My Best Photo

My Best Photo
Tertolong


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang nampak elegan dengan dandanannya berdiri di hadapan Maura sambil tersenyum ramah. Senyum yang tulus dan tatapan mata yang penuh keibuan.


"Hallo sayang....perkenalkan namaku Alicia Aslon. Aku calon ibu mertuamu"


Mulut Maura membentuk huruf O tanpa mengeluarkan suara. Bahkan ketika Alicia dengan hangatnya membawa Maura dalam pelukannya gadis itu pun masih diam.


"Terima kasih karena sudah mau menerima lamaran ini. Aku sangat senang ketika mamamu meneleponku"


"Mama?" Maura mengerutkan dahinya


"Maksudku Iriana." Alicia menggengam tangan Maura. "Sekarang ikut aku ke butikku ya..."


"Untuk apa, nyonya?"


"Tentu saja untuk membuat gaun pengantinmu. Aku harus kerja keras karena pernikahan ini akan dilaksanakan 2 minggu dari sekarang"


"Apa?" Maura terkejut.


"Apakah Iriana tidak mengatakannya kepadamu?"


Maura menggeleng bingung. Dia ingin bicara lagi namun Alicia sudah menggandeng tangannya. "Ayo kita pergi"


Maura tak bisa menolaknya. Sikap Alicia yang sangat lembut sangat menyentuh hatinya. Ah, ibu mertua ideal. Sayang aku tak mencintai anaknya. Apakah anaknya laki-laki yang bodoh? Atau jangan-jangan anaknya yang kurang waras? Mana ada sih laki-laki di zaman modern ini yang mau dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenalnya?


Aduh...pusing kepalaku memikirkan semua ini.


Mereka tiba di sebuah butik yang sangat besar. Alicia kembali mengandeng tangan Maura saat memasuki gedung itu. Tiba di sebuah ruangan, Seorang pelayan langsung mengambil ukuran baju Maura.


"Sudah selesai. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tanya Alicia.


Maura hanya mengangguk.


Tapi sebelum mereka pergi, Alicia menerima telepon.


"Hallo.....apa? Mengapa harus begitu? Baiklah aku segera ke sana." ia menatap Maura dengan wajah yang menyesal.


"Maafkan aku sayang...ada urusan penting yang tak bisa ku tunda. Lain kali saja kita makan siang ya."


"Tidak apa-apa nyonya...."


"Jangan panggil aku, nyonya. Panggil mommy"


"Tapi...."


"Tidak ada tapi sayang....Mommy pergi dulu ya.." Alicia langsung meninggalkan butik itu sambil memerintah sopirnya untuk mengantar Maura pulang.


"Aku turun di sini saja, pak" kata Maura saat mobil melintasi sebuah mall. Maura merasa perlu menyenangkan dirinya sendiri.


Saat memasuki mall, ia langsung menuju salon langganannya, dengan creambat dan sedikit pijatan, itu pasti bisa membuat kepalanya terasa ringan.


Selesai dari salon, gadis itu pun jalan-jalan di mall, makan di salah satu restaurant kesukaannya dan membeli beberapa keperluannya.


Saat ia keluar dari mall, hari sudah mulai gelap. Gadis itu tersenyum membayangkan dirinya yang sampai lupa waktu.


Saat ia menatap langit, bintang nampak bersinar indah di sana dan membuat Maura memutuskan untuk jalan kaki sebentar.


Perasaan Maura mulai terasa tak enak saat ia merasakan kalau ada 2 orang yang mengikutinya. Ia berusaha menenangkan hatinya saat memasuki jalan yang sunyi. Tiba-tiba dua orang itu menyerangnya dan mendorongnya untuk masuk ke sebuah gang yang sepi. Maura berusaha untuk memukul mereka. Ternyata di gang itu sudah ada 4 laki-laki berbadan kekar yang sudah menungguhnya. Otak Maura langsung berpikir keras. Sehebat apapun ilmu bela diri yang dimilikinya, ia takan bisa melawan 6 orang laki-laki bertubuh raksasa itu.


Begitu ada celah, Maura langsung melarikan diri dan berusaha mencari jalan keluar. Gang itu semakin sempit sampai akhirnya, Maura merasakan ada sebuah tangan yang menariknya.


"Ikut aku...!"

__ADS_1


"Ben?" Maura terpana


"Ikut saja. Jangan terpesona seperti itu melihatku" goda Ben sambil terus menarik Maura.


Mereka akhirnya berhenti disebuah sudut yang merupakan jalan buntu.


"Bagaimana ini Ben. Mereka akan menemukan kita" ucap Maura dengan suara bergetar. Jujur ia merasa takut.


"Aku ada akal. Buka bajumu!"


"Di saat seperti ini kamu masih berpikiran mesum?"


"Percayalah ini bukan mesum. Ini untuk menyelamatkan kita berdua."


Maura menurut. Membuka t-Shirt yang digunakannya. Tangannya lalu menutup dadanya yang terekspos.


Ben pun membuka jaketnya. "Apapun yang aku lakukan, jangan menolak. Dan jangan memberontak." kata Ben saat mendengar langkah kaki yang mendekat.


Ia mendorong tubuh Maura sehingga bersandar di dinding. Bibirnya langsung mencium bibir Maura dengan rakus sementara tangannya kirinya memeluk pinggang Maura dan tangan kanannya menarik kaki kanan Maura untuk naik ke atas kakinya.


Maura merinding saat tangan Ben mengusap pahanya yang hanya mengenakan rok mini. Ia memejamkan matanya saat melihat beberapa lelaki yang mengejar mereka tadi sudah mendekat. Tanpa sadar ia membalas ciuman Ben agar akting mereka semakin bagus.


Maura berani sumpah kalau ini adalah adegan paling erotis yang.pernah dilakukanya dengan seorang laki-laki.


"Seperti mereka tak ada di sini. Hanya ada sepasang anak muda yang sedang bercumbu" kata salah satu dari mereka dan langsung pergi.


Maura mendorong Ben saat ia tak mendengar langkah kaki dari pria-pria yang mengejarnya tadi. Napasnya sedikit tersengal karena ciuman panas yang entah kenapa dibalasnya.


Ia segera memungut kaosnya yang jatuh dan mengenakannya kembali.


"Kau sungguh pandai memanfaatkan keadaan. Kenapa juga harus membuka kaos ku?" katanya sambil menyiku pinggang Ben yang sedang menahan tawanya.


Maura melangkah. Membiarkan Ben mengikutinya dari belakang.


"Aku akan mengantarmu" kata Ben


"Tidak perlu."


"Mereka bisa saja masih ada di sekitar sini"


Langkah Maura terhenti. Membayangkan dirinya akan berhadapan dengan enam laki-laki tadi membuat Maura sedikit merinding.


"Baiklah." akhirnya dia mengalah dan membiarkan Ben mengantarnya pulang.


"Minumlah air putih ini. Napasmu terdengar masih belum stabil" Ben menyodorkan sebotol air mineral.


Maura langsung meneguknya sampai habis.


"Astaga.....belanjaanku...."Maura menepuk dahinya.


"Maksudmu paper bag berwarna merah itu?" tanya Bem sambil menunjuk paper bag yang diletakan di jok belakang.


Maura langsung mengambilnya dengan wajah berseri "Makasi ya....Tapi bagaimana ini bisa ada di mobilmu?"


"Aku tadi melihatmu berjalan keluar dari mall. Kebetulan sekali aku baru saja dari mall yang sama denganmu. Jujur saja, kali ini aku mengikutimu dari belakang. Saat melihat kau berlari sambil menjatuhkan paper bag ini, aku langsung memungutnya, menyimpannya di mobil dan segera menyusulmu." kata Ben menjelaskan.


"Sekali lagi terima kasih"


Ben hanya tersenyum sambil terus konsentrasi dengan jalan di depannya.


"Alamatku di...."

__ADS_1


"Aku sudah tahu" Ben memotong ucapan Maura.


"Kau memang mengikuti ku ya..."


"Hanya satu kali" Ben terkekeh. Sebenarnya ia berbohong karena alamat Maura diketahuinya dari identitas Maura yang dikirimkan Joe padanya.


"Kapan pertandingan dance nya di mulai" tanya Ben untuk memecahkan kebisuan diantara mereka.


"Aku keluar"


"Kenapa?"


"Bukan urusanmu"


"Tentu saja ini adalah urusanku. Kan aku sudah bilang aku akan menjagamu sampai kupastikan bahwa kau tidak hamil"


"Aku nggak mungkin hamil."


"Kalau begitu jadilah pacarku"


"Aku sudah mau menikah. Jangan lagi berharap padaku"


"Siapa pria beruntung itu?"


"Aku tak tahu. Kami dijodohkan"


Ben terkekeh " Kamu mau menikah dan tak tahu siapa calon suamimu? Apa kamu kurang waras?"


"Aku pikir pria itu juga kurang waras. Mana ada di dunia yang semodern ini ada pria yang mau begitu saja dijodohkan?"


"Bagaimana kalau dia pria tua dan jelek?"


"Aku pikir dia sedikit ganteng. Soalnya mamanya cantik. Dia juga wanita yang sangat baik."


Mommy Alicia, aku bersyukur dilahirkan sebagai anakmu, batin Ben senang.


"Kita sudah sampai" kata Ben.


Maura membuka sabuk pengamannya. Sebelum ia turun, Ben tiba-tiba menahan tangannya "Maura, berhati-hatilah. Para pria yang menyerang kamu tadi bukan sekedar bandit jalanan. Mereka sepertinya para mafia"


"Makasi Ben. Selamat malam" pamit Maura lalu segera turun.


Ben menatap punggung gadis itu sampai menghilang dibalik pagar rumah. Ia akan menjalankan kembali mobilnya saat hp nya berbunyi.


"Hallo Ben....kamu dimana? Aku sekarang ada di studiomu" terdengar suara merdu Faith dari seberang.


"Mengapa juga jam segini kamu di studioku"


"Mau mengambil foto Caleb dan Chloe. Soalnya Ezekiel lupa tadi. Sementara fotonya harus segera di atur sebagai dekorasi untuk acara besok."


"Baiklah. Aku ke sana sebentar" Ben menjalankan mobilnya. Meninggalkan rumah Maura.


Sementara itu Maura di kamarnya memikirkan kembali kejadian yang baru saja dialaminya. Siapa mereka? Ada urusan apa mereka denganku? Ya Tuhan, apakah aku punya musuh di London ini?


#makasi sudah baca part ini


#Please kase jempol dan komentarnya. Siapa tahu


dari komentar kalian akan menambah ide ke depan


#sampai jumpa di episode berikutnya

__ADS_1


__ADS_2