My Best Photo

My Best Photo
Proses menjadi mama (part 2)


__ADS_3

Senyum dibibir Ficlen seakan tak pernah hilang semenjak mereka masuk ke dalam kamar pengantin ini. Kamar yang berada di apartemen Ficlen, yang juga termasuk salah satu apartemen mewah di kota London.


Mira masih ada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kamar ini memang tidak diatur dengan istimewa seperti kamar pengantin lainnya yang memakai bunga mawar dan lilin aromaterapi.


Ficlen tak ingin membuat Mira merasa tidak nyaman karena perempuan itu sedang hamil.


Tak lama kemudian Mira keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan gaun tidur yang cukup sopan berwarna biru muda. Rambutnya yang tadi disanggul kini sudah dibiarkannya tergerai dan terlihat masih basah.


"Sayang, kamu keramas malam-malam seperti ini?" tanya Ficlen sambil mendekati istrinya.


"Aku nggak tahan dengan rambutku yang diberi pengeras rambut. Bau nya kurang enak. Makanya aku cuci saja. Lagi pula ini kan belum larut. Baru juga jam 8" kata Mira lalu duduk di depan meja rias.


Pesta pernikahan Ficlen dan Mira memang dilaksanakan jam 4 sore agar selesainya tak sampai larut mengingat kondisi Mira yang sedang hamil 7 bulan.


Ficlen berjongkok di depan Mira lalu membelai perut istrinya dengan penuh kasih "Sayang, apakah kamu lelah? Maaf ya kalau mommy hari ini banyak berdiri dan membuatmu kurang nyaman" kata Ficlen sambil mendekatkan bibirnya ke arah perut Mira.


"Ficlen, terima kasih!" kata Mira dengan mata yang berkaca-kaca.


Ficlen menggenggam kedua tangan Mira lalu mencium secara bergantian kiri dan kanan.


"Sayang, jangan menangis. Ini adalah hari bahagia kita. Aku bersyukur karena Tuhan memberikan seorang istri yang baik hati sepertimu. Tak lama lagi putri kita akan lahir. Pasti kita akan lebih berbahagia lagi."


Mira mengangguk. Ia menangis karena bahagia. Setelah semua kesedihan yang dialaminya, Ficlen datang seperti malaikat pelindung baginya.


"Kamu pasti lelah dan butuh istirahat. Namun rambutmu harus dikeringkan dulu" Ficlen mengambil pengering rambut lalu membantu Mira mengeringkan rambutnya.


"Ayo tidur!" ajak Ficlen sambil menuntun tangan istrinya menuju ke ranjang. Setelah Mira berbaring, Ficlen menarik selimut dan menyelimuti tubuh Mira sampai ke pinggang.


"Aku mau mandi dulu!" Ficlen hendak beranjak pergi namun Mira menahan tangannya. Ia menatap suaminya dengan wajah yang sedikit tersipu malu namun dia memang harus mengatakannya.


"Fic, ini kan ma...lam pengantin kita, ma..af jika..." Mira mengalihkan pandangannya dari Ficlen. Kalimatnya terhenti.


Ficlen tersenyum. Ia duduk di pinggir tempat tidur lalu memegang wajah istrinya "Sayang, aku punya hasrat yang besar untuk menyentuhmu dan menyatuhkan diriku denganmu. Namun rasa sayangku pada putri kita ini mengalahkan segalanya. Aku akan sabar menungguh sampai kau melahirkan dan pulih dari semuanya baru aku akan meminta hakku sebagai suamimu"


Rasa haru yang besar memenuhi rongga dada Mira. Ia kembali menitikan air mata.


"Aku mencintaimu, Fic." kata Mira dan membuat Ficlen pun bahagia. Ini adalah pernyataan cinta Mira yang pertama untuknya.


Ficlen menunduk dan mencium bibir Mira dengan sangat lembut. "Kau tahu, aku juga sangat mencintaimu" ucapnya dengan suara yang bergetar saat mengahiri ciumannya.


Setelah momen yang sangat mengharukan itu selesai, Ficlen pergi mandi lalu bergabung dengan istrinya di atas tempat tidur. Keduanya berpelukan dengan bahagia sepanjang malam.


**********


2 bulan kemudian.....


Maura tersenyum menatap dirinya di depan cermin. Ia baru saja selesai mengenakan gaun yang dirancang dan dibuatnya sendiri.


Ben tak mengijinkan dia bekerja lagi sebagai penata panggung. Merasa bosan di rumah saat Ben sedang ada pemotretan, Maura pun pergi ke ruang desain ibu mertuanya yang ada dibagian belakang rumah ini. Iseng-iseng ia membaca buku desain dan mencoba menggambarnya karena memang Maura suka menggambar saat ia kecil.


Di ruangan itu juga ada mesin jahit dan beberapa jenis kain lengkap dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat baju. Setelah satu bulan Maura belajar sendiri tanpa dibantu oleh Alicia, ia pun menyelesaikan gaun hamil pertamanya.

__ADS_1


Ini akan menjadi kejutan bagi orang-orang rumah. Maura mengikat rambut panjangnya ke atas dan menyapu wajahnya dengan make up tipis, kemudian ia mengambil hp nya, mengambil beberapa foto dirinya sendiri lalu segera turun ke bawa.


Ben memang sudah turun 30 menit dari awal untuk menyiapkan sarapan bagi Maura. Di rumah ini Maura merasa sangat di manja oleh suaminya, oleh kedua mertuanya bahkan seluruh asisten rumah tangga yang sangat menjaga dan melindunginya. Selain mengikuti kelas olahraga hamil, kegiatan Maura lainnya hanyalah makan dan tidur. Itulah sebabnya diam-diam Maura belajar membuat baju.


Saat Maura menuruni tangga, Ben yang baru selesai menyiapkan sarapan Maura, terkesiap melihat istrinya. Maura kelihatan sangat cantik pagi ini dengan gaun berwarna hijau lumut.


Alicia dan Bryan yang duduk di meja makan pun menunjukan kekagumannya pada penampilan Maura pagi ini.


"Sayang, apakah ini gaun yang kau ceritakan pada mommy?" tanya Alicia lalu berdiri dan mendekati menantunya.


"Iya mom. Bagaimana?" tanya Maura sambil memegang sebagian dari gaunnya.


Alicia menyentuh gaun itu dan memeriksanya secara teliti.


"walaupun jahitannya belum terlalu rapih namun mommy merasa kalau gaun ini sangat cantik. Modelnya juga mommy suka. Kau sangat berbakat Maura. Mommy yakin kalau kau bisa meneruskan usaha momny nantinya. Soalnya Putri bungsu mommy lebih suka jadi dokter, Anak tertua mommy lebih suka jadi pengusaha dan tinggal di Amerika. Putra kedua mommy lebih suka memegang kamera jadi mommy akan menurunkan semua bakat mommy padamu!" kata Alicia sambil memegang perut Maura yang sudah semakin besar "Cucu oma ini memang membawa banyak perubahan dalam hidup keluarga kita."


"Gaunnya cantik. Tapi modelnya aku kurang suka!" kata Ben sedikit ketus.


Alicia dan Maura menoleh ke arah Ben dengam wajah bingung.


"Modelnya jelek ya sayang?" tanya Maura sedikit kecewa. Pada hal ia tadi sudah senang karena Alicia memujinya dan berjanji akan mengajarkannya ilmu tentang desain baju.


"Iya" Ben mendekat. " Bajunya kurang panjang. Bagusnya panjang baju itu melewati lutut. Lalu harus ada lengan. Lebih bagus juga kalau lengannya panjang karena sebentar lagi kita akan memasuki musim gugur. Anginnya dingin. Dan juga bagian punggungnya, kenapa harus terbuka seperti ini?" tanya Ben sambil menepuk punggung Maura.


Alicia langsung mengajak Bryan untuk meninggalkan meja makan. Ia tahu bahwa sebentar lagi Maura pasti meledak.


"Begitu ya sayang?" tanya Maura dengan napas yang mulai tidak teratur.


Ben terkejut melihat perubahan wajah Maura yang tak memancarkan senyum ramah" Sayang...aku kan hanya memberikan pendapatku. Jangan marah padaku ya..." suara Ben sudah memelas, dengan wajah penuh permohonan memandang istrinya.


Duh...kalau dia merajuk seperti ini maka sebentar malam aku siap-siap tidur di sofa nih!


Wajah Maura tiba-tiba berubah menjadi senang saat ia merasakan bayinya bergerak di perutnya.


"Ben...anak kita bergerak. Dia seperti sedang menendang-nendang perutku!" teriak Maura kegirangan.


Ben berlutut di depan Maura. Tangannya langsung menyentuh perut Maura dan merasakan pergerakan anak didalam kandungan Maura.


"Dia anak yang sehat!" kata Ben sambil mencium perut Maura berulang-ulang.


Terima kasih anakku, sudah bergerak di waktu yang tepat dan menyelamatkan daddy mu ini dari amukan mommymu yang mematikan.


Batin Ben dengan perasaan lega.


Alicia datang kembali ke dapur dengan wajah gembira.


"Ben....Maura, Ficlen baru saja menelepon. Mira sudah melahirkan dengan selamat. Mommy dan daddy akan ke rumah sakit sekarang" kata Alicia


"Kami juga mau ikut. Tapi mommy dan daddy pergilah lebih dulu. Maura harus sarapan dan aku mau mandi" kata Ben diikuti anggukan Maura.


"Baiklah!" Alicia langsung pergi bersama suaminya. Sedangkan Ben menyiapkan sarapan Maura di atas meja makan.


"Makan yang banyak ya...aku mau mandi dulu!" ujar Ben lalu mengecup dahi Maura dan segera ke kamarnya untuk mandi.

__ADS_1


Hampir satu jam kemudian, keduanya sudah siap dan bergegas ke rumah sakit.


"Sayang, apakah kamu tidak ingin mengganti gaunmu?" tanya Ben sebelum Maura masuk ke dalam mobil.


"Suamiku, apakah kamu ingin tidur di kamar tamu selama 1 minggu ini?" tanya Maura pelan namun dengan tatapan yang tajam.


Ben langsung tersenyum manis "Masuklah ke mobil, sayang. Aku pikir kita hampir terlambat."


"Baguslah kalau kau tahu" kata Maura lalu menepuk pundak suaminya sebelum masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Maura meminta Ben untuk mampir ke baby shop. Ia ingin membelikan hadiah bagi anak Mira.


Setelah hampir satu jam dihabiskan Maura di toko itu, keduanya akhirnya keluar dengan membawa beberapa bungkus hadiah yang berisi baju sepatu, boneka dan mainan bayi perempuan.


"Ben, kau masukan dulu barang-barangnya ke mobil, aku ke toilet dulu" kata Maura lalu segera melangkah ke toilet yang ada di toko itu.


Karena sudah tak tahan untuk buang air kecil, Maura tak membaca papan yang diletakan di depan toliet bahwa saat itu toilet sedang dibersihkan. Maura melangkah masuk dan ia langsung berteriak karena kaget saat kakinya menginjak lantai basah dan sedikit licin, kakinya terpeleset sehingga Maura hampir terpental namun untunglah gadis petugas cleaning service itu menolongnya, sehingga Maura tak sampai terjatuh di lantai.


"Maaf nyonya, apakah anda tak membaca tulisan di luar yang memberitahukan kalau toilet ini sedang dibersihkan?" tanya gadis itu sedikit khawatir karena melihat Maura yang sedang hamil.


"Tidak."


"Mari ku bantu ke toilet yang ada di sebelah, nyonya" kata gadis itu dan memegang lengan Maura lalu mengantarnya ke toilet yang lain.


Ben yang akan menyusul Maura langsung mengurungkan niatnya melihat istrinya itu sudah kekuar dari toko.


"Sayang, mengapa lama?" tanya Ben lalu membukakan pintu mobil untuk Maura.


"Ibu hamil kalau mau buang air kecil memang lama" ketus Maura.Ia memilih untuk tak menceritakan kejadian di toilet tadi karena tak ingin Ben cemas.


Mereka pun tiba di rumah sakit dan menyaksikan wajah bahagia Ficlen dan Mira.


Setelah memberikan selamat pada Mira dan Ficlen, Maura langsung menemui bayi cantik yang sedang terbaring di box bayi.


"Ya Tuhan....dia cantik sekali. Pipi nya cabi dan menggemaskan. Dia punya rambut hitam seperti kamu, Fic." kata Maura sambil menatap Ficlen yang sedang tersenyum dengan bangganya.


Setelah puas melihat bayi cantik itu, Maura kembali mendekati Mira. "Apakah kau melahirkan secara normal?"tanya Maura.


"ya."


"Apakah sakit?"


"Rasa sakit itu tak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan saat kau mendengar suara tangisnya untuk yang pertama"


Maura tersenyum lalu memegang perutnya "Aku juga ingin melahirkan secara normal."


"Kau sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Mira.


"Belum. Aku mau menjadi kejutan nanti." kata Maura sambil menatap Ben yang sebenarnya sangat penasaran dengan jenis kelamin anak mereka.


Maura ingin duduk saat ia merasa ada sesuatu yang mengalir di paha dan sampai ke betisnya.


"Ben....aku mengeluarkan darah!" teriak Maura panik dipenuhi ketakutan yang amat sangat.

__ADS_1


MAKASI SUDAH MEMBACANYA


LIKE, KOMENT DAN KASIH VOTE YA....


__ADS_2