
Tangan Ben masih melingkar dipinggangnya. Maura membuka matanya dan melihat jam dinding yang tepat berada di depannya.
sudah jam 4 sore. Aku sangat lapar.
Maura mengangkat tangan Ben dan turun perlahan dari tempat tidur.
Ben telah membuatnya sangat lelah karena sejak jam 11 siang, pria itu sudah mengurungnya di kamar, sambil terus menyentuhnya di sana sini, seolah ia tidak pernah puas menyiksa Maura.
Menyiksa? Cih, bukankah tadi aku juga menikmatinya? Sungguh memalukan diriku ini, kepalaku menggeleng namun tanganku justru memeluknya dengan erat.
Maura menepuk kepalanya sendiri yang begitu tak berdaya dalam kungkungan Ben.
Setelah mengenakan bajunya kembali, Maura duduk didepan meja rias dan menyisir rambut panjangnya yang juga sangat berantakan.
"Kau sudah bangun?" tanya Ben dengan suara berat. Pria itu sepertinya masih mengantuk.
"Ya. Aku lapar"
Ben turun dari tempat tidur. Maura buru-buru memalingkan wajahnya karena pria itu dengan tidak tahu malu berjalan tanpa mengenakan apapun.
Ben tertawa melihat tingkah istrinya. Ia segera mengenakan pakaiannya kembali.
"Ayo makan! Aku juga lapar, ma" ujarnya sambil menyisir rambutnya dengan tangannya sendiri.
Maura berdiri "Mana kunci kamarnya?"
Ben merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci itu. Ia memasukannya ke lobang kunci namun belum membuka pintunya. Ia berbalik, bersandar di daun pintu lalu menatap Maura yang sedang menatapnya dengan bingung.
"Ada apa lagi? Cepat buka pintunya. Aku sangat lapar, Ben." seru Maura.
"Aku akan membuka pintunya dengan satu syarat"
"Apa?" Maura kelihatan kurang sabar.
"Mulai sekarang kamu nggak usah memanggil aku dengan namaku. Tetapi kita harus punya panggilan sayang. Ma dan Pa. Alias Mama dan Papa"
"Ben.....kamu sudah benar-benar keterlaluan!" Maura mulai emosi.
"Apanya yang keterlaluan? Kita kan sudah jadi Papa mama. Aku suka panggilan orang Indonesia terhadap pasangan mereka. Papa.... mama....kedengarannya sangat mesra"
Maura mencibirkan bibirnya.
"Nggak mau...." tegasnya
"Ya sudah...., aku nggak akan akan membuka pintu ini"
"Ben....!" Maura menghentakan kakinya kesal. Perutnya sungguh lapar. Tenaganya sangat terkuras karena ulah suaminya ini.
"Ada apa mama?"
"Ben.....!"
"Jangan kesal. Aku pikir panggilan itu sangat wajar. Karena kita kan sudah....."
"Baiklah!" Maura memotong ucapan Ben.
"Baiklah.....papa"ulangi Maura lagi sedikit merasa geli
Ben tersenyum penuh kemenangan. "Ingat ya....kau harus memanggilku seperti itu baik kita cuma berdua maupun di depan orang lain"
"Ben.....aku malu memanggilmu seperti itu di depan banyak orang." Wajah Maura menjadi merah.
"Kau harus membiasakannya. Kalau berani melanggar maka aku akan meminta jatah pagi, siang, sore, malam tanpa berhenti"
"Ish....kamu ini!" Maura mengangkat tangannya dengan gemas. Ingin rasanya ia memukul kepala suami mesumnya itu.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah papa sayang....." Maura merasa perutnya menjadi mual mengatakan hal itu.
"Coba ulangi..."
"Papa, bolehkah pintunya di buka. Mama sangat lapar"
Ben terkekeh "Senangnya hati papa. Baiklah mama" Ben segera membuka pintu itu.
Maura melangkah mendahului Ben. Ia bergegas menuruni tangga dan segera menuju ke meja makan. Pelayan yang tadi sudah tidak ada.
Maura membuka tutup saji lalu mengambil piring yang sudah disiapkan di sana bersama dengan magic com.
"Ben, kamu mau makan nasi?" tanya Maura sambil menaruh nasi di piring.
"Apa?" tanya Ben dengan wajah datar.
Maura menarik napas panjang "Papa....apakah papa mau makan nasi?" tanya Maura dengan mimik yang dibuat semanis mungkin.
"Ya mama. Namun sedikit saja. Papa mau sayurnya saja yang dibanyakin"
Maura menikmati makan sorenya dengan nikmat. Walaupun ia hampir tertawa melihat wajah Ben yang kemerahan karena mencoba makanan yang pedas.
Selesai makan, Ben membantu Maura membersihkan meja makan dan mencuci peralatan makan yang ada.
"Ma, kita jalan-jalan yuk, bosan di rumah terus" kata Ben sambil mengeringkan tangannya.
"Memangnya siapa yang membuat kita ada di rumah terus?" tanya Maura sambil menatap Ben tajam.
Ben terkekeh. Ia mendekati Maura lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. "Memangnya mama nggak menikmatinya? Apa perlu papa ingatkan kembali bagaimana mama...."
"Diam.....!" Maura langsung membungkam mulut Ben tangannya.
"Aku mandi lebih dulu.Lalu kita jalan-jalan"
"Siap...mama sayang" Ben mencubit pipi Maura gemas lalu membiarkan istrinya itu mandi lebih dulu.
1 jam kemudian, Ben dan Maura sudah berada di pusat kota Medan.
pak Bolna sangat senang bisa melihat Maura lagi. Apalagi Maura kembali ke medan dengan membawa suami bule nya yang super ganteng.
Setelah puas jalan-jalan, mereka pun mampir di Merdeka Walk Medan yang merupakan pusat kuliner dan tempat nongkrong anak muda.
"Makanannya enak...." ujar Ben setelah menghabiskan makan malamnya.
"Saat aku pergi ke London, tempat ini belum ada. Ternyata 8 tahun ku tinggalkan, kotaku ini sudah banyak kemajuannya." Maura asyik memperhatikan sekeliling.
"Ben, sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Maura.
Ben yang sedang melihat-lihat hasil fotonya menatap Maura sambil mengecilkan matanya. "Mama mau papa hukum rupanya"
Maura sadar bahwa ia sudah salah bicara.
"Maafkan mama, ya papa. Oh ya, berapa lama kita akan liburan di sini?"
"Seminggu"
"Apa? Aku pikir kita akan sebulan di sini. Pa, apakah waktu liburannya tidak bisa ditambah?"
"Ma, temanku baikku akan menikah 8 hari lagi. Sementara aku yang bertangungjawab untuk photo pengantin dan videonya. Memang aku punya team kerja yang hebat, tapi Rachel akan marah besar jika kita tidak hadir di pernikahannya"
"Rachel Thomson?"
"Ya."
"Saudara iparnya Faith Thomson kan? Perempuan yang fotonya hampir memenuhi seluruh dinding studio papa?"
Ben menatap istrinya penuh selidik "Mama cemburu?"
__ADS_1
"Siapa yang cemburu? Aku hanya berkomentar?" Maura mencibirkan bibirnya.
"Tapi papa mendengar ada nada kurang suka dari suara mama"
Maura memalingkan wajahnya "Ish....sok tahu aja"
Ben akan bicara namun teriakan seorang gadis membuatnya tak bisa bicara.
" Kamu Inda kan? Maura Belinda Nasution?" seru gadis itu heboh. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada di sana yang seakan protes karena suara gadis itu sangat keras.
Maura menatap gadis yang ada di depannya. Ia mencoba mengingatnya. Bebarapa detik kemudian gadis itu berteriak tak kalah hebohnya "Kamu Intan yang berdarah Jawa-Batak kan?"
Intan mengangguk. Kedua gadis itu langsung berpelukan dengan hebohnya.
"Ya Tuhan, kamu cantik sekali Inda. London benar-benar telah mengubahmu" ucap Intan sambil menatap sahabatnya dengan kagum.
"Aku juga hampir tak mengenalimu Intan. Kau sudah banyak berubah. Kemana rambut panjangmu itu?"
"Aku baru saja memotongnya. Bosan rambut panjang terus." Intan menatap Ben.
"Ini siapa?"
Ben menatap Intan dengan senyum manisnya.
"Ini suamiku. Namanya...."
"Aku tahu...." Intan memotong ucapan Maura. "Ini Benecdik Aslon kan? Ya Tuhan Inda, ini suamimu?" Intan nampak tak percaya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Maura heran.
"Tentu saja aku tahu. Apa kau lupa kalau sejak dulu aku sudah menekuni dunia fotografi? Suamimu ini sejak usia 15 tahun sudah memenangkan kontes foto terbaik sedunia, dia bahkan beberapa kali memenangkan kontes yang sama sehingga di usianya yang masih muda ia sudah tak diijinkan untuk ikut lomba lagi melainkan dia yang menjadi jurinya. Ia kan? Dia pernah jadi bintang yang diwawancara oleh New York News dan banyak deh..."
Ben tersenyum bangga.
"Hi...Mr. Aslon, nice to meet you..." Kata Intan sambil mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu" ucap Ben
"Kau bisa bahasa Indonesia...ya ampun Maura, suamimu ini sangat keren. Kita foto bareng yuk" Intan mengeluarkan hp nya dan mengambil foto mereka bertiga setelah itu dia meminta Maura untuk mengambil gambar dirinya dengan Ben.
"Inda, kebetulan kau datang. Besok malam sekolah kita akan mengadakan reuni akbar semua angkatan. Teman-teman semua pasti senang melihatmu. Datang ya...akan dilaksanakan di Wisma Taman Sari Indah. Kegiatannya akan dimulai jam 5 sore on time" Intan mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas dukungnya.
"Datang ya Inda...bawah suamimu yang super duper ganteng ini. Aku yakin anak-anak akan heboh." kata Intan. Ia lalu memeluk Maura dan Ben secara bergantian lalu permisi untuk pergi karena ternyata ia adalah salah satu panitian pelaksanaan reuni akbar ini.
"Teman mama sangat heboh" ucap Ben dalam perjalanan pulang.
Maura membaca undangan itu. Ia ingat bagaimana terkenalnya gank mereka saat SMP dulu. Ia rindu dengan mereka.
"Ben..."
"What?" Ben melotot.
"Pa, besok kita pergi ya.."
"Ok."
Maura tersenyum senang. Sampai mereka di rumah, ia segera mencari album lamanya yang menyimpan banyak foto sewaktu ia SMP. Ia duduk di atas karpet sambil melihat semuanya.
Ia begitu senangnya sampai tak sadar kalau ia sudah tertidur diantara tumpukan foto-foto jadulnya.
Ben tersenyum saat menatap foto-foto jadul Maura. Ternyata dulu Maura memang sudah cantik. Bahkan ia yang terlihat paling cantik diantara semua temannya.
Ben mengumpulkan foto-foto itu kembali kemudian mengangkat tubuh Maura ke atas tempat tidur.
"Mimpi indah ya mama..." bisik Ben lalu mencium dahi istrinya itu.
"Makasih sudah terus membaca...
__ADS_1
#Jangan lupa dukung aku terus ya....