My Best Photo

My Best Photo
Kecewa


__ADS_3

Bunyi dering telepon membangunkan Maura dari tidurnya. Ia menatap jam dinding dan sedikit terperanjat. Ternyata sudah jam 11 siang.


Inilah akibatnya jika ia tertidur justru saat jam sudah menunjukan pukul 4 pagi.


Ia meraih hp nya dari atas nakas lalu tersenyum saat melihat kalau itu panggilan dari suaminya.


"Hallo, Ben"


"Bisa kutebak. Kamu baru bangun sayang?"


"Ya. Aku tidurnya sudah pagi"


"Kenapa? Masih memikirkan soal semalam?" tanya Ben. Suaranya terdengar sedikit kesal.


"Bukan sayang. Aku merindukanmu. Aku sudah terbiasa tidur dalam pelukanmu" Maura berbohong. Karena sebenarnya ia masih memikirkan Patricia dengan pose menggunakan pakaian dalam saja.


Terdengar suara tawa Ben dari sana. "Kalau begitu, aku akan langsung pulang malam ini. Dan siap-siaplah untuk tidur pagi lagi."


Maura pun terkekeh "Kau ini. Pemotretannya sudah selesai?"


"Belum sayang. Masih ada 2 model baju dalam lagi dan aku menungguh saat matahari terbenam untuk mengambil gambar. Makanya agak malam baru selesai. Soalnya perjalanan dari sini ke London kan memakan waktu dua jam"


"Baiklah. Kalau begitu aku akan masak dan kita makan malam bersama."


"Aku lebih suka memakanmu"


"Ben..."


Deg!


Maura terkejut mendengar ada suara perempuan di belakang Ben yang mirip dengan suara Patricia.


"Sayang, nanti aku telepon lagi ya. Bye..."


Maura agak kesal. Ben sudah memutuskan sambungan telepon sebelum ia menanyakan suara siapa itu.


Ia pun turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, Maura segera turun ke bawa sambil membawa ponsel dan dompetnya. Ia bermaksud akan pergi belanja.


Di bukanya kulkas dan mengambil kotak susu sambil memperhatikan bahan-bahan apa yang tersisa di sana.


setelah menghabiskan susunya, Maura meraih kunci mobil dan segera ke tempat parkir.


Apartemen ini hanya memiliki 2 bilik tempat tinggal tiap lantainya. Tempat parkir pun disediakan sesuai lantai kamar yang ada.


Dengan mobil lamborjini yang dihadiahkan Ben padanya, Maura pun menuju ke supermarket Asia untuk belanja bahan makanan.


Waktu belanja dinikmati Maura dengan santai. Karena dia tidak perlu buru-buru pulang. Ia bahkan menikmati makan siang di salah satu restaurant yang ada di supermarket itu.


Saat ia pulang, penjaga apartemen menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat. Tidak ada nama pengirimnya. Dengan tak sabar, Maura masuk ke dalam dan membuka amplop coklat itu.


Jantungnya bagaikan diramas melihat 2 lembar foto yang ada di dalam. Foto yang pertama menampakan Ben yang duduk bertelanjang dada hanya mengenakan celana renang dan diatas pangkuan Ben ada Patricia yang sedang melingkarkan tangannya dipundak Ben sambil tersenyum manis. Gadis itu hanya mengenakan bh dan celana dalam. Nampaknya mereka ada di pantai.


Foto yang kedua masih Ben dengan Patricia berada di kamar hotel. Ben yang sedang tidur dengan selimut yang menutup sampai ke pinggangnya. Dan Patricia yang ada di sampingnya, yang nampak berpose dari samping, menampilkan punggungnya yang telanjang dan bagian depan tubuhnya yang hanya ditutupi sebuah kain.


Maura melemparkan tubuhnya ke atas sofa karena ia tiba-tiba saja merasa pusing. Ia kembali melihat foto itu dan di latar belakang foto di pantai itu bertuliskan

__ADS_1


WHITSTABLE KENT.


Bukankah itu nama pantai yang disebutkan Ben kemarin? Jadi, benar foto ini diambil di sana? Dan foto di kamar ini, hampir sama dengan kamar hotel tempat Ben menginap. Ya Tuhan....mengapa Ben melakukan ini padaku? Dia dan Patricia benar selingkuh di sana.


Maura mengambil hp nya. Ia segera menghubungi Ben dengan luapan kemarahan, rasa cemburu dan rasa ingin berteriak yang bercambur aduk menjadi satu.


Ponselnya tidak aktif? Apakah dia sengaja karena sedang berduaan dengan Patricia?


Maura menghubungi Patrick.


"Hallo Patrick, apakah aku boleh tahu nomor hp kakakmu?" tanya Maura.


"Ada apa kau menanyakan nomor hp kakakku?"


""Berikan saja, jangan banyak tanya!" seru Maura kurang sabar.


"Baiklah. Aku ku kirim lewat sms"


Maura memutuskan sambungan telepon. Ia menungguh dengan sikap tak sabar.


Saat sms dari Patrick masuk, Maura segera msnghubungi Patricia. Dan kemarahan Maura juga semakin meningkat sebab ponsel Patricia tidak aktif juga.


Apakah sekarang mereka sedang berduaan dan sengaja mematikan ponsel mereka secara bersamaan?


Maura kembali menatap foto itu. Ia yakin ini bukan foto hasil editan. Tato yang ada dipunggung Ben jelas terlihat karena pria itu tidur sambil tengkurap di bantal. Itu memang posisi tidur terfaforit Ben jika tidak memeluk Maura.


Aku akan membunuh Ben.....


"Ah......!" Maura menendang apa saja yang ada di dekatnya. Ia merasakan hatinya sangat sakit.


Ben turun dari mobilnya sambil menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9.15 malam.


Ia memang sangat lelah hari ini. Hampir saja ia tak punya tenaga untuk pulang, namun membayangkan wajah Maura, membuatnya bersemangat untuk menyetir sendiri dengan memangkas jarak tempu hanya satu jam, 30 menit saja.


Ia masuk dari pintu samping garasi setelah memasukan kode agar pintu itu terbuka. Lalu menyusuri lorong dan menuju ke apartemenya. Memasukan lagi kode untuk membuka pintu apartemennya dan segera masuk dengan langkah tak sabar. Ben terkejut menemukan ruang tengah agak gelap. Kakinya seperti menginjak sesuatu. Ia pun segera menyalahkan lampu dan sangat terkejut melihat ruang tamu yang tampak berantakan.


Meja sudut yang terbalik, pecahan keramik dan gelas yang berserakan di lantai, dan foto pernikahan mereka yang bingkainya sudah hancur.


Ben sempat berpikir kalau apartemennya ini dirampok. Ia berlari menuju ke ruang kerjanya untuk mencari pistol yang ia simpan di sana, namun langkahnya terhenti melihat Maura yang berdiri disebelah tangga, dengan sebuah koper besar di sampingnya dan tatapan yang setajam pisau seakan ia ingin membunuh Ben dengan tatapan itu.


"Sayang.....ada apa ini?" tanya Ben diantara rasa khawatir dan kepala yang penuh dengan tanda tanya.


"Mengapa hp mu tidak aktif?" tanya Maura dengan suara bergetar karena sesungguhnya ia sedang menahan marah.


"Batreinya habis. Aku nggak menyadarinya. Saat akan pulang tadi baru kulihat. Makanya baru kucars saat dalam perjalanan ke sini. Ada apa ini?"


"Kebetulan sekali ponselnya Patricia juga tidak aktif. Apakah batrei kalian habis diwaktu yang bersamaan? Atau itu disengaja karena kalian sedang menghabiskan waktu berdua di kamar?" tanya Maura dengan suara lantang. Ada senyum sinis yang tergambar di wajah cantiknya.


Ben terpana. Rasa lelah karena pekerjaan dan perjalanan yang baru saja ditempuhnya membuat dia sedikit emosi "Sayang, kamu masih beranganggapan kalau aku dan Patricia sedang selingkuh? Serendah itukah kepercayaanmu kepadaku?"


"Lalu ini apa?" Maura melempar dua lembar foto yang ada ditangannya sehingga tepat mendarat di wajah Ben sebelum akhirnya jatuh didekat kaki Ben.


Ben segera menunduk, mengambil 2 lembar foto berukuran 5R itu. Ia nampak sangat terkejut melihat foto itu.


"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Ben sambil terus memandang foto itu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya. Dasar pria play boy. Mulutmu saja yang manis mengatakan akan setia padaku. Namun saat kita berjauhan kau sangat mudah mengumbar napsumu pada perempuan lain" Maura tak bisa menahan air matanya. Namun dengan sangat cepat ia menghapusnya.


Tangan Ben terkepal sangat kuat. Kata-kata Maura sangat menusuk hatinya. Menghancurkan sejuta kerinduan yang dipendamnya selama 2 hari ini.


Ia berjalan perlahan menuju ke dapur. Mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk meredahkan rasa geram dan terhina atas kata-kata Maura. Diteguknya air itu sebanyak mungkin.


"Mengapa kau diam, Ben? Apa yang akan kau jelaskan tentang foto itu? Jawab Ben!" teriak Maura semakin emosi melihat Ben tak menanggapi apapun.


Ben menatap Maura. Tanggannya masih memegang gelas berisi air putih itu.


"Apakah kau lebih percaya pada foto ini atau kau ingin kita duduk dengan tenang dan mendengar penjelasan dariku?" tanya Ben sambil menekan emosinya serendah mungkin.


"Untu apa mendengar penjelasanmu? Foto itu benarkan? Itu bukan rekayasa kan?"


Ben mengangguk "Namun ada yang perlu kau ketahui tentang foto itu."


Maura berteriak dengan kesal. Ingin rasanya ia memukul Ben dengan semua kekuatan yang dimilikinya. "Aku benci kamu, Ben. Aku benci karena jatuh cinta pada pria brengsek seperti kamu. Aku ingin kita bercerai, Ben."


"Kau sungguh tak ingin mendengar penjelasanku?"


Maura mendengus kesal "Jangan coba merayuku dengan kata-kata manismu yang mengandung racun itu. Aku sunggguh tak ingin jatuh dalam perangkap seorang play boy sepertimu."


Maura menarik kopernya. "Aku akan pergi!" katanya dengan suara yang terasa berat.


"Sekali kau melangkah melewati pintu itu, aku tidak akan mencari dan menghubungimu lagi untuk mengatakan kebenaran yang ada. Dan aku pastikan, kau akan menyesalinya" kata Ben dingin namun penuh penekanan.


Maura berbalik dan tersenyum sinis. Ia mengambil hp nya dan menelepon seseorang.


"Hallo Patrick, bolehkah kau menjemput aku di apartemen? Ya...terima kasih"


Maura sekali lagi menatap Ben "Aku tak akan pernah menyesal meninggalkan laki-laki brengsek seperti dirimu. Aku akan membuka hatiku untuk laki-laki lain yang sungguh-sungguh mencintaiku" Lalu ia menarik gagang pintu dan membantingnya dengan kuat saat tubuhnya menghilang dari pandangan Ben.


Ben tanpa sadar meramas gelas yang ada ditangannya sampai pecah. Darah segar mengalir dari sana karena bagian gelas yang pecah itu sebagian masih ada dalam genggaman Ben.


Ben memejamkan matanya sesaat. Seolah menekan rasa sakit yang bukan hanya ada di dadanya namun juga yang ada di sekujur tubuhnya. Tangannya yang satu meraih hp nya.


"Hallo Ben, ada apa?" tanya Patricia dari seberang sana.


"Mengapa foto kita di hotel itu ada ditangan istriku?"


"Apa? Bukan aku yang mengirim foto itu, Ben. Aku bersumpah" Patricia sangat terkejut.


"Aku dan Maura akan berpisah karena foto itu."


"Maafkan aku, Ben. Haruskah aku menjelaskan padanya?"


"Tidak perlu. Aku tak mau bersama dengan perempuan yang tak percaya padaku. Selamat malam" Ben meletakan hp itu di atas meja. Lalu ia melempar sisa pecahan gelas yang ada ditangannya dengan kesal ke lantai.


Ben melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Menatap beberapa foto Faith yang masih tergantung di sana.


*Hai...cantik, mengapa aku merasa sangat membutuhkanmu saat ini?"


MAKASI SUDAH MEMBACANYA


LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA...

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR DI CHAT GRUP AKU*


__ADS_2