
Maura keluar dari kamar mandi dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Ben yang baru saja masuk ke kamar menatap istrinya bingung. Sudah 2 malam ini Ben tidur bersama Grace karena putri sulungnya itu jika sakit harus selalu tidur bersama daddy nya.
"Ada apa sayang?" tanya Ben sambil mendekat.
Maura tersenyum. Kedua tangannya dilipatnya ke belakang.
"Coba tebak ada apa?"
"Kau tersenyum menggodaku karena sudah kangen nggak menerima sentuhan ku ya?"
"Cih...dasar otak mesum. Kamu pikir aku tersenyum menggoda mu ya?" Maura mencibir.
Ben mengerutkan dahinya. Tak lama kemudian dia tersenyum "Kalau tebakanku benar, kamu akan berikan aku apa?"
"Apa saja."
"Janji ya...!"
"ok"
Ben lebih memangkas jarak diantara mereka. Tangannya dengan lembut menangkup pipi istrinya.
"Kamu positif hamil kan?"
"Bagaimana kamu bisa menebak secara benar?" tanya Maura.
"Kan aku sudah bilang 2 hari yang lalu kalau perjalanan kita ke Bali telah membawa hasil yang baik untuk ketambahan anggota keluarga kita"
Maura mengangkat tangannya yang sejak tadi disembunyikan dibelakang, menunjukan tespack yang sudah memiliki tanda 2 garis merah.
Ben langsung memeluk istrinya dengan wajah yang diliputi kebahagiaan. Ia memutar tubuh Maura sambil bersorak gembira.
"Aku mencintaimu sayang...!" ujar Ben sambil mencium bibir istrinya berulang-ulang.
Hati Maura pun sangat bahagia. Ia senang melihat suaminya sangat bahagia. Sudah sejak 2 tahun lalu, ketika Gionino berusia 4 tahun, Ben sudah berulang kali merayu istrinya untuk mau hamil lagi. Ben ingin kehidupan keluarga mereka dipenuhi dengan banyak anak.
Ben berlutut, melingkarkan tangannya di perut istrinya lalu mencium perut istrinya berulang kali.
"Hallo jagoannya daddy...tak sabar menunggu kehadiranmu. Kamu akan menjadi kesayangan dari kami semua" kata Ben lalu mengusap perut Maura yang masih rata.
"Ben, bagaimana Grace?" tanya Maura saat Ben sudah berdiri.
"Dia sudah merasa baik. Sejak semalam panasnya juga sudah stabil. Sekarang mereka sedang menunggu kita untuk sarapan bersama. Ayo, kita sampaikan berita bahagia ini" Ben menautkan jari mereka dan segera mengajak Maura ke luar kamar.
Namun saat mereka baru keluar dari kamar, Ben tiba-tiba ingat sesuatu.
"Sayang...tadi kan kamu bilang kalau aku bisa menebak dengan benar maka aku bisa minta apa saja." kata Ben sambil menatap Maura dengan tatapan menggoda.
"Memangnya kamu mau minta apa?"
"Itu..."
"Itu apa?"
"Masa kamu nggak mengerti. Itu....!" Ben menjadi gemas karena istrinya seperti tak mengerti.
Maura tersenyum. Ia sudah mengerti maksud suaminya "Baiklah. Sebentar malam ya.."
__ADS_1
"Memangnya tidak bisa setelah sarapan?"
"Anak-anak ada di rumah....!" Maura langsung melangkah sambil menarik tangan Ben yang nampak masih cemberut.
"Baiklah. Setelah sarapan, pastikan anak-anak aman dan takkan menganggu kita" ujar Maura akhirnya dan Ben langsung tersenyum senang.
Keduanya menuruni tangga, dan menuju ke ruang makan sambil bergandengan tangan.
"Ada apa ini?" tanya Alicia melihat anak dan menantunya datang di ruang tamu sambil tersenyum bahagia.
"Aku saja yang katakan?" tanya Ben.
Maura mengangguk.
Ben menatap kedua anaknya juga dan mamanya Alicia secara bergantian.
"Kita akan ketambahan anggota keluarga baru" kata Ben lalu mengusap perut Maura.
"Apa?" Alicia terpana. Wajahnya langsung terlihat gembira.
Grace dan Gionino kompak berdiri bersama dan langsung memeluk Maura dengan luapan kebahagiaan..
"Asyik, aku akan punya ade..!" seru Gionino.
"Mommy, adenya harus cewek ya..." kata Grace sambil mencium perut mamanya dengan wajah yang sangat gembira.
"Nggak. Ade nya harus cowok" protes Gionino.
"Nggak mau. Pokoknya harus cewek" Grace tak mau kalah dengan adiknya.
Maura memegang tangan kedua anaknya lalu ia duduk di kursi makan supaya dapat menatap keduanya secara jelas.
"Iya, nak. Kita doakan saja supaya mommy kalian boleh melahirkan dalam keadaan selamat. Apapun nanti jenis kelaminnya dia adalah bagian dari Grace dan Gionino. Dia adalah seorang Aslon!" imbuh Alicia.
Grace dan Gionino langsung memeluk Maura sambil berkata,
"Maafkan kami, mom"
Maura tersenyum senang karena kedua anaknya yang hanya berbeda satu tahun ini mampu mengerti. Apalagi Grace selama ini selalu menjadi kakak yang terbaik bagi Gionino.
************
Kehamilan yang ketiga ini sangat dinikmati oleh Maura karena ia tak merasakan mual dan muntah yang berlebihan. Ia bahkan tak mengurangi kegiatannya sama sekali karena ia justru sangat bersemangat menyambut kehamilannya yang ke-3 ini.
Hubungannya dengan Ben pun bertambah harmonis. Bahkan mereka masih bisa memelihara keintiman mereka selaku suami istri dengan sangat baik.
Perhatian dan kasih sayang Ben kepadanya semakin bertambah. Bahkan untuk kehamilannya yang ketiga ini, Ben memilih untuk lebih banyak bekerja di rumah saja.
Maura selalu tak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya selama hamil. Dia ingin itu menjadi kejutan di saat melahirkan nanti.
"Sayang, dikehamilan ke-3 ini aku merasa berat badanku naik sekali. Coba lihat pipiku ini" kata Maura sambil berputar-putar di depan kaca.
Ben mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Ia tahu kalau masalah kegemukan adalah momok yang menakutkan bagi banyak perempuan.
"Aku justru suka dengan badanmu saat ini. Terlihat lebih fresh dan cantik. Kalau dipeluk selalu menghangatkan. Kalau kamu kurus peluknya sering menyakitkan karena rasanya kayak memeluk tulang saja"
Maura berbalik dan menatap suaminya "Kamu hanya menghibur aku saja kan? Apa kamu masih mau menatap aku jika tubuhku sudah berubah seperti balon?"
Ben menyentuh pipi Maura, mengelusnya perlahan dengan ibu jarinya lalu ia mencium dahi, hidung, pipi dan berakhir di bibir Maura.
__ADS_1
"Sayang, sudah kukatakan kalau rasa cinta, rasa sayang bahkan kesetiaan ku padamu tak akan pernah berkurang apapun nanti bentuk tubuh dan wajahmu karena bagiku kau tetap akan menjadi wanita luar biasa yang memang telah diberikan Tuhan padaku." kata Ben saat ciuman mereka berakhir.
Maura tersenyum "Ben...awas ya kalau kamu kecantol sama model-model muda yang seksi dan masih suka muda itu"
"Tenang saja sayang. Seribu model muda yang cantik dan seksi takan mampu membuatku berpaling darimu dan ketiga anak kita"
Maura langsung memeluk Ben. Namun tiba-tiba ia memegang perutnya.
"Ben.....dia bergerak..."
Ben memegang perut Maura "Aku pikir dia ingin dijenguk oleh papanya malam ini"
Wajah Maura langsung bersemu merah. "Ben...!" ia memukul lengan suaminya pelan.
"Boleh kan dijenguk?" tanya Ben dengan gaya menggodanya.
"Dasar bule..."
"Ganteng..!" sela Ben membuat Maura hanya bisa tertawa. Ia segera mendorong tubuh istrinya menuju ke ranjang mereka.
Keduanya pun langsung larut dalam ciuman panjang yang mengairahkan.
tok....tok....tok...
"Mom....dad....!"
Ciuman Ben dan Maura terlepas. Itu adalah suara Grace. Ben pun segera bangun, mengenakan bajunya kembali lalu membuka pintu kamar.
"Ada apa sayang?" tanya Ben.
"Di luar hujan lebat. Aku takut dengan suara guntur. Aku boleh tidur bersama mommy dan daddy kan?" tanya Grace dengan wajah penuh permohonan.
"Boleh sayang...!" jawab Maura yang sudah berdiri di belakang Ben.
Grace langsung melangkah masuk dengan muka yang gembira.
Ben menatap istrinya dengan wajah sedikit protes. Tadinya dia ingin menemani Grace di kamarnya saja sehingga anaknya itu bisa tidur dan dia akan kembali untuk melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda. Namun Maura sudah memberikan keputusannya.
"Besok saja ya.." bisik Maura lalu segera bergabung dengan Grace yang sudah naik ke atas tempat tidur.
Ben hanya bisa mengigit ujung selimut sambil menahan rasa gemas atas kelakukan istrinya.
********
Maura hari ini melaksanakan operasi sesar untuk melahirkan anaknya yang ketiga yang ternyata berjenis kelamin laki-laki.
Ben dengan bangga memeluk putranya itu sambil menyebutkan namanya " Selamat datang Gabrian Gabino Aslon" serunya lalu mencium tangan putranya itu dengan gemasnya.
"Aku semakin mencintaimu Mauraku Belindaku!" kata Ben lalu menatap istrinya yang terlihat masih lemah selesai melakukan operasi.
"Aku juga mencintaimu sayang.....!" kata Maura sambil tersenyum bahagia. Ia bersyukur karena Tuhan bukan hanya memberikan dia sosok suami yang tampan dan setia.Tapi Tuhan telah memberikannya seorang pria yang sangat bertanggungjawab dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Wanita mana yang tidak ingin dimanja oleh suaminya? Wanita mana yang tidak ingin dianggap istimewa oleh suaminya? Wanita mana yang tidak ingin diperlakukan romantis oleh suaminya?
Maura mendapatkan semua itu dalam diri Ben. Ia merasa sempurna dalam pelukan suaminya.
So, mau lihat masa remaja Grace yang selalu ditemani Caleb??
Kalau yang like, koment dan Vote banyak, aku akan lanjutkan he....he....he....
__ADS_1