
Sejak pagi Maura nampak bingung dengan gaun yang akan dia pakai di acara reuni nanti.
Ia sudah mengeluarkan baju yang ada di kopernya namun tak ada ada gaun yang dibawah oleh Ben.
"Ada apa?" tanya Ben saat melihat Maura yang sudah mengacak-acak kopernya.
"Aku mau pakai apa untuk sebentar malam? Nggak ada gaun yang kamu bawakan"
"Siapa kamu? Mau aku minta jatah sekarang?" tanya Ben sambil berkacak pinggang.
Maura mendengus kesal "Jangan main ancam melulu. Harap maklum. Akukan belum terbiasa."
"Bicara lagi yang benar"
"Papa, mama tuh bingung mau pakai gaun apa ke reuni. Soalnya acaranya kan resmi. Papa nggak bawa gaun untuk mama"
Ben tersenyum melihat Maura bicara sambil menahan emosinya.
Ia melangkah dan membuka kopernya. Lalu mengeluarkan sebuah gaun berwarna biru muda.
Mulut Maura langsung terbuka melihat gaun tanpa lengan itu dengan pita kecil di sampingnya.
"Ben.....ini cantik sekali"
Maura mendekat hendak menyentuh gaun itu namun Ben justru menjauhkannya.
"Siapa Ben?"
Maura ingin marah namun ia mengubah ekspresinya dengan wajah manis. "Papa...boleh ku lihat gaunnya, ini sangat cantik"
Ben menyerahkan gaun itu. Maura langsung melihat ke arah cermin "oh....ini cantik sekali." ia melihat bagian belakang gaun itu. "Gaun ini buatan mommy Alicia? Wah....wah....teman-temanku bisa histeris melihat aku pake rancangan Alicia Aslon"
Ben mengeluarkan sebuah sepatu bertali yang warnanya senada dengan gaun itu. Maura langsung bersorak gembira melihat sepatu itu.
"Makasih papa sayang..."
"Berterima kasihlah secara benar"
Maura menatap Ben bingung "Maksudnya?"
Ben meraih gaun dan sepatu itu yang masih dipegang Maura lalu meletakan di atas sofa. Ia mendekati Maura sambil membuka bajunya.
"Mengapa bajunya di buka?" Maura menelan salivanya dengan jantung berdebar.
"Kita akan main game papa-mama"
"Memangnya main game harus buka baju? Terus apa ada game yang namanya Papa-mama"
Ben mengangguk. Ia sudah berdiri didepan Maura. "Tadi malam mama tidur cepat. Jadi tidak bisa main game. Makanya pagi ini kita harus memainkannya, takutnya sebentar malam mama capeh jadi nggak bisa."
"Mana gamenya?" perasaan Maura mulai tak enak.
Ben mendorong Maura sehingga istrinya itu langsung jatuh ke atas tempat tidur. Sebelum Maura bangun, Ben sudah lebih dulu mengunci pergerakan Maura.
"Karena mama dua kali salah menyebut nama papa, maka gamenya pagi ini harus dua ronde"
Maura melotot namun sebelum ia bicara, Ben sudah lebih dulu menciumnya dengan panas.
***********
__ADS_1
Rara menahan senyumnya saat melihat tanda merah di leher merah.
"Nantulang.....aku jadi malu" kata Maura agak malu.
"Aku mengerti. Kalian kan masih pengantin baru. Rambutnya dibiarkan tergerai saja supaya dapat menutupi lehermu ini. Nanti dibuat agak bergelombang dan diikat bagian tengahnya" kata Rara yang membantu Maura berdandan sore ini.
"Ok."
Rara langsung menata rambut dan wajah Maura. Ia tahu ponakannya ini agak tomboy jadi agak sulit untuk berdandan sendiri.
"Inda, semoga kamu cepat hamil ya?"
"Hamil?"
"Iya. Memangnya kamu belum mau punya anak?"
"Aku kan baru 21 tahun"
"Namun suamimu kan sudah dewasa. Memangnya dia belum mau punya anak?"
"Kami belum mendiskusikannya"
Rara meletakan sisir yang dipegangnya. "Sudah selesai. Cepatlah turun supaya kalian tidak terlambat"
Ben yang sedang berbincang dengan Erick terpesona melihat Maura.
"Kami pergi dulu ya, tulang" kata Maura sambil mengandeng tangan Ben. Ia tak ingin pamannya mendengar panggilan papa-mama mereka.
Pak Bolna segera mengantar mereka ke gedung tempat reuni itu dilaksanakan.
Intan yang menjadi penjemput tamu langsung heboh melihat kedatangan Maura dan Ben.
"Astaga Inda, benar kata Intan kalau kamu menikah dengan bule" teriak Susi diikuti dengan Tetty, Liske dan Judika yang satu-satunya cowok dalam gank mereka.
Mereka pun asyik berselfi ria dan Ben yang jadi fotografer yang diminta secara bergantian memegang hand phone teman-temannya.
Tak lama kemudian acara dimulai, setelah sambutan kepala sekolah, ditayangkan lewat layar besar yang ada, siswa-siswa yang berprestasi diangkatannya. Ternyata Maura adalah salah satu siswa berprestasi yang memenangkan lomba melukis dan olimpiade matematika.
"Ma, papa sangat bangga. Mama ternyata sangat berprestasi di sekolah ini" kata Ben sambil menggenggam tangan Maura hangat.
"Aku sangat bangga sekolah di sini. Sayangnya, baru saja lulus, belum sempat menikmati pesta perpisahan sekolah, papa Gerald sudah membawaku ke London. Aku bahkan tak sempat berpamitan dengan teman-temanku." kata Maura sedikit sedih mengingat kenangan itu.
"Hei....jangan bersedih seperti itu. Kalau mama tidak Ke London, kita kan tak mungkin bisa menikah" kata Ben sambil menepuk punggung tangan Maura.
Maura menatap Ben sekilas. Lalu ia kembali menatap ke arah panggung. Entah kenapa kata-kata Ben membuat jantunhnya berdebar.
Apakah pernikahan kami sebuah keberuntungan bagiku? Dia kan menjebak aku dengan perjodohan ini...?
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan jamuan makan bersama. Selesai makan, para alumni yang usianya sudah 40 tahunan memilih duduk sambil minum kopi. Sedangkan yang masih muda, langsung ke ruang sebelah karena seorang Dj sudah memainkan musiknya.
"Inda....ayo kita disko...!" ajak Susi.
Maura menatap Ben.
"Pergilah sayang...., aku di sini saja" ujar Ben sambil duduk di kursi yang ada.
Maura pun langsung pergi dan asyik bergoyang dengan teman-temannya.
Ben senang melihat Maura yang asyik tertawa, bercanda dengan teman-temannya. Ben menyesal tak membawa kameranya sehingga bisa mengabadikan moment bahagia ini.
__ADS_1
Ia hanya sesekali mengarahkan hp nya dan mengambil gambar Maura dan teman-temannya.
Sesekali Maura menoleh ke arahnya. Ia seperti ingin memastikan bahwa Ben masih ada di sana.
Diantara semua temannya, baru Maura yang menikah, sehingga malam ini teman-temannya menanyakan beberapa pertanyaan yang membuat Maura sedikit malu.
"Inda...., katanya pria bule itu romantis ya?" tanya Tetty.
"Ya....seperti itulah..." jawab Maura sedikit malu.
"Jadi kamu sudah making love dong....terus suamimu ini yang pertama atau....." Intan menggantungkan kalimatnya.
"Hei.....aku ini masih perawan saat menikah dengannya. Sekalipun aku sudah lama di London namun aku nggak mungkin lupa dengan semua nasehat almarhuma mamaku" kata Maura dengan penuh keyakinan. Ia tak ingin teman-temannya meragukan tentang dirinya.
Teman-temannya tersenyum.
"Kami bangga denganmu, Inda" puji Susi.
Acara reuni itu selesai saat jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
Maura rasanya belum puas bertemu dengan teman-temannya, namun ia juga sangat capeh karena asyik bergoyang dengan sepatu hak tingginya yang bertali.
Sesampai di rumah, Maura segera membuka sepatunya. Setelah itu ia mencoba membuka gaunnya namun terasa agak sulit.
"Biar papa yang bukakan" kata Ben lalu segera menurunkan reslating baju Maura.
Maura merasa agak merinding karena tangan Ben yang menyentuh punggungnya.
"Aku ke kamar mandi dulu" Maura menahan gaun itu supaya tidak jatuh.
"Sayang....jangan mandi. Ini sudah hampir jam setengah dua.." Kata Ben sebelum Maura menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Selesai Maura membersihkan dirinya, gantian Ben yang masuk ke kamar mandi.
Maura buru-buru mematikan lampu kamar, lalu naik ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya yang hanya mengenakan lingre berwarna hitam itu dengan selimut.
Ben keluar dari kamar mandi dengan menggunakan boxer tanpa atasan itu tersenyum melihat istrinya yang sudah tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"Mama....!" panggilnya lembut sambil naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut dan ikut berbaring di samping Maura.
Maura diam dan pura-pura tidur.
Ben melingkarkan tangannya dipinggang istrinya
"Are you sleep?"
Maura tak menyahut.
Ben tersenyum. Ia tahu kalau Maura belum tidur.
"Tidurlah.."
Maura yang sedang membelakangi suaminya merasa senang karena malam ini bebas dari gangguan Ben.
Hei.....apa ini? Kenapa tangan Ben sudah ke mana-mana?
Maura pun tahu kalau malam ini dia tak bisa bebas dari gangguan suaminya.
He....he....he...
__ADS_1
Namanya juga pengantin baru....🤣🤣🤣
#jangan lupa Like, coment dan vote ya....