
Mira menatap seorang lelaki yang terkapar di depan kedai kopinya. Lelaki itu pingsan dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun yang lebih parah lagi adalah dibagian kepalanya.
Sepertinya pria ini baru habis dirampok dan dipukul sampai hampir mati. Tak ada identitas apapun yang tertinggal. Mira dapat memakluminya, karena daerah di pecinan ini sangat banyak Mafia.
Ia langsung berteriak meminta bantuan kemudian membawa lelaki itu ke rumah sakit kecil yang memang tak jauh dari kedai kopinya.
Saat baju pria itu dibuka, suster menemukan 2 buah cincin yang digantungkan pada kalungnya. Karena kalung itu sudah putus, suster pun memberikannya pada Mira.
Ia membaca tulisan yang ada di cincin itu Love forever Ben Aslon Lalu dicincin yang satu lagi terukir tulisan love Forever Maura Belinda Aslon.
Mira tahu ini pasti cincin kawin. Untungnya cincin itu tak ditemukan oleh tukang rampok karena tersimpan dalam kalung dan tertutup oleh jaketnya.
2 hari kemudian, pria itu sadar. Mira senang melihatnya.
"Hallo, Ben....!" sapa Mira.
Ben menatap perempuan cantik di depannya. "Siapa kamu?"
"Aku Mira. Kamu pingsan dan terluka.Sepertinya kamu sudah dirampok dan dipukuli."
"Rampok....? Di pukuli? Siapa sebenarnya aku?"
"Kamu tidak ingat?"
Ben menggeleng. Ia bingung. Sungguh ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak mengingat apapun lagi.
Dokter mengatakan bahwa Ben mengidap amnesia Retrograde. Amnesia yang menyebabkan seseorang kehilangan ingatan masa lalunya karena cedera pada otak. Ben harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit yang lebih besar untuk melihat seberapa berat amnesia yang dideritanya dan perlu nutrisi tertentu untuk dapat mengembalikan ingatan masa lalunya. Namun karena Mira tak memiliki uang yang cukup makanya ia pun memilih untuk membawa Ben pulang karena cowok itu juga hanya mau bersamanya.
************
Maura menangis mendengar kisah Ben. Pantas saja Ben tak mengenalinya.
"Makanlah, setelah itu kau dapat bicara dengan, Ben" kata Mira lalu segera turun ke bawa.
Maura menatap kamar sederhana yang ada ditingkat dua kedai ini. Ia tak menyangkah, Ben yang terlahir sebagai anak dari keluarga konglomerat akhirnya tinggal di ruangan sederhana ini. Dapur, ruang tamu dan tempat tidur berada di ruangan yang sama. Hanya kamar mandinya saja yang berbeda.
Maura tak mau bertanya bagaimana hubungan Mira dan Ben. Mengetahui perempuan itu sedang hamil membuat Maura cukup mengerti bagaimana kedekatan mereka dan mungkin tempat tidur yang Maura tiduri sekarang adalah tempat peraduan cinta Ben dan Mira. Dan itu sungguh menyakitkan bagi Maura.
Dengan susah payah, Maura berusaha menelan makannya. Ia harus kuat agar dapat berbicara dengan Ben.
Setelah makan, Maura pun mencuci alat makan yang dipakainya lalu ke kamar mandi.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Ben sudah duduk di sofa dan sepertinya sudah menungguhnya.
"Kata Mira kau ingin bicara. Bicaralah!" kata Ben dengan tatapan dingin. Maura tak pernah melihat tatapan mata seperti itu walaupun ia dan Ben sedang marahan.
"Ben, apakah kau sama sekali tak mengingatku?"
"Kau mengatakan kalau aku adalah suamimu. Di cincin itu tertulis Maura Belinda Aslon namun aku memeriksa tasmu dan menemukan pasportmu, disitu tertulis Maura Belinda Nasution"
__ADS_1
Maura mendengus kesal. Ia memang sudah mengganti namanya setelah ia bercerai dari Ben dan akan ke Indonesia.
"Itu karena kita sebenarnya sudah bercerai" kata Maura pelan.
"kita sudah bercerai jadi untuk apa kau mencariku?"
"Ben, kita saling mencintai. Aku yang salah karena menuduhmu selingkuh. Namun aku sudah menyadari kesalahanku. Makanya aku mencarimu. Kau pergi 3 bulan yang lalu. Kau menghilang tanpa ada kabar. Akhirnya aku bisa menemukanmu di sini" kata Maura dengan hati yang semakin hancur karena Ben sama sekali tak menatapnya.
Maura berpindah tempat duduk disamping Ben. Ia lalu meraih tangan Ben dan digenggamnya erat.
"Ben, ayo kita ke London dan kau akan melihat bagaimana kita saling mencintai."
Ben menarik tangannya dari genggaman Maura "Aku tak mau kembali ke masa laluku karena aku bahagia bersama Mira" kata Ben lalu menarik tangannya dari genggaman Maura.
"Ben...!" Maura menekan rasa sakit yang hampir keluar menjadi tangisan yang dalam.
"Ben, ijinkan aku bersamamu untuk membuktikan kalau kita saling mencintai. Ayo kita cari dokter terbaik untuk merawatmu"
Ben berdiri "Kalau kita berdua sudah bercerai, seharusnya hubungan kita berakhir saat ini juga. Kau mungkin pernah hadir dalam masa laluku, namun aku yakin bahwa kau pasti telah menimbulkan luka yang dalam padaku sehingga aku sama sekali tak bisa mengingatmu" Ben berdiri dan langsung meninggalkan Maura sendiri.
Maura merasakan hatinya sangat hancur. Kali ini Ben bukan hanya meninggalkannya, Ben juga melupakannya.Maura mengutuki dirinya sendiri. Seandainya ia mau mendengarkan penjelasan Ben malam itu, pasti perpisahan itu takan terjadi. Andaikan dia datang di pameran foto itu sesuai jam yang ada. Pasti Ben tak akan pernah datang ke New York. Namun, sejuta penyesalannya kini tak ada gunanya. Ben sudah tak bisa dimilikinya lagi.
Maura menangis sangat keras. Ia tak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya ia ingat sesuatu dan meraih hp nya.
"Faith...datanglah ke New York. Ben mungkin tak mengingatku lagi. Tapi dia pasti akan mengingatmu" katanya diantara isak tangisnya.
***********
"Ben, mengapa kau membiarkan Maura pergi? Seharusnya kau banyak berbincang dengannya."
Ben memasukan cincin itu ke laci meja yang ada didepannya
"Aku tak mau menemukan ingatan masa laluku"
"Mengapa?"
"Karena aku tahu tak ada kamu di masa laluku."
Mira tersenyum "Tapi di masa lalumu, kau punya semua orang yang mencintaimu."
"Aku dan Maura sudah bercerai. Itu yang dia katakan tadi"
"Tapi dia menyesal. Dia ingin kembali padamu."
Ben menatap Mira dengan wajah yang sedih "Jika aku pergi, lalu kau bagaimana?"
"Aku akan di sini, Ben. Karena disinilah tempatku berada."
Ben menggeleng. Ia berdiri lalu mendekati Mira yang berdiri di dekat meja makan. Di peluknya perempuan itu dengan erat.
__ADS_1
"Aku bahagia denganmu!" bisiknya sambil semakin mengeratkan pelukannya.
***********
Ezekiel, Joe, Faith dan Rachel berdiri di hadapan Ben yang sedang duduk berdampingan sambil tangan Ben melingkar dipundak Mira.
Alicia Aslon sedang menangis di pelukan suaminya karena Ben juga tak mengenalnya.
"Kau sama sekali tak mengingat kami, Ben? Kami adalah teman-temanmu. Sejak kecil kita tumbuh bersama." kata Rachel. Ia sendiri hampir menangis melihat keadaan Ben.
"Ben..., kau juga melupakan aku?" tanya Faith. Ia duduk disamping Ben.
"Kita saudara,Ben. Darahmu mengalir didalam tubuhku"
Ben tetap diam. Ia justru semakin erat memegang bahu Mira.
"Ikutlah dengan kami, nak. Ayo kita berobat agar kau bisa disembuhkan. Kita punya tim medis terhebat di London" kata Bryan Aslon.
Ben menggeleng. "Maaf, aku tak bisa meninggakkan Mira."
Maura yang berdiri dibelakang Faith langsung duduk mendengar perkataan Ben. Hatinya kembali sakit.
**********
"Jadi kita harus bagaimana? Ben tidak boleh kita biarkan sendiri di sini!" kata Alicia saat mereka sudah duduk di lobby hotel.
"Tentu saja Ben harus berobat, tante. Sebab jika dibiarkan, amnesianya akan bertambah parah. kita harus memeriksa seberapa para geger otak yang dialaminya sebelum itu semakin merusak jaringan yang ada diotaknya dan Ben akan kehilangan masa lalunya secara permanen" kata Joe.
Alicia nampak sedih. "Ben tak mau pergi. Dia ingin bersama Mira"
"Mira sedang hamil" kata Maura dan membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Mira hamil?" pekik Alicia. Haruskah dia senang akan mendapatkan cucu? Tapi Maura adalah menantu yang dia inginkan.
Faith menatap Maura dengan perasaan yang sama terlukanya. Ia bahkan pernah berada di posisi yang sama dengan Maura.
Ketika cinta harus dipertaruhkan dengan keadaan yang sangat menyakitkan.
Alicia pun menatap Maura dengan hati yang sedih. Ia tahu gadis keras kepala itu kini sangat terluka.
"Aku hanya berharap Ben akan sembuh. Dan setelah itu, aku dengan ikhlas akan melepaskan Ben." kata Maura dengan tenang walaupun sejuta belati seperti sedang menusuk hatinya.
Ben dan Mira tiba-tiba saja masuk dari pintu lobby sambil bergandengan tangan.
"Ben...!" Alicia langsung berdiri dengan wajah senang.
"Aku bersedia ikut dengan kalian asalkan Mira ikut denganku juga" kata Ben sambil menarik tubuh Mira agar semakin dekat denganya.
Sampai di sini dulu ya...
__ADS_1
Jangan baper ya..
jangan lupa like, komentari dan Vote ya....