
Sudah seminggu lebih Maura keluar dari rumah sakit. Yang dikerjakannya hanya berdiam diri di kamar, duduk di dekat jendela dan menatap alam yang mulai cerah karena musim dingin hampir berlalu.
Saat keluar dari rumah sakit, hanya dua hari saja Maura tinggal di apartemen.
Maura memohon pada Ben agar ia bisa tinggal sementara di rumah papanya. Ben mengijinkan Maura walaupun sebenarnya dia ingin Maura tetap bersama dengannya di apartemen.
Kebersamaan dengan Gerry adiknya banyak menghibur hati Maura. Dan yang paling menyenangkan adalah kabar tentang tertangkapnya Alan dan komplotannya.
Maura tak ingin menuntut Kelly. Karena ia tahu Kelly melakukan semua itu karena berada dalam ancaman Alan. Maura juga kasihan dengan keadaan Kelly yang sedang hamil 6 bulan.
"Maura, boleh mommy masuk?" tanya Iriana dari balik pintu.
"Masuklah, mom" kata Maura tanpa mengubah posisi duduknya.
Iriana membuka pintu kamar Maura. Wajahnya langsung terlihat sedih melihat Maura yang nampak putus asa dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.
"Apa yang kau sesali sayang?" tanya Iriana lalu duduk di samping Maura.
"Mengapa aku harus kenal Alan? Mengapa dia harus menculik aku disaat aku baru saja merasakan sesuatu yang tumbuh di perutku. Aku menginginkan anak ini, aku sungguh senang akan menjadi seorang ibu" tangis Maura kembali pecah.
Iriana membelai kepala putri sambungnya itu dengan penuh kasih "Tuhan akan memberikan kau kesempatan untuk hamil lagi."
Maura menghapus air matanya "Aku rasa itu takan mungkin, mom"
"Mengapa?"
"Aku ingin pisah dengan Ben"
"Kenapa?"
Maura menarik napas panjang " Dengan perginya bayi ini, aku yakin Tuhan sedang memberitahukan aku bahwa Ben dan aku tidaklah berjodoh."
Iriana menggeleng "Tidak sayang, Ben mencintaimu"
Maura tersenyum kecut. Ia sudah mantap dengan keputusannya.
********
Ben merasa frustasi. Selama 1 minggu Maura berada di rumah orang tuanya, Maura tak mengijinkan Ben untuk menginap di sana. Entah apa yang telah dilakukan oleh Ben sehingga ia merasa Maura seperti ingin menjauh darinya.
Seperti malam ini, selesai makan malam bersama, Maura langsung menuju ke kamarnya. Ben pun segera menyusulnya.
"Sayang...!" panggil Ben saat membuka pintu.
Maura sedang duduk di sofa sambil menatap ke layar TV yang ada.
Maura menatapnya "Masuklah Ben. Aku mau bicara"
Ben masuk dan langsung duduk di samping istrinya "Sayang, sampai kapan kau akan tinggal di sini? Aku kesepian selalu tidur sendiri"
__ADS_1
Maura menatap Ben dengan berani "Ben, apakah kau mencintaiku?"
Ben menatap.manik hitam di depannya dengan penuh tanda tanya. "Mengapa kau tanyakan itu?"
"Jawab saja, Ben"
Ben menarik napas panjang. Mengucapkan kata-kata manis penuh cinta bukanlah hal yang sulit baginya. Namun dengan Maura, Ben tak ingin merayu. Ben tak ingin hanya sekedar kata. Ben ingin jujur dengan semua rasa yang ingin dia miliki pada Maura.
"Aku menyayangimu, Ma. " kata Ben akhirnya sambil memegang tangan Maura.
"Tapi kau tidak mencintaiku, kan?" tanya Maura dengan tatapan ingin tahu. Ia menarik tangannya dari genggaman Ben.
"Aku ingin bersamamu. Sudah kukatakan bahwa saat aku berjanji di hadapan Tuhan untuk setia padamu seumur hidupku, aku mengucapkannya dengan penuh kesungguhan. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu"
"Tapi kau tidak mencintaiku, Ben. Maaf, aku membaca buku harianmu yang kau simpan dalam lemari di ruang kerjamu. Kau masih menyimpan semua foto Faith di sana. Kau menuliskan bahwa dia adalah wanita tercantik yang pernah kau temui seumur hidupmu. Hanya denganya kau merasakan bahwa perempuan itu perlu diperjuangkan, perlu disayangi dan perlu diperhatikan. Aku membaca betapa hancurnya hatimu saat melepaskan Faith kembali pada suaminya."
"Apakah karena membaca hal itu lalu kau ingin tinggal di rumah orang tuamu?"
"Ya. Semua kejadian yang baru saja aku alami membuatku sadar bahwa kita sebaiknya berpisah"
"Apa?" Ben terpana.
Maura membuang muka. Ia tak sanggup bertatapan dengan mata biru itu.
"Ma, Faith adalah masa laluku. Aku akui bahwa dialah yang menyadarkan aku untuk tidak main-main lagi dengan wanita. Aku tak mungkin bersamanya karena dia mencintai Ezekiel. Lalu Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang unik. Kau tahu mengapa aku langsung setuju saat mommy memperlihatkan fotomu? Karena aku yakin bahwa kita berdua pasti akan bahagia bersama. Kau sangat berbeda dari semua gadis yang pernah bersamaku. Kau bahkan jauh berbeda dengan Faith" Ben menarik napas panjang lalu ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Selama itu pula, aku tak akan pernah menghianatimu. Aku takan pernah meninggalkanmu. Sekalipun kau meminta aku ribuan kali untuk pergi, aku juga punya ribuan alasan untuk tetap ada di sampingmu" kata Ben dengan penuh keyakinan. Di genggamannnya tangan Maura dengan lembut lalu diciumnya dengan penuh kasih.
"Kita sudah menikah, ma. Dan bagiku pernikahan itu sekali seumur hidup." Ben berdiri la menunduk dan mencium kepala Maura.
"Aku akan pergi sayang. Aku tidak akan menganggumu. Tapi ingat, aku takan pernah berpisah darimu. Jika kau siap, datanglah kembali ke apartemen. Aku selalu menungguhmu" Ben melangkah pergi meninggalkan kamar Maura dengan perasaan sedih.
Di kamarnya, Maura memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. "Aku mencintaimu, Ben. Sangat mencintaimu" kata Maura pelan diantara isak tangisnya.
*********
Faith menatap pria yang berdiri di dekat pagar pembatas sungai Thames. Ia melangkah pelan dan mendekati pria itu.
"Ben....!" panggilnya lembut.
Ben menoleh dengan kaget "Faith? Apa yang kau lakukan di sini? Apakah Ezekiel tidak akan mencarimu? Ini kan sudah jam...10 malam" kata Ben setelah melirik jam tangannya.
"Ezekiel sedang menungguh aku di sana...! kata Faith sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
"Dia masih lelaki yang posesif"
"Itu karena dia mencintaiku dan aku juga mencintainya"
Ben membalikan badannya "Dari mana kamu tahu aku di sini?"
__ADS_1
"Mommy mu yang mengatakan"
"Dia masih saja mengikutiku"
"Karena dia menyayangimu, Ben. Dia selalu memikirkan kebahagiaanmu" Faith berdiri di samping Ben.
"Mengapa kau biarkan Maura tinggal di rumah orang tuanya?" tanya Maura melihat Ben hanya diam saja.
Ben tersenyum sinis " Aku memberikannya kesempatan untuk mengikuti kata hatinya. Aku menungguhnya pulang"
"Ben, apakah kau mencintainya?"
"Aku menyayanginya. Dan aku sementara berjuang untuk mencintainya dengan sepenuh hatiku. Dia menyangkah kalau aku masih mencintaimu. Makanya dia meragukan niatku yang tulus untuknya"
"Bagaimana Maura tahu, Ben?"
"Dia membaca catatan harianku tentang dirimu"
"Mengapa sampai kau mencatat itu semua, Ben?"
"Waktu itu teman curhatku yang terbaik hanyalah diary itu. Sepupuku Edward sudah kembali ke Seoul. Dialah orang yang paling aku percayai. Mengenai diary itu, Aku bahkan sudah lupa kalau pernah menuliskan semua itu"
Faith menepuk bahu Ben "Jangan terlalu lama menungguhnya karena bisa saja ia ingin kau yang menjemputnya."
Faith tersenyum melihat Ben menatapnya dengan wajah heran.
"Ada apa Ben?"
"Kau bertambah dewasa sekarang. Kata-katamu semakin bijaksana. "
Fàith hanya terkekeh " Aku pulang dulu ya...kembarku pasti sudah menungguh."
Ben menatap kepergian Faith dengan perasaan senang. Ia memang pernah sangat mencintai Faith. Tapi perasaannya terhadap Faith saat ini hanya sebatas kakak terhadap adiknya.
Ezekiel menatap istrinya yang masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana sayang?"
"Aku pikir tante Alicia terlalu menyayangi Ben. Ben akan baik-baik saja. Hanya memang ia butuh sendiri."
"Kira pulang sekarang?"
"Ya sayang."
Ezekiel menjalankan mobilnya. Membelah malam kota London yang dingin.
MAKASI YA YANG TETAP SETIA BACA
AKU TAK MARAH ATAU TERSINGGUNG JIKA ADA YANG MENGOMENTARI NOVELKU DENGAN KATA2 YANG KURANG MENYENANGKAN KARENA BAGIKU ITU BAGAIKAN CAMBUK UNTUK MEMBUATKU LEBIH SEMANGAT.LAGI
__ADS_1