
Selesai makan, Maura membersihkan dapur dan mencuci perlatan masak dan makan yang dipakai.
Sementara Ben sedang mandi di kamar.
Saat ia sedang membersihkan ruang tamu, ia melihat tasnya semalam. Maura mengambil tasnya dan mengeluarkan hp nya.
Ia terkejut melihat ada 101 kali panggilan tak terjawab dari Patrick dan 25 pesan.
*Maura kenapa hp mu nggak diangkat? Aku jadi khawatir kamu agak lama
Maura, angkat teleponnya. Atau aku masuk saja?
Maura, apakah Ben menyakitimu?
Maura, apa benar kamu dan Ben sudah baikkan? Kakakku meneleponku dan meminta aku pergi
Maura, apa aku harus pergi*??
Perasaan Maura menjadi tak enak. Ia kasihan dengan Patrick. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sangat mencintai Ben dan memutuskan untuk kembali pada suaminya itu.
Lagi pula ia tak pernah menjanjikan apapun pada Patrick.
"Ada apa?" tanya Ben yang sudah berdiri di sampingnya.
Maura menatap Ben. "Ada banyak sms dan telepon dari Patrick semalam. Dia juga masih menelepon beberapa kali pagi ini."
"Terus kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Ben dengan nada kurang suka.
"Ben..., dia selama ini sangat baik padaku"
Ben mengangkat bahunya. "Terserah padamu. Teleponlah dia, jelaskan segalanya. Aku yakin dia akan mengerti"
Melihat wajah suaminya yang sedikit cemberut, Maura menjadi tersenyum "Kamu cemburu ya?"
"Siapa yang cemburu? Aku hanya memberi kamu kesempatan untuk menenangkan Patrick."
Maura mengkerucutkan bibirnya. Ia kesal dengan jawaban Ben.
"Aku mau keluar sebentar!" ujar Ben lalu meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja.
Maura tak ingin ia dan Ben bertengkar lagi. Dengan cepat ia mengejar Ben dan memeluk suaminya dari belakang.
"Baiklah, Ben. Aku tak akan menemui Patrick lagi." kata Maura sambil tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.
Ben tersenyum karena kali ia Maura mau bersikap manis padanya.
"Apa maumu, ma?" tanya Ben.
"Jangan pergi. Kita kan baru saja berbaikan. Aku ingin berduaan saja denganmu" kata Maura walaupun wajahnya terasa panas. Ia menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
Ben melepaskan tangan Maura yang melingkar di pinggangnya. Ia berbalik dan menatap istrinya dengan tatapan menggoda.
"Kamu ingin berduaan denganku? Jadi apa yang akan kita lakukan saat berdua saja?" Ben memegang dagu Maura sehingga keduanya saling berpandangan.
"Aku pikir.....aku....aku bisa mengurangi masa hukuman untukku yang masih 58 kali." kata Maura pelan sambil tertunduk dengan wajah yang semakin merah saja.
Ben terkekeh "Baiklah. Aku tak akan pergi. Kita akan berdua saja sepanjang hari ini dan melakukan apa yang kau katakan tadi. Asalkan kau yang aktif kali ini"
Ben menekan kalimatnya yang terakhir.
Maura menatap Ben sambil menelan salivanya berat.
"Maksudmu, apa?"
__ADS_1
Ben menyibak rambut Maura ke belakang telinganya. "Kau yang merayu aku lebih dulu. Aku membebaskan tangan dan mulutmu untuk menyentuh semua bagian tubuhku sampai aku benar-benar bergairah"
"A....pa?"
"Kalau kau melakukan itu maka aku akan menghitungnya 3 kali dibandingkan dengan aku yang merayumu."
"Tapi...aku tak tahu bagaimana caranya, Ben. Aku kan tidak punya pengalaman"
Ben tersenyum nakal "Aku akan mengajarimu." bisik Ben lalu melepaskan tangannya dari pinggang Maura.
"Ayo kita ke kamar !" ajak Ben.
Maura merasakan jantungnya berdebar dengan kencang. Berinisiatif lebih dulu untuk bercinta dengan suaminya tidak pernah Maura pikirkan sebelumnya.
Pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Nampak Bryan dan Alicia Aslon masuk sambil membawa sebuah kotak kue di tangan Alicia dan rantang makanan di tangan Bryan.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan dengan senyum di bibir mereka.
"Maura sayang!" Alicia langsung memeluk menantunya itu dengan perasaan gembira.
"Mommy senang kau ada di sini!"
Maura tersenyum.
"Ada apa mom dan dad datang ke sini? Menganggu orang yang mau bulan madu saja.." Ben pura-pura marah.
Bryan dan Alicia malahan tersenyum mendengar perkataan Ben.
Alicia meletakan kotak kue itu di atas meja, lalu mengeluarkan isinya.
Maura terpana lalu menatap Ben meminta penjelasan.
"Ya sayang. Hari ini aku ulang tahun. Sebenarnya aku ingin merayakannya nanti malam bersamamu. Namun mommy dan daddy sudah terlanjur datang" kata Ben sambil mendekati Maura lalu melingkarkan tangannya dibahu istrinya itu.
Ben terharu melihat semua makanan kesukaannya ada di sana.
"Thank you mom. I love you!" Ben melepaskan tangannya dari bahu Maura lalu memeluk mamanya dengan perasaan haru.
"Selamat ulang tahun, sayang" Alicia mendekap putranya dengan penuh sayang.
Akhirnya mereka berempat pun duduk di meja makan. Ben meniup lilin berangka 28 itu, memotongnya menjadi 3 bagian lalu menyuapi Maura, Papa dan mamanya.
Mereka juga makan siang bersama dengan perasaan bahagia.
"Salah satu teman perancangku ingin menggunakan jasamu lagi untuk penataan panggungnya. Kamu mau kan Maura?" tanya Alicia ketika mereka sudah selesai makan siang dan duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Tentu saja" Maura segera menganggukan kepalanya dengan rasa senang.
"Sayang, kau akan capeh nantinya. Bagaimana kau bisa membayar hutangmu padaku yang masih 58 kali?" tanya Ben sambil menatap istrinya dengan sedikit cemberut.
Alicia dan Bryan saling berpandangan. Tak mengerti dengan ucapan anaknya.
Wajah Maura langsung bersemu merah. Ia tanpa sadar mencubit pinggang Ben yang memang sedang duduk di sampingnya.
"Ben....kamu masa ngomong kayak gitu di depan mama dan papa" Kata Maura dalam bahasa Indonesia.
"Tak apa-apakan? Papa dan mama juga pernah muda" Ben meringis memegang pinggangnya.
Alicia dan bryan hanya bisa saling berpandangan sambil tersenyum melihat tingkah Ben dan Maura.
"Papa dan mama pulang dulu ya...."Alicia berdiri diikuti suaminya.
Maura menatap ibu mertuanya "Ma, aku menerima tawaran kerja itu"
__ADS_1
"Baiklah sayang. Nanti kalau kau sudah siap telepon mommy dab mommy akan memperkenalkan kau dengannya." Alicia dan Bryan memeluk anak-anak mereka sebelum akhirnya meninggakan apartemen Ben.
" Sayang, aku punya sesuatu untukmu. Ayo ke kamar!" ajak Ben.
Maura mengikuti langkah Ben menuju ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, Maura pun duduk di tepi tempat tidur sementara Ben membuka laci yang ada di meja rias. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dan segera melangkah mendekati Maura.
Ben memberikan kotak itu pada Maura " Untukmu!"
Maura terkejut "Untukku? Yang ulang tahunkan kamu. Seharusnya aku yang memberi kamu hadiah"
Ben tersenyum "Apakah orang yang ulang tahun selamanya harus mendapat hadiah? Memberi hadiah juga adalah salah satu tanda mensyukuri ulang tahun"
Maura membuka kotak itu dengan perasaan haru. "Ben.....gelang ini cantik sekali"
"Saat aku melewati toko itu, aku melihat gelang ini. Tanpa sengaja, aku bertemu dengan Patricia di sana. Aku lalu meminta pendapatnya tentang gelang ini. Saat itulah kamu melihat aku dan Patrcia di sana"
Maura menatap Ben dengan wajah menyesal "Maafkan aku, Ben."
"Aku memaafkanmu sayang. Aku tahu dengan reputasiku yang dulu, wajar jika kau selalu ragu padaku. Namun mulai saat ini aku mohon, percayalah padaku. Aku sungguh-sungguh ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu"
Maura tersenyum. Dengan lembut ia memegang wajah suaminya "Aku mencintaimu, Ben. Selamat ulang tahun" kata Maura lalu mencium bibir suaminya dengan penuh rasa cinta.
Ben senang menerima ciuman singkat itu. Ia mengambil gelang dan kotaknya yang ada di tangan Maura lalu meletakannya di atas nakas.
"Sekarang aku mau meminta hadiah ulang tahunku" kata Ben sambil tersenyum nakal. Tangannya membuka kancing kemejanya lalu melemparkan asal ke lantai. Ia lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ben....kamu...mau apa? Kita kan ba...ru saja selesai ma...kan siang.." agak terbata Maura mengucapkan kata-katanya.
"Hadiah ulang tahun yang aku inginkan adalah kau mulai mengurangi hukumanmu yang masih 58 kali itu dengan cara kau yang berinisiatif lebih dulu. Ayo naik ke sini!" Ben menepuk pahanya.
"Apa?" Maura terpana. Ia menggeleng dengan wajah merah.
"Ayolah sayang....aku kan ulang tahun. Masa kamu tak mau memberikan aku hadiah" Ben sedikit merajuk. Ia melipat tangannya di depan dada dan memasang wajah cemberut. Ia bahkan memejamkan matanya.
Maura menarik napas panjang. Ia tak ingin suaminya kecewa. Dengan tangan yang bergetar antara rasa takut dan malu, ia melakukan apa yang diminta oleh suaminya.
Ben membuka matanya dengan senyum kemenangan. Ia menatap wajah Maura yang bersemu merah.
"Setelah ini apa yang harus aku lakukan?" tanya Maura dengan begitu polosnya.
Ben membisikan sesuatu ke telinga istrinya.
"Ben....aku...." Maura jadi bingung.
"Ini hadiah ulang tahun sayang"
Maura pun dengan malu-malu melakukan semua yang diperintahkan oleh suaminya. Maura menjadi heran, dia yang berinisatif namun dia yang merasakan hasrat itu datang begitu cepat menerpa tubuhnya.
Sedangkan Ben, begitu kesenangan saat Maura mulai menyentuh bagian-bagian tubuhnya sebagaimana yang diinstruksikan olehnya.
Hadiah ulang tahun yang paling manis....
Dasar....Ben....
MAKASIH SUDAH MEMBACANYA...
BACA JUGA NOVELKU YANG LAIN JUDULNYA :
L E R I N A....
LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA..
😍😍😍😍😍
__ADS_1