
Sejak jam 6 pagi, Maura sudah berada di dapur sambil menyiapkan sarapan pagi.
Pagi ini dia hanya menyiapkan roti, telur mata sapi dan saos kacang merah. Tentu saja ia harus bolak balik membuka internet untuk melihat cara membuatnya.
"Good morning"
Maura menoleh dengan kaget saat mendengar suara Ben.
"Kau sudah bangun?"
"Ya. ini sudah hampir jam 8" kata Ben lalu duduk di depan meja makan.
"Kau sudah lapar? Kebetulan sarapannya sudah siap. Aku pikir kamu masih mau sarapan di kamar"
"Aku sudah merasa baikan hari ini."
Maura meletakan piring yang sudah siap dengan makanan di depan Ben. Tak lupa ia menyiapkan segelas susu.
"Kau yang membuat semua ini?"
Maura mengangguk.
"Aku ingin sakit terus kalau begitu. Supaya kamu semakin rajin belajar memasak" kata Ben dengan senyum menggoda.
"Kamu ini....." Maura merasa jantungnya berdetak lagi mendengar pujian Ben.
Ben hanya terkekeh.
"Sudah bisa makan sendiri kan?"
"Sebenarnya aku masih ingin disuapi olehmu."rengek Ben.
"Jangan manja Ben. Makanlah sendiri. Aku juga sudah lapar" Maura menarik kursi dan duduk di depan Ben.
Ben pun mulai menikmati makanannya "Enak..." katanya jujur. Hari ini makanan yang Maura buat sangat pas rasa bumbunya di lidah Ben.
Keduanya makan tanpa bersuara. Hanya sesekali keduanya saling mencuri pandang.
"Ma, kamu ingin kita bulan madu di mana?" tanya Ben saat makanannya sudah habis.
"Bulan madu? Apakah itu perlu? Pernikahan kita kan tidak normal" kata Maura datar membuat Ben terkejut.
"Tidak normal? Apa maksudmu? Aku laki-laki dan kamu perempuan."
"Kita tidak saling mencintai"
"Bukankah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu?" tanya Ben sambil menatap Maura.
"Apakah sekarang kau mencintaiku?" tanya Maura tanpa diduga membuat Ben diam sejenak.
"Ya....sekarang memang belum tapi aku tahu rasa itu akan hadir" kata Ben setelah berpikir keras selama beberapa detik.
Maura tersenyum sinis. Ia berdiri dan membereskan meja makan. " Ben, sebaiknya kita urus urusan kita masing-masing. Jangan bicara cinta lagi"
Ben berdiri, mendekati Maura yang sedang mencuci piring. Ben membalikan badan Maura sehingga keduanya saling berhadapan. Ben memegang kedua bahu Maura.
"Apakah kau sungguh tak tertarik padaku?"
"Ben, apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan buktikan apakah kamu sungguh tak tertarik padaku" Ben menunduk dan langsung memungut bibir indah istrinya, memberikan ciuman panjang.
Maura meronta namun Ben sangat ahli dalam mengunci pergerakan Maura yang nampak kecil dalam dekapannya.
Ciuman Ben membuat seluruh tubuh Maura bergetar. Tangannya yang ada di dada Ben, yang awalnya mendorong tubuh suaminya itu perlahan melemah.
Maura memang tak membalas ciuman Ben. Namun ia membiarkan Ben melakukan semua yang ia mau dibibirnya.
Ben mengahiri ciumannya karena ia memang sudah hampir kehabisan ogsigen.
"Aku tahu kau menikmatinya, Sayang" bisik Ben membuat Maura sadar bahwa Ben berhasil menundukan dirinya dengan ciuman panjang itu.
"Brengsek kau, Ben...!" Maura menginjak kaki Ben lalu mendorong cowok itu. Ia segera berlari meninggalkan Ben menuju ke kamar.
"Bodohnya aku...!" kata Maura sambil memukul kepalanya sendiri. Ia segera masuk ke kamar mandi, berdiri di depan kaca sambil menggosok bibirnya yang baru saja dicium oleh Ben.
Selesai mandi dan ganti pakaian, Maura keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Ben sudah berada di kamar.
"Kamu akan latihan lagi hari ini?" tanya Ben.
Maura hanya mengangguk sambil menyisir rambutnya. Kejadian di dapur tadi membuatnya enggan menatap Ben lebih lama.
"Ini.....!" Ben mengulurkan sebuah kartu
"Apa itu?" tanya Maura bingung.
"Untuk kau pakai dalam keseharianmu"
"Aku punya kartuku sendiri"
__ADS_1
"Simpanlah kartumu dan gunakan kartuku. Sekarang dirimu dan semua kebutuhanmu adalah tanggungjawabku" kata Ben tegas
"Tapi...."
"Aku ingin buktikan padamu kalau pernikahan kita normal. Bukankah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya?" sela Ben sambil menatap Maura dengan penuh arti.
Maura masih diam. Ia memandang kartu itu dengan bingung.
"Ambilah. Semua isinya adalah hasil kerjaku sendiri. Bukan karena pemberian orang tuaku. Kau dapat menggunakannya sesuka yang kau mau. Karena kartu ini unlimited."
Maura akhirnya mengambil kartu itu dan memasukannya ke dalam dompetnya.
"Aku pergi dulu" pamitnya.
"Ma...." Ben menahan tangan Maura," Aku memang playboy yang pernah membuat banyak gadis patah hati. Tapi pernikahan bukanlah suatu permainan bagiku. Aku serius saat mengatakan janji pernikahan kita."
Maura berusaha menekan rasa aneh yang memenuhi dadanya. Ia memang sudah beberapa kali pacaran. Sudah pernah merasakan detak jantung yang berdebar kencang saat ketemu dengan orang yang disukai. Namun tidak dengan pria yang satu ini. Ada getaran aneh yang untuk pertama kali dirasakannya.
"Pergilah, pak Leo sudah menungguhmu" perkataan Ben, diikuti dengan ciuman singkat didahinya membuat Maura segera melangkahkan kakinya.
Bagaimana aku ini? Aku tidak boleh termakan dengan rayuannya. Tapi, ada apa dengan hatiku ini? Setiap kali mendengar rayuannya, setiap kali menatap matanya, bahkan setiap kali dia menyentuhku, aku seperti orang lumpuh yang tak bisa melakukan apa-apa. Kalau begini terus aku bisa gila jadinya.
Maura tanpa sadar memukul kursi yang ada di sampingnya, membuat pak Leo yang sedang menyetir menatap bingung dari balik kaca spion.
"Apa ada yang salah, nyonya?"
"Eh...tidak pak...." Maura buru-buru menggeleng.
Setelah sampai di studio, Maura turun. Saat ia masuk ke dalam, suasana studio masih sepi. Maura menatap jam tangannya. Bukankah ini sudah jam 10 pagi. Dimana yang lain?
"Hai...kau sudah datang?" tanya Alan yang baru keluar dari kamarnya.
"Alan? kemana yang lain?"
"Sedang ke rumah sakit. Clief sakit demam."
"Latihannya?"
"Aku tunda nanti jam 2 siang."
"Kalau begitu aku pergi ke rumah sakit saja" Maura berbalik namun Alan tiba-tiba menarik tangannya dan membawa gadis itu ke pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu"
"Alan....lepaskan"
"Kembalilah bersamaku, sayang. "
"Tinggalkan suamimu itu. Kamu tak mencintainya" Alan melepaskan pelukannya. Ia menatap Maura dengan tatapan penuh cinta.
Maura memalingkan wajahnya.
"Sayang..."
Maura dan Alan sama-sama menoleh. Nampak Ben berdiri di depan pintu masuk.
"Ben?" Maura segera mendekat.
"Hp mu ketinggalan, kebetulan aku mau ke rumah sakit untuk kontrol. sekalian saja aku mampir ke sini" kata Ben sambil menyerahkan hp Maura.
"Terima kasih, Ben."
"Mana yang lain?" tanya Ben nampak penasaran.
"Salah satu teman kami ada yang sakit. Makanya yang lain ke rumah sakit. Latihannya ditunda sampai jam 2 siang."
"Kalau begitu, ikutlah dengan aku. Kita bisa ke rumah sakit bersama"
Maura mengangguk. Menungguh yang lain datang dan hanya berdua saja dengan Alan tentu bukanlah pilihan yang baik.
"Alan, kau tidak ikut?" tanya Ben.
Alan berusaha memberikan senyum terbaiknya "Kalian pergi saja lebih dulu. Aku masih ada urusan"
Ben langsung meraih tangan Maura"Kami pergi ya..."
Maura membiarkan Ben memegang tangannya sampai mereka tiba di depan sebuah mobil sport berwarna merah.
"Mobil baru?" tanya Maura
Ben hanya mengangguk lalu membukakan pintu mobil bagi Ben.
"Ben, kamu sudah bisa menyetir dalam keadaan seperti ini?" tanya Maura
"Pak Leo sedang mengantar mommy ke bandara. Mommy mau terbang ke Paris"
"Aku saja yang membawanya, Ben."
"Baiklah"
__ADS_1
Maura pun akhirnya yang menyetir mobil setelah Ben menyebutkan nama rumah sakit tempat Ben akan kontrol.
Sesampai di rumah sakit, Ben segera menuju ke ruangan dokter Alberth.
"Hallo Mrs. Aslon" sapa dokter Alberth pada Maura.
Wajah Maura sedikit merona saat sapaan itu ditujukan padanya.
"Semuanya bagus, Ben. Kau sudah bisa beraktivitas seperti biasa." kata dokter Alberth selesai memeriksa Ben. Ia pun membuka semua perban yang ada di kepala dan tangan Ben.
"Makasih, dok"
"Bagaimana perkembangan kasus kecelakaanmu? Sudah tahu siapa yang dengan sengaja merusak rem mobilmu?"
Ben sedikit terkejut mendapat pertanyaan tersebut. Ia sebenarnya tak ingin mengatakannya pada Maura namun gadis itu kini sedang menatapnya meminta penjelasan.
"Masih sementara diselidiki, dok. Mungkin besok baru ada hasilnya"
Dokter Albert mengangguk "Hati-hati, Ben."
"Terima kasih, dok. Ayo kita pergi sayang...." ajak Ben.
Maura berdiri "Kami permisi, dok" pamit Maura dan kembali membiarkan Ben memegang tangannya.
Beberapa pasang mata menatap kedua pasangan itu saat keluar dari ruangan dokter Alberth.
Tentu saja banyak yang mengenal cowok tampan yang banyak mengukir prestasi di bidang fotografi itu. Namun mengenai perempuan yang digandengnya, masih banyak yang bertanya.
Apakah itu gabetan barunya?
Sampai kapan hubungan mereka akan bertahan?
Atau itu istrinya?
Namun Ben nampak cuek dengan semua itu. Ia tetap menggenggam tangan istrinya. Sementara Maura nampak sedikit minder. Karena baginya tatapan mata orang-orang yang ada di sana seperti hendak mengatakan kalau dia tidak cocok jika bersama Ben.
"Jangan perdulikan mereka, Ma. Aku bahagia jalan bersamamu" kata Ben dalam bahasa Indonesia seolah ia dapat membaca isi hati Maura.
Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Maura akhirnya bertanya.
"Ben, apakah kecelakaan yang kau alami adalah karena perbuatan orang lain?"
Ben mengangguk.
"Siapa mereka, Ben?"
"Orang yang sama yang mengejarmu malam itu karena mereka memiliki tato yang sama"
"Siapa, Ben?"
"Kelompok Mafia"
Maura menarik napas panjang. "Siapa mereka?"
" Aku juga tidak tahu, sayang. Makanya aku tidak ingin mengatakan padamu. Kita berdua harus lebih hati-hati lagi." kata Ben lembut sambil tangannya mengacak rambut Maura.
Maura merasakan hatinya bergetar dengan sentuhan Ben. Namun ia sekali lagi berusaha menepisnya.
"Kita ke rumah sakit tempat temanmu di rawat" ajak Ben.
"Aku telepon mereka dulu" Maura mengambil hp nya san segera menghubungi Letty.
"Hallo Letty, dimana tempat Clief dirawat?"
"..........."
"Ok. Bye..." Maura menyimpan kembali hp nya.
"Clief sudah pulang"
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu kembali ke club?"
Maura menatap jam tangannya "Ben, bolehkah kita jalan-jalan sebentar? Latihannya akan dimulai jam 2"
Maura memilih untuk menghindar dari Alan.
"Kamu ingin berduaan denganku?"tanya Ben sambil tersenyum menggoda dan menatap Maura mesra.
"Cih...kamu terlalu kegeeran, Ben" Maura membuang muka karena sesungguhnya ia tak tahan menatap mata Ben.
"Kalau begitu, kita pergi makan siang saja" kata Ben akhirnya karena ia semakin gemes melihat mimik wajah Maura yang cemberut.
Maura pun menjalankan mobil dan segera meninggalkan halaman rumah sakit.
Ben melirik istrinya yang nampak serius mengendarai mobil. Ah....dia cantik...sama cantiknya dengan Faith guman Ben dalam hati.
#Makasih sudah baca part ini
#Jangan lupa like, komentar dan Vote nya...
__ADS_1
😍😍😍😍