
Sudah 3 hari Patrick merasa sangat gelisah. Nomor hp Maura sama sekali tak bisa dihubungi. Patrick hanya ingin memastikan bahwa Maura baik-baik saja.
"Ada apa, Rick?" tanya Patricia pada adiknya.
Patrick yang baru selesai berenang dan sedang duduk ditepi kolam memandang kakaknya perlahan.
"Tidak ada apa-apa" kata Patrick lalu meneguk jus jeruk yang ada di dekatnya.
Patricia ikut duduk disamping adiknya. Kakinya digerakannya didalam air, mengikuti gerakan adiknya.
"Kau merindukan Maura?" tanya Patricia hati-hati. Ia takut adiknya marah.
Patrick mengangguk "Aku tak pernah menduga kalau cinta pertama itu sangat sulit dilupakan."
"Maura sudah menikah, Rick. Memang Ben dulunya adalah seorang playboy. Aku sendiri sempat tergila-gila pada ketampanan dan pesona Ben. Kami hanya dekat selama 3 bulan. Dan menjadi pacar Ben sungguh merupakan suatu kebanggan tersendiri. Banyak gadis yang iri padaku. Namun Ben memang tak pernah memiliki cinta untuk semua gadis yang pernah dekat dengannya. Sampai akhirnya aku mendengar kalau Ben menikah. Aku pikir gadis itu haruslah lebih cantik dan terkenal dari diriku. Saat pertama melihat Maura, aku sedikit mengejek dalam hati karena merasa gadis itu tak secantik diriku. Namun saat melihat tatapan mata Ben untuk istrinya, aku baru menyadari bahwa Maura itu begitu istimewa" Patricia menggerakan lagi kakinya. Merasakan dinginnya air.
"Maura memiliki daya tarik tersendiri dibalik kulitnya yang tidak seputih kaum kita. Mata hitamnya, rambut panjang warna hitam khas orang Asia, tubuh mungil dan hidung mancungnya, itulah yang membuat cantiknya alami. Aku kini merasa tak bangga dengan tubuh tinggiku dan kulit putihku."
Patricia menatap adiknya "Carilah gadis lain. Jangan usik Ben dan Maura karena aku yakin, Ben suatu saat akan bertindak tegas kalau kau selalu mengejar Maura"
Patrick mengangkat kakinya dari air, kemudian berdiri dan duduk di kursi. Ia meraih handuk dan mulai mengeringkan tubuhnya.
Patricia pun berdiri. Ia menatap adiknya sekali lagi "Aku ke dalam dulu ya"
Patrick menatap kepergian kakaknya dengan hati gundah. Saat ia pun akan masuk, terdengar bunyi suara hp. Ternyata itu milik Patricia yang tertinggal.
Patrick mengambilnya hp itu dan melihat ada pesan yang masuk. Saat ia akan mengembalikan hp itu di meja, ia melihat ada sebuah gambar wallpaper. Kemudian tangannya bergerak mencari galery foto. Ia terkejut melihat foto di sana. Foto Kakaknya bersama Ben dengan pose yang sangat menantang.
************
Maura mengangkat tangan suaminya yang masih erat memeluknya. Perlahan Maura turun dari tempat tidur, lalu mengambil kaos Ben dan mengenakannya kemudian ia meninggalkan kamar secara perlahan seakan takut kalau Ben akan terbangun.
Selama 3 hari ini, Ben sudah mengurungnya dengan alasan sebagai hukuman karena sudah meninggalkannya.
Maura merasa ia lebih sering melepaskan bajunya dari pada mengenakannya.
Yang mereka lakukan hanyalah bercinta sepanjang hari di kamar, lalu makan bersama, mandi bersama, Ben sama sekali tak membiarkannya seorang diri kecuali dia akan ke toilet.
Mereka bahkan memesan makanan lewat paket online. Ben sungguh membuat Maura sangat lelah. Ia bahkan sudah mahir melakukan banyak hal yang diajarkan Ben padanya dalam hal bercinta.
Maura ingin memasak sore ini. Ia bosan makan makanan yang dipesan lewat paket online.
Selama berpisah 2 bulan dengan Ben, Maura banyak belajar dari Naomi berbagai masakan yang ada.
Ia memeriksa kulkas dan melihat isinya. Ternyata tak banyak yang ada. Ia pun mengambil hp nya, mengaktifkannya kembali dan memesan bahan makanan melalui toko online.
Saat menungguh bahan makanan datang, Maura membuat kopi melalui mesin pembuat kopi.
Sebuah tangan melingkar dipinggang Maura dan membuatnya terkejut dan hampir saja menumpahkan kopi yang ada ditangannya.
"Ben....lepaskan aku...!"
Ben semakin erat memeluk istrinya dan mencium leher Maura dengan gemas. Rambut Maura yang digulung ke atas membuat Ben leluasa menggerakan bibirnya di sana sambil sesekali tersenyum melihat beberapa kissmark hasil mahakaryanya selama 3 hari ini.
"Ben...!" Maura meletakan cangkir ditangannya dan berbalik menatap suaminya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan itu.
__ADS_1
Ben tersenyum lalu menangkup dagu Maura dengan tangan kanannya.
"Kau bangun dan membiarkan aku sendiri?"
Maura melingkarkan tangannya dileher Ben "Aku lapar sayang...."
"Kita kan bisa memesannya"
"Aku mau masak, Ben. Bosan makan makanan dari luar"
Ben menempelkan dahi mereka. Lalu ia mencium hidung mancung istrinya "Memangnya kamu sudah pintar masak?"
"Ya. Aku belajar dengan Naomi selama kita berpisah. Aku sudah memesan bahannya dan sebentar lagi akan datang" Maura melepaskan pelukan Ben. Lalu menuangkan segelas kopi lagi dan memberikan kepada suaminya.
"Makasi sayang..." Ben menerima gelas itu lalu duduk di depan meja makan.
Tak lama kemudian, pesanan datang. Ben yang mengambilnya dipintu masuk karena Maura hanya menggunakan kaos Ben yang kebesaran ditubuhnya.
Mereka pun akhirnya masak bersama walaupun banyak gangguan dari Ben yang hampir setiap 5 menit selalu mencium Maura.
Setelah makan Maura membersihkan meja makan.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk! Bosan di rumah terus !" rengek Maura sambil mengeringkan tangannya dibawa alat pengering tangan otomatis.
"Aku memang malam ini rencananya mau ke Club milikku. Kamu mau ikut?"
"Aku boleh mengajak teman-temanku di The Crown? Aku kangen dengan mereka. Lagi pula mereka belum pernah ke club malam mewah seperti milikmu"
"Tentu saja boleh. Sekarang ayo kita mandi."
Ben tersenyum "Aku janji sayang. Kita hanya akan mandi. Aku tahu kamu capeh. Ayo...!" Ben menarik tangan Maura untuk segera menuju ke lantai 2.
Sebelum mandi, Maura segera menghubungi teman-temannya. Setelah itu ia menyusul Ben ke kamar mandi.
***********
Clieft, Letty, karen dan Mona sudah menungguh Maura di depan pintu masuk.
Saat melihat Maura turun dari mobil sport suaminya, mereka langsung berpelukan dengan gembira.
"Sayang, aku boleh ikut bergoyang bersama mereka kan?" bisik Maura saat sudah masuk ke dalam.
"Boleh. Asalkan jangan terlalu capeh. Ingat, hutangmu padaku masih banyak"
Maura mencubit pinggang Ben lalu meninggalkan suaminya itu dan bergabung dengan teman-temannya.
Ben menuju ke meja bartender.
"Selamat malam, tuan!" sapa Donald.
"Hallo Donald. Berikan aku satu"
Donald menuangkan satu jenis minuman dengan kadar alkohol paling rendah.
"Istri tuan nampak bahagia dengan teman-temannya" kata Donald sambil menuangkan lagi minuman di gelas Ben yang sudah kosong.
__ADS_1
Ben menatap Maura yang sudah asyik bergoyang mengikuti irama lagu yang diputar oleh DJ.
Aku sudah menghukumnya selama 3 hari ini. Wajarlah kalau dia senang. Senyum di wajahnya itu membuatku juga bahagia.
"Tuan pasti sangat menyayanginya. Aku tak pernah melihat tuan memandang gadis seperti itu"
Ben mengangguk sambil memutar kursinya menghadap Maura "Dia memang milikku!"
"Ah....sangat menyenangkan. " pekik Maura merasakan badannya sangat rileks setelah 3 hari terkurung dalam penjara cinta Ben.
"Kau punya suami yang bukan hanya tampan dan kaya tapi juga mengerti akan kesukaanmu" kata Letty.
"Ya...dalam hal ini aku sungguh beruntung menikah dengannya" tawa Maura lepas.
"Ra....!"
"Patrick?"
Patrick memegang tangan Maura dan menariknya keluar dari kerumunan itu.
"Patrick, lepaskan tanganku!" Maura menarik tangannya dari genggaman Patrick sambil mencari dimana keberadaan Ben.
Mata Patrick menatap Maura dengan tatapan kerinduan "Aku merindukan kamu, Ra"
"Patrick, aku dan Ben sudah baikan. Aku kini sudah tinggal kembali ke apartemennya"
Patrick tersenyum sinis "Kau dengan mudahnya jatuh lagi ke pelukannya? Dia itu play boy, Ra. Dia akan menyakitimu lagi dan lagi"
"siapa bilang aku akan menyakitinya?" Ben tiba-tiba muncul dan memeluk pinggang Maura dengan sikap posesif.
Patrick menatap Ben dengan tatapan tajam "Kau tidak pantas memilikinya. Maura adalah gadis baik"
"Dia milikku. Dan selamanya akan seperti itu. Pergilah Patrick. Atau aku akan mencabut hak keanggotaanmu di club ini!" kata Ben dengan suara mengancam.
Patrick menatap Maura "Aku akan menunjukan padamu, Ra. Lelaki playboy ini tak pernah berubah" lalu Patrick melangkah pergi.
"Ben, maafkan aku"
Ben mencium kepala Maura "Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku hanya tak ingin milikku diganggu oleh orang lain" Kata Ben penuh penekanan lalu melepaskan pelukannya.
"Kembalilah ke teman-temanmu. Aku akan terus mengawasimu!"
Maura tersenyum lalu segera melangkah. Namun ia tiba-tiba berbalik dan langsung melingkarkan tangannya dileher Ben dan mencium suaminya itu dengan ciuman yang cukup panjang dengan gaya sensual.
"Kau harus membayar ini karena sudah menggodaku!" kata Ben dengan senyum nakalnya.
"Aku akan membayarnya di ranjang kita" Maura mengerlingkan matanya lalu segera melangkah kembali ke arah teman-temannya.
Ben sedikit terperanjat dengan sikap dan kata-kata istrinya.
Astaga....apakah dia Maura yang polos dan sedikit jutek itu? Ben....apa yang sudah kau ajarkan padanya??
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARNYA DAN VOTE YA JIKA SUKA
__ADS_1