My Best Photo

My Best Photo
Anaknya Daddy


__ADS_3

Ben tersenyum memandang wajah putrinya yang sedang tertidur dalam pangkuannya. Baby Grace nampak begitu damai dalam tidurnya.


Sekilas ia menatap Maura yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia tahu istrinya itu pasti kelelahan karena perbuatannya semalam. Bayangkan saja, Ben dimintah harus puasa selama hampir 3 bulan tak boleh menyentuh istrinya itu. Untung saja, kesibukannya menjaga Grace dan bekerja dari rumah membuatnya bisa menekan keinginannya untuk menyentuh istrinya itu.


Tadi malam, saat Maura memberinya kesempatan, tentu saja Ben tak mau menyia-nyiakan. Ben bahkan meminta mama Alicia untuk melihat Grace di kamarnya jika gadis kecil itu menangis. Tapi untungnya si nona kecilnya ini sama sekali tak rewel sehingga membuat Ben bisa memuaskan keinginannya pada istrinya itu.


"My Grace holang yang cantik, kalau sudah besar nanti, jangan mudah terpengaruh sama cowok ganteng ya karena di dunia ini yang paling ganteng cuma daddy. Daddy yang paling hebat, daddy yang paling menyayangimu. Jangan percaya sama cowok play boy, nanti kamu disakitinya. " kata Ben sambil membelai wajah putrinya dengan lembut.


"Ngajarin yang nggak benar...!" kata maura dengan suara khas orang yang baru bangun.


Ben melirik istrinya yang masih tidur dan memejamkan matanya.


"Mommy cemburu sayang karena daddy lebih suka memujimu sekarang. Ya...mommy itu adalah korban cowok play boy...jangan ikuti jejak mommy ya?"


"Ben...kalau aku nggak jadi korban cowok play boy, Grace pasti tak ada" ketus Maura lalu perlahan bangun dan menatap suaminya dengan bola mata yang membesar.


"Kamu sangat cantik kalau wajahmu ditekuk seperti itu!" rayu Ben sambil mengedipkan matanya.


"Ben....!" ingin rasanya Maura melempar suaminya itu dengan bantal tapi ia mengurungkan niatnya karena Grace ada dalam pelukan Ben. Cantik, apanya? Rambut sudah awut-awutan dan wajah kelelahan karena sikap Ben yang sedikit nakal minta jatah lebih dari satu kali.


Grace perlahan membuka matanya.


"Good morning anak daddy, pasti kamu sudah haus ya...., mommy cepat geraknya, Grace sudah haus nih.."


"Sayang, minta pengasuhnya buatkan susu dulu. Aku mau mandi dulu"


"Sebentar ajalah. Kasihan Grace kalau menungguh kamu mandi agak lama"


"Ben, aku harus membersihkan jejak-jejakmu dulu. Coba lihat nih..bukan cuma satu..." Maura maura menunjuk leher, dada dan perutnya.


Ben terkekeh. "Kamu juga nggak menolakkan semalam"


"Cih...!" wajah Maura menjadi merona. Ia langsung memungut gaun tidurnya dan mengenakannya kembali. Lalu berjalan mendekati suami dan putrinya.


Mata Grace sudah terbuka lebar namun dia sama sekali tak menangis walaupun bibir kecilnya sudah terbuka saat Maura mendekatkan jari telunjuknya.


"Sayang, anak mommy yang cantik, sekarang minum susu buatan oma dulu ya...nanti siang baru minum punyanya mommy soalnya punya mommy harus disterilkan dulu dari perbuatan om play boy.." ujar Maura lalu segera menuju ke kamar mandi.


Ben menatap punggung istrinya itu sambil tersenyum. Ia benar-benar bahagia dengan rumah tangganya yang sekarang.


"Grace holang, sekarang kita minta oma buatkan susu ya..." Sambil menggendong Grace, Ben keluar dari kamar.


Alicia langsung mengambil Grace dari gedongan Ben dan meminta pengasuhnya untuk membuatkan susu.


"Maura masih tidur ya?" tanya Alicia.


"Sudah bangun, mom. Dia sedang mandi sekarang." kata Ben lalu duduk di depan meja makan dan menikmati sarapannya.


Tak lama kemudian, Maura turun dan sudah kelihatan segar dengan dres rumahnya.


"Selamat pagi mommy!" sapa Maura.


"Selamat pagi, nak. Sarapanlah dulu. "


Maura mengangguk. Ia memang sangat lapar karena tenaganya terkuras semalam.


Ia juga senang karena setiap hari selalu tersedia nasi di rumah ini. Alicia sangat mengerti bahwa Maura memang lebih senang makan makanan yang ada menu nasinya. Ia justru merasa lebih kenyang dan memiliki kekuatan untuk menyusui anaknya.


Bel pintu berbunyi dan seorang pelayan langsung membukanya.


"Faith...? Caleb....?" pekik Maura sedikit terkejut melihat siapa yang datang.


"Maaf ya menganggu di pagi hari" kata Faith.

__ADS_1


"Tidak menganggulah. Lagi pula ini sudah jam 10 pagi" imbuh Alicia yang senang menyambut kedatangan Faith bersama putranya itu.


"Caleb memaksa untuk datang. Dan dia tak mau menungguhnya sampai sore hari" kata Faith memberitahukan maksud kedatangan mereka.


"Oh ya? Ada apa Caleb?" tanya Maura sambil menatap wajah tampan itu dengan gemas.


"Aku mau memberikan hadiah untuk baby Grace" kata Caleb sambil menyodorkan sebuah paper bag kecil yang memang sudah dipegangnya.


"Wah.....terima kasih sayang!" Maura langsung menghadiahkan satu kecupan di pipi tembem Caleb. Ia pun membuka paper bag itu dan menemukan sebuah anting kecil berbentuk bintang.


"Oh my God. Ini cantik sekali....! Aku bahkan belum kepikiran untuk membelikan sebuah anting bagi Grace" kata Maura tanpa menyembunyikan rasa senangnya.


"Kemarin kami pergi ke toko untuk membelikan anting bagi Chloe karena anting Chloe yang pertama sudah hilang satu. Eh...tiba-tiba Caleb menjukan anting berbentuk bintang itu. Dia bilang ingin memberikannya pada Grace."cerita Faith sambil menatap putranya dengan rasa lucu.


"Bibi....oma Alicia, pakaikan anting ini pada Grace ya.." kata Caleb dengan wajah yang berbinar.


Alicia dan Maura sama-sama mengangguk sambil tersenyum.


"Nanti kalau telinganya Grace sudah ditindik, barulah anting itu akan bibi pakaikan padanya." kata Maura lalu mengacak rambut tebal Caleb.


Ben yang dari tadi hanya menatap mereka sambil bersedekap, tiba-tiba bicara.


"Paman cemburu padamu, Caleb!"


Caleb menatap Ben dengan wajah bingung.


"Kau sudah mencuri ciuman pertama Grace. Sekarang juga kau menjadi orang pertama yang memberikan perhiasan untuk Grace. Duh, lama-lama paman akan menjadi orang yang kesekian untuk Grace dan kamulah orang pertama baginya."kata Ben dengan wajah cemberut.


Yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Grace namum Caleb tidak. Ia menatap Ben dengan wajah sedikit ditekuk"Paman cemburu ya..."


Ben mengangguk kuat.


Caleb tersenyum. Kelihatannya sedikit mengejek "Kalau Grace sudah besar, Grace pasti pilih aku dari pada paman."


"Paman kan sudah tua..." ujar Caleb dengan tatapan tajam. Tak terpengaruh dengan yang lain yang semakin keras tawanya.


"Faith, tatapan Caleb persis bapaknya. Tajam dan penuh pemaksaan" ujar Ben. Lalu segera pamit untuk pergi ke studio.


"Urusan kita belum selesai cowok manis..!" ujar Ben sambil menatap Caleb, setelah itu ia menghilang si balik pintu.


**********


Hari sudah beranjak malam. Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Namun baby Grace belum juga tidur.


Maura sudah memberikan asi, susu, sudah memeluk Grace dan menimang-nimang putrinya itu, namun Grace tak mau tidur.


Alicia pun sudah ada di kamar baby Grace karena mendengar cucunya itu menangis.


"Jangan-jangan Grace sakit perut ?" tanya Maura.


Alicia mengambil Grace dari gendongan Maura dan meletakannya di atas tempat tidur. Ia kemudian menepuk-nepuk perut Grace dan memegang tangan serta kaki Grace.


"Suhu badannya bagus. Tangan dan kakinya juga tak dingin. Coba kamu beri asi lagi" ujar Alicia.


Maura membuka baju atasnya dan mendekatkan salah satu payudaranya pada Grace namun anaknya itu sama sekali tak mau menyentuhnya. Tangisnya bahkan semakin keras.


"Sayang...kamu kenapa ?" Maura mulai khawatir.


"Mana Ben?" tanya Alicia.


"Ben ada pemotretan di luar kota. Tapi sejam yang lalu aku telepon, dia sudah dalam perjalanan pulang."


"Apa Grace kangen papanya? Semenjak ia lahir, sampai usianya hampir 4 bulan ini, baru kali ini kan Ben pergi agak lama" ujar Alicia mencoba mencari penyebab Grace rewel.

__ADS_1


"Benar juga ya...Ben kan selalu pulang sebelum jam tidurnya Grace. Grace selalu tidur jam 8 malam dan ini sudah jam 10. Tapi apakah anak sekecil ini sudah tahu bapaknya tidak ada?"


"Anak-anak mengenal kita dari bau badan kita. Mungkin Grace mencari baunya Ben."


Kedua ibu beda generasi itu kembali membujuk Grace.


Ben akhirnya datang, ia langsung ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya lalu segera mengambil Grace dari gendongan istrinya.


"Anak daddy...kenapa nangis?"tanya Ben lalu menggesekan hidungnya dipipi montok putrinya.


Ajaib....Grace tiba-tiba menghentikan tangisnya. matanya berkedip indah seolah-olah hendak mengenali kalau yang memeluknya itu adalah papanya.


"Ao...we..au..!" Grace mengeluarkan suara khas bayi. Tangannya bergerak seperti hendak menyentuh wajah papanya.


"Benar mom....dia kangen Ben..!" kata Maura tanpa bisa menyembunyikan rasa harunya.


Alicia pun nampak haru, "Ben memang papa terbaik bagi Grace. Mommy jadi lega karena Ben telah banyak berubah" Alicia menepuk pundak Maura, lalu meninggalkan kamar baby Grace.


"Sayang...kangen daddy ya? Maaf ya..daddy terlambat pulang...Grace pasti mencari daddy..!" kata Ben dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia berulang kali mencium pipi putrinya dengan penuh kasih.


Tak lama kemudian Grace tertidur. Ben pun melatakan putrinya itu ke dalam boxnya.


"Dia pasti kelelahan karena menangis terus" ujar Maura lalu menutup kelambu box Grace.


"Aku nggak mau menerima pekerjaan di luar kota lagi. Kasihan Grace kalau menangis terus" ujar Ben saat keduanya sudah meninggalkan kamar Grace yang hanya bersebelahan dengan kamar mereka.


pengasuh Grace langsung masuk ke kamar itu saat melihat mereka keluar.


"Sayang...kamu sudah makan?" tanya Maura saat keduanya sudah berada dalam kamar.


"Belum!"


"Aku siapkan makan malammu ya?"


"Nggak lapar"


"Teh hangat aja?"


"Nggak mau. Aku maunya susu"


"Baiklah....aku buatkan susu ya.." Maura membalikan badannya untuk segera ke dapur namun Ben tiba-tiba menarik tangan Maura.


"Aku nggak mau dibuatkan susu..!"


"Katanya tadi mau minum susu?" Maura mulai kesal melihat tingkah suaminya.


"Aku nggak mau susu sapi"


Maura mulai mengerti arah pembicaraan Ben.


"Jangan Ben...ini jatahnya Grace..!" Maura menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Ben tertawa. Ia mendekati istrinya dan siap mendorong Maura ke ranjang, saat terdengar suara tangis Grace dari kamar sebelah.


"Pergi lihat Grace tuh...dia kayaknya mencari daddy nya lagi" Maura mendorong dada suaminya untuk segera ke kamar Grace.


Ben melangkah walau sedikit tak rela meninggalkan Maura namun ia juga tak tega membiarkan Grace menangis.


Grace...Oh...Grace...benar-benar jadi anak daddy nih...Nggak rela daddy sayang-sayangin dengan mommy malam ini....


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENT DAN VOTE YA..


MAU TAHU LAGI GIMANA BEN JADI THE BEST DADDY?

__ADS_1


__ADS_2