben membuka pengait gaun pengantin itu satu persatu sehingga membuat punggung mulus Maura terekpos.


Ben menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Ia berusaha menahan hasratnya yang tiba-tiba saja muncul.


"Sudah selesai"


Maura bergegas ke kamar mandi. Ia menutup pintu dengan rapat lalu melepaskan gaun pengantinnya. Gadis itu segera mengisih bak mandi dengan air. Ia ingin berendam di sana dan menenangkan otaknya yang sedikit pusing malam ini.


Kenapa aku bodoh sekali dan tak menanyakan siapa calon suamiku? Kenapa harus Ben? si play boy yang sangat terkenal karena banyak gadis yang patah hati padanya? Dia sama sekali bukan tipeku.


Bukan dia laki-laki yang kuinginkan.


"Maura.....!" terdengar suara Ben dari balik pintu


Maura tak menjawab


"Kamu mandi sudah lebih dari 1 jam. Nanti kamu sakit. sekarang sudah hampir jam setengah satu."


"Iya" Maura akhirnya berdiri dan mengeringkan badannya dengan handuk.


Maura melihat sebuah jubah mandi. Ia pun mengenakannya dan langsung keluar.


Ben sudah mengenakan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih. Cowok itu nampak asyik dengan hp nya.


Maura membuka lemari pakaian saat ia tak melihat ada koper baju yang tersedia di sana.


Saat ia masuk ke dalam, ia hampir saja menjerit saat dilihatnya di lemari yang luas itu hanya ada sebuah gaun tidur super tipis berwarna hitam dan sepasang baju dalam yang berwarna sama.


Ia keluar lagi " Ben, apakah tidak ada baju lain? Mengapa di lemari ini hanya ada sepasang baju dalam dan gaun tidur yang tidak sangat pantas ku pakai"


"Aku nggak tahu. Kamar ini bersama isinya diberikan oleh pasangan Ezekiel dan Faith sebagai hadiah pernikahan kita. lagi pula, mengapa baju itu tidak pantas? Aku kan suamimu, sayang"


Cih....buluh kuduk Maura berdiri mendengarkan kata sayang yang diucapkan oleh Ben.


"Ben, buka bajumu. Aku nggak mau memakai gaun tidur itu"


"Baiklah" Ben berdiri dan membuka kaosnya kemudian membuka celana pendeknya.


"Ben....apa yang kamu lakukan?" Maura langsung membalikan tubuhnya dengan wajah merah saat Ben terlihat polos tanpa menggunakan baju apapun.


"Kamu kan yang menyuruh aku membuka baju. Jadi aku buka. Dan aku tak mungkin menggunakan gaun tidur itu. Jadi biarkan saja aku naked" Ben tersenyum. Ia merasa senang mengerjai Maura. Seandainya saja Maura tahu kalau semua ini sengaja Ben lakukan, gadis itu pasti akan mengamuk.

__ADS_1


"Pakai lagi bajumu, Ben. Kamu sangat jorok!" Maura berlari masuk ke dalam lemari baju. Tak punya pilihan, ia mengenakan apa yang tersedia di sana.


"Maura, keluarlah, apa kau mau tidur di situ?" teriak Ben saat ia merasa gadis itu sudah terlalu lama di sana.


Maura menghentakan kakinya kesal. Jujur ia sangat lelah. Namun keluar dengan baju seperti ini sungguh bukan pilihan untuknya.


"Maura.....!" Ben membuka lemari pakaian.


Maura tersentak kaget. Ia langsung berlari keluar, menabrak Ben dan akhirnya.......


"Sayang......" panggil Ben lembut


Maura membuka matanya "Ah.......!" teriaknya kencang saat ia menyadari kalau mereka jatuh bersama dengan posisinya berada di atas tubuh Ben. Dan Ben sama sekali tak mengenakan pakaiannya.


"Kamu mesum....!" Maura memukul dada Ben dan segera berdiri. ia berlari ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Maura menarik selimut sampai menutupi kepalanya saat Ben keluar.


Ben memakai celananya kembali.


"Maura...!" Ben menyentuh bahu Maura.


"Ah.....pergi dari sini Ben...aku benci kamu...aku benci..."


"Aku adalah suamimu..." Ben membuka selimut yang menutupi wajah Maura.


Maura dengan brutal menyerang Ben dengan gerakan bela dirinya. Ben berusaha untuk menghindari pukulan Maura tanpa membalasnya. Maura berdiri dan turun dari tempat tidur. Ben mengejarnya. Maka terjadilah adegan kejar-kejaran di dalam kamar pengantin itu.


Maura mengambil bantal dan memukul Ben.


"Maura.....hentikan...!"


"Kau menjebakku, brengsek!"


"Aku tidak menjebakmu!" Ben menahan bantal itu. Terjadilah gerakan tarik menarik antara Ben dan Maura.


Akhirnya.....bantal itu pecah. Bulu-bulu angsa yang ada didalamnya berhamburan bahkan mengenai wajah Ben dan Maura.


"Sayang....kau merusak fasilitas hotel" kata Ben


"Bukan aku tapi kamu" Maura duduk di atas lantai. Tiba-tiba ia terisak.


"Hei....mengapa kamu menangis?"


"Aku benci kamu Ben....kamu sengaja kan menjebak aku dengan pernikahan ini"


"Dengar dulu....."


Maura berdiri "Aku capeh sekali, Ben. Aku mau tidur. Tolong jangan ganggu aku karena aku tak mungkin akan tidur denganmu" Maura naik ke atas tempat tidur. Tubuhnya memang sangat lelah.


Ben menatap gadis itu. Tidurlah manis...masih banyak waktu untuk membuatmu percaya padaku batin Ben. Ia menungguh Maura benar-benar tertidur baru kemudian dia ikut berbaring di samping Maura.

__ADS_1


a



__ADS_2