
Semua pelayan yang ada di The Thomson Hotels Bali sedang bekerja dengan sangat giat karena besok adalah ulang tahun nyonya pemilik hotel ini, Faith Amelia Thomson.
sudah sejak 3 hari yang lalu keluarga Thomson ada di sini. Untuk yang pertama kali mereka datang lengkap bersama-sama anak mereka.
"Sayang.....!" panggil Ezekiel. Ia melihat Faith sedang mengatur beberapa kue buatannya di atas sebuah nampan.
"Eze....!" Faith tersenyum memandang suaminya. Sebuah kecupan manis mendarat di pipinya yang masih saja terlihat mulus.
"Ayo ke pantai. Semua sudah berkumpul di sana!" kata Ezekiel.
"Apakah Ben dan Maura sudah datang?"
"Sepertinya pesawat mereka sudah mendarat. Sopir sudah menjemput mereka di bandara"
"Mereka dari Medan ya?"
"Iya. Mereka sudah seminggu ada di Medan"
Faith menyelesaikan pekerjaannya. Ia lalu membersihkan tangannya dan meminta seorang pelayan untuk membawakan kue itu di tempat mereka akan berkumpul.
"Ayo !" ajak Faith lalu menggandeng tangan suaminya. Keduanya melangkah keluar menuju ke bagian belakang hotel itu.
Para pelayan dan pegawai yang melihat itupun tersenyum. Karena Ezekiel, pria yang terkenal sangat pemarah, pemaksa dan jarang tersenyum dengan orang, justru luluh pada seorang perempuan bertubuh mungil yang secara tak sengaja bertemu dengannya di tempat ini.
Pandangan mata Ezekiel selalu penuh cinta, setiap kali ia memandang istrinya itu.
"Bunda.....!" Chloe mendekat. Ia memeluk Faith sambil mengusap matanya yang basah.
"Ada apa, sayang?"
"Kakak nakal. Aku kan mau minta kakak untuk mengambil gambarku di dekat kolam, eh...dianya malah sibuk dengan Zelina" aduh Chloe dengan wajah cemberutnya namun tak mengurangi kecantikannya.
"Mari sini, biar daddy yang mengambil foto Chloe!" Ezekiel meraih tangan putrinya dan segera pergi ke tempat yang putrinya itu inginkan.
Faith mencari Caleb. Putranya itu nampak sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan Zelina, putri sahabatnya Dina dan Daniel.
"Anakku itu suka sekali bermain dengan putramu!" ujar Dina saat Faith mendekati mereka dan ikut duduk bersama mereka.
"Ya. Mereka kan sudah beberapa kali bertemu saat kami berkunjung di Manado" kata Faith tanpa mengalihkan pandangannya pada putranya itu.
"Dia sangat tampan, Faith. Mirip dengan Ezekiel." kata Dina lagi.
"Ya. Bahkan sifatnya pun sama. Ia memiliki tatapan tajam dan sedikit pemaksa seperti daddy nya" imbuh Faith disambut tawa Dina dan Daniel.
Ezekiel yang sudah selesai mengambil foto Chloe, ikut bergabung bersama mereka. Tak lama kemudian Joe dan Rachel pun datang. Keduanya baru saja bangun dari tidur sorenya.
Caleb yang sedang bermain bersama Zeline tiba-tiba berhenti berlari dan mendekati bundanya.
"Bunda, apakah paman Ben akan datang?" tanya Caleb.
Faith menatap putranya yang kini berusia 10 tahun. "Ya. Sopir daddy sudah menjemput mereka di bandara"
Caleb mengangguk. Wajahnya nampak senang.
Baru saja Faith selesai berbicara, nampak Ben datang dengan istri dan anak perempuannya yang berusia 7 tahun yang bernama Grace.
Caleb tersenyum melihat kedatangan Grace. Sedangkan Zelina, nampak cemberut melihat Caleb yang mendekati Grace.
"Paman Ben, bolehkah aku mengajak Grace jalan-jalan?" tanya Caleb
"Di sini banyak gadis, mengapa harus Grace yang kau ajak?" tanya Ben.
__ADS_1
"Sebab Grace terlalu cantik untuk ku biarkan pergi dengan pria lain."
Semua terpana mendengar pengakuan Caleb.
"Caleb....." Ezekiel memandang putranya tak percaya.
"Kau menyukai Grace?" tanya Ben lagi.
"Ya" jawab Caleb tanpa ada keraguan.
Ben menatap putrinya " Kau juga menyukai Caleb?"
"Yes daddy..." jawab Grace malu-malu.
"Aku juga menyukai Caleb" ujar Zelina tiba-tiba.
Faith terpana "Waw..... bahkan ada cinta segita nih!"
Semua tertawa melihat tingkah anak-anak itu.
"Grace, ayo kita pergi melihat pantai!" kata Caleb. Ia langsung menarik tangan Grace.
"Lets go!" sambut Grace senang. Ia membalas pegangan tangan Caleb.
Saat keduanya melangkah, Zelina nampak mengkerucutkan bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Caleb tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap Zelina.
Tangannya yang satu masih menggenggam tangan Grace sementara tangannya yang lain terulur pada Zelina.
"Ayo....cantik, kamu juga ikut" ajak Caleb.
Zelina tersenyum. Ia meraih tangan Caleb dan menggenggamnya erat. Ketiganya pun melangkah bersama menuju ke pantai.
"Come on, Ben. Mereka hanyalah anak kecil" Ujar Ezekiel sambil tertawa.
"Sayang, kamu kenapa Ayo duduk!" ajak Maura sambil menarik tangan suaminya.
Ben duduk namun matanya sesekali masih menatap ke pantai.
"Lucu juga kalau Caleb akan punya cinta segitiga dengan Grace dan Zelina. Aku tak sabar menungguh mereka dewasa" ujar Rachel membuat yang lain semakin tertawa namun Ben sama sekali tidak tertawa. Dalam hati Ben bertanya, apakah takdir akan membuat kisah yang lain mengenai anak-anak mereka? Dulu Faith menyukai Daniel namun Daniel justru kecantol sama cewek bule, Faith patah hati dan menikah dengan Ezekiel. Lalu Ben jatuh cinta pada Faith. Walaupun akhirnya Ben mendapatkan cinta Maura dan juga mencintai gadis itu.
Kini anak mereka bertiga justru berada diligkaran yang sama.
"Sayang.....Biarkan Maura bermain. Kau terlalu posesif padanya" kata Maura melihat suaminya itu tak berhenti memandang putri mereka.
"Maura, kenapa Gionino tidak ikut?" tanya Faith berusaha mengalihkan topik perhatian mereka.
"Gionino sedang syuting film keduanya. Anak itu sangat memang sangat menuruni bakat opa Bryan. Bayangkan saja ide film keduanya itu datang dari Gio. Dia memang Aslon banget!" ujar Maura dan membuat Ben menepuk dadanya dengan mimik wajah sedikit sombong.
"Aku sangat senang karena kita semua boleh ada di sini. Sesuatu yang sudah lama aku impikan. Tapi, apakah Arnold jadi datang?" tanya Faith sambil menatap Ezekiel.
"Dia bilang akang datang. Tapi pesawatnya memang nanti tengah malam baru ada. Soalnya dia mampir sebentar di Korea. Mau menjemputnya Edward Kim" kata Ezekiel.
"Edward akan datang?" tanya Ben terkejut.
"Ia. Istrinya ingin sekali datang ke Bali. Kebetulan Arnold ada konser di sana. Jadi mereka bisa bareng" kata Ezekiel lagi.
"Eze.....apakah si tuan putri ikut bersama Arnold?" tanya Faith penasaran.
"Ya. Tuan putri dan anak-anak mereka" kata Ezekiel. Dia tersenyum. Akhirnya setelah sekian lama Arnold menderita, sepupunya itu bisa mendapatkan kebahagiaannya kembali.
__ADS_1
************
Maura menarik selimut untuk menutupi tubuh Grace yang hanya menggunakan tank top dan celana pendek. Putrinya itu selalu merasa kepanasan saat ia datang ke Indonesia. Mungkin Grace lebih senang dengan dengan udara London. Sangat berbeda dengan dirinya dulu. Yang begitu membenci London. Namun rasa cintanya pada Ben, membuat Maura pun perlahan mencintai kota itu.
Sebuah kecupan selamat malam mendarat didahi Grace sebelum Maura meninggalkan kamar putrinya, menuju ke kamar yang ada disebelah. Kamar mereka terhubung dengan sebuah pintu. ini memang kamar khusus keluarga. Sebenarnya Maura ungin Grace tidur di kamar dengan mereka. Namun Ben bersikeras agar Grace pisah kamar dengan mereka. Maura tahu apa alasan suami nakalnya itu.
Pernikahan mereka sudah masuk tahun ke-9. Namun sikap jahil suaminya itu tidak pernah hilang. Kebiasaannya yang selalu menghitung-hitung kesalahan dan harus dibayar dengan berakhir di tempat tidur membuat mahligai rumah tangga mereka menjadi semakin indah.
Saat Maura masuk ke kamar mereka, ia melihat Ben sedang berdiri di balkon kamar sambil bersandar pada pagar pembatas balkon. Di tangan suaminya itu ada sebuah kamera.
"Sayang...kamu sedang memotret apa?" tanya Maura sambil ikut berdiri di samping suaminya.
"Tuh....ada pasangan yang sedang dimabuk asmara!" kata Ben sambil menunjuk ke arah pantai. Balkon kamar mereka ini memang langsung menghadap ke pantai.
"Hei, itu kan Ezekiel dan Faith!" pekik Maura saat mengenali sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman itu.
"Iya. Ini kan sudah tengah malam. Dan Ezekiel pasti sedang memberikan ucapan selamat ulang tahun pada istrinya itu." kata Ben sambil terus membidikan kameranya ke arah Ezekiel dan Faith.
"Sayang...kau mengintip mereka"
"Bukan mengintip. Namun aku membuat sebuah foto yang indah bagi mereka. Kau lihat bulan di atas sana? Bulan itu seolah sengaja menerangi mereka berdua. Ini akan menjadi foto yang indah"
"Bali memang punya cerita yang tersendiri dalam cinta mereka. Kau pasti akan membuat foto yang indah ." kata Maura. Ia kembali melihat pasangan yang sedang berbahagia itu. Lalu akhirnya duduk di atas sofa yang memang tesedia di balkon.
Ben pun melepaskan kameranya dan ikut bergabung bersama istrinya di atas sofa. Ia melingkarkan tangannya di bahu Maura dan menarik tubuh istrinya itu untuk bersandar pada dada bidangnya.
"Menurut orang, aku selalu membuat foto terbaik. Namun bagiku, foto terbaikku adalah dirimu, Grace dan Gionino. Aku merasa sempurna saat memiliki kalian semua." kata Ben lalu mencium kepala istrinya dengan lembut selama beberapa kali.
"Ben, aku juga merasa hidupku sempurna bersama kalian. Terima kasih ya, karena mau menjebak aku dalam pernikahan ini. Terima kasih karena mau bersabar dengan sikapku yang sangat kekanakan dan selalu tak percaya padamu." Maura menjauhkan dirinya dari Ben agar ia bisa menatap wajah tampan suaminya itu. Tangannya membelai wajah Ben lalu mengecup bibir suaminya perlahan.
"Aku, selalu berterima kasih pada papa Gerald yang telah memaksaku datang ke London. Karena Tuhan sudah menyiapkan kau di sana untukku"
Ben tersenyum "Terima kasih juga karena mau mencintai bule gila yang play boy ini"
Maura tertawa. Ia kembali mencium suaminya dengan gemas "Kau bukan hanya bule gila tapi juga bule manis yang penuh rayuan maut"
kali ini Ben yang tertawa "Kalau aku tak menggunakan rayuan maut, mana mungkin Grace dan Gionino ada. Namun sayang, aku rindu punya baby lagi" kata Ben. Tangannya mulai berada ditempat faforitnya.
"Ben....Grace ada di kamar sebelah. Dia bisa bangun!" Maura menepis tangan suaminya. Ia buru-buru berdiri dan masuk ke dalam kamar. Ben menyusul istrinya lalu menutup pintu balkon, setelah itu menutup pintu antara kamar mereka dan kamar Grace.
"Ezekiel bilang kamar ini kedap suara. Jadi Grace nggak akan terganggu. " kata Ben sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.
Maura hanya tertawa pasrah. Sanggupkah ia menolak pesona tampan si mantan palyboy ini? Tentu saja tidak.
Malam semakin larut, bulan di atas sana pun seakan tersenyum. Ada pasangan penuh cinta yang saling berbagi kasih.
Ah...akhir yang indah itu sungguh menyenangkan.
T A M A T
Terima kasih sudah mengikuti MY BEST PHOTO DARI AWAL HINGGA AKHIR
mohon maaf kalau ada salah2 kata...
aku juga sudah memaafkan yg koment2 pedas 😃😃
Terima kasih utk like, vote dan komentarnya
Terima kasih selalu dukung aku ya...
Jangan dulu di unfaforit karena ada chapter bonus yang menceritakan masa remaja Grace yang menjadi awal cerita 3 HATI SATU CINTA
__ADS_1
GBU