
Suasana pagi dimusim gugur terasa agak berbeda kali ini. Maura bangun pagi dan menemukan bahwa Ben ada di sampingnya. Tertidur dengan punggung yang membelakanginya. Maura tersenyum lega saat menyadari kalau bantal-bantal yang dijadikannya pembatas masih ada di tempatnya.
Berarti semalam aku mimpi dipeluk Ben sambil dia berbisik, mengucapkan terima kasih karena sudah merawarnya.
Maura menggelengkan kepalanya. Mengusir mimpi yang menurutnya seperti kenyataan saja. Jarum jam menunjukan pukul 6 pagi.
Perlahan ia turun dari tempat tidur, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia turun ke bawa.
Sarapan apa yang harus aku siapkan ya? Aku cari di internet saja, makanan apa yang bagus untuk orang yang baru saja kecelakaan.
Setelah menemukannya, Maura pun pergi ke supermarket yang tak jauh dari apartemen. Supermarket itu buka 24 jam.
Setelah bahan-bahan yang diperlukan sudah ia dapat ia pun kembali ke apartemen.
Sambil membuka hp nya untuk melihat cara membuatnya, Maura pun mulai bekerja.
1 jam lebih dihabiskan oleh gadis itu untuk memasak di dapur. Ia bahkan telah membuat dapur itu menjadi sangat berantakan.
"Wah, akhirnya selesai juga. Apakah rasanya enak atau nggak enak ya? Ah...terserah Ben mau makan atau tidak yang penting aku buat saja."
Maura mengatur semuanya di atas baki, merapihkan rambutnya sebentar dan dia segera naik ke atas.
Saat ia membuka pintu, nampak Ben baru keluar dari kamar mandi.
"Ben, kamu sudah bisa sendiri?"
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah berteriak memanggilmu namun kamu tidak bisa mendengarnya karena kamarku ini kan kedap suara" Ben duduk di atas sofa sambil menyandarkan kepalanya.
"Aku membawakan sarapanmu" Maura meletakan baki yang dibawahnya dipangkuan Ben.
"Kelihatannya enak. Kamu pesan dimana?"
"Aku membuatnya"
"Apa?"
Maura tertunduk "Aku membaca diinternet makanan apa yang sehat untuk orang yang baru saja kecelakaan. Kebetulan bahan-bahannya mudah didapatkan. Jadi aku mencoba membuatnya" kata Maura agak malu.
Ben mencoba makanan itu. Dilidahnya terasa agak asin. Namun ia tak mau Maura kecewa.
"Enak...untuk pemula sepertimu rasanya lumayan."
"Benarkah?" Mata Maura berbinar.
Ben mengangguk "Aku akan menghabiskannya asalkan kau yang menyuapiku"
"Kau ini..."
"Tanganku masih sakit, Ma"
Maura menarik sofa yang satu dan mendekatkannya disebelah Ben. Ia mengambil baki makanan itu, meletakannya diatas pangkuannya dan mulai menyuapi, Ben.
"Makasih sayang..." kata Ben setelah sarapannya habis.
Maura hanya tersenyum. Saat ia menatap jam didinding, ia agak terkejut.
"Ya ampun, sudah jam 9 lewat" pekiknya
Ben menatap Maura heran "Ada apa?"
"Aku harus latihan pagi ini. Kami masuk final." Maura berdiri. Ia melangkah ke kamar mandi. Tapi baru 3 langkah ia berbalik lagi.
"Apakah aku boleh meninggalkanmu?"
"Kamu mencemaskan keadaanku?"
"Ben, jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan." Maura jadi cemberut.
"Pergilah. Aku akan baik-baik saja"
"Bagaimana makan siang dan makan malammu? Kami mungkin latihannya sampai malam"
"Aku akan menelepon pembantu di rumah mama dan meminta mereka untuk datang ke sini"
"Tolong juga bereskan dapurnya yang sedikit berantakan ya?" kata Maura sedikit malu. Lalu ia segera mengambil bajunya dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Ben mengangguk.
Begitu Maura menghilang dibalik pintu, Ben segera menelepon pak Leo dan memintanya untuk mengantarkan Maura ke tempat latihan. Karena sebelum Maura masuk sambil membawa sarapan tadi, pihak kepolisian baru saja menelepon memberitahukan bahwa sistem komputer di mobil Ben sengaja diretas oleh seseorang sehingga rem mobilnya yang dengan sengaja dirusak tak bisa terbaca.
Ben memilih tak mengatakannya pada Maura karena tak ingin gadis itu cemas. Ia pun meminta bantuan dari Joe karena bisa saja kamera cctv dari Thomson Company menangkap sesuatu di kamera mereka. Cctv yang ada di studio Ben pun telah diretas sehingga tak menampilkan gambar apapun.
Maura keluar dari kamar mandi dengan celana jeans dan kaos ketat berwarna putih. Wajahnya yang kelihatan segar tanpa make up justru membuat kecantikan gadis itu nampak bercahaya.
Ben terus memperhatikan istrinya yang memoles bedak dan lipstick dibibir tipisnya itu. Rambutnya yang hitam itu dibiarkan tergerai karena masih basah.
"Kamu cantik" puji Ben saat Maura sudah selesai dan hendak pergi.
"Jangan gombal lagi, Ben. Kau takan berhasil merayuku"
"Aku bukan merayumu. Aku mengatakan kebenaran"
Maura menghindari kontak mata dengan Ben. Ia berusaha menetralkan debaran jantungnya yang kembali berdetak cepat.
"Aku pergi ya..."
"Pak Leo sudah menungguhmu"
"Aku kan bisa naik taxi"
"Pergilah, Pak Leo akan menungguhmu sampai selesai latihan. Jangan membantah. Kalau tidak aku akan menciummu" ancam Ben.
"Dasar bule gila!" umpat Maura dalam bahasa Indonesia dengan suara yang pelan sambil meraih tasnya.
"I can hear you baby..."
Maura terkekeh dan segera menutup pintu kamar.
Ben yang melihat pintu kamar tertutup pun tersenyum senang.
Ah.....Ben, selain Faith, ternyata masih ada gadis lain juga yang tidak terpesona dengan rayuanmu, ejek hatinya sendiri.
Ben bangun dan meraih hp nya. Ia menelepon asistennya untuk datang ke apartemen sekaligus meminta pelayan yang ada di studio untuk membersihkan apartemen.
************
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Letty.
"Kayaknya kurang fokus dalam latihan. Sebentar-sebentar memeriksa hp mu. Ada masalah?"
"Nggak. Hanya saja suamiku sedang sakit. Ia mengalami kecelakaan"
"Oh ya? Bagaimana keadaan si ganteng itu? Maaf ya kalau aku sedikit kepo. Suamimu itu memang ganteng"
"Dia baik-baik saja. Namun tangannya masih sakit sehingga ia belum bisa makan sendiri"
"Kamu mencintai suamimu itu ya? Kelihatan sekali kalau kamu ingin pulang"
Maura diam mendengar perkataan Letty. Apa benar aku mengkhawatirkan dia? Tidak, aku hanya kasihan saja padanya. Dia kan tidak bisa bergerak lebih karena sakit.
"Kamu melamun lagi. Ayo ijin saja pada Alan dan pulang"
Maura menggeleng. Ia meneguk minumannya dan meraih hp nya. Mungkin sebaiknya aku menelepon dia dan menanyakan keadaannya, batin Maura.
"Hallo, Ma" sapa Ben dari seberang.
"Bagaimana keadaanmu, Ben?"
"Aku merindukanmu"
"Ben, aku bertanya tentang kesehatanmu"
"Tubuhku sehat. Tapi tidak hatiku"
"Kamu ini. Aku tutup dulu ya..." Maura mematikan hp nya dan meletakan kembali di atas meja. Ia jadi senyum sendiri sekaligus senang karena Ben kedengarannya baik-baik saja.
Alan dari jauh memandang Maura. Hatinya perih melihat Maura yang nampak bahagia.
Sampai kapanpun kau akan kukejar. Akan ku hancurkan semua yang menghalangiku untuk memilikimu, batin Alan lalu kembali mengajak anak-anak untuk latihan.
**********
__ADS_1
Maura tiba diapartemen saat waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Ia menolak ajakan Alan yang akan mentraktir anak-anak makan malam di restaurant karena salah satu diantara mereka ada yang ulang tahun.
Ada senyum tersungging dibibir Maura saat melihat bahwa dapur sudah rapih.
Bahkan ada makanan yang sudah disiapkan di meja. Apakah Ben juga sudah makan?
Maura melangkah menaiki tangga. Saat ia membuka pintu kamarnya, nampak Ben sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Hai Ben " sapa Maura.
"Hallo, Ma."
"Sudah makan?"
Ben menggeleng "Aku menungguhmu"
"Aku ganti baju dulu sebentar dan menyediakan makananmu, ya?" Maura segera masuk ke dalam walk in closet dan mengganti bajunya dengan cepat. Setelah itu ia turun ke bawa, menyiapkan makanan Ben dan obat yang akan diminumnya malam ini.
Sesampai di kamar, ia pun menyuapi Ben seperti biasa.
"Kapan finalnya akan dilaksanakan?" tanya Ben saat disela-sela makannya.
"4 hari lagi"
"Setelah itu apakah kau masih akan bergabung dengan the Crown lagi?"
Maura menggeleng "Aku sudah janji pada papaku kalau setelah lomba ini aku akan berhenti."
"Baguslah. Dengan begitu, kita bisa menyiapkan bulan madu kita"
"Bulan madu?" tanya Maura dengan wajah yang sedikit merah.
"Ya. Kita sudah hampir sebulan menikah namun belum pernah bulan madu. Bagaimana kita bisa menjadi dekat?" ujar Ben sambil menatap Maura tanpa berkedip
Maura memutuskan tatapan itu dengan pura-pura menyiapkan obat Ben.
"Minum obatmu, Ben" katanya sambil menyerahkan obat itu ditangan Ben.
"Aku ke bawa dulu" Maura segera turun ke bawa sambil membawa kembali baki yang berisi tempat makan yang sudah kosong.
Ia pun mencoba menikmati makan malam sendiri.
Bulan madu? Astaga.....jika bulan madu bukankah aku dan dia harus...ih...membayangkannya saja membuatku sedikit merinding, guman Maura.
Ia pun menghabiskan makannya dan segera mencuci semua peralatan makan yang dipakai.
Saat ia membuka pintu kamar, ia terkejut melihat Ben yang masih duduk di atas tempat tidur. Pada hal ia hampir satu jam berada di bawah.
"Ben, kenapa kamu belum tidur?"
"Aku ingin mengganti pakaianku. Tapi kepalaku masih agak pusing"
" Baiklah. Apakah juga dengan celana dalammu?"
Ben mengangguk.
Maura segera mengambil baju Ben didalam lemari. Setelah itu ia mulai membuka baju Ben. Saat ia akan membuka baju dalam Ben, Maura pun memejamkan matanya. Jantungnya kembali berdetak cepat.
"Sudah selesai" kata Maura. Ia akan berdiri namun Ben menahan tangannya.
"Terima kasih sudah merawatku" kata Ben lembut. Tangannya yang satu masih menahan tangan Maura sehingga gadis itu tak bisa bergerak dan tetap duduk di tepi ranjang.
Tangan Ben yang satu memegang dagu Maura. Ia mendekatkan wajahnya dan...
cup....
Satu ciuman lembut mendarat di dahi Maura.
"Selamat malam" kata Ben lalu melepaskan pegangan tangannya.
Maura menelan salivanya yang terasa berat. Ia berdiri, mengambil baju kotor Ben dan membawanya ke keranjang baju. Setelah itu ia mematikan lampu kamar, mengambil bantal untuk membuat batasan antara dirinya dengan Ben, kemudian ia membaringkan tubuhnya membelakangi cowok itu.
Ben tersenyum memandang punggung Maura. Aku akan menaklukanmu dengan semua cara yang aku punya, sayang..batinnya lalu menungguh Maura terlelap sehingga ia bisa kembali mendekap istrinya itu.
#makasih sudah membaca part ini
__ADS_1
#jangan lupa like, komentar , dan vote nya ya....
#Baca juga ceritaku yang berjudul L E R I N A