
Tepuk tangan terdengar saat Ben naik ke atas panggung kecil yang disiapkan di sana.
"Terima kasih atas kedatangannya di pameran fotoku ini. Aku sangat bahagia karena apa yang kurencanakan bisa terwujud pada hari ini. Kali ini, aku menceritakan tentang kisah hidupku melalui foto ini. Aku sudah ribuan kali melihat objek foto yang akan kuambil namun hanya dengannya hati dan tanganku ikut bergetar setiap kali aku mengambil gambarnya. Aku sudah melalui banyak momen indah dalam hidupku namun hanya melihatnya tertawa atau juga marah membuatku sadar bahwa bersamanya jauh lebih indah dari apapun. Aku sudah memiliki ratusan penghargaan dalam hidupku karena foto-foto yang kubuat namun foto terbaik yang pernah kubuat hanyalah gambar dirinya. Karena itu tema pameran fotoku tahun ini adalah MY BEST PHOTO. Dialah Maura Belinda foto terindah dalam hidupku. I love you, Maura...!" Ben mengahiri pidato singkatnya sambil membungkukan badannya, memberi hormat pada ratusan orang yang berdiri di halaman itu.
"Selamat menikmati" katanya sebelum turun dari panggung.
Faith yang melihat Ben turun dari panggung tak dapat menahan air matanya. Tangannya sudah puluhan kali menekan nomor hp Maura namun perempuan itu tak juga menerima panggilannya itu.
"Sayang, sudahlah. Maura tak mungkin akan datang." Ezekiel meraih hp dari tangan Faith dan memasukannya di kantong celananya.
" Mereka berdua sungguh bodoh! Keras kepala. Mereka pasti akan terus merasa sakit karena prinsip tentang cinta yang sangat berbeda itu"
Ezekiel meraih tangan istrinya lembut "Usahamu sudah cukup. Selebihnya biar Tuhan yang menentukan"
Wajah Faith masih nampak jengkel saat Ben mendekati mereka.
"Kamu bodoh, Ben!" kata Faith sambil memukul lengan Ben dengan sengaja.
Ben tersenyum "Dia suatu saat akan tahu"
Faith akan bicara lagi namun salah satu pengasuh anaknya memanggilnya. Ia segera meninggalkan Ben dan Ezekiel untuk menemui kedua anaknya yang ada diruangan lain studio ini.
"Kau keras kepala, Ben. Bagaimana jika Maura benar-benar akan pulang ke Indonesia?"tanya Ezekiel sambil menatap istrinya yang telah pergi.
Ben menarik napas panjang "Berarti kisah kami berakhir di sini"
"Kau akan pergi juga?" Ezekiel menatap Ben curiga.
Ben hanya tersenyum " Aku menungguhnya sampai malam ini."
*************
Setelah jamuan makan malam selesai, Ben kembali ke ruangannya.
"Bos, apa kau juga akan pergi?"
Ben mengangkat wajahnya dan menatap Luna. "Mungkin. Makanya aku akan menyerahkan beberapa pekerjaan pada kalian. Semuanya sudah kumasukan ke dalam agenda kerja kita selama 1 bulan ini"
Luna nampak sedih "Kau akan pergi lama?"
Ben tersenyum "Gaji kalian akan tetap ku bayarkan selama aku pergi. Bisa saja lama, bisa saja cepat tergantung suasana hatiku."
"Bos, jangan sampai patah hati ya?"
Ben terkekeh "Kalau dulu aku masih jadi playboy, aku mungkin takan patah hati. Namun sekarang, aku bukan playboy lagi jadi aku mungkin akan patah hati"
Luna hanya tersenyum hambar. "Semangat bos!" katanya sebelum keluar.
Ben kembali merasa sepi. Di pandanganinya cincin pernikahan mereka dengan hati yang hancur. Lalu dia menelepon Pak Leo, sopir mamanya.
"Hallo, pak Leo, tolong jemput aku di apartemen ya?"
"Baik, tuan!"
Ben melangkah meninggalkan ruangannya. Ia ingin berjalan kaki saja menuju ke apartemennya. Sambil menikmati malam di musim panas. Ben menatap ke arah sungai Thames, berharap menemukan sosok tomboy berambut panjang yang sudah mencuri hatinya. Namun tempat itu kosong. Ben berhenti sejenak di sana, memegang pagar pembatas itu. Matanya sedikit terpejam, membayangkan Maura yang menatapnya dengan wajah manisnya itu. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke apartemennya.
************
__ADS_1
Luna memeriksa semua pintu ruangan apakah sudah terkunci dengan baik, setelah itu dia pun bersiap untuk pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang baru saja masuk.
"Luna, kemana Ben?"
"Sudah pergi, nyonya"
"Kemana?"
"Tidak tahu!"
Maura meraih hp nya dari saku celananya dan menelepon Ben tapi nomor Ben tidak aktif.
Mungkin Ben sudah pulang...
Maura memutuskan untuk pergi ke apartemen. Namun sudut matanya menangkap foto-foto yang ada di ruangan tempat pameran foto dilaksanakan.
Langkahnya diarahkan ke sana dan ia langsung jatuh karena seluruh persendiannya seperti kehilangan kekuatan saat menatap semua foto dirinya yang ada di sana.
Ben, inikah semua bukti cintamu kepadaku? Kau ternyata diam-diam suka mengambil fotoku tanpa aku sadari.
Maura berusaha kembali berdiri. Ia melangkah ke arah foto itu. Semua foto ada tulisan tangan Ben di atasnya.
Foto pertama adalah foto yang diambil setahun yang lalu, saat mereka pertama kali bertemu dipinggiran sungai Thames itu.
Ben menuliskan : PERTAMA KALI MELIHAT ADA BIDADARI DI TENGAH MALAM.
Foto yang kedua, adalah fotonya yang tertidur di kamar club malam, tertutup selimut tebal tanpa mengekspos tubuhnya yang saat itu polos tanpa baju. Ben menuliskan : HANYA DENGAN MEMANDANGNYA TIDUR, HATI INI DAMAI.
Foto yang ketiga adalah foto Maura saat diwawancara bersama The Crown. Walaupun difoto dengan banyak orang namun Ben membuat wajah yang lain menjadi blur sehingga hanya wajah Maura yang kelihatan.
Air mata Maura semakin deras mengalir. Perasaannya bagaikan tercabik-cabik menatap semua foto itu. Ben ternyata mengabadikan banyak momen kebersamaan mereka. Ada foto saat Maura duduk di sofa sambil bermain hp, ada foto bulan madu mereka di Medan, ada foto saat Maura memasak di dapur dengan tulisan: RASANYA TAK PENTING, KARENA DIMAKAN DENGAN CINTA SEMUANYA JADI LEZAT.
Maura merasa dicintai melihat semua foto itu. Ben benar, ia tak perlu mengatakan bahwa dia mencintai Maura, karena cinta cukup dirasakan.
Langkah Maura berhenti di depan foto pernikahan mereka. Kalimat yang ditulis Ben di sana agak panjang : HARI PALING BAHAGIA, MENJADIKANMU MILIKKU SELAMANYA. AKU AKAN MENJAGAMU SAMPAI NAPAS TERAKHIRKU.
"Ah.....hiks...hiks.." Tangisan Maura semakin dalam. Sejuta penyesakan seakan merobek-robek hatinya. Ia tak tahu, apakah Ben bisa memaafkannya atau tidak.
Coba seandainya tadi dia datang saat Faith meneleponnya. Pasti dia akan melihat keindahan ini bersama Ben di sampingnya.
"Nyonya, ini adalah video pidato tuan Ben untuk anda" Luna mendekat sambil menyerahkan hp nya. Maura menatap layar hp itu. Tangannya sampai bergetar sehingga Luna langsung mengambil alih sambil terus mengarahkan layar hp nya pada Maura.
"Apa yang sudah kulakukan Tuhan? Aku sungguh bodoh...bodoh...!" Maura mengutuki dirinya sendiri.
"Nyonya, tuan sangat mencintai anda. Cepatlah susul tuan ke apartemen. Jangan sampai tuan pergi!"
Maura terkejut "Pergi?"
"Ya. Tuan berencana hendak ke luar negeri dalam waktu yang lama. Ia bahkan sudah meninggalkan banyak pekerjaan pada kami."
Maura mengangguk. "Terima kasih, Luna" Maura berlari meninggalkan Studio, ia langsung naik ke atas motornya dan melaju menuju ke apartemen.
Tangannya sampai gemetar ketika ia memasukan kode untuk membuka pintu.
"Ben.....!" teriaknya saat pintu sudah terbuka.
Di lantai satu tidak ada orang. Maura berlari menuju ke lantai dua. Namun di sana pun tidak ada orang.
__ADS_1
"Ben....kamu dimana?"
Maura duduk dengan lesuh di pinggir tempat tidur. Ia berusaha menghubungi Ben kembali namun ponsel Ben sama sekali tidak aktif.
Tangan Maura membuka laci meja rias, tempat Ben biasa menyimpan pasportnya. Benar saja, pasport itu sudah tak ada.
Dada Maura terasa sesak. Apalagi saat matanya menatap foto Ben dan Patricia yang ada di laci meja itu.
Di pandanganinya foto itu dengan seksama. Foto itu memang benar adalah foto Ben, namun Ben dengan poni yang sedikit panjang sedangkan Ben yang sekarang, adalah Ben dengan potongan rambut yang lebih pendek.
"Ya Tuhan.....aku memang bodoh....sangat bodoh...! Ben....kamu dimana?"
Hp Maura berbunyi. Ternyata dari Luna "Nyonya, coba hubungi pak Leo, tadi saya mendengar kalau tuan meminta pak leo untuk menjemputnya di apartemen."
"Terima kasih Luna"
Maura merasa ada secerca harapan baginya. Ia pun langsung menghubungi Pak Leo.
"Hallo nyonya Maura" sapa pak Leo dengan suara sedikit terkejut karena Maura menghubunginya.
"Pak Leo, apakah Ben bersama denganmu?"
"Saya sudah di rumah, nyonya. Tuan Ben sudah saya tinggalkan di bandara 30 menit yang lalu"
"Apa? Dia mau kemana?"
"Tuan tidak mengatakan apa-apa. Di perjalanan tadi dia hanya meminta supaya kendaraannya dipercepat karena dia hampir ketinggalan pesawat."
Hp yang dipegang Maura jatuh dengan sendirinya.
"Ben....apakah kamu meninggalkan aku? Apakah pernyataan cinta yang kau ucapkan tadi sebagai salam perpisahan?"
Maura menangis semakin dalam. Namun ia tiba-tiba berdiri. Ia akan ke bandara. Siapa tahu pesawat yang ditumpangi Ben mengalami penundaan keberangkatan.
Ia kembali melaju dengan motornya menuju ke bandara. Sesampai di sana, Maura berlarian seperti orang gila mencari keberadaan Ben.
Setelah ia tak menemukannya, ia menuju ke ruang informasi.
"Bolehkah saya bertanya, dalam satu jam ini penerbangan kemana saja yang sudah berangkat"
Gadis di bagian informasi itu menatap Maura dengan bingung "Sangat banyak nona.."
"Sebutkan saja !" kata Maura dengan tak sabar.
Gadis itu menatap layar komputernya dan mulai berbicara.
"China, Amerika, Australia, Singapura, Belanda..."
Maura tak mampu lagi mendengar. Ia langsung berlari keluar dari bandara. Air matanya semakin deras membanjiri pipinya.
Aku sudah kehilangan Ben.....aku sudah kehilangan cinta terbesar dalam hidupku
Maura menambah laju motornya. Pikirannya semakin kacau, pandangannya menjadi kabur sampai ia tak menyadari bahwa ia berada di ruas jalan yang salah. Dia sungguh menulikan telinganya saat mendengar suara klakson mobil yang begitu banyak. Ia bahkan tak menyadari bahwa motornya sudah ditabrak oleh sebuah mobil dan menyebabkan tubuhnya terpental ke udara dan kemudian jatuh di pinggir jalan.
MAKASI SUDAH MEMBACANYA
LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA JIKA SUKA
__ADS_1