
3 hari sudah Maura terbaring lemah di kamarnya. Sebenarnya dokter menyarankan kepadanya untuk dirawat di rumah sakit karena penyakit maag yang dideritanya cukup parah. Namun Maura bersikeras untuk dirawat di rumah saja.
Matanya memandang bekas infus yang pagi ini sudah dibuka. Ada bekas luka ditangannya yang ia dapatkan saat memporak porandakan isi apartemen Ben. Namun luka itu tak seberapa, dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
"Nona muda....." Naomi membuka pintu kamarnya.
"Ya Naomi"
"Ada nyonya Alicia Aslon di luar. Beliau ingin bertemu"
"Mommy Alicia?" Maura terkejut. Ia bangun dan mendudukan dirinya sambil bersandar di kepala ranjang. Kepalanya mengangguk dan Naomi pun langsung melebarkan daun pintu untuk membiarkan Alicia masuk, setelah itu ia menunduk hormat dan keluar lalu menutup pintu itu kembali.
"Maafkan mommy sayang. Mommy baru datang menjengukmu yang sedang sakit" kata Alicia sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Makasih, Mom"
"Mommy mengurus Ben yang sedang sakit juga. Tangannya terluka dan menyebabkan dia demam selama 2 hari."
Maura menunduk. Hatinya perih mendengar Ben yang sedang sakit.
"Sayang..."Alicia memegang tangan Maura "Mengapa kalian berdua tak duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati? Kau terlihat begitu menyedihkan dan Ben pun terlihat kacau."
Maura berusaha menekan perasaannya sehingga tak menangis. "Keinginanku sudah bulat, mom. Aku ingin bercerai dengan Ben. Aku mungkin bukan wanita yang tepat baginya karena tak mengerti dengan pekerjaannya. Masa lalu Ben yang selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik sering membuatku sakit. Aku hanya ingin memiliki Ben sendiri. Aku bahkan tak rela melihatnya memandang gadis lain lagi. Aku memang egois."
"Mommy mengerti dengan perasaanmu sayang. Tapi Ben mencintaimu."
"Dia tak mencintaiku, mom. Aku hanya sebuah obsesi baginya."
"Sayang, Ben sangat menyedihkan keadaannya. Dia begitu hancur saat kau meninggalkannya. Dia bahkan menangis. Mommy tak pernah melihatnya seperti ini." Alicia berusaha meyakinkan Maura karena memang itulah yang dia lihat dari anaknya.
"Mom, aku dan Ben akan selalu saling menyakiti jika terus bersama. Makanya aku akan melepaskan diriku darinya. Maafkan aku mommy Alicia"
"Cobalah berbicara dengannya sekali lagi, nak"
Maura menggeleng.
Alicia menarik napas panjang, lalu ia mencium kepala Maura dengan penuh kasih.
"Mommy menyayangimu sayang..." katanya Alicia tanpa bisa menahan air matanya. Lalu ia segera meninggalkan kamar Maura.
Maura menangis. Ia memeluk lututnya dengan perasaan yang hancur.
Kesendiriannya di kamar ini sangat menyiksanya. Maura begitu ingat dengan kamar tidur di apartemen Ben. Ingat bagaimana kemesraan pernah tercipta di sana. Ia ingat bagaimana Ben mengurungnya selama 3 hari dengan aktivitas bercinta yang seperti tak ada bosannya. Ingat bagaimana mereka sering masak bersama dan semua kemesraan Ben yang membuatnya seakan bertekuk lutut dalam pelukan Ben yang sangat hangat itu.
Aku tidak boleh seperti ini...
Aku harus membuang semua kenangan manis ini
Aku harus mempercepat proses perceraian ini dan kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Maura turun dari tempat tidurnya. Ia ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat ia sementara berpakaian, ponselnya berbunyi.
"Hallo..."
"Hallo, Ra. Kamu sudah sehat?" terdengar suara Patrick di sana.
"Ya. Sudah agak baikan"
"Kalau begitu, bolehkah kita bertemu? soalnya tim manager grup band The Sight sedang mencari dancer untuk video clip mereka. Teman-temanmu di The Crown bisa membantu kan?"
"Ya. tentu saja. Aku juga mau ikut" Maura jadi senang. Sudah lama ia tak menari dan dia rindu untuk melakukan itu.
"Kalau begitu, boleh besok siang kita ketemu?"
"Baiklah. Sampai jumpa besok" Maura meletakan hpnya. Ia ingin menari lagi. Larut dengan latihan dan kegembiraan dengan teman-temannya. Ia tahu hanya dengan mereka, ia bisa membunuh rasa sepi yang sekarang menyerangnya.
**********
Ben masih duduk di ruangannya. Malam ini, Ben lĺenggan pulang ke apartemen. Sebab setiap sudut apartemen itu mengingatkannya akan keberadaan Maura.
Luka di tangan Ben sudah mulai sembuh. Namun luka di hatinya sama sekali belum sembuh. Karena ia tahu, hanya Maura yang bisa mengobati luka hatinya.
"Tuan, apakah aku sudah bisa pulang?" tanya Luna salah satu asistennya.
"Ya Luna. Kunci saja pintunya karena aku akan tidur di sini malam ini"
Luna merasa enggan meninggalnya Ben seorang diri. Ia sudah mendengar gosip yang beredar secara cepat kalau bos nya sudah ditinggalkan oleh istrinya.
"Kenapa kau belum pergi, Luna? Nanti suamimu menungguhmu. Lagi pula tidak baik wanita hamil terlalu lelah bekerja."
Luna tersenyum sambil membelai perutnya yang kini berusia 5 bulan.
"Tuan, aku sedih melihat tuan sedih."
Ben menatap asistennya itu sambil tersenyum. Memang tanpa pernah mengatakan apapun, Luna selalu tahu apa yang dialaminya. Dan Ben senang karena Luna tak pernah mengunjingkan dirinya di belakangnya.
"Aku akan baik-baik saja, Luna. Terima kasih karena kau sudah peduli denganku."
Luna tersenyum "Tuan, jangan berbuat hal-hal yang aneh ya....seperti misalnya mabuk. Soalnya tuan jelek kalau mabuk"
Ben akhirnya tertawa "Ya Luna...aku akan mengingatnya"
Luna pun melangkah pergi. Meninggalkan Ben dalam kesendirian.
Ben kembali merasa hampa. Ia meraih hp nya. Menatap wallpaper yang menampilkan foto Maura dan dirinya. Foto itu diambil di kamar mereka. Ben mengingat kenangan itu.....
"Sayang...pinjam hp mu" kata Maura sambil merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk berselojor kaki disamping Ben.
"Buat apa?" tanya Ben.
__ADS_1
"Berikan! Aku akan memeriksanya. Siapa tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan" kata Maura dengan wajah serius.
Ben menyerahkan hp nya ditangan Maura.
"Apa kodenya?" tanya Maura.
"Tanggal pernikahan kita"
Maura sedikit terkejut. Namun beberapa detik kemudian dia langsung tersenyum.
Ben membiarkan istrinya itu mengutak atik ponselnya.
"Ben, ayo kita foto bareng!" kata Maura lalu menyandarkan kepalanya dibahu Ben. Pria itu langsung meletakan dagunya di atas kepala Maura sementara tangannya melingkar diperut Maura.
dan klik....
Sebuah foto dengan wajah penuh cinta sudah tersimpan disana. Maura menjadikannya sebagai wallpaper di hp Ben. Kemudian ia mengirim foto itu ke hp nya sehingga hp mereka memiliki wallpaper yang sama.
"Nah, sudah selesai. Lihatlah selalu wajah bahagia ini setiap kali kau membuka hp mu, Kau akan selalu melihat wajah bahagia kita dan tidak akan pernah memalingkan wajahmu pada para model yang cantik dan seksi itu" kata Maura sambil menatap Ben dengan wajah yang sangat serius.
Ben langsung memeluk istrinya. Menghadiahkan banyak kecupan dikepala Maura.
"Percayalah, Ma. Di mataku saat ini, tidak ada wanita yang paling cantik selain dirimu"
Maura semakin memendamkan kepalanya di dada Ben. "I love you Ben" bisik Maura lalu mencium tangan Ben yang dipegangnya.
Ben melepaskan hp nya dengan kesal saat ia kembali dari lamunannya.
Mengapa, Ma? Mengapa rasa percayamu padaku serendah itu? Mengapa ??
Ben menundukan kepalanya di atas meja. Ia merasa hatinya semakin terluka.
***********⁴
Maura tak bisa tidur. Ia sudah meminum susunya namun rasa kantuk tak kunjung datang.
Ia bangun, meraih hp nya dan bermaksud hendak main game.
Saat ia menyalahkan hp nya, hatinya berdesir memandang foto dirinya bersama Ben.
Sebuah rindu menyeruak di dalam hatinya. Mengingat saat bahagia itu. Namun rindu itu berubah menjadi benci saat foto Ben dan Patricia kembali melintas dipikirannya.
Maura dengan cepat mengganti wallpapernya. Lalu meletakan kembali hp nya dengan pikiran yang kacau.
Maura tak bisa membohongi dirinya....
Dia sangat kesepian tanpa Ben
MAKASI SUDAH BACA BAGIAN INI
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE NYA