My Best Photo

My Best Photo
Musibah


__ADS_3

Hari sudah semakin sore. Ben menatap jam tangannya. Sudah jam 5 . Berarti dia masih punya waktu selama 2 jam sebelum lomba dance dimulai.


"Ben, bagaimana?" tanya Rachel yang sudah selesai ganti baju.


"Aku akan mengeditnya besok dan memilih beberapa foto yang akan dicetak. Selebihnya aku akan simpan di memori yang kau berikan."


"Kenapa kita mengeditnya sekarang?" tanya Rachel yang memang sangat penasaran hendak melihat foto prewedding nya.


"Sayang, kau seperti tak tahu saja. Ben ini kan masih pengantin baru." Joe bicara sebelum Ben menjawab pertanyaan Rachel.


Ben hanya tersenyum "Makasi, Joe. Aku memang malam ini hendak melihat pertandingan dance yang dilaksanakan oleh salah satu stasiun TV. Maura ikut lomba itu"


"Baiklah. Nanti telepon aku jika kau sudah selesai mengeditnya. Kita pergi sayang?" tanya Rachel sambil menggandeng tangan tunangannya.


Joe mengangguk. Keduanya segera pergi meninggalkan studio Joe. Hari ini memang foto yang diambil hanya didalam studio.


Ben merentangkan tangannya, sekedar melepas kepenatan.


"Bos, bunga yang anda pesan sudah saya letakan di dalam mobil." kaya Luna, asistennya.


"Makasih Luna. Mana yang lain?"


"Sudah pulang, bos. Inikan sudah hampir jam setengah 6."


"Oh...begitu. Kamu pulang saja. Aku mau mandi dan setelah itu pergi."


Luna mengangguk. Ia pun segera meninggalkan ruangan Ben dan membereskan ruangannya setelah itu keluar dari studio.


Ben mandi secara cepat, setelah ganti pakaian, ia pun melangkah keluar dari studio.


Saat ia masuk ke mobil, wajahnya tersenyum melihat buket bunga yang dibawahnya untuk Maura.


"Semoga dia suka" guman Ben sebelum menjalankan mobilnya.


Perjalanan ke tempat pelaksanaan lomba memang agak jauh. Memakan waktu hampir 30 menit. Karena itu Ben memilih ikut jalan belakang yang membuatnya bisa sampai 10 menit lebih cepat.


Saat mobilnya menuruni jalan yang terjal. Tiba-tiba Ben merasa ada yang tak beres dengan mobilnya. Rem nya seakan tak berfungsi. Ben menjadi gugup. Ya Tuhan, bagaimana ini? batin Ben semakin gugup saat dilihatnya sebuah truk sedang berjalan berlawanan arah dengannya.


***************


Sementara itu di tempat pelaksanaan lomba, Maura sudah siap dengan teman-temannya. Mereka akan tampil dengan nomor urut 4.


"Ra, kok aku sangat gugup ya..." bisik Letty saat melihat jumlah penonton yang hadir sangat banyak.


"Tenanglah. Kita harus bisa memberikan yang terbaik malam ini agar bisa lolos ke babak berikutnya." kata Maura sambil sesekali melihat hp nya.


Pesan Ben masuk sejak 15 menit yang lalu :


Ma, aku sudah menuju ke tempat kegiatan lomba


Bolehkah aku menemuimu dibelakang panggung?


aku ingin memberikan sesuatu......


Maura sudah membalas pesan itu :


Ok


Maura tersenyum. Ia penasaran apa yang akan diberikan Ben padanya. Tadi pagi saat mereka sarapan bersama, Ben hanya menanyakan alamat tempat pelaksanaan lomba. Setelah itu dia langsung pergi untuk pemotretan lanjutan foto prewedding.


Kini, 30 menit telah berlalu.


Peserta yang kedua sudah di atas panggung.


"Kita siap-siap karena peserta kedua hampir selesai" kata Alan sambil mengarahkan teman-temannya untuk segera berdiri di dekat pintu menuju ke panggung.


Maura menyimpan hp nya ke dalam tas. Ben tak kunjung datang.


Apa dia beneran akan datang? Lalu mengapa tak ada? Ah.....mengapa aku sangat berharap dia akan datang ya? batin Maura. Ia buru-buru menepis perasaannya itu lalu segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah siap.


Tepuk tangan penonton membuat semangat para dancer semakin menggebu. The Crown sukses tampil sempurna. Mereka pun semakin senang saat diumumkan menjadi salah satu grup yang lolos ke final bersama 9 grup lainnya.

__ADS_1


"Wah, aku senang sekali. Kita lolos ke final. Aku yakin kita semua pasti bisa. Kita akan latihan semakin giat lagi" Alan nampak sangat bahagia. Yang lain pun bersorak gembira.


" Malam ini kita akan merayakan kemenangan di pub. Semuanya aku yang traktir" lanjut Alan membuat yang lain semakin bersemangat.


"Ra, kamu ikut?" tanya Kelly saat mereka sudah selesai ganti baju.


"Tidak. Lagi pula ini sudah hampir jam 1 pagi. Aku mau pulang saja." Maura meraih tasnya. Memeriksa hp nya kembali. Namun tak ada pesan dari Ben.


"Ayolah ikut. Nggak seru kalau kamu nggak ada. Atau suamimu tak menginjinkan ya? Apakah dia datang?" kali ini Letty yang bicara.


"Suamiku ada pemotretan di luar kota" dusta Maura.


"Ya kalau begitu kita pergi ya.." bujuk Kely. Letty pun memegang tangan Maura sambil memasang wajah memohon. Maura akhirnya mengangguk.


Hampir pukul 3 pagi Maura tiba di apartemen. Ia mengintip ke ruang kerja Ben namun laki-laki itu pun tak ada.


Kemana dia pergi?


Mengapa aku tiba-tiba mengawatirkannya?


Aku pasti sudah gila, sebaiknya aku tidur saja.


Maura menaiki tangga menuju ke lantai 2. Ia memang sangat lelah dan sedikit merasa pusing karena ia minum alkohol malam ini.


Tanpa ganti baju, Maura pun segera naik ke atas tempat tidur.


************


Hari sudah siang saat Maura bangun. Ia merasa lapar.


Setelah selesai mandi, Maura turun ke bawa. Hari ini Alan memberikan mereka istirahat. Latihan akan dimulai lusa.


Meja makan terlihat kosong.


Apakah dia belum pulang?


Maura pun memesan makanan online. Jujur dia memang sama sekali tidak bisa masak. sambil menungguh, ia pun duduk di ruang tamu sambil menyalahkan TV.


Rasa bosan menderanya. Maura pun bangun dan berjalan mengelilingi apartemen ini.


Maura terbelalak. Hampir saja ia berteriak karena kaget saat melihat Ben terbaring di atas sofa dengan kepala diperban, tangan sebelah kiri yang juga diperban.


Maura melangkah masuk sambil menatap Ben yang masih tertidur. Wajahnya kelihatan tenang dengan napas yang teratur.


Ya Tuhan, ada apa denganmu, Ben? batin Maura.


Wajah Ben nampak juga ada memar di pipi kanannya.


Tangan Maura menyentuh wajah Ben membuat pria itu membuka matanya secara cepat.


"Ma....." panggil Ben pelan.


"Ada apa denganmu, Ben?"


"Aku mengalami kecelakaan."


"Astaga!" pekik Maura. "Kapan kamu datang, Ben? Kenapa tidak membangunkan aku? Lalu siapa yang menolongmu?"


Pertanyaan beruntun dari Maura membuat Ben tersenyum. "Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Cih...siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku kan hanya bertanya." sanggah Maura sambil memalingkan wajahnya.


"Aku mengalami kecelakaan dalam perjalanan menemuimu semalam. Rem mobilku tak berfungsi. Untung saja aku bisa menghindar sehingga tak tertabrak dengan sebuah truk. Semua sistem perlindungan didalam mobil terbuka dengan baik dan melindungiku. Walaupun ada beberapa benturan namun aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat beberapa hari. Makanya pagi ini dokter sudah mengijinkanku untuk pulang" Ben menjelaskan.


"Siapa yang menemanimu? Kenapa tak menghubungi aku?"


"Pak Leo. Daddy dan Mommy juga tidak tahu."


"Kenapa rem nya bermasalah? Bukankah mobilmu memiliki sistem kecanggihan terbaru?"


"Ya. Polisi sekarang sementara menyelidikinya."

__ADS_1


Maura menarik napas panjang. Ada sedikit kelegaan mendengar penjelasan Ben.


Bunyi bel apartemen terdengar. Maura segera menuju ke pintu lalu menekan tombol merah yang merupakan kamera di pintu masuk lantai dasar. ternyata pengantar makanan yang dipesannya. Maura segera turun ke bawa untuk mengambil pesanannya karena tidak ada pembantu yang bisa menolongnya.


"Ben, kamu mau makan?" tanya Maura


"Kamu mau masak?"


"Tidak, Ben. Aku memesannya."


"Baiklah. Aku memang lapar"


Sebuah nampan berisi makanan dan segelas air putih di bawa Maura ke ruangan kerja Ben.


Cowok itu berusaha duduk. Maura membantu Ben untuk duduk dengan baik. Lalu ia meletakan nampan itu di atas paha Ben.


"Makanlah!" kata Maura.


"Maukah kau menyuapiku? Kedua tanganku masih sakit" pintah Ben. Sebenarnya Ben bisa makan sendiri namun ia pura-pura tak berdaya.


Maura tak bersuara. Ia mengambil nampan itu lalu duduk di samping Ben dan mulai menyuapi suaminya.


Keduanya saling diam. Yang terdengar hanyalah suara alat makan.


Ben terus memandangi Maura sementara gadis itu menyuapinya.


Maura sebenarnya merasa risih terus dipandangi oleh Ben. Namun ia memilih tak bicara sebab Ben pandai menjebaknya dengan kata-katanya sendiri.


"Terima kasih" kata Ben begitu Maura selesai menyuapinya.


"Sama-sama" Maura segera keluar dan membawa alat makan yang sudah kosong itu. Lalu ia duduk di depan mwja makan dan menikmati makanannya sendiri.


Selesai makan, Maura pun mencuci semuanya dan membersihkan dapur.


Ia lalu melihat kantong plastik yang berisi obat-obatan Ben.


Apa dia harus minum obat sekarang? tanya Maura. Ia pun segera kembali ke ruang kerja Ben. Saat melihat Ben yang tertidur di atas sofa, Maura jadi tak tega.


"Ben, ayo tidur di kamar" kata Maura sambil menepuk tangan Ben membangunkan cowok itu.


"Kalau aku tidur di kamar, kamu akan tidur dimana?" tanya Ben sambil menatap Maura.


Maura diam sesaat. Di kamar Ben tak ada sofa yang besar. Hanya ada 2 single sofa.


"Jangan pikirkan itu. Aku bisa tidur di mana saja" kata Maura lalu membantu Ben berdiri, memapah cowok itu menaiki tangga.


Saat sampai di kamar, Maura membantu Ben berbaring.


"Apakah kau mau kunyalahkan pendingin ruangannya?" tanya Maura.


Ben menggeleng "Aku hanya ingin ganti baju. Soalnya baju ini sudah sejak kemarin kupakai. Bahkan ada noda darahnya"


Maura menuju ke walk in closet dan mengambil sebuah celana panjang dan kaos oblong.


"Boleh ini?" tanya Maura


"Ya"


"Gantilah baju. Aku akan mengambil obatmu di bawa"


"Bagaimana aku bisa ganti baju sendiri?"


Langkah Maura terhenti. Ia menatap Ben sambil menelan salivanya.


"Maksudmu, aku harus membantumu ganti baju?" tanya Maura dengan suara yang terasa serak.


"Apakah ada orang lain di sini?" Ben balas bertanya dan membuat lutut Maura terasa lemas.


#Makasi sudah baca bagian ini


#maaf ya lama up nya karena lagi ngurus suami

__ADS_1


yang sakit.


#jangan lupa like dab komentarnya jika suka


__ADS_2