
Membantu Ben ganti baju sungguh merupakan Pekerjaan yang sangat berat bagi Maura. Ia tak bisa menolak karena hanya mereka berdua yang ada di apartemen ini.
Dengan langkah yang sedikit diseret, Maura pun mendekati Ben yang sedang duduk di atas ranjang. Ia melepaskan kemeja yang dipakai Ben. Begitu kemeja itu terbuka, dada bidang Ben dengan otot-otot yang tertata rapih membuat Maura harus mengaguminya dalam hati.
"Apakah dengan celananya juga?" tanya Maura.
"Ya. Celana jeans ini membuatku kurang nyaman untuk bergerak. Sebaiknya aku tiduran saja sehingga kau lebih mudah untuk membukanya" Ben membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang.
Maura menarik napas panjang lalu membuangnya kasar. Ia merasakan kalau jantungnya berdetak sangat cepat. Wajahnya bahkan terasa panas saat ia mulai membuka sabuk Ben. Lalu setelah itu membuka kancing celana Ben, menurunkan reslating celananya dan perlahan melucurkan celana itu.
Ben dapat merasakan kalau tangan Maura sedingin es saat bersentuhan dengan kulitnya.
"Ma, bolehkah aku juga ingin mengganti celana dalamku? Aku tidak terbiasa mengenakan celana dalam yang sama selama beberapa hari"
"What? Tapi Ben....aku tak bisa. Itu berarti aku harus me......" kalimat Maura terhenti. Wajahnya semakin bersemu merah.
"Kita kan suami istri. Jadi kenapa harus malu? Soalnya kalau tidak diganti badanku akan gatal-gatal. Aku juga tak bisa meminta mommy untuk datang membantuku menggantinya. Pasti mommy berpikir untuk apa ada Maura."
"Tapi Ben, aku...."
"Kau dapat menutup matamu saat membukanya"
Maura segera kembali ke dalam walk in closet.
Sialan, kenapa aku harus terjebak dengan situasi ini ya? Tapi, jika meminta mommy datang dan membantu tidak lucu juga kan? Aduh....gimana nih...
Maura pusing sendiri didalam walk in closet.
Namun ia mengambil celana boxer Ben dan berjalan mendekati ranjang. Ia menatap Ben yang kelihatan biasa saja.
Maura memejamkan matanya dan mulai membuka celana dalam Ben.
Ben yang melihat ekspresi wajah Maura berusaha menahan tawanya.
"Apakah ini sudah benar?" tanya Maura sambil mengangkat celana boxer yang akan dipakaikannya.
"Ya." jawab Ben.
Seandainya Maura membuka matanya, ia pasti akan berteriak kaget karena junior Ben sungguh sedang tegang saat ini.
Aku bisa mati menahan hasratku ini, batin Ben.
Tangan Maura yang tanpa sengaja menyentuh kulitnya membuat Ben sungguh hampir tak bisa menguasai dirinya.
Akhirnya, boxer itu terpasang ditubuh Ben dengan baik. Maura pun membuka matanya lalu mengambil celana panjang dan memakaikannya pada Ben. Terakhir ia memakaikan kaos.
"Sudah selesai. Aku mengambil obatmu dulu" Maura buru-buru keluar. Saat ia menarik pintu kamar, ia segera berlari menuruni tangga dengan jantung yang masih berdebar kencang.
Ia langsung membuka kulkas dan mengambil air es di botol, meneguknya sebanyak mungkin karena badannya terasa panas.
Sementara itu, di kamar Ben akhirnya bernapas lega saat Maura keluar. Ia sungguh puas mengerjai gadis itu.
__ADS_1
Sebenarnya tadi malam Ben masih bisa menguasai mobilnya saat menuruni jalan yang terjal. Truk yang berlawanan arah dengannya pun berhenti dan memberikan Ben kesempatan untuk lewat. Setelah laju mobil sudah agak melambat, Ben dengan sengaja menabrakan mobilnya disalah satu pohon. Sistem pelindung mobil langsung terbuka sehingga sekalipun agak memar namun Ben masih dalam keadaan selamat. Ia sendiri yang menelepon Pak Leo, meminta pria itu datang tanpa mengatakan apa-apa pada mamanya.
Pak Leo mengantar Ben ke rumah sakit setelah terlebih dahulu menelepon pihak berwajib dan asuransi yang menangani mobil itu.
"Hasil ct scan nya baik. Tidak ada benturan yang membahayakan. Namun kau harus tinggal satu malam di sini. Besok pagi baru pulang" kata dokter Alberth.
Ben pun pulang jam 8 pagi ini. Ia memutuskan untuk tidur karena pengaruh obat yang ada.
Di kepala Ben langsung muncul ide mengerjai Maura dengan kecelakaannya ini. Dan ia berhasil sekaligus merasa agak tersiksa karena hasratnya yang tiba-tiba saja hampir tak tertahankan karena sentuhan Maura ditubuhnya.
Pintu kamar terbuka. Maura masuk membawa air putih dan obat yang harus diminun oleh Ben.
"Minumlah obatnya." kata Maura sambil menyerahkan 2 butir obat di tangan Ben.
Ben melakukan apa yang Maura perintahkan.
Setelah itu Maura menyelimuti tubuh Ben. "Tidurlah, Ben."
"Tinggalah bersamaku" Ben menahan tangan Maura. Lalu ia meminta Maura untuk duduk disampingnya.
laki-laki ini banyak sekali maunya. Untung saja kamu sedang terluka kalau tidak, sudah kutendang wajahmu itu, batin Maura. Ia menaikan kakinya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Ben tiba-tiba meraih tangan Maura, menggenggamnya erat dan meletakannya di dadanya.
"Jangan, tinggalkan aku" pintah Ben lalu memejamkan matanya.
Maura diam tak bicara. Tangannya yang berada diatas dada Ben membuat gerakan tubuhnya terbatas.
**********
Ada rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuh Maura. Perlahan ia membuka matanya.
Oh.....my God...
Maura hampir saja berteriak kaget saat ia melihat wajah tampan Ben sedang tidur berhadapan dengannya. Tangan Ben memeluk pinggangnya dan tangannya sendiri memeluk pinggang Ben.
Maura perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Ben dan ia pun melepaskan tangan Ben yang ada dipinggangnya. Ia segera bangun dan menuju ke kamar mandi.
Detak jantungnya kembali terasa sangat cepat membuatnya langsung mandi sambil mencuci rambutnya. Selesai mandi, Maura baru sadar bahwa dia tak membawa baju sementara baju yang dia pakai tadi karena dibuangnya sembarangan, ternyata sudah basah.
Ia mengambil handuk, melingkarkan ke tubuhnya, berharap Ben masih tertidur, ia pun keluar kamar.
Namun harapan tak menjadi kenyataan. Ben sudah bangun, duduk bersandar di kepala ranjang dan sedang menatapnya.
Maura yang sudah salah tingkah sedikit berlari masuk ke dalam walk in closet.
Sial ! Dia melihatku hanya dengan handuk ini, umpat Maura sambil mencari baju dan segera mengenakannya. Ia keluar dari lemari itu dan duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.
Dari pantulan kaca yang ada, Maura tahu kalau Ben sedang menatapnya.
Saat ia berbalik dan hendak bicara, Ben kelihatan sedang memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ben, kamu mau makan apa saat ini?" tanya Maura.
"Apa saja" jawab Ben tanpa membuka matanya.
"Aku pesan ya.....soalnya aku nggak bisa masak."
"Terserah padamu. "
Maura segera keluar kamar dan membuat pesanan makanan. Sambil menungguh makanan yang dipesan datang, Maura memanaskan air untuk membuat kopi.
Ia membuatnya 2 gelas dan membawanya ke atas.
"Ben, kamu mau kopi?" tanya Maura.
"Kau yang membuatnya?"
Maura mengangguk.
Ben tersenyum "Bantu aku meminumnya"
Maura mengambil sendok dan menyuapinya pada Ben.
"Enak...aku suka kopi yang tidak terlalu manis"
Maura senang karena Ben menyukai kopi buatannya. Saat kopi sudah habis diminum Ben, pesanan makanan pun datang.
Seperti juga tadi siang, makan malam pun disuapi oleh Maura.
Setelah semuanya selesai, Maura pun mengganti pakaiannya dan setelah itu mengambil bantal dan selimut.
"Kamu mau kemana?" tanya Ben.
"Aku akan tidur di ruang kerjamu"
"Tidurlah di sini. Bukankah tempat tidur ini sangat luas? Percayalah aku tak mungkin macam-macam denganmu dengan keadaanku seperti ini. Atau aku akan kembali ke ruang kerjaku saja. Biar aku saja yang tidur di sana"
"Dasar tukang memaksa" umpat Maura lalu mematikan lampu dan tidur di samping Ben.
Ia mengambil bantal dan membuat batasan antara dirinya dan Ben.
Mengapa jantungku berdetak sangat cepat saat berdekatan dengannya? Ada apa ini? tanya Maura dalam hatinya.
Aku tak boleh terjebak dengan perasaan ini. Ben bukanlah lelaki yang bisa kupercaya. Aku tak boleh seperti ini.
Malam pun semakin larut. Maura akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Perlahan Ben menyingkirkan bantal yang membatasi dirinya dengan Maura. Ben memeluk gadis itu dari belakang.
"Terima kasih sudah merawatku hari ini" bisiknya lalu memejamkan matanya.
#terima kasih sudah membaca bagian ini
__ADS_1
#jangan lupa like dan komentarnya ya...