
Satu minggu sudah Maura tak bisa keluar kamar. Yang ia lakukan hanya tidur, makan dan harus mengalami muntah yang kadang membuatnya lemah.
"Kata dokter ibu hamil biasa mengalami morning sickness di pagi hari. Namun kamu muntahnya pagi siang, malam. Aku jadi sedih melihatmu!" Kata Ben sambil duduk di tepi ranjang dan memegang tangan kanan Maura.
"Memang ibu hamil seperti ini. Aku menerima dan menjalaninya dengan senang hati. Hampir 2 tahun kita menantinya. Kita juga sudah melewati ujian hidup yang berat. Kehadiran anak itu adalah anugerah dalam hidup kita" kata Maura sekalipun lemah namun tersungging senyum manis dibibirnya yang sedikit pucat.
Tangan Ben yang satu masih tetap memegang tangan Maura sedangkan tangannya yang lain membelai wajah istrinya itu "Aku sangat mencintaimu sayang. Sangat.....sangat mencintaimu"
Maura memegang tangan Ben yang masih ada di pipinya. "Aku juga mencintaimu sayang.."
Ben menunduk dan mengecup bibir pucat Maura dengan sangat hati-hati. Lalu kemudian ia melepasnya secara cepat dengan napas yang agak tersengal.
"Ada apa?" tanya Maura kecewa karena ia masih ingin menikmati ciuman suaminya.
"Sayang, sebaiknya kita berciuman singkat saja. Aku takut tak bisa menahan diriku untuk menyentuhmu lebih dalam. Kamu kan masih lemah dan juga sedang hamil. Aku tak ingin menyakitimu"
Maura tertawa mendengar perkataan Ben. "Kata Mira , mual dan muntah itu biasanya akan berhenti saat kandungan berusia 3 atau 4 bulan. Jadi kau harus menahan dirimu selama itu"
"Apa? 3 sampai 4 bulan?" Ben terkejut. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing dan gatal.
"Namun...aku bisa memuaskanmu dengan cara yang lain" kata Maura dengan senyum menggoda.
"Cara seperti apa?"tanya Ben penasaran.
"Seperti yang pernah kau lakukan saat menolongku ketika aku diberi minum obat perangsang"
Bola mata Ben membesar "Kalau begitu, apakah boleh dipraktekan malam ini?"
Wajah pucat Maura tiba-tiba menjadi merona. Ia menarik hidung mancung suaminya dengan gemas.
"Nanti Ben...kalau aku sudah tak pusing dan mual lagi"
"Berarti 3 bulan lagi? Sama juga bohong..!"
Maura tersenyum melihat wajah cemberut Ben.
"Baiklah. Malam ini" katanya pelan hampir tak kedengaran.
"Kamu bilang apa?" tanya Ben girang.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi"
"Sayang....sepertinya aku mendengar kau mengatakan malam ini?" Ben memegang dagu istrinya agar menatapnya.
"Baiklah. Malam ini aku akan memuaskanmu dengan cara-cara yang lain. Asalkan kau membuatkan aku rujak"
Kening Ben berkerut " Sayang..itu makanan jenis apa?"
"Cari tahu sendiri. Tak ada rujak, tak ada sebentar malam..." kata Maura sedikit mengancam lalu membelakangi Ben dan menutup matanya.
Ben segera keluar kamar. Ia menelepon Faith.
"Hallo Faith, dapatkah kau menolongku?"
"Apapun itu asalkan aku mampu melakukannya"
"Maura minta rujak. Itu sejenis makanan apa ya?"
"Apakah Maura hamil?"
"Iya"
"Ya ampun, Ben. Kamu hebat sekali ya...ingatanmu baru kembali dan Maura sudah langsung hamil." terdengar tawa Faith.
__ADS_1
"Faith, berhentilah bercanda. Aku hanya sedang pusing memikirkan permintaan Maura. Semuanya makanan Indonesia. Nasi goreng pedas, bakso, gado-gado, ayam padang, ayam lalapan. Dan sekarang rujak"
"Ben, aku sekarang ada di toko Asia, akan kuusahakan mencari bahan-bahan membuat rujak. Kamu tenang saja."
"Makasi ya..!" Ben memasukan kembali hp nya didalam kantong celananya.
Alicia tiba bersama Bryan.
"Mom...dad, dari mana saja?" tanya Ben.
"Kami baru saja menghadiri pembukaan film terbaru daddy dan mampir sebentar di apartemennya Mira. Barang-barangnya dari Amerika sudah tiba" kata Alicia lalu duduk di sofa bersama suaminya.
"Aku nggak bisa membantu. " kata Ben sedih.
"Mira mengerti. Dan kamu tak usah khawatir selain ada 2 orang asisten rumah tangga yang dikirim mommy di sana, ada juga Ficlen yang setiap hari datang ke apartemen Mira." kata Bryan
"Ficlen? Pengacara kita?" tanya Ben untuk menyakini kalau itu adalah Ficlen temannya.
"Ficlen yang mana lagi? Menurut mommy, dia menyukai Mira." Kata Alicia antusias.
"Ya. Daddy juga merasa dari bahasa tubuh Ficlen ia nampak menyukai Mira"
Ben tersenyum " Si jomblo abadi itu kayaknya sudah mulai membuka hatinya. Aku senang kalau Ficlen menyukai Mira, berarti dia juga menerima semua masa lalu Mira. Semoga saja Mira mau menerimanya. Ficlen anak yang baik. Karirnya juga mantap."
"Tapi apakah keluarga Fic mau menerima Mira?" tanya Bryan.
"Paman orang yang baik. Aku yakin dia akan menerimanya." kata Ben dengan perasaan senang. Ia yakin kalau Mira mau menerima Ficlen maka Mira mendapatkan salah satu laki-laki terbaik dari London ini.
"Bagaimana keadaan Maura?" tanya Alicia.
"Masih sering muntah, mom. Untunglah dia juga suka makan. Jadi tidak terlalu mengkhawatirkan" jawab Ben.
"Masih minta makanan Indonesia?"tanya Alicia lagi.
Bryan berdiri lalu menepuk pundak putranya "Sabar ya...untung saja Maura hanya minta makanan. Kalau mommy dulu sampe minta ketemu Ratu, minta ketemu presiden Amerika"
"Daddy mengabulkannya?" tanya Ben antusias.
"Kalau daddy tak mengabulkannya, mungkin saat ini kamu nggak ada, Ben" kata Bryan sambil tertawa lalu meninggalkan ruang tamu.
"Benarkah?" Ben menatap mommynya.
"Ya sayang. Jadi kalau Maura minta yang aneh-aneh, kau harus sabar ya?" ujar Alicia lalu menyusul suaminya.
Ben hanya terkekeh sambil kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
*******
Sebuah senyum manis tersungging dibibir Mira saat menatap kedai kopi miliknya kini sudah siap dibuka.
Alicia yang awalnya hendak membangun sebuah bangunan di dekat butiknya, tiba-tiba mendapat ide untuk menyewa sebuah ruko yang letaknya tepat didepan butiknya itu. Sebab menurut Alicia jika menungguh bangunan selesai dibuat, prosesnya agak lama.
Ia pun masuk ke dalam dan melihat semuanya sudah tertata rapih. Hanya dalam jangka waktu 4 hari, Alicia dan semua asistennya membantu Mira untuk mengatur semuanya.
"Boleh aku masuk?"
Mira menoleh ke arah pintu masuk "Hai tuan pengacara. Masuklah...!" ajak Mira dengan senyum manisnya.
Ficlen masuk sambil menatap seluruh isi ruangan itu "Wah...wah...tempat ini sungguh menarik. Apakah aku boleh jadi pelanggan pertamamu?"
"Tentu saja boleh.Pembukaan resminya nanti besok. Namun hari ini aku menyiapkan beberapa kopi dan kue untuk menjamu mommy Alicia dan semua asistennya yang telah membantuku" kata Mira lalu tangannya mulai menyalahkan beberapa alat yang ada di meja pantry.
"Tuan pengacara mau kopi jenis apa?"
__ADS_1
"Kopi hitam saja."
Mira dengan cekatan menyiapkan kopi untuk Ficlen. Dia juga menyiapkan beberapa kue.
"Wah...harumnya!" guman Ficlen saat mencium aroma kopi dan kue yang sudah diletakan di depannya.
"Selamat menikmati"
"Maukah kau duduk bersamaku di sini?"
"Boleh!" Mira menarik kursi dan duduk didepan Ficlen.
"Rotinya enak. Apakah kau juga yang membuatnya?"
"Ya. Mendiang Ibu dan ayahku yang mengajarinya."
Ficlen tersenyum. Beberapa saat kemudian dia menatap Mira dengan wajah yang sedikit gugup.
"Ada apa tuan pengacara?" tanya Mira
"Eh...Mira, bolehkah kau tidak memanggilku tuan pengacara? Namaku Ficlen. Rasanya terlalu kakuh jika kau memanggilku seperti itu"
"Baiklah. Ficlen" kata Mira akhirnya.
"Nah...begitu lebih enak didengar" Ficlen kembali menyesap kopinya. Sesekali ia memandang Mira dengam hati yang berdebar.
"Mira, apakah kau akan selamanya hidup sendiri?" tanya Ficlen.
"Ya. Aku yakin kalau aku bisa. Lagi pula keluarga Ben begitu perhatian padaku"
Ficlen menarik napas panjang lalu ia mengatakan kalimat berikut dengan sangat hati-hati.
"A...pakah kau tak mencoba membuka ha..ti untuk orang lain?"
Mira menatap Ficlen "Siapa yang mau dengan perempuan hamil seperti aku?"
"Aku mau."
"Apa?" Mira menatap Ficlen tak percaya.
"Sejak pertama aku melihatmu di rumah Aslon, aku sudah suka padamu. Entah mengapa melihat wajahmu membuat hatiku berdebar tak karuan. " Ficlen meraih tangan Mira dan menggengamnya erat.
"Aku tahu perkenalan kita hanya singkat. Tapi aku sudah yakin dengan perasaanku ini. Dalam hidupku, aku memang tak punya banyak pengalaman dengan para wanita. Jadi maaf kalau caraku berbicara terdengar agak romantis"
Mira menatap pria didepannya dengan seksama. Wajah Ficlen tampan. Walaupun tak setampan Ben. Dari penampilannya, baju dan jam tangan yang dikenakannya bahkan mobil yang dibawanya, Mira tahu kalau Ficlen bukanlah pria biasa saja. Bisa menjadi pengacara keluarga Aslon pasti Fic bukanlah orang sembarangan. Sedangkan Mira, hanya gadis miskin yang beruntung bertemu dengan Ben. Sehingga kini ia mendapatkan limpahan kasih dari keluarga Aslon. Bagi Mira apa yang diterimanya kini sudah lebih dari cukup.
"Fic, aku bukan perempuan yang pantas untukmu" kata Mira lalu menarik tangannya perlahan.
"Tapi bagiku, kau adalah wanita yang pantas untukku. Aku ingin menjagamu dan anak itu seumur hidupku. Aku bahkan akan memberikan namaku padanya. Aku mohon, jangan tolak aku sekarang. Pikirkan lagi. Aku siap menungguhmu" kata Ficlen dengan wajah penuh permohonan.
Mira menarik napas panjang. Ia menatap Ficlen dengan deraian air mata yang tidak bisa ditahan lagi.
"Fic...terima kasih karena mau mencintaiku dan anakku. Aku janji, aku akan memikirkannya. Namun kau juga harus memikirkan lagi keputusanmu ini. Aku tak mau orang menghinamu karena mau menikah denganku"
"Aku tidak akan berubah. Karena hanya padamu saja aku merasa begitu jatuh cinta."
Mira terunduk sambil membelai perutnya. Apakah Tuhan begitu baik padanya? Setelah ia mendapatkan kebaikan dari keluarga Aslon, kini seorang pria mapan dan tampan ingin menikahinya. Namun Mira tak ingin buru-buru senang. Ia memang harus memikirkannya kembali.
MAKASI YA SUDAH BACA...
JANGAN LUPA KOMENTARNYA...
LIKE DAN VOTE JUGA YA...
__ADS_1