My Best Photo

My Best Photo
Penyesalan


__ADS_3

Hari ini sebenarnya Maura ingin tidur saja dan bermalas-malasan di rumah. Kabar yang disampaikan oleh pengacaranya bahwa Ben sudah menandatangani surat perceraian itu cukup membuat Maura tak bisa tidur nyenyak 2 malam ini.


Kemarin motor Maura sudah dikirimkan oleh salah satu anak buah Ben ke rumahnya.


Sementara perhiasan yang diberikan Ben padanya, sudah dikirimkan kembali melalui Naomi. Menurut Naomi, Ben menerimanya dengan senyum manis. Dan semua itu justru membuat Maura gelisah.


"Nona...ada tamu " Kata Naomi yang langsung masuk ke kamar Maura karena pintunya tidak di kunci.


"Siapa?"


"Nyonya Faith Thomson"


Maura terkejut mendengar Faith datang menemuinya. Dengan gerakan yang agak malas, Maura pun turun ke lantai satu tanpa mengganti pakaiannya.


Faith yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri dan tersenyum melihat kedatangan Maura.


"Maaf aku mengganggumu" kata Faith melihat senyum terpaksa yang diberikan Maura padanya.


"Ada keperluan apa kau mencariku" tanya Maura setelah keduanya duduk saling berhadapan.


"Besok pameran foto yang dilaksanakan oleh Ben akan dibuka. Aku mohon datanglah!" kata Faith.


Maura mendengus kesal "Untuk apa aku pergi? Kami sudah resmi bercerai. Dia sudah menandatangani surat perceraian itu. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia."


"Ben mencintaimu!"


Maura terkejut mendengar perkataan Faith. Namun sesaat kemudian dia tersenyum seolah membantah perkataan Faith.


"Mencintaiku? Dia bahkan tak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Dia hanya mencintai dirinya sendiri.Dia hanya ingin memuaskan hasratnya padaku, dan setelah dia mendapatkannya, dia akan mencari gadis lain lagi."


Faith tersenyum "Dia mencintaimu, Maura. Itu yang aku lihat saat dia menatapmu"


"Satu-satunya gadis yang dia cintai dalam hidupnya adalah dirimu, Faith! Ben bahkan tak pernah menaru fotoku di ruang kerjanya, di studionya. Mungkin juga dia sama sekali tak pernah ingin untuk memotretku karena aku tak menarik di matanya" kata Maura pelan namun dengan nada cemburu yang sengaja tidak ditutupinya.


Faith pun kembali tersenyum. "Bukan salah takdir kalau aku lebih dulu bertemu dengan Ben. Bukan salahku juga kalau Ben pernah jatuh cinta padaku. Tapi itu dulu, sebelum dia bertemu denganmu. Bahkan sebelum Ben bertemu denganmu pun perasaannya padaku telah berubah."


Maura menatap Faith dengan tatapan yang sulit dipercaya.


"Saat Ben bertemu denganmu, dia sudah satu tahun tak pernah kencan dengan gadis manapun. Ben memang play boy yang bahkan tidak pernah ingin menikah dengan siapapun. Tapi denganmu, dia mau membangun hubungan pernikahan yang serius"


"Dia menikahiku karena ingin tidur denganku"


Faith menggelengkan kepalanya. "Serendah itukah rasa percayamu pada Ben?"


Maura terkejut. Kata-kata itu pernah diucapkan Ben padanya juga. Emosinya sedikit naik karena merasa Faith terlalu membela Ben.

__ADS_1


"Foto itu membuktikan kalau apa yang kupikirkan tentangnya adalah benar. Ben juga mengakui kalau foto itu asli bukan palsu"


"Foto itu dikirim dengan tujuan untuk memisahkanmu dengan Ben"


"Foto itu dikirim untuk menyadarkan aku bahwa Ben adalah lelaki brengsek yang harus kutinggalkan." Maura menatap Faith sambil menarik napas panjang.


"Lusa, aku akan pulang ke Medan. Dan aku tidak akan pernah lagi menginjakan kakiku di kota yang sangat aku benci ini" Maura membuang pandangannya ke samping. Mengucapkan kata-kata meninggalkan London sebenarnya sangat menyakitkan baginya.


"Kau berlari dari cinta yang kau rasakan untuknya. Kemanapun kau pergi, kau akan selalu ingin datang lagi ke sini. Itulah yang kualami dalam perjalanan cintaku bersama Ezekiel. Aku juga pernah berada diujung kebimbangan antara meninggalkan Ezekiel atau mempertahankan cinta yang kurasakan untuknya. Sampai akhirnya aku memilih bertahan karena aku percaya akan cintanya padaku. Aku dan Ezekiel pun bisa menikmati kebahagiaan sampai hari ini karena kami berdua tetap bertahan ditengah ujian hidup yang kami alami." Faith berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Maura. Ia memegang tangan Maura dengan lembut.


"Maura, Ben sudah kuanggap sebagai kakakku. Maka kau pun sudah menjadi saudara bagiku. Aku hanya ingin kau membuka hatimu untuk melihat lagi cinta yang Ben rasakan untukmu." Faith menepuk punggung tangan Maura dengan lembut. Ia berdiri dan kembali menatap ke arah Maura yang masih tertunduk.


"Lihat kembali foto yang orang jahat itu kirimkan padamu. Perhatikan wajah Ben baik-baik di foto itu dan kau akan tahu bahwa dia tak pernah selingkuh darimu. Aku permisih dulu ya...!" Faith melangkah. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti dan kembali menatap Maura yang masih duduk di sofa dengan pandangan kosong.


"Datanglah ke acara pembukaan pameran fotonya besok jam 2 siang. Kau akan melihat betapa besarnya cinta yang dia miliki untukmu" kata Faith sebelum berbalik dan kembali melangkah menuju ke pintu keluar.


Tangis Maura langsung terdengar saat Faith menghilang dibalik pintu. Dia harus jujur, cinta yang dia miliki untuk Ben begitu besar dan tak mungkin bisa hilang begitu saja. Namun Maura tak bisa menerima seorang penghianat dalam hidupnya. Sejak dulu ia selalu menanamkan sebuah prinsip hidup dalam hatinya :PENGHIANAT KE LAUT AJA...


"Nona.....!" Naomi mendekat sambil duduk di samping Maura. Di jam seperti ini tak ada orang lain di rumah selain mereka. Beberapa pelayan sedang menyiapkan makan siang yang jumlahnya hanya untuk satu orang yaitu untuk Maura saja. Karena Gerald, Iriana dan Gerry tak pernah makan siang di rumah kecuali di akhir pekan. Makanya jika hari kerja seperti ini, bila sudah selesai membersihkan rumah dan halaman, pelayan yang lain memiliki waktu luang. Mereka akan sibuk lagi nanti di jam 3 sore.


"Naomi....!" Maura langsung memeluk kepala pelayan itu dan menumpahkan kesedihannya. Naomi seorang perempuan berkulit hitam yang sudah menjadi pelayan di rumah ini sejak Iriana masih sekolah. Dialah yang selalu menghibur Maura ketika Maura baru pertama kali datang ke London dan selalu menangis ingin pulang ke Medan.


"Cinta itu memang sering menyakitkan kita. Namun dibalik semua itu, cinta itu juga selalu membawa kebahagiaan. Cinta itu memang tak sempurna. Cinta akan menjadi sempurna jika kita bisa ikhlas memaafkan, menerima masa lalunya dan berjuang bersama untuk masa depan." Naomi membelai kepala Maura yang masih menangis dalam pelukannya.


Maura mengangkat wajahnya. Menatap Naomi dengan mata yang basah.


Perempuan itu tersenyum. Lalu menghapus air mata Maura dengan ibu jarinya "Aku menyayangimu seperti anak yang tak pernah kumiliki. Aku akan sangat merindukanmu jika kau pergi meninggalkan London. Berpikirlah sekali lagi sayang...."


"Apakah kau percaya kalau Ben menghianatiku?"


Naomi menggeleng "Aku tak tahu, sayang. Namun saat ku kembalikan kotak perhiasan itu padanya, sekalipun wajahnya tersenyum, namun pandangan matanya menunjukan bahwa ia terluka"


Air mata Maura kembali berlinang. Haruskah ia memikirkan lagi keputusannya?


********


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Maura menatap 2 kopernya yang sudah siap. Besok pagi, ia akan pergi ke Indonesia. Dia akan meninggalkan London. Dan Patrick ingin pergi bersamanya karena cowok itu akan membuka bisnis di Bali.


Tadi siang, Faith beberapa kali menghubunginya. Namun Maura memutuskan untuk tidak menerima panggilan itu karena ia tahu Faith akan mengajaknya ke pameran foto Ben.


Maura merasakan kegelisahan yang sangat mendalam. Ia pun mengambil hp nya dan menghubungi teman-temannya di The Crown. Dia ingin bertemu dengan mereka dan merayakan perpisahan dengan mereka.


Maura tiba dengan motor sportnya di halaman Club malam milik Ben. Entah mengapa ia ingin datang ke sini sekaligus juga mentraktir teman-temannya. Ia yakin tak akan bertemu dengan Ben karena hari ini pria itu sibuk dengan pameran fotonya. Maura juga tahu bahwa Ben sangat jarang berkunjung di club malamnya ini karena dia lebih senang mengurus kamera-kameranya jika ada waktu luang.


Setelah merapihkan rambutnya sebentar, Maura turun dari atas motornya, dan melangkah ke arah pintu masuk. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Patrick ada di salah satu di tempat parkir di samping mobilnya. Patrick nampak bertengkar dengan seseorang. Saat Maura mendekat, ia tahu kalau itu adalah Patricia. Maura bersembunyi di salah satu mobil dan mendengar pertengkaran mereka karena ada nama Maura dan Ben yang disebutkan oleh mereka.

__ADS_1


"Jadi besok kau akan ke Indonesia bersama dia? Sampai kapan kau akan menipu Maura?" tanya Patricia dengan suara lantangnya.


"Aku akan membuatnya mencintaiku dengan segala cara.Dia adalah wanita yang kuinginkan untuk bersamaku. Aku tidak akan menghianatinya apapun yang terjadi."


"Cintamu itu salah. Kau menipunya dengan mengirimkan fotoku bersama Ben 3 tahun yang lalu. Dan aku baru tahu kalau kau yang mengambil foto itu dari hp ku setelah melihat rekaman cctv di kolam. Kau sakit Patrick!"


"Mengapa juga kau masih menyimpan foto itu di hp mu? Kau juga masih mencintainya kan? Sekarang aku sudah membuka kesempatan bagimu untuk bersama Ben. Jadi, jangan usik hubunganku dengan Maura"


Patricia nampak geram "Aku sudah tidak menginginkan ben lagi karena aku tahu dia mencintai Maura."


Satu tendangan dari kaki Maura tanpa di duga mendarat dipunggung Patrick yang membelakanginya, menyebabkan cowok itu jatuh tersungkur di atas tanah. Maura tak puas. Ia menarik kemeja Patrick dan menghajar cowok itu dengan membabi buta menyebabkan Patrick babak belur.


"Maura...Aku mohon, jangan pukul Patrick lagi" Patricia langsung memeluk Maura dengan sekuat tenaga.


Dada Maura yang naik turun dengan kuat menandakan amarahnya masih sangat besar. Ia menatap Patrick dengan rasa jijik.


"Kau sampah Patrick..!" teriak Maura dengan luapan emosi yang dalam. Ia langsung pergi, berlari ke arah motornya. Dan menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.


Ben, maafkan aku....maafkan aku.....aku sungguh bodoh!


Motor Maura berhenti di depan studio Ben. Ia masuk ke dalam dan langsung berpapasan dengan Luna yang sepertinya akan pergi.


"Luna, kemana Ben?"


"Sudah pergi, nyonya"


"Kemana?"


"Tidak tahu!"


Maura meraih hp nya dari saku celananya dan menelepon Ben tapi nomor Ben tidak aktif.


Mungkin Ben sudah pulang...


Maura memutuskan untuk pergi ke apartemen. Namun sudut matanya menangkap foto-foto yang ada di ruangan tempat pameran foto dilaksanakan.


Maura melangkah ke ruangan itu. Dan ia terpana. Seluruh sendi dalam tubuhnya seakan tak berfungsi. Ia langsung jatuh tersungkur di atas lantai saat matanya melihat semua foto itu.


Ketika air matanya jatuh, Maura tahu ia sangat menyesal telah melepaskan cinta terbesar dalam hidupnya.


#Makasi sudah baca part ini


#Jangan Baper ya..


#jangam lupa like, koment dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2