
Hari ini Maura akan mengajak putri cantiknya itu keluar. Mereka akan ke ulang tahun yang pertama anaknya Mira.
Maura sudah memakaikan Grace gaun berwarna pink, senada dengan gaun yang dipakainya. Semua gaun ini dibuat sendiri oleh Maura.
Jam 4 sore, Ben sudah menjemput mereka di rumah.
Grace langsung diletakan di kursi khusus bayi yang ada di belakang, lalu ia sendiri duduk di samping suaminya.
"Sayang....jangan tampil terlalu cantik seperti inilah. Nanti banyak orang yang akan menatapmu. Aku kan jadi cemburu!"
Maura menatap suaminya sambil menyipitkan matanya "Ben, penampilanku ini biasa saja. Bajuku juga tidak seksi"
"Iya sayang, aku tahu. Tapi aku merasa bahwa akhir-akhir kamu semakin cantik saja. Ada yang berubah dengan dirimu!" kata Ben sambil menyentuh tangan istrinya. "Apalagi saat semalam kamu menggodaku dengan gaya yang sangat menantang. Aku suka itu"
Wajah Maura langsung bersemu merah mengingat apa yang dilakukannya semalam. Entah kenapa sejak sore hari, dia ingin agar Ben cepat pulang. Dia ingin memeluk tubuh kekar suaminya itu. Bahkan dengan beraninya dia mengirim sms menggoda pada Ben.
Sayang...cepat pulang ya...ingin dipeluk
Ben sendiri sangat terkejut menerima sms nakal dari istrinya itu. Maura sama sekali tak pernah mengirimnya pesan seperti itu. Pesan-pesan Maura terkesan biasa-biasa saja.
Ben, cepat pulanglah..Grace rewel cari daddynya
Atau....
Ben, pemotretannya masih lama nggak? Bosan sendiri di rumah...Grace nya bobo terus....
Semua pesan Maura, setelah mereka memiliki anak hanyalah tentang Grace saja.
Tadi malam, saat Ben pulang, Maura menyambutnya dengan ciuman hangat dan sedikit menggoda.
"Cepat tidurkan Grace. Aku menunggumu di sini!" bisik Maura setelah ciuman mereka berakhir. Ia bahkan menggigit cuping telinga suaminya. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan selama mereka menikah. Ben agak terperanjat. Ia menatap istrinya dengan wajah terkejut.
"Sayang....?"
Maura tertawa melihat wajah bingung suaminya.
"Pergilah cepat. Grace menunggumu!"
Dan ketika Ben kembali ke kamar setelah selesai menidurkan Grace, Maura sudah menunggunya dengan gaun tidur yang sangat seksi. Membuat Ben langsung membuka bajunya sendiri tanpa disuruh oleh Maura.
"Sayang...!" panggil Ben membuyarkan lamunan Maura tentang peristiwa liar yang dilakukannya semalam.
Maura menatap Ben dengan wajah yang masih merah menahan malu.
"Aku suka...!" ujar Ben sambil mengerlingkan matanya nakal.
"Suka apa?"
"Aku suka cara kamu mendominasiku semalam. Aku suka saat kamu yang menyentuhku dan..."
"Ben...stop!" Maura menepuk punggung suaminya agak keras. Membuat Ben tertawa..
"Jangan bicara mesum ketika ada Grace!"
"Grace sudah tidur sayang...!" kata Ben sambil menunjuk layar monitor yang ada di depan mereka. Grace memang duduk membelakangi mereka. Itulah aturan yang berlaku di sini. Anak bayi harus didudukan membelakangi kaca depan mobil.
Mobil Ben dilengkapi dengan kamera untuk melihat keberadaan Grace di belakang. Sehingga sekalipun Grace duduk sendiri, mereka dapat terus mengontrolnya.
"Jangan bicara sembarangan. Konsentrasilah kalau menyetir!" ketus Maura padahal ia sedang berusaha menutupi rasa malunya.
Ben hanya terkekeh. "Sebentar malam bisakah kita mengulanginya lagi?"
"Ben....! kamu tuh genit ya..." Maura langsung mencubit pinggang suaminya..
"Sayang...sakit..!" keluh Ben.
"Supaya kamu diam....!"
Mereka akhirnya tiba di kediam Ficlen dan Mira. Semenjak Mira melahirkan, mereka memang sudah pindah ke salah satu kawasan perumahan Elit di kota London.
Alicia dan Bryan sudah lebih dulu hadir di sana. Mereka berdua memang selalu menempatkan diri sebagai orang tua yang selalu memperhatikan Mira yang sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.
Chalista Jeirina, demikianlah Mira menamakan anaknya. Gadis manis dengan manik hitam itu memang sangat mirip dengan Ficlen. Siapapun yang tidak mengetahui masa lalu Mira pasti akan percaya kalau anak itu adalah buah pernikahan Ficlen dan Mira.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang!" kata Mira sambil memeluk Maura dan Ben secara bergantian.
"Hallo Grace....!" Mira mencium pipi cabi Grace yang tertawa senang menerima ciuman itu.
Acara ulang tahun yang pertama dari Chalista dirayakan hanya bersama keluarga dan beberapa teman baik Ficlen.
"Caleb...? Kau juga ada di sini? tanya Maura saat melihat generasi ke 4 keluarga Thomson itu ada di sana.
"Hallo bibi..., bolehlah aku mencium Grace?" tanya Caleb. Di belakangnya berdiri Ezekiel yang sedang memegang tangan Chloe.
"Tentu saja boleh..!" Maura yang sementara berdiri langsung duduk di sebuah kursi yang ada didekatnya sehingga akan memudahkan Grace disentuh oleh Caleb.
"Caleb...ciumnnya di pipi saja ya?" celutuk Ben yang membuat Maura melotot ke arahnya.
Ezekiel menepuk pundak Ben "Biarkanlah Caleb mencium Grace dimana saja yang dia inginkan. Sebab putraku ini sangat antusias datang ke acara ulang tahun ini karena ia tahu Grace pasti datang."
"Cih...bapak sama anaknya sama saja. Suka memaksa!" cicit Ben sambil berkacak pinggang
"Hei....Grace pasti akan suka pada Caleb. Karena anakku ini akan menjadi salah satu cowok berkualitas di London ini!"
Caleb menatap daddy dan Ben secara bergantian "Daddy dan paman bisa diam nggak sih? Aku jadi nggak konsentrasi untuk mencium Grace"
Faith yang baru mendekat bersama Erland kecil yang berusia 3 bulan langsung tertawa mendengar putranya itu.
"Caleb....!"
Caleb memandang bundanya "Bunda...aku boleh mencium Grace kan? Bibi Maura juga sudah memberikan ijin"
"Tentu saja sayang...!" ujar Faith.
Caleb tersenyum ke arah Grace yang sedang menatapnya juga dengan wajah yang gembira.
Caleb memajukan tubuhnya dan mencium bibir Grace dengan lembut.
Baby Grace nampak senang menerima ciuman itu. Dia bahkan memegang pipi Caleb sambil mengeluarkan suara khas bayi.
"Daddy...Grace bicara apa?" tanya Chloe bingung.
Sebelum Ezekiel bicara, Caleb tiba-tiba saja berucap dengan gaya yang sangat bangga "Grace bilang kalau dia senang aku menciumnya"
"Grace...daddy tetap number one ya..!"
Grace tertawa kecil sambil melompat-lombat minta di gendong oleh Ben.
Maura memberikan anaknya pada Ben lalu mengajak Faith duduk di dekatnya.
"Baby Erland nya tampan" ujar Maura sambil membelai kepala Erland dengan lembut.
"Dia adalah perpaduan Opa dan Oma Thomson"
"Ya. Aku baru saja akan mengatakannya"
"Kamu tidak memberikan asi lagi pada Grace?" tanya Faith saat dilihatnya Ben memberikan botol susu pada Grace.
"Sudah hampir 2 bulan ini Grace tak mau lagi minum asiku. Aku juga tak tahu kenapa"
Faith memandang Maura "Apakah kamu hamil?"
Maura tertawa mendengarnya "Mana mungkin. Aku memang tidak memakai alat kontrasepsi karena sedang menyusui. Ben yang selalu menggunakan pengaman jika aku sedang masa subur"
"Maaf kalau aku salah. Tapi aku melihat wajahmu sedikit berubah. Katanya jika kita hamil, aura wajah kita akan berubah. Apakah kamu tak merasakan apapun?"
Maura menggeleng. Apa yang diungkapkan oleh Faith sungguh membuatnya khawatir. Bagaimana jika dia memang hamil??
***********
Ben yang sementara menggenakan kemejanya, menatap Maura dengan penuh tanda tanya saat melihat istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan wajah senduh.
"Ada apa sayang?" tanya Ben sambil mendekat dan memegang kedua sisi bahu istrinya.
Maura tak bicara. Ia hanya menyodorkan testpack yang ada ditangannya. Sejak kemarin percakapannya dengan Faith membuatnya gelisah dan memutuskan untuk melakukan tes di pagi ini. u
Ben mengambilnya dan langsung tersenyum.bahagia "Kamu hamil lagi?" tanya Ben dengan tatapan mata yang berseri.
__ADS_1
"Iya Ben."
Ben langsung memeluk istrinya dengan rasa bahagia sambil mencium dahi dan pipi Maura secara berulang-ulang.
"Sayang....ini kabar yang sangat membahagiakan"
"Ben, aku takut. Grace masih kecil Usianya saja baru 8 bulan 1 minggu. Apakah hamil diwaktu yang berdekatan tidak ada efek sampingnya?"
Ben menangkup pipi Maura dengan tangannya "Sayang, aku yakin kita akan bisa melalui semua ini. Aku janji akan mengurangi waktuku di luar rumah dan akan fokus menjagamu, Grace dan Gionino Bramantio Aslon" kata Ben sambil memegang perut Maura.
"Gionino Bramantio Aslon?"
" Ya. Itu nama anak kita nanti!"
"Tapi kan itu nama anak laki-laki"
"Aku yakin kalau anak kita laki-laki dan akan sangat mirip denganku"
"Oh ya?"
"Kali ini kamu tidak minta yang aneh-aneh, tidak mual saat aku pakai minyak wangi. Yang ada justru..." Ben sengaja mengantung kalimatnya. Tangannya melingkar indah dipinggang Maura. "Justru kamu jadi lebih bergairah akhir-akhir ini. Aku yakin ini karena hormon kehamilanmu. Sudah jelaslah dia cowok. Sedikit nakal seperti daddy nya"
Maura mendorong tubuh Ben dan segera masuk walk in closet untuk mengganti bajunya. Dirinya mengakui bahwa dia memang sedikit berubah dalam urusan ranjang akhir-akhir ini.
*********
Kehamilan Maura yang kedua ini memang sama sekali tak merepotkannya. Ia tak merasakan mual dan muntah yang berlebihan atau minta makanan yang aneh-aneh.
Ia menjalaninya dengan sangat senang karena Ben membuktikan ucapannya dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk Maura dan Grace.
Di satu sisi, Maura sedikit sedih karena Alicia dan Ben membatasi dirinya untuk memeluk Grace terlalu lama karena kebiasaan Grace yang suka melompat-lompat jika dipeluk.
Sampai saatnya bagi Maura untuk melahirkan dan ia terpaksa harus menjalani operasi sesar karena bayi yang akan dilahirkannya berbobot 4,2 kg.
"Wellcome to the world my Gionino Bramantio Aslon!" kata Ben dengan bangganya saat memeluk putranya itu untuk pertama kali. Perasaan haru dan senangnya sama seperti ia melihat Grace untuk yang pertama kali.
"Terima kasih sayang...terima kasih sudah melengkapi mahligai rumah tangga kita dengan sepasang malaikat kecil ini" kata Ben sambil mencium bibir Maura secara berulang-ulang.
"Terima kasih juga karena sudah menjadi suami siaga, sayang...!"
"Tidak takut kan untuk punya anak lagi?"
Maura membelalakan matanya. Ia yang masih terbaring lemah mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah, Ben. Dua saja cukup."
"Kenapa? Ezekiel dan Faith, anak mereka saja 3. Aku juga dong...!"
"Boleh...tapi kamu yang hamil dan melahirkan ya?"
Keduanya tertawa bersama. Ben mencium Maura sekali lagi. Kebahagiaan hidup sudah Tuhan anugerahkan padanya. Ben merasa hidupnya sempurna dan dia tidak akan pernah menggantikan keluarganya ini dengan apapun juga.
***********
Sebuah foto keluarga berukuran jumbo sudah tergantung di ruang kerjanya. Ben merasa inilah foto terbaik yang pernah dibuatnya. Foto itu menampakan wajah-wajah yang bahagia. Ada dirinya yang sedang memeluk Maura dari samping sementara Grace dan Gionino sedang duduk di kursi yang diletakan didepan mereka.
"Dad....!"
Suara itu mengalihkan pandangan Ben dari foto keluarganya. Ia menoleh ke arah pintu. Nampak Grace berdiri di sana dengan sepatu roda yang masih membungkus kaki jenjangnya..
"Jadi pergi ngggak?" tanya Grace. Putrinya itu kini berusia hampir 7 tahun.
Hari ini Grace akan mengikuti lomba sepatu roda se kota London.
"Daddy nanti menyusul ya? Masih ada satu pekerjaan."
"Ya sudah, aku pergi bersama kak Caleb saja..Tuh kak Caleb sudah di depan dengan sopirnya" Kata Grace lalu membalikan badannya dan melangkah pergi.
"Grace...! Daddy ikut sekarang!" Ben langsung berdiri dan menyusul putrinya itu. Dia tak mau Caleb merebut posisinya sebagai lelaki pertama dalam hati Grace.
Daddy posesif....😄😄😄
Bagaimana kisah ini?
Koment ya....
__ADS_1
Jangan lupa like dan Vote