My Best Photo

My Best Photo
Medan


__ADS_3

Begitu kakinya keluar dari pesawat, satu tempat yang ingin langsung Maura pergi. Ke pemakaman keluarga yang tak jauh dari rumahnya.


Air matanya langsung tumpah saat ia duduk di dekat batu nisan yang bertuliskan :


 


REST IN PEACE


ISTRI DAN MAMA TERCINTA


YULIANA NASUTION


"Mama.....!" panggil Maura. 8 tahun ia menahan kerinduan untuk bisa datang ke makam ibunya. Dan hari ini, Maura akhirnya bisa melihat lagi tempat dimana ia bisa mengenang sosok seorang mama yang sangat mengasihi dan memanjakannya.


"Hallo, ma. Perkenalkan namaku Benecdik Aslon. Aku adalah suaminya Maura. Tapi aku yakin mama pasti sudah mengenalku dari atas sana. Aku akan menjaga Maura." kata Ben sambil ikut berjongkok di samping Maura.


Sejenak Maura menatap Ben. Wajah suaminya itu nampak serius.


"Inda.....holong...."


Panggilan itu membuat Maura dan Ben sama-sama menoleh. Nampak seorang pria berusia 40an sedang berdiri di sana. Memandang Maura dengan penuh kerinduan. Maura langsung berdiri dan berlari memeluk pria itu.


"Tulang....." tangis Maura langsung pecah.


(Tulang adalah panggilan untuk paman)


Lelaki itu menepuk punggung Maura lembut. Setelah itu melepaskan pelukannya.


"Papamu menelepon meminta aku untuk menjemputmu namun saat tiba dibandara tadi, kamu sudah pergi"


Maura tersenyum "Aku begitu rindu untuk datang ke makam mama."


Eric, paman Maura menatap Ben.


"Ini suamimu?" tanya Eric.


"Perkenalkan namaku Ben Aslon. Suaminya Maura"


Eric nampak terkejut melihat Ben bisa berbahasa Indonesia " Bahasa indonesiamu sangat bagus"


"Aku belajar banyak untuk Maura" kata Ben sambil melingkarkan tangannya di bahu Maura.


Dasar suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Ben menatap Maura "Sayang....ada apa?"


Maura memasang senyum palsunya.


Erick tersenyum memandang pasangan suami istri itu "Ayo kita ke rumah. Kalian pasti lapar dan lelah" ajak Erick lalu melangkah lebih dulu.


"Lepaskan tanganmu!" Maura mencubit pinggang Ben.


"Sayang, kita ini kan masih pengantin baru. Ini bulan madu kita. Jadi tampil mesra itu adalah sebuah kewajiban"


Maura akhirnya menyerah. Bahkan ketika tangan Ben yang tadinya ada dipundaknya turun ke bawa merangkul pinggangnya, ia pun diam.


Sebuah rumah mewah yang letaknya tak jauh dari kompleks pemakaman itu sudah ada di depan mereka.


Rumah ini masih seperti 8 tahun yang lalu. Hanya saja cat rumahnya yang dulu berwarna cream kini sudah diganti berwarna putih.


Tamannya pun masih terawat dengan baik. Kolam ikan pun masih ada.


Mata Maura kembali berkaca-kaca melihat semuanya masih seperti dulu.


"Inda....holong...." seorang perempuan berusia 40-an pun langsung memeluk Maura dengan penuh kasih.


"Nantulang....!"


(Nantulang artinya bibi, istri dari paman)

__ADS_1


"Kamu sangat cantik. London sudah mengubahmu sangat banyak. Kulitmu bahkan lebih putih sekarang"


"Nantulang....!" Maura mengkerucutkan bibirnya. Ia ingat bagaimana dulu kulitnya yang agak kecoklatan. Maura harus jujur mengakui bahwa London telah membuat kulitnya lebih cerah.


Rara tersenyum melihat bibir ponakannya sedikit cemberut.


"Itu suamimu? Wah, dia sangat ganteng !" puji Rara.


"Makasih" kata Ben sedikit bangga.


"Oh...dia terlanjur mendengarkan pujianku." Rara sedikit malu.


Ben mendekat dan langsung mengulurkan tangannya "Saya Ben. Suaminya Maura"


"Senang kenalan denganmu, Ben." Rara menyambut uluran tangan Ben.


"Kalian mandi dulu. Hari sudah hampir malam. Setelah itu kita akan makan malam bersama. Kamarmu yang dulu sudah tulang perbaiki sehingga menjadi luas." kata Eric.


"Terima kasih tulang" Maura segera menaiki tangga menuju ke lantai dua. Ben mengikutinya dari belakang sambil membawa koper mereka.


Saat pintu terbuka, Maura kembali ada dalam perasaan haru. Kamarnya sudah lebih luas. Tempat tidurnya bahkan sudah diganti dengan yang lebih besar. Namun lemari bajunya, pernak pernik yang ada di kamarnya bahkan poster Arnold Manola masih ada di sana.


Maura memeluk fotonya bersama Papa dan mamanya yang ada di atas meja. Saat itu Maura berulang tahun yang ke-12.


"Kau sudah mengidolakan Arnold sejak 8 tahun lalu?" tanya Ben.


"Sebenarnya itu sepuluh tahun lalu. Saat itu usia Arnold baru 18 tahun dan dia sudah berkarya selama 3 tahun."


Ah, Arnold ingin rasanya aku menurunkan postermu itu dan menggantikannya dengan fotoku. Semua wanita yang aku kenal mengindolakanmu. Faith dan sekarang Maura.


Ben menatap poster sahabatnya itu. Ben harus akui kalau suara merdu Arnold benar-benar membuat banyak perempuan terhipnotis dengannya.


(Mau tahu kisah cinta Arnold? komentar ya di bawa. Karena kisah cinta Arnold juga ada hubungannya dengan gadis Indonesia).


Selesai mandi dan ganti pakaian, mereka pun turun ke bawa untuk makan malam.


Mereka memiliki 2 orang anak. Yang tua bernama Dodi, sudah berusia 12 tahun dan yang kedua Lina, berusia 9 tahun.


Saat Maura meninggalkan Medan, kedua sepupunya itu masih kecil. Kini mereka sudah tumbuh menjadi cowok dan Cewek yang ganteng.


Dan Ben sangat senang berbincang dengan kedua anak ini karena mereka juga bisa bahasa Inggris.


Setelah selesai makan, Maura membantu bibinya membersihkan ruang makan.


Sementara Ben asyik bermain bersama Dodi dan Lina. Kedua anak itu asyik bertanya tentang negara Inggris dan tempat-tempat wisata.


"Besok pagi akan ada pelayan yang datang menyiapkan sarapan kalian. Tulangmu dan aku akan bekerja. Nanti sabtu baru kita akan bisa jalan-jalan ke vila. Anak-anak juga ke sekolah pulangnya nanti sore. Jadi 2 hari ini kau ajaklah suamimu keliling kota Medan. Nanti ada pak Bolna yang akan mengantar kalian" kata Rara sambil mengeringkan tangannya sesudah mencuci piring.


"Pak Bolna masih bekerja di sini?" tanya Maura sedikit terkejut. Pak Bolna dulu adalah sopir papanya.


"Ya. Dia sekarang menjadi sopir yang mengantar anak-anak ke sekolah."


Rara kembali ke ruang tamu.


"Ayo anak-anak, sekarang waktunya untuk istirahat. Kedua kakak kalian ini pasti sangat capeh." kata Rara.


"Kenapa tidak tidur di sini saja?" tanya Maura


Rara menggandeng suaminya "Kami pernah jadi pengantin baru jadi kami tahu kalau kalian pasti ingin berdua terus. "


Ben menatap Maura sambil tersenyum menggoda.


Maura justru menatapnya dengan mata melotot.


"Ben, kami pulang dulu ya..." pamit Erick.


Rumah paman dan bibi Maura letaknya hanya di samping rumah Maura. Pagar rumah mereka bahkan disatukan dan tak ada pagar pembatas diantara rumah itu.


Setelah paman dan bibinya pulang, Maura segera masuk ke kamarnya. Ia memang sangat lelah dan ingin segera tidur. Namun saat ia membuka kopernya untuk mengambil baju tidurnya, yang ia temukan adalah beberapa lingre yang sangat seksi.

__ADS_1


Dia pasti sengaja membawa semua baju ini. Dasar otak mesum. Tapi , masa aku akan tidur dengan memakai celana dan kaos ini.


Melihat istrinya masih berjongkok di depan kopernya, Ben tersenyum senang. Ia tahu kalau Maura lagi bergumul dengan baju tidur yang dibawahnya.


"Inda holong......ada apa?"


Maura menatap Ben dengan dahi berkerut "Memangnya kamu mengerti dengan panggilan itu?"


Ben tersenyum."Inda itu adalah nama panggilanmu di Medan ini, kependekan dari nama tengahmu Belinda. Dan holong itu artinya sayang..."


Maura hanya mendengus. Ia tahu Ben pasti dapat bocoran dari kedua sepupunya itu.


"Aku mau ke kamar mandi" kata Maura sambil membawa gaun tidurnya.


Selesai menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Maura pun mengenakan lingre itu.


Saat ia menatap ke cermin, ia sedikit terperanjat karena baju itu membuat lekuk tubuhnya kelihatan.


Bagaimana aku harus keluar dengan gaun tidur ini?


Maura membungkus tubuhnya dengan handuk.


Ben yang melihat Maura tak dapat menahan tawanya.


"Mengapa kamu tertawa?" seru Maura sedikit ketus.


Ben menggeleng "Aku ke kamar mandi dulu"


Saat Ben masuk ke kamar mandi, Maura pun segera membuka handuk dan naik ke atas tempat tidur sambil melemparkan handuk itu ke lantai kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.


Tak lama kemudian Ben keluar. Ia hanya menggunakan celana boxer tanpa atasan. Cuaca Medan yang panas membuat Ben agak gerah. Ia mengambil remote ac dan menyetelnya ke suhu yang paling dingin.


"Kau sudah tidur?" tanya Ben sambil naik ke atas tempat tidur.


Maura pura-pura tak menjawab. Ia terus memejamkan matanya.


Tangan Ben melingkar di pinggang Maura lalu ia mencium punggung Maura.


"Ma.....!" panggil Ben lembut. Tangan Ben yang ada dipinggang, menyusup masuk di balik gaun tidur tipis itu.


Maura berusaha menahan dirinya. Ia tak ingin terpengaruh dengan sentuhan Ben yang membelai tubuhnya. Apalagi kini Ben sudah menarik tubuhnya agar berhadapan dengan Ben.


"Ma, i want you..." bisik Ben lalu mulai mencium bibir Maura.


Maura berusaha untuk terus diam. Namun tubuhnya seakan merespon semua sentuhan Ben padanya. Tanpa sadar tubuhnya menggeliat. Satu desahan keluar dari bibirnya saat Ben sudah mencium lehernya.


Ben semakin kuat melancarkan aksinya. Tentu saja bukan perkara sulit bagi Ben untuk menaklukan gadis tak berpengalaman seperti Maura.


Ben menatap Maura yang masih memejamkan matanya.


"Kau ingin aku berhenti?" tanya Ben


Maura mengerutkan dahinya.


Apakah dia akan menggantung aku seperti waktu itu?


Maura membuka matanya. Ia memberanikan diri menatap Ben yang juga sedang menatapnya.


"I want you too" kata Maura dengan sedikit berbisik.


Ben tersenyum.


Well....akhirnya.......


#he...he....sampai di sini dulu ya...


#Jangan lupa Like dan komentarnya....


🥰🥰🥰😍😍😍🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2