My Best Photo

My Best Photo
Perjuangan Cinta (Part 2)


__ADS_3

Senyum di wajah Maura tergambar dengan jelas saat ia keluar dari badan pesawat yang membawanya terbang dari London ke New York.


Tak terlihat sedikitpun wajah lelahnya karena duduk selama berjam-jam di dalam pesawat. Rasa rindunya begitu menggebu membuatnya ingin segera berjumpa dengan Ben.


Maura tak membawa koper yang besar. Ia hanya membawa sebuah koper kecil dan tas dukung untuk membawa keperluannya.


Ia pun menatap alamat yang dikirim oleh Faith. Semalam, setelah mencarinya melalui google maps, Maura tahu alamat ini bukanlah ditengah pusat kota New York melainkan deerah pinggiran New York.


Maura sudah memesan sebuah kamar di hotel yang ada di kompleks alamat itu. Setelah melakukan cek in dan membawa barang-barangnya ke kamar, Maura langsung keluar untuk segera mencari Ben.


Sekalipun ini adalah pengalaman pertamanya datang ke kota ini, namun Maura tak gentar. Ia bahkan menolak tawaran Iriana yang ingin menemaninya datang ke sini karena Iriana sudah lebih dari 10 kali datang ke kota ini.


Ia bertanya pada resepsionis hotel tentang alamat yang akan ditujunya. Kemudian, Maura langsung keluar dari hotel. Sang resepsionis mengatakan kalau alamat yang ditujunya hanyalah dua blok dari hotel ini sehingga Maura memutuskan untuk jalan kaki saja.


Setelah melewati dua blok yang ada, Maura sampai di daerah pecinan. Ia pun kembali bertanya pada seorang pedagang jalanan dan pedagang itu menunjukan sebuah kedai kopi yang letaknya tepat di depan tempatnya berdiri.


Dada Maura berdetak sangat cepat. Tak lama lagi ia akan bertemu dengan kekasih hatinya.


Kaki Maura sudah bersiap untuk menyeberangi jalan saat ia melihat seseorang yang keluar dari kedai kopi itu. Seseorang yang selama 3 bulan ini begitu ia rindukan. Ia sangat tampan dengan kaos ablong dan celana pendek selututnya.


Maura hampir saja berteriak memanggil namanya namun ia mengurungkan niatnya saat melihat seorang gadis manis yang tinggihnya hampir sama dengan Ben keluar juga dari kedai kopi itu dan langsung bergelut manja di lengan Ben.


Gumpalan rasa rindu yang selama ini ada dalam hatinya seakan hancur berkeping-keping apalagi saat ia melihat Ben tiba-tiba mengusap perut gadis itu sambil tersenyum. Entah apa yang Ben katakan yang pasti gadis itu nampak bahagia dan menyandarkan kepalanya dilengan Ben.


Air mata Maura langsung jatuh tanpa bisa ditahannya. Saat kepala Ben menoleh ke arahnya, Maura buru-buru membalikan badannya dan bersembunyi dibalik sebuah tiang listrik.


Saat Maura mengintip kembali, Ben sudah membukakan pintu mobilnya bagi gadis itu dan setelah itu ia pun duduk di belakang kemudi dan mobil itu perlahan pergi.


Maura keluar lagi dari tempat persembunyiannya. Ia menatap mobil itu yang sudah menjauh, lalu ia berlari meninggalkan tempat itu. Ia terus berlari tanpa tahu kemana arah yang harus ia tujuh. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah taman dan duduk lemas di salah satu bangku beton yang ada.


Tak peduli dengan semua orang yang ada di sana, Maura pun menangis dengan sangat kuat. Bahunya sampai terguncang.


"Ben....Ben.....!" panggil Maura dalam tangisnya. Maura merasa tenaganya hilang.


********


Mata indahnya itu kini sudah sangat bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia masih berbaring dengan lesuh. Tak tahu harus berbuat apa.


Hp nya terus berbunyi. Setelah sekian lama diabaikannya, Maura akhirnya mengangkat hp nya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.


"Hallo..." sapa Maura dengan suara serak.


"Maura...aku meneleponmu sejak tadi namun kau tak mengangkatnya. Ada apa?" terdengar suara lembut Faith.


"Faith, aku hancur....aku tak punya kekuatan lagi. Aku melihat Ben bersama seorang gadis."


"Maura, apakah kau sudah menyapanya? Kau sudah mendekatinya?"


"Tidak....aku melihatnya dari jauh. Namun mereka nampak mesra. Ben bahkan mengusap perut gadis itu. Apakah perempuan itu hamil?"


Terdengar suara napas Faith yang berat dari sana.


"Maura, apakah kau percaya dengan Ben?"


"Di saat seperti ini haruskah aku percaya?" tanya Maura frustasi.

__ADS_1


"Beranikan dirimu untuk berhadapan dengannya, Maura. Aku memang sudah tahu kalau ada seorang gadis di sana. Namun aku tak tahu apa hubungan Ben dengannya. Jadi sebelum kau salah menduga, temuilah dia."


"Aku takut, Faith. Aku takut jika ternyata itu adalah kekasihnya"


"Beranilah menghadapi kenyataan seberat apapun itu. Jika memang itu adalah kekasihnya, maka kau harus berbesar hati menerimanya. Namun jika ternyata apa yang kau lihat bukan kenyataan yang sebenarnya, bagaimana? Foto itu contohnya"


"Baiklah. Terima kasih, Faith. Aku senang kau selalu menguatkan aku." kata Maura. Ada sedikit kekuatan yang didapatkannya saat mendengar perkataan Faith.


"Kita adalah saudara. Jangan lupakan itu. Kita juga adalah perempuan-perempuan Indonesia yang tangguh. Aku selalu berdoa untukmu sayang. Telepon aku kapan saja jika kau membutuhkan teman untuk bicara. Aku selalu ada untukmu"


"Ok. Bye....!" Maura meletakan kembali hp nya. Ia mencoba memejamkan matanya. Sekalipun agak sulit, namun menjelang subuh, dia akhirnya bisa terlelap.


*******


Bunyi lonceng kecil yang digantung di pintu terdengar saat Maura mendorongnya.


"Selamat datang....!" seraut wajah cantik, dengan mata green dan rambut blonde menyapa Maura dengan senyum ramahnya.


Maura terkesima. Ia harus jujur mengakui kalau gadis ini sangat cantik. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba saja memenuhi ruang hatinya saat mengingat bagaimana manjanya gadis itu pada Ben kemarin.


"Silahkan duduk. Silahkan pilih menu kopi apa yang anda sukai. Kami juga menyiapkan beberapa jenis kue dan roti. Semuanya masih panas."


Maura hanya mengangguk. Ia langsung melihat daftar menu dan menulisnya secara asal.


Saat Maura menyerahkan daftar menunya, perempuan bermata green itu segera menuju ke pantri dan menyiapkannya.


Kedai kopi ini nampak sepi. Mungkin karena waktu minum kopi sudah lewat karena sekarang sudah jam 11 siang.


Maura menyapu bersih seluruh isi ruangan kedai sambil mencari keberadaan Ben.


Apakah Ben hari ini tidak masuk?


"Terima kasih..!" ujar Maura.


Perempuan itu tersenyum. " Apakah ini pertama kali kau datang ke kedai kami?"


Maura mengangguk. Ia lalu mengulurkan tangannya.


"Aku, Maura..!"


perempuan itu tersenyum. "Wah, nama kita hampir sama. Kalau aku Mira. Mira Houston"


"Maura Belinda!"


"Nama yang cantik. Boleh aku duduk di sini. Kebetukan kedainya sepi kalau jam seperti ini. Nanti ramai lagi kalau sudah sore"


"Silahkan!"


Mira duduk di depan Maura "Kau orang Asia?"


Maura mengangguk "Aku dari Indonesia"


"Indonesia negara yang cantik!"


Maura kembali tersenyum. Dia ingin bertanya tentang Ben namun entah mulutnya bagaikan terkunci.

__ADS_1


"Tidak ada orang lain di sini?" tanya Maura akhirnya.


"Kami hanya bertiga saja di sini dan...." Mira tiba-tiba saja berdiri "Maaf...!" ia setengah berlari meninggalkan Maura dan masuk ke toilet.


Beberapa menit kemudian ia keluar lagi dengan wajah yang sedikit pucat.


"kamu baik-baik saja?" tanya Maura.


"Ya. Ini hal yang biasa bagi perempuan yang sedang hamil muda"


Maura terpana "Hamil?"


Mira tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Ya. Dan ini membuatku sangat bahagia."


Lutut Maura terasa bergetar. Untung saja ia sedang duduk. Jika posisinya sedang berdiri, sudah dipastikan ia akan jatuh.


"Selamat menikmati kuenya, Maura. Ada yang harus ku kerjakan di dapur!" pamit Mira dan segera melangkah meninggalkan meja tempat Maura duduk.


Dada Maura terasa sesak. Ia bahkan tak bisa lagi menahan air matanya.


Ya Tuhan, kuatkan aku....aku mohon padamu. Ben dan perempuan ini pasti ada hubungan.


Suara lonceng diiringi dengan terbukanya pintu masuk di kedai itu, membuat Maura buru-buru menghapus air matanya.


"Aku pulang...!"


Deg


Deg


Deg


Maura secara spontan menoleh ke arah pintu masuk.


Sosok tampan berambut coklat dengan sejuta pesona yang belum hilang dari wajahnya itu membuat jantung Maura berdetak sangat cepat.


Maura rindu...sangat rindu pada kekasihnya itu. Ia langsung berdiri dan mendekati Ben yang sementara melangkah menuju ke pantry.


Tatapan mata mereka bertemu, saat Maura menghadang langkah lelaki yang selama 3 bulan ini sangat dirindukannya. Tangannya memegang pipi Ben dan dengan tangisan yang tertahan, ia berkata,


"Ben....aku sangat merindukanmu!"


Ben menatap gadis di depannya dengan wajah bingung. Ia bahkan menarik tangan Maura yang memegang pipinya.


"Sorry, do we know each other?" tanya Ben lalu menatap Mira yang sudah berdiri di sampingnya.


Maura terkejut "Ben....ini aku, Maura?"


"Maura?" Ben mengerutkan dahinya. "Who is Maura?"


Maura semakin terkejut. Ia menatap Ben dengan hati yang sangat sakit. Lupakah Ben padanya? Atau Ben pura-pura lupa karena ada Mira di sampingnya?


Detik itu juga, Maura kehilangan kesadarannya dan sebelum ia jatuh, sebuah lengan yang kokoh sudah memeluknya.


MAKASI SUDAH BACA PART INI

__ADS_1


DI LARANG BAPER


POKOKNYA JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARNYA DAN VOTE...😂😂😂😂


__ADS_2