My Best Photo

My Best Photo
Akankah berakhir?


__ADS_3

Hai pembaca MY BEST PHOTO


Dukung aku ya...siapa tahu bisa menang vote minggu ini he...he....


Dukung juga novelku yang lain : L E R I N A


Semenjak menjadi dancer di video clip 2 penyanyi terkenal, The Crown pun banjir tawaran untuk bisa gabung dalam berbagai acara.


Maura memutuskan untuk kembali bersama mereka karena Kelly belum bisa ikut latihan sebab baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Alan.


Semenjak mendekam di penjara, Alan sudah banyak berubah. Dia bahkan berjanji pada Kelly untuk menikahinya setelah ia keluar dari penjara nanti. Maura bahkan sudah pernah berkunjung ke penjara bersama-sama dengan teman-teman di The Crown. Maura sudah melupakan semua yang dilakukan Alan padanya.


Saat Maura pulang saat mengisi acara malam ini, dilihatnya Gerald papanya sedang menonton TV bersama seorang pria.


"Selamat malam!" sapa Maura sopan.


"Sayang, kemarilah. Tuan Lerry McLean sudah dari tadi menungguhmu!" kata Gerald.


Maura mendekat lalu memberi salam pada Lerry.


"Silahkan berbicara dengan anak saya. Saya permisih dulu ya." pamit Gerald dan segera masuk ke kamarnya.


Maura menatap Lerry "Tuan Lerry, ada keperluan apa ya?"


"Saya adalah pengacara yang mengurus perceraian nona dengan tuan Benecdik Aslon. Karena sidangnya akan dimulai besok, jadi saya harus mendiskusikan apa-apa saja yang menjadi tuntutan nona dalam sidang perceraian ini"


Maura menggeleng "Saya tidak akan menuntut apa-apa selain perceraian ini dapat segera selesai"


"Negara mengatur bahwa seorang istri akan mendapatkan hak-haknya berupa uang santunan sebagai janda dari lelaki yang menceraikannya. "


"Aku tak mau apapun darinya. Aku hanya ingin kami berpisah. Aku juga tak akan hadir selama proses perceraian kami kecuali saat kami akan menandatangani akte perceraian." kata Maura dengan tegas.


Lerry mengangguk "Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu."


Maura menjabat tangan Lerry lalu mempersilahkan Naomi untuk mengantarnya sampai ke pintu.


Saat Maura sudah berada dalam kamarnya, tangisnya langsung pecah. Membayangkan lagi kalau ia akan melepaskan nama Aslon dan kembali memakai nama gadisnya, rasanya sangat menyakitkan baginya.


Bukankah perceraian ini adalah keinginannya? Mengapa juga ia harus kecewa dan merasa sakit seperti ini? Sebuah kebimbangan datang menggoyahkan keyakinannya untuk mengahiri hubungan pernikahannya dengan Ben.


Tangan Maura kembali meraih kotak perhiasannya. Saat ia membuka kotak itu, ia mengambil cincin pernikahannya. Ia membaca tulisan yang ada dibagian dalam cincin itu love forever Ben Aslon


Maura mendekap cincin itu ke dadanya. Ia ingin sekali membenci Ben. Namun senyum pria itu, tatapan matanya yang menggoda, serta tubuh atletisnya yang selalu membawa kehangatan saat memeluk Maura itu sungguh membuatnya rindu.


*********


Hari ini Ben telah meminta pengacara keluarganya, Ficlen Browley untuk mengurus proses perceraian yang telah diajukan oleh Maura. Ficlen adalah pengacara muda yang usianya 5 tahun lebih tua dari Ben. Ayah Ficlen juga adalah pengacara yang masih menjadi pengacara keluarga Aslon. Namun Ben lebih suka Ficlen yang mengurusnya karena pengacara muda itu akan lebih mengerti dengan keadaannya.


Saat Ben baru selesai makan siang, Ficlen sudah kembali dari sidang pertamanya.


"Maura menolak semua hak-haknya jika sudah menjadi jandamu. Dia tak mau apapun juga" kata Ficlen membuka percakapan diantara mereka.

__ADS_1


Ben tersenyum kejut "Dia memang sangat membenciku saat ini"


"Dia juga tak hadir dalam persidangan pertama ini. Ia juga menolak dilaksanakannya mediasi. Pada intinya dia ingin perceraian ini cepat selesai"


Kata-kata yang diucapkan Ficlen sangat menyakitkan baik ditelinga maupun di hati Ben.


"Apa alasannya ingin bercerai?" tanya Ben penasaran.


"Kau selingkuh"


"Alasan yang tidak masuk akal." Ben mengepalkan tangannya lalu memukul meja dengan pelan.


"Itu akan masuk akal jika kau tak mencoba meluruskan kesalahpahaman ini"


"Aku benci karena dia tak percaya padaku"


"Kau keras kepala, dude!" kata Ficlen sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia juga lebih keras kepala dariku. Dia bahkan menutupi perasaan cintanya dengan berpura-pura tegar. Aku yakin dia sangat tersiksa dengan semua ini"


"Kau juga sama keras kepalanya dengan dia" Ficlen berdiri "Aku pulang dulu ya. Masih ada 2 persidangan lagi. Aku harap kalian berdua akan ada yang mengalah sehingga cinta kalian tidak akan hilang dengan sia-sia."


Ben menatap punggung Ficlen sampai pria bujang berusia 33 tahun itu menghilang dari balik pintu.


Saat ia kembali sendiri, ditatapnya cincin pernikahannya yang masih melingkar indah di jari manisnya.


Sayang...apakah kita akan benar-benar berakhir? Haruskah aku melepaskanmu? Kau sama sekali tak mau mendengarkan penjelasanku.Aku ingin kau menjadi wanita dewasa dalam menghadapi cinta kita. Tapi kalau memang kau ingin lepas dariku, aku akan melepaskanmu. Dan aku bersumpah. Tidak akan ada wanita lain lagi yang akan membuatku jatuh cinta.


**********


Sudah lama ia tak berdiri di pagar pembatas sungai Thames ini. Pada hal tempat ini adalah satu-satunya tempat dia melarikan diri ketika suasana hatinya sedang kacau.


London dulu sangat tidak menyenangkan dalam pandangan Maura. Lalu pandangannya berubah sejak ia bersama Ben. Lelaki itu sudah membawanya ke berbagai tempat indah di kota London ini.


Sidang perceraiannya sudah selesai. Hakim telah mengabulkan permohonan perceraian yang diajukan oleh Maura. Dan besok adalah hari dimana ia akan benar-benar lepas dari ikatan pernikahan mereka. Ia dan Ben juga akan bertemu setelah hampir dua bulan ia meninggalkan apartemen Ben.


Pertemuan besok untuk menandatangani surat perceraian, setelah itu Maura akan melepaskan nama Aslon yang selama 1 tahun ini sudah disandangnya.


Maura terus bermain dengan pikiran dan kata hatinya sendiri tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang sejak 2 jam yang lalu berdiri tak jauh darinya, bersandar diantara tiang sambil menyembunyikan tubuhnya sedikit agar tak terlihat saat Maura menoleh.


Pria itu adalah Ben. Ya, semenjak Maura meninggalkan apartemennya, Ben hampir setiap malam datang ke tempat ini. Berharap akan melihat charlie angelnya. Dan setelah hampir 2 bulan, dia pun bisa melihat gadis berambut panjang itu kembali berdiri di tempat faforitnya itu.


Ben ingin berlari dan memeluk Maura dengan erat saat ia melihat Maura turun dari sebuah taxi. Tapi akhirnya, dia memilih untuk melihatnya dari jauh dan menatap wajah cantik itu secara diam-diam dari tempatnya bersembunyi.


Setelah 2 jam lebih ia bersembunyi, Ben akhirnya menguatkan hatinya untuk menyapa Maura. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Patrick turun dari motor sportnya dan mendekati Maura.


"Maura...!" panggil Patrick.


Maura menoleh "Patrick? Bagaimana kau bisa menemukan aku di sini?"


"Apa kau lupa, waktu kita SMA, kita berdua sering menghabiskan waktu di sini?"

__ADS_1


"Ya. Tempat ini adalah tempat faforit kita berdua"


Patrick menatap Maura. Tangannya menyingkarkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Maura.


"Sudah larut. Aku antar kamu pulang ya..?"


Maura mengangguk. Ia segera melangkah diikuti oleh Patrick. Saat keduanya melewati tiang pembatas, angin yang berhembus membawa harum minyak wangi yang sudah sangat dikenalnya. Bulu kuduk Maura bahkan berdiri karena harum itu selalu menempel ditubuhnya. Ada nyanyian rindu yang menggelitik hati Maura dan menghentikan langkah kakinya. Kepalanya berputar sambil mencari asal dari harum minyak wangi itu. Ia bahkan melangkah mendekati tiang pembatas.


"Ra....ada apa?" pertanyaan Patrick menghentikan langkah Maura.


Maura menoleh ke arah Patrick "Tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang!" Maura kembali mendekati Patrick. Saat keduanya sudah berada di atas motor Patrick, Maura masih sempat menoleh ke arah tiang pembatas itu.


Apakah Ben ada di sana? Mengapa harum minyak wangi itu sangat dekat?


Ben menatap motor Patrick yang membawa Maura pergi. Perasaannya terasa hampa. Ada rasa cemburu yang memenuhi rongga dadanya tapi juga ada sedikit rasa bahagia karena kerinduannya sudah terbayar.


********


Hakim Brandon sudah beberapa kali menatap jam dinding yang ada di ruangannya. Hari ini Ben dan Maura akan menandatangani surat perceraian mereka. Waktu yang telah ditetapkan adalah pukul 10 pagi. Maura sudah hadir sebelum pukul 10 bersama pengacaranya. Namun Ben sama sekali belum datang, demikian juga dengan pengacaranya. Pada hal saat ini waktu sudah menunjukan pukul 11 lewat 10 menit.


Pengacara Lerry sudah beberapa kali menghubungi pengacara Ficlen namun ponselnya tidak aktif.


"Kalau sampai pukul 11.30 dan mereka belum datang, maka kita akan menundanya 3 hari lagi." kata Hakim Brandon.


Pintu terbuka. "Selamat siang, maaf saya terlambat"


Maura menoleh. Berharap menemukan Ben bersama pengacaranya. Namun yang datang ternyata hanya pengacara Ficlen.


"Mana Ben?" tanya Maura tanpa bisa menahan dirinya.


"Maaf. Ben tidak mau datang. Aku sudah membujuknya namun ia tetap menolak untuk hadir di sini!" kata Ficlen.


"Yang mulia, bolehkah saya membawa dokumen ini untuk ditandatangani oleh Ben?" tanya Maura sedikit emosi. Ia kesal karena Ben seakan menghalangi proses perceraian ini.


Hakim Brandon mengangguk "Ya. Silahkan. Asalkan pengacara Lerry dapat menjaganya dengan baik."


"Ayo kita pergi! Permisi yang mulia!" pamit Maura. Pengacara Lerry menerima dokumen itu dan langsung mengikuti langkah Maura. Demikian juga dengan pengacara Ficlen.


***********


Ben yang sedang berada di ruangannya bersama Faith terkejut melihat Maura yang masuk dari pintu yang memang sengaja dibuka. Di belakangnya ada Lerry dan Ficlen.


Maura mengambil dokumen itu dari tangan Lerry dan melemparkannya di atas meja kerja Ben, tepat dihadapan pria itu.


"Cepat tanda tangan itu agar aku resmi terbebas dari lelaki brengsek sepertimu!" kata Maura ketus.


Ben menarik napas panjang mencoba tersenyum diantara perih yang seakan menusuk jantungnya.


#DUKUNG AKU YA..


#MAKASI UNTUK YANG SUDAH VOTE, LIKE DAN SELALU MEMBERIKAN KOMENTAR2NYA

__ADS_1


__ADS_2