My Best Photo

My Best Photo
Grace Paramita Aslon


__ADS_3

Pagi ini, Maura bangun agak terlambat. Semalam ia sangat susah tidur karena perutnya terasa agak sakit dan kencang.


Maura sengaja tak membangunkan Ben karena ia tahu bahwa suaminya itu sibuk untuk mempersiapkan pameran foto secara besar-besaran bersama dengan beberapa fotografer terkenal dari beberapa negara.


Dan saat Maura bangun ketika waktu sudah menunjukan 10 pagi, ia tak menemukan Ben ada disisinya hanya sebuah kertas yang diletakan disebalah gelas susunya.


Sayang, minum susunya dan telepon


aku jika kamu sudah bangun


i love you---Ben


Maura tersenyum membaca pesan. Ia lalu meraih gelas yang berisi susu hamil itu. Gelas itu masih hangat menandakan belum lama Ben meninggalkan kamar.


"Hallo, Ma...!" sapa Ben dari seberang.


"Hallo sayang..."


"Apakah kamu sudah meminum sususnya?"


"Sudah tuan..."


"Senang mendengarnya. Maaf ya aku pergi dan tak menunggu kamu bangun"


"Tak apa-apa, Ben. Aku tahu kamu sibuk. Jangan terlalu lelah bekerja ya? Salam untuk teman-temanmu"


Maura segera menuju ke kamar mandi. Ia merasa perutnya masih agak sakit. Saat ia membuka baju dalamnya, ia terkejut melihat ada darah di sana.


Maura cepat-cepat mandi dan turun ke bawa.


"Hai sayang...!" sapa Alicia yang sedang membaca di meja makan.


"Hallo mommy."


"Sarapanlah."


Maura mengangguk dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapannya.


"Kenapa, nak? Wajahmu kelihatan pucat dan agak berkeringat." Alicia memandang menantunya dengan khawatir.


"Perutku sakit, Mom. Sakitnya juga sampai ke pinggang bagian belakang. Tadi juga saat aku membuka baju dalamku untuk mandi. Ada darah sedkit."


"Sayang, itu tandanya kamu akan melahirkan. Sebaiknya setelah kamu sarapan, kita ke rumah sakit saja."


Maura mengangguk. Ia pun mulai menikmati makanannya namun baru beberapa suapan, ia sudah berhenti. Rasa sakit di perutnya semakin tak tertahankan.


"Mommy.., mengapa sakitnya semakin bertambah ya?"


Alicia segera memberikan perintah pada sopir untuk menyiapkan mobil lalu mengambil perlengkapan Maura dan bayinya yang memang sudah tersedia di kamar bayi. Setelah semuanya siap, mereka pun langsung pergi.


*********


Ben yang sedang melakukan pertemuan dengan beberapa temannya untuk kegiatan pameran foto bersama, tiba-tiba mengingat Maura. Perasaannya jadi gelisah pada hal baru satu jam yang lalu ia menelepon istrinya itu.


"Pak, ada telepon dari nyonya Alicia" bisik Luna sambil mengulurkan hp Ben.


"Hallo, mom. Ada apa?"


"Ben...sayang..cepatkah ke rumah sakit.Maura mau memahirkan"


"Baik, mommy." Ben mengahiri percakapan dan segera berdiri.


"Teman-teman, aku pamit dulu ya...istriku mau melahirkan" katanya dan setengah berlari meninggalkan ruangan itu.


Teman-teman Ben hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka.


"Ben memang sudah banyak berubah"


" Dia play boy yang sudah bertobat"


"Dia mendapatkan wanita terhebat dalam hidulnya."

__ADS_1


Demikianlah teman-temannya berkomentar setelah Ben pergi. Luna yang mendengarnya pun tersenyum karena dia juga tahu betapa Ben menyayangi Maura.


Jalan kota London di siang ini terasa sangat macet bagi Ben. Ia bahkan tanpa sadar mengumpat kesal karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada Maura.


Seharusnya dia sudah memprediksi ini. Waktunya Maura untuk melahirkan sudah dekat dan dia tak harus meninggalkan istrinya itu sendiri.


Setelah terbalut dengan rasa cemas selama hampir 30 menit berkendara, Ben akhirnya tiba di rumah sakit. Ia langsung berlari menuju ke ruang bersalin.


Iriana, Alicia, Gerald bahkan Bryan ada di sana. Ben senang, semuanya berkumpul untuk menantikan kelahiran anaknya.


"Masuklah, sayang. Maura sudah menungguhmu!" ujar Alicia.


Ben masuk ke dalam setelah terlebih dahulu membersihkan dirinya, menggunakan pakaian steril yang disiapkan rumah sakit, serta masker.


Saat kakinya melangkah masuk ke dalam, nampak 2 orang perawat sementara menemani Maura.


Hati Ben langsung bergetar melihat wajah Maura yang sudah basah dengan keringat dan nampak sedikit kelelahan.


"Ben....!" panggil Maura seolah mendapat kekuatan melihat suaminya itu.


"Sayang...!" Ben mendekat dan langsung memegang tangan Maura. 2 orang perawat yang menjaganya, mundur secara perlahan dan memberi ruang bagi Ben.


"Sakit....Ben....!"ujar Maura sambil mencengkeram lengan Ben.


"Aku kan sudah bilang lebih baik di operasi saja sayang. Aku mana tega melihat kamu kesakitan seperti ini" kata Ben dengan wajah penuh rasa sayang pada istrinya. Untuk sesaat Ben teringat dengan mommy Alicia. Bagaimana ia dulu sering membantah, sering marah-marah jika mommy nya menasehati, Ben kini mengerti bahwa semua itu dilakukan oleh Alicia karena mommy nya itu menyayanginya. Tak ada seorang ibu yang rela melihat anaknya menderita.


"Aku mau melahirkan secara normal, Ben. Seperti mamaku saat melahirkanku" kata Maura diantara rasa sakit yang semakin menderanya.


"Ben.....sakit....ah....!" Maura semakin kuat menarik tangan Ben.


"Sayang....!" Ben membelai perut Maura.


"Ben.....!" Maura kembali meringis menahan sakit.


Ben menatap dokter Laura yang baru saja masuk.


"Bagaimana dok?" tanya Ben


Sakit diperut dan bagian pinggang Maura semakin bertambah. Tangan Ben sudah merah bahkan sedikit luka karena dicakar dicubit dan ditarik-tarik oleh Maura.


Dokter Laura sudah siap dengan semua peralatan. Demikian juga dengan dua orang perawat yang ada di sana. Kedua kaki Maura sudah dibuka dan dilipat ke atas.


"Ben....ini sakit sekali Ben....aku nggak mau hamil lagi..cukup ini saja ya....." teriak Maura diantara rasa sakit yang semakin kuat membelit seluruh tubuhnya.


"Iya sayang...tak apa-apa anak kita hanya satu yang penting kamu saat ini melahirkan dia dengan selamat. Berdoa sayang...." kata Ben berusaha menenangkan istrinya. Sementara Ben entah sudah berapa banyak doa yang dia sampaikan untuk istrinya walaupun hanya dalam hatinya.


"Nyonya Aslon, sekarang dorong perlahan ya....satu dua tiga....!" kata dokter Laura.


"Ah....!" teriak Maura sambil memberikan dorongan bagi dirinya sendiri.


"Sekali lagi nyonya...ayo, kepalanya sudah kelihatan" seru dokter Laura memberi semangat.


"Ah......oh...God help me..!" teriak Maura sangat nyaring lalu mendorong kembali.


"Dia sudah keluar...!" ujar dokter Laura senang diikuti suara tangisan bayi yang awalnya pelan namun setelah terdengar sangat nyaring.


"Selamat tuan dan nyonya Aslon, bayi kalian perempuan"


Ben merasa hatinya begitu bergetar. Ia tak pernah merasa seperti ini. Rasa bahagia yang sangat besar diikuti dengan rasa haru yang membuatnya menangis. Secara bergantian ia menatap wajah anaknya yang kini diletakan di dada Maura, lalu menatap wajah istrinya.


"Terima kasih sayang....aku sangat mencintaimu!" ujar Ben lalu mencium dahi Maura secara berulang-ulang.


"Aku menjadi seorang ibu, Ben" kata Maura diantara tangis kebahagiaannya.


"Dan aku seorang ayah..!" imbuh Ben dengan senyum kebahagiaannya.


Setelah dokter membersihkan bayi mereka. Ben pun membuka kemejanya, membersihkan lagi bagian depan tubuhnya lalu bayinya itu ditidurkan secara tengkurap didada papanya. Kehangatan kulit Ben seolah memberi ketenangan pada anaknya. Bayi itu perlahan berhenti menangis. Ben mendekapnya dengan penuh hati-hati setelah dokter Laura menutup punggung anaknya dengan selimut bayi.


Terapi kangguru diberikan untuk anak ini namun digantikan oleh Ben sebagaimana yang sudah mereka sepakati dengan dokter Laura.


Dari balik kaca, nampak Alicia, Bryan, Iriana dan Gerald yang terlihat haru menyaksikan Ben memeluk anaknya. Seperti induk kangguru yang melindungi anaknya.

__ADS_1


"Dia bahagia menjadi seorang papa!" kata Alicia


"Ya sayang..anak kita sudah menemukan kesempurnaan dalam hidupnya." sambung Bryan.


Ben menatap keempat orang itu dengan matanya yang berkaca-kaca.


"My Grace. Grace Paramita Aslon!" katanya dengan sangat bangga.


**********


Dua minggu sudah Maura keluar dari rumah sakit. Dan Ben menjadi suami dan papa siaga. ia rela tak mengikuti pembukaan pameran foto terbesar itu karena tak mau jauh dari putrinya.


Maura memberikan asi namun diselingi juga dengan susu bayi karena saat malam hari, Maura belum diijinkan untuk menjaga Grace di malam hari karena Alicia ingin Maura pulih dulu.


"Hallo...kesayangannya daddy, sudah selesai menyusui?" tanya Ben sambil mendekati istri dan anaknya yang sedang duduk di atas sofa.


"Lihatlah rambutnya yang coklat gelap merupakan perpaduan antara rambut hitammu dan rambut buleku yang agak keemasan. Kulit putihnya tentu ikut daddy, hidung mancungnya juga ikut daddynya, bulu matanya yang lentik sedikit saja ikut dirimu kebanyakan ikut mataku. Alisnya yang tebal dan teratur juga sangat mirip denganku dan ..."


"Dan apa?" tanya Maura tajam. "Aku yang hamil, mengalami masa ngidam yang sangat tidak mengenakan, melahirkannya dengan rasa sakit yang amat dalam, dan setelah anak ini lahir, kenapa lebih mirip daddy nya dari pada mommy nya ya?"


"Karena gen ku yang lebih banyak. soalnya aku yang paling bernapsu untuk membuatmu hamil dibandingkan dirimu sendiri"


"Dasar....mes..." Maura tak meneruskan kata-katanya karena dari pintu kamar nampak Ezekiel, Faith dan Caleb masuk.


"Hallo....!" sapa Faith dengan senyum manisnya dan perutnya yang sudah mulai membesar.


"Ayo masuk!" ajak Ben.


Mereka pun saling berpelukan.


"Maaf ya tidak bisa berkunjung saat kau masih di rumah sakit. Soalnya Caleb merengek untuk ikut. Makanya aku pikir di rumah saja supaya lebih bebas" kata Faith. Ia menatap bayi cantik dalam gendongan Maura.


"Cantik sekali anak ini. Dia sangat mirip denganmu, Ben" kata Faith.


"Tuh kan sayang...semua orang bilang Grace memang sangat mirip denganku. Kamunya saja yang tak mau mengakuinya" kata Ben dan membuat Ezekiel dan Faith tertawa karena Ben seperti kanak-kanak yang begitu senang karena merasa menang.


Maura akhirnya tersenyum. Tak perduli anaknya ini mirip siapa yang pasti ia bahagia anak ini menambah kebahagiaan antara dirinya dengan Ben.


"Bibi Maura....siapa namanya?" tanya Caleb.


"Namanya Grace Paramita. Grace itu artinya anugerah dan Paramita itu nama Indonesia yang artinya gadis pembawa kebahagiaan" kata Maura sambil memangdang Caleb yang terus memandang Grace tanpa berkedip.


"Bolehkah aku menciumnya?" tanya Caleb dengan mata berbinar.


"Tentu saja boleh." Maura memberi ijin sambil mendekatkan Grace pada Caleb.


" Apakah sudah ada anak laki-laki yang pernah menciumnya?" tanya Caleb membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan heran.


"Belum sayang. Kamu yang pertama menciumnya" kata Maura.


Caleb tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran anak berusia hampir 4 tahun itu. Ia tiba-tiba menunduk dan mencium bibir mungil Grace.


"Caleb....ciumnya di pipi!" protes Faith.


"Ezekiel, anakmu ini sungguh posesif seperti dirimu karena dia sudah menyatakan kepemilikannya pada Grace dengan mencuri ciuman pertamanya. Aku saja baru mencium pipinya" kata Ben diikuti tawa yang lain.


"Bunda, Grace tersenyum. Dia suka aku menciumnya" kata Caleb lalu mencium tangan Grace dengan lembut.


Faith menatap putranya itu dengan heran. Caleb sepertinya suka pada Grace.


BABY GRACE



Nah....sampai di sini dulu....


Ceritanya bisakah sampai di sini saja? Atau ada kelanjutan masa kecil Grace? Maura mau nggak ya hamil lagi?


Jangan lupa komentarnya ya???


like dan Vote juga...

__ADS_1


__ADS_2