My Best Photo

My Best Photo
Proses menjadi mama


__ADS_3

Sudah hampir setengah isi lemari pakaian yang Maura keluarkan namun tak ada satupun yang cocok dipakainya.


Ben yang baru selesai mandi terkejut melihat kamar yang sedikit berantakan.


"Sayang...ada apa?" tanyanya kaget.


"Ben...dua hari lagi Ficlen kan akan menikah dengan Mira, dan aku nggak punya gaun lagi untuk dipakai. Semuanya sudah sempit. Pada hal kandunganku baru masuk minggu ke-14 tapi kok badanku sudah segendut ini ya?"


"Sayang, kamu saja yang merasa gendut. Badanmu masih sama seperti yang dulu. Tapi ada yang menonjol dibeberapa bagian, seperti pinggangmu, perutmu, gunung kembarmu!" ujar Ben sambil tersenyum. Ia mendekati Maura, berlutut di depan istrinya itu sambil mencium perut Maura berulang-ulang.


"Sayang...bilang sama mommy, tak masalah kalau mommy gendut. Karena kamu sedang bertumbuh didalam. Mommy juga jangan takut karena daddy tak akan melirik gadis lain"


Maura jadi haru."Ben...kamu selalu tahu bagaimana menghiburku"


Ben berdiri "Akukan suamimu. Tahulah bagaimana menenangkan istri cantiknya ini" Ben hendak mencium istrinya namun Maura tiba-tiba saja mundur.


"Ben...kamu mandi pakai sabun lagi?" seru Maura sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Sayang, aku sudah tak tahan. Sudah hampir sebulan mandi tak boleh pakai sabun, shampo. Aku kan lihat akhir-akhir ini kamu sudah jarang mual dan muntah jadi aku pikir tidak masalah jika aku pakai sabun" kata Ben membela diri.


"Jangan dekati aku kalau harumnya belum hilang ya.." Kata Maura sambil menuju ke kamar mandi. Terdengar ia kembali muntah di sana.


Hp Ben berbunyi "Hallo..."


"Hallo Ben...ini aku Joe"


"Ada apa?"


"Oma Elisa Thomson meninggal dunia pagi ini"


"Astaga Joe, bukankah kemarin kalian masih pergi ke makam dalam untuk memperingati kematian opa Daren?" Ben sungguh terkejut.


"Iya. Tapi oma rupanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan opa. Pemakamannya besok siang"


"Aku akan datang sekarang."


Maura yang baru keluar dari kamar mandi menatap Ben dengan dahi berkerut "Ada apa sayang?"


"Omanya Ezekiel meninggal. Aku mau pergi ke sana ya?"


"Aku ikut, Ben!"


"Besok saja di acara pemakamannya. Hari ini masih persiapannya. Aku takut nanti kamu kelelahan di sana. Oma Elisa sangat baik padaku. Jadi aku akan ke sana untuk melihat apa yang bisa ku bantu" kata Ben lalu segera masuk ke dalam walk in closet dan mengganti pakaian rumahnya.


Maura mengangguk. Ia juga sedikit merasa pusing karena mual yang ia rasakan.


"Sayang, aku pergi dulu ya!" pamit Ben. Ia tahu kali ini harus pergi tanpa mencium istrinya itu. Namun sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu, Ben menoleh,"Jangan khawatirkan masalah baju untuk ke pesta karena mommy sudah membuatnya untukmu. Kau jangan pernah lupa memiliki ibu mertua seorang perancang terkenal." kata Ben sambil mengerlingkan matanya dan segera menghilang di balik pintu.


Maura tersenyum senang. Tangannya membelai perutnya sambil berkata," sayang, daddy pun selalu tahu apa yang mommy butuhkan."


***********


Para tamu dan kerabat sudah banyak yang meninggalkan kediaman keluarga Thomson. Namun Ben dan Maura memilih untuk tinggal lebih lama karena Faith meminta mereka untuk makan malam bersama.

__ADS_1


Maura duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh yang dibawakan Faith untuknya. Perempuan cantik itu pun duduk di dekat Maura sambil memijat kakinya.


"Kau pasti kelelahan menerima ucapan bela sungkawa dari mereka semua" kata Maura.


"Iya. Aku memang agak lelah dan sedikit mual"


"Apakah kau belum makan?" tanya Maura prihatin.


"Tidak. Aku sedang hamil"


Wajah Maura terlihat terkejut sekaligus senang "Ini kabar yang sangat menggembirakan ditengah suasana dukacita ini."


"Ya. Aku baru saja mengetahuinya kemarin. Aku dan Ezekiel begitu bahagia dan ingin mengatakan pada oma, namun ternyata oma sudah pergi meninggalkan kami semua"


Maura memegang tangan Faith "Aku yakin, oma pergi karena dia tahu kalau kau sudah siap untuk menjadi nyonya Thomson seutuhnya di rumah ini"


"Terkadang aku kangen pulang ke Manado. Aku rindu Indonesia. Namun Tuhan sudah memberikan aku keluarga yang harus ku jaga di sini. Suami dan anak-anakku."


"Aku juga masih terus merindukan Medan. Namun Ben sudah membuat aku harus tinggal di sini. Mungkin sesekali kita harus sama-sama pulang ke Indonesia"


"Usul yang baik." sambut Faith antusias.


"Bunda...!" panggil Caleb sambil mendekat.


"Hallo sayang....!" Faith membuka tangannya dan membiarkan Caleb masuk dalam pelukannya.


"Aku kangen oma...!" ujar Caleb


Wajah sedih Caleb langsung berubah senang "Oh..iya. Caleb hampir lupa" wajah tampannya kini menatap Maura.


"Bibi Maura, apakah bibi juga akan punya anak? Soalnya perut bibi besar" tanya Caleb


Maura mengangguk "Iya Caleb. Anak bibi akan lebih dulu lahir dari adikmu."


"Bolehkah aku memegangnya?" tanya Caleb lagi.


"Tentu saja boleh." kata Maura dengan senangnya.


"Bibi...apakah dia seperti Chloe adikku atau seperti aku?"tanya Caleb penasaran.


"Kalau itu bibi belum tahu sayang. Mungkin tak lama lagi akan ketahuan jenis kelaminnya"


Caleb membelai perut Maura lagi " Aku mau dia kayak Chloe supaya dia akan cantik seperti bibi."


Wajah Maura tersipu merah "Terima kasih sayang...!" Maura tak tahan dan langsung memeluk Caleb dengan gemasnya.


Pengasuh Caleb datang dan membawa Caleb pergi untuk ganti pakaian.


"Kau mengajari anak-anakmu bahasa Indonesia?" tanya Maura saat Caleb sudah pergi.


"Ya. Aku mau mereka bukan hanya tahu bahasa Inggris tetapi juga bahasa Indonesia. Supaya saat mereka pergi ke Indonesia, mereka akan merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Kan ibunya orang Indonesia." kata Faith dengan bangganya.


"Aku kagum padamu, Faith. Usia kita sama, tapi kamu sangat dewasa dalam berpikir"

__ADS_1


Faith menepuk tangan Maura lembut "Mungkin karena aku yang lebih dulu menikah dan lebih dulu memiliki anak. Percayalah waktu akan membuat kita menjadi sangat dewasa." Faith berdiri "Aku akan melihat apakah makan malamnya sudah siap"


Maura mengangguk dan menatap kepergian Faith dengan rasa kagum. Dia merasa bersyukur mengenal dan berteman baik dengan Faith karena dia banyak belajar dari perempuan berdarah Sunda-Manado itu.


************


Mata Ben langsung melotot melihat Maura yang masuk ke ruang resepsi sambil digandeng oleh mommynya.


Ben memang sudah datang lebih dulu ke acara pernikahan ini untuk mengontrol para asistennya yang bekerja untuk meliput acara pernikahan Ficlen dan Mira.


Mira kelihatan cantik dengan gaun putih yang dirancang oleh Alicia untuknya. Gaun itu diatur sedemikian rupa sehingga perut Mira yang sudah agak besar itu tidak terlalu menonjol.


"Mommy...mengapa membuat baju seperti ini untuk istriku?" tanya Ben saat Alicia dan Maura sudah duduk di kursi.


"Kenapa Ben? Kamu kan bahkan sudah sering melihat banyak perempuan berpakaian lebih seksi dari ini.?" Alicia menatap anaknya heran.


"Lagi pula baju Maura tidak terlalu mencolok"


Maura mengangguk tanda setuju.


Ben memperhatikan lagi penampilan istrinya. Gaun berwarna merah jambu tanpa lengan, belahan dada yang berbentuk V dan agak rendah, rambut yang digulung ke atas dengan menggunakan sebuah jepit rambut yang senada dengan warna bajunya, membuat leher dan punggung Maura terbuka bebas dan menampilkan kulit eksotisnya. Ben yakin banyak pria bule yang suka dengan jenis kulit yang dimiliki Maura.


"Mommy, lain kali sebelum memutuskan gaun apa yang akan mommy buat bagi istriku ini, mommy harus diskusi denganku dulu ya.." bisik Ben pada mommy nya dan membuat wanita itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa yang Ben bisikan, mom?" tanya Maura penasaran.


"Ben takut kalau ada laki-laki lain yang melirikmu karena memakai gaun yang sedikit terbuka." Kata Alicia membuat Ben langsung protes.


"Mom, bukan itu yang kukatakan"


"Tapi tujuan dari perkataanmu adalah itu." tuding Alicia lalu segera berdiri "Mommy akan mendampingi Mira dulu ya.."


Maura menatap suaminya heran "Ada apa, Ben?"


"Tidak." jawab Ben cepat. Ia lalu membuka jas yang dikenakannya "Sayang, kamu nanti kedinginan dengan punggung yang agak terbuka itu. Pakai saja jasku. Aku juga takut nanti bayi kita kedinginan"


Maura mengerutkan dahinya lalu menggelengkan kepalanya "Aku merasa kalau otakmu sedikit terganggu, Ben." katanya sambil menatap kedua pengantin yang nampak sangat berbahagia di atas sana.


Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur saja ia tak rela melihat tubuh istrinya sedikit terbuka. Karena yang terlihat itu adalah bagian terfaforit Ben untuk dicium dan disentuhnya.


"Sayang...beneran tak merasa dingin?" tanya Ben dengan suara memelas.


Maura menatap suaminya tajam "Jasmu akan membuat gaun ini jadi tak cantik. Namun jika kamu masih memaksa, maka malam ini kau tidur di sofa"


Ben mengigit bibirnya menahan rasa kesalnya. Namun saat Maura menoleh ke arahnya, dia pura-pura tersenyum.


*Oh...senangnya jadi ibu hamil...


MAKASI SUDAH BACA PART INI


KALAU ADA TYPO HARAP DIMAKLUMI


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE*

__ADS_1


__ADS_2