My Best Photo

My Best Photo
Terlambat


__ADS_3

Tak terasa hampir 3 bulan Maura dan Ben hidup bersama sebagai suami istri. Maura semakin rajin belajar memasak karena Ben memang suka makan makanan rumahan.


Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Maura. Yaitu tentang perasaan Ben padanya. Karena Ben sama sekali belum pernah mengatakan kalau dia mencintai Maura.


Makanya, Maura sering menekan perasaannya. Ia berusaha menutupi hatinya yang sudah mulai terikat pada Ben.


"Sayang....bagaimana kabar mommy dan daddy?" tanya Ben sambil mengeringkan rambutnya. Ia baru saja mandi.


Kemarin memang Maura minta ijin untuk mengunjungi keluarganya.


"Mereka semua baik. Papa keramas saat cuaca sedang dingin begini? Nanti sakit. Mari mama keringkan" Maura langsung mengambil pengering rambut, meminta Ben duduk, setelah itu ia mulai mengeringkan rambut Ben.


Ben tersenyum mendapatkan perhatian dari istrinya.


"Makasih sayang....." ujar Ben ketika rambutnya sudah kering. Ia segera masuk ke dalam walk in closet dan mengenakan pakaiannya.


"Apakah hari ini ada pemotretan?" tanya Maura yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Ya. Di tempatnya mommy. Ada beberapa koleksi gaun tidurnya yang akan keluar minggu depan"jawab Ben sambil membuka laci dan mencari jam tangan yang akan dikenakannya.


Gaun tidur? Berarti para model akan memakai gaun yang seksi? batin Maura.


"Mama boleh ikut, nggak?" tanya Maura


Ben menatap istrinya. Ia mengangguk sambil tersenyum. "Boleh. Asalkan jangan bosan menunggu ya."


"Ok" jawab Maura senang. Ia segera mengganti baju rumahnya dan berdandan sedikit agar tampil lebih fresh.


Sebelum pergi, Maura ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.


"Wah, tissue habis" guman Maura. Ia membuka laci tempat penyimpanan barang-barang lalu mengambil satu gulungan tissue. Matanya menatap pembalutnya yang masih nampak banyak.


Sejak pulang dari Medan, aku sepertinya belum datang bulan. Apakah aku memang sedang terlambat? ya, biasanya juga kan aku terlambat.


Maura segera keluar kamar mandi begitu selesai. Nampak Ben sudah tak berada di kamar. Ia pun segera turun ke bawa.


Ben masih ada di ruang kerjanya menyiapkan kameranya yang akan dibawa.


"Pa, mama sudah selesai" kata Maura.


Ben mengangguk. Ia menatap wajah istrinya "Mama cantik"


"Gombal...!" Maura mencibir mendapatkan pujian Ben namun hatinya kembali berbunga-bunga.


"Papa nggak gombal. Akhir-akhir ini mama kelihatan semakin cantik" Ben mendekat. Membelai pipi istrinya dengan tatapan menggoda.


"Ayo pergi..!"


"Ok darling" Ben segera menggandeng tangan istrinya.


Mereka tiba di butiknya The Aslon setelah menempuh perjalanan 15 menit. Salju nampak masih memenuhi jalanan walaupun tak setebal yang lalu.


"Maura sayang...!" Alicia langsung menyambut menantunya dengan senang hati.


"Hi...mom!" sapa Maura sambil mencium pipi kanan dan kiri mertuanya.


"Mommy senang kamu datang ke sini" ujar Alicia sambil menatap Maura dengan senyum manisnya. "Kamu kelihatan lebih cantik sekarang"


"Benarkan apa yang suamimu ini katakan? You are getting more beautiful" kata Ben membuat Maura tersipu. Maura dan Ben memang sudah sepakat kalau didepan orang tua mereka, panggilan 'papa-mama' akan dihilangkan. Supaya mereka tidak bingung.


"Ya. Kau memang kelihatan cantik." kata Alicia.


"Biasa saja, mom. Mungkin karena aku sedikit berdandan hari ini"kata Maura.


Alicia menggandeng tangan Maura memasuki ruangan tempat pengambilan gambar.


Ben langsung bergabung dengan timnya untuk menyiapkan segala sesuatu.


Maura memperhatikan semua gerak gerik Ben. Suaminya itu nampak sibuk dengan melihat lampu, memeriksa kamera. Ben juga sesekali menoleh ke arah Maura sambil mengedipkan matanya. Membuat Maura bergetar dengan tatapan suaminya itu.


Dasar bule gila, batinnya sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, masuklah para gadis cantik yang berjumlah 10 orang. Mereka semuanya memiliki tinggi badan yang hampir sama. Kaki yang panjang, menggunakan sepatu hak tinggi bertali dan gaun tidur yang nampak sangat seksi, belahan dada rendah dan tentu saja gaun tidur itu sangat transparant.


Astaga, mereka semuanya nampak sangat sempurna. Dan Ben melihat mereka semua sambil tersenyum? Oh...tentu saja, menatap tubuh elok dan seksi itu, pria mana yang tidak akan senang?


Maura sibuk memperhatikan para model itu. Ben juga sesekali berinteraksi dengan mereka dalam mengarahkan gaya bahkan mengatur letak baju atau rambut mereka untuk mendapatkan gaya yang dia inginkan dari para model.


Ben...kenapa tanganmu menyentuh mereka? suruh aja kan asisten mu yang perempuan itu untuk mengaturnya. Dasar genit..!


Maura merasakan dadanya sesak. Cemburu kah aku? tanya hatinya. Ia bahkan merasa perutnya bergolak. Ia tiba-tiba saja merasa ingin muntah. Perlahan ia meninggalkan ruang foto itu dan mencari toilet.


Maura mengeluarkan semua makanan yang dimakannya tadi pagi. Ia bahkan merasa sedikit pusing.

__ADS_1


"Sayang...., dari mana saja?" tanya Ben saat Maura kembali ke ruang foto.


"Hanya ke toilet. Apakah sudah selesai?"


Ben menggeleng "Masih ada 2 kali pengambilan gambar lagi. Apakah mama sudah bosan?" tanya Ben sambil membelai wajah istrinya.


Maura merona mendapat perlakuan manis dari Ben. Apalagi para model itu berbisik-bisik menatap mereka.


"Bolehkah mama ke kantor mommy Iriana? Letaknya nggak jauh dari sini"


"Baiklah. Papa minta sopir untuk mengantar ya.."


"Nggak usah. Jaraknya kan dekat. Jalan kaki juga bisa"


"Cuacanya dingin, sayang..."kata Ben. Sebenarnya ia khawatir membiarkan Maura pergi sendiri karena takut dengan anak buah Alan.


"Mama kan bawa mantel"


"Baiklah" Ben akhirnya mengalah. Ia segera mengirim pesan kepada kepala pengawal pribadi Ezekiel yang selama ini mengawasi mereka dari jauh.


Tolong awasi istriku


Tak lama kemudian masuk pesan balasan.


Kami ada di depan butik, tuan


Ben menatap istrinya "Aktifkan selalu ponselnya"


"Beres papa..."


Ben memeluk istrinya dan mencium bibirnya lembut.


Maura mencubit pinggang Ben karena beberapa model memperhatikan mereka. Ben hanya tertawa.


"Mama pergi ya..."


Maura melangkah meninggalkan butik sambil berjalan kaki. Menikmati hawa pagi dipenghujung musim dingin.


Kantor pengadilan memang tak jauh dari butik ibu mertuanya.


Tak sampai 7 menit berjalan, Maura sudah tiba di sana.


"Selamat pagi, aku ingin bertemu dengan Iriana Nasution" kata Maura pada penjaga gedung.


Sebelum penjaga gedung itu menjawab, sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil dia.


"Mommy....!"


"Tumben ke sini"


""Aku dari butik mommy Alicia. Karena bosan menungguh akhirnya aku ke sini. Mommy tidak ada jadwal sidang?"


"Tidak. Mommy baru saja mau pergi minum kopi di cafe depan. Ayo...."


Maura mengangguk senang. Ia menggandeng tangan Iriana dengan hangat.


Setelah memesan minuman dan kue yang mereka inginkan, keduanya memiih duduk di dekat dinding kaca.


"Setelah ini kita ke mall yuk!" ajak Iriana.


"Tentu saja mommy..." sambut Maura antusias. Ini adalah jalan-jalan pertama bagi mereka.


"Iriana.....?"


Maura dan iriana sama-sama menoleh. Seorang perempuan cantik berdiri di depan mereka.


"Monica...!" sambut Iriana. Temannya ini seorang dokter ahli kandungan.


"Boleh aku bergabung?" tanya Monica


"Tentu saja" ucap Iriana senang.


Monica duduk dengan wajah senang. Ia menatap Maura sambil tersenyum. " Hallo Maura! Kamu nampak lebih cantik saja sekarang"


"Terima kasih tante..." Maura agak tersipu.


Monica memesan minuman dan kuenya.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Saat Maura mencium aroma minuman kopi capucino pesanannya, tiba-tiba saja ia merasa mual.


"Sayang, ada apa?" tanya Iriana.


"Aku ke toilet dulu, mom. Rasanya mual" Maura berlari ke toilet. Ia kembali mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


Aku salah makan apa ya? kok bawaannya mual dan muntah.


Maura membersihkan mulutnya dan kembali meja Iriana dan Monica. Namun saat ia mencium aroma kopi itu lagi, ia kembali ke toilet.


"Sayang....!" panggil Iriana yang ikut masuk ke dalam toilet.


Maura keluar dari salah satu biliknya "Mom...kayaknya aku benci mencium aroma kopi itu"


"Kopinya sudah disingkirkan. Tante Monica akan memeriksamu. Ayo!" Iriana memegang tangan Maura karena dilihatnya Maura sedikit pucat.


Mereka kembali ke meja tempat Monica menungguh.


Monica memegang nadi di tangan Maura. Ia tersenyum "Sepertinya kamu hamil"


"Apa?" Maura terpana.


"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Ayo !" ajak Monica.


"Kamu mau kan sayang?" Iriana menatap Maura.


Maura mengangguk dengan antusias. Ia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.


Mereka pun berangkat ke rumah sakit. Monica segera melakukan USG saat mereka tiba di sana.


"Kau memang hamil, sayang. usia kandunganmu sekitar 7 minggu. Kau lihat titik kecil itu? Itulah janinnya." kata dokter Monica.


Maura tak dapat menahan air matanya. Ia menatap Iriana yang juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau akan menjadi ibu sayang" kata Iriana haru.


"Dan mommy akan menjadi nenek" kata Maura dengan senyum manisnya.


Monica menatap ibu dan anak sambungnya itu. Ia haru melihat Iriana dan Maura yang saling menyayangi. Sebab sebagai sahabat baik Iriana, Monica tahu bagaimana dulu hubungan mereka.


Setelah menerima foto USG itu, Maura tak sabar segera menelepon Ben saat Iriana mengantarnya dengan mobil.


"Hallo, ma." sapa Ben dari seberang.


"Sayang, maaf menganggu. Apa sudah selesai?"


"Ya. Tinggal memilih foto yang akan dicetak. Setengah jam lagi selesai. Mama masih di kantornya mommy Iriana?"


"Nggak. Kami baru saja dari rumah sakit"


"Siapa yang sakit?"


"Mama punya kejutan untuk papa. Mama tungguh di apartemen ya....bye..." Maura mematikan sambungan telepon dengan senyum di wajahnya. Ia tak dapat membayangkan reaksi Ben saat tahu kehamilannya.


Ia meminta Iriana untuk mengantarnya ke apartemen karena dia ingin memberitahukan kehamilannya secara khusus pada Ben tanpa ada gangguan apapun.


"Makasih, mom sudah mengantarkan aku" ujar Maura saat mereka sudah tiba di depan apartemen.


"Hati-hati menjaganya ya sayang? Jangan terlalu capeh" kata Iriana sebelum berlalu dengan mobilnya.


Maura mengangguk. Ia segera menaiki tangga.


"Maura....!"


Maura menoleh "Kelly? Apa yang kamu..." Tatapan mata Maura beralih ke perut Kelly yang sudah membesar. "Kamu hamil?"


"Aku ingin kita bicara. Boleh tidak?" tanya kelly.


"Boleh. Ayo masuk!" ajak Maura.


"Kita bicara di apartemenku saja. Ada sesuatu yang akan kutunjukan padamu. Apartemenku tak jauh dari sini"


"Kamu sudah pindah?"


Kelly mengangguk.


"Tapi jangan lama ya"


"Ya. Ayo..!" Kelly melangkah bersama Maura.


Maafkan aku, Maura...


Batin Kelly sambil terus melangkah.


MAKASI SUDAH BACA YA...


MAAF KALAU BANYAK TYPO


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARNYA JIKA SUKA

__ADS_1


__ADS_2