My Best Photo

My Best Photo
Melepasmu pergi


__ADS_3

SEBELUM BACA JANGAN LUPA VOTE YA...


Sudah hampir satu jam Ficlen membujuk Ben agar bisa ikut dengannya ke pengadilan namun Ben tetap menolak.


"Ayolah, Ben. Hanya butuh waktu 5 menit saja untuk menandatangani berkas perceraian itu" kata Ficlen. Ia memang melihat kalau Ben sangat sibuk karena baru selesai mengambil gambar di salah satu ruangan studio.


"Aku tak akan pergi!" tegas Ben lalu duduk di depan meja kerjanya dan menyalahkan komputernya.


"Kalau kau tidak pergi, maka hakim akan mengatur jadwalnya kembali. Jadi memang kau harus datang, Ben."


Ben menatap Ficlen "Aku telah bersumpah di hadapan Tuhan kalau pernikahan kami hanya akan dipisahkan oleh maut. Aku tak akan menahan langkah Maura jika dia harus pergi meninggalkanku. Namun perpisahan ini bukan karena aku yang menginginkannya"


Ficlen menatap sahabatnya itu"Baiklah. Terserah padamu. Aku pergi dulu!" pamit Ficlen dengan langkah cepat karena ia tahu bahwa ia sudah terlambat.


Saat Ben kembali sendiri, ia tiba-tiba merasakan hatinya begitu gelisah. Sebuah rasa ketakutan akan kehilangan Maura sebenarnya telah membuatnya tak bisa tidur beberapa malam ini.


Namun ada suatu rasa yang menahan langkahnya untuk pergi dan memeluk istrinya itu. Dia ingin Maura menjadi lebih dewasa dalam memahami bahwa dalam cinta itu rasa saling percaya adalah hal yang utama.


"Ben....!"


Ben mengangkat wajahnya "Faith...ayo masuk!"


Faith mendekat dan duduk di hadapan Ben. Matanya menyapu bersih semua hal yang ada di dinding ruangan Ben itu.


"Ada apa nyonya Thomson?" tanya Ben dengan nada sedikit menggoda.


"Dinding ruangan ini penuh dengan foto-foto hasil karyamu. Fotoku juga ada beberapa di sini. Apakah tidak sebaiknya kau menaruh foto Maura juga di sini?"


"Foto Maura cukup kusimpan dalam hatiku. Aku tak mau menggantungnya di dinding manapun karena aku ingin menikmatinya sendiri"


"Lalu kenapa kau membiarkannya pergi?" tanya Faith sambil menatap Ben dengan wajah bingung.


"Cinta itu bukan sesuatu yang harus dipaksa. Pernikahan kami juga kan bukanlah suatu keterpaksaan. Aku berulang kali memintanya untuk mencari identitas pria yang akan dinikahinya namun dia tidak mau. Dan setelah hubungan kami terikat dalam suatu pernikahan, aku juga tak memaksanya untuk mencintaiku, untuk menyerahkan dirinya padaku. Dia sendiri yang jatuh cinta padaku, yang pasrah dan menyerahkan dirinya saat kami bercinta untuk pertama kali setelah hampir 2 ubulan menikah. Dan kini, saat cinta sudah tumbuh diantara kami, mengapa dia yang akan melepaskannya karena foto sialan itu?"


Faith masih diam menatap Ben yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri. Setelah melihat Ben tak bicara lagi, ia pun berkata,


"Cinta juga butuh pengorbanan, Ben. Pengorbanan untuk menurunkan ego kita. Maura saat ini sedang tersesat karena cintanya kepadamu. Rasa benci itu muncul karena kau tak menjelaskan segalanya."


Ben menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Membuang napas dengan berat. "Aku lelah. Aku hanya akan menunjukan rasa cintaku padanya melalui fotoku. Setelah itu, jika dia tak kembali juga padaku, aku akan pergi"


Faith hanya menggelengkan kepalanya "Aku tak mengerti dengan pemikiran pria-pria bule seperti kalian."


Ben hanya terkekeh."Bagaimana dengan persiapan ruangan pameran fotoku?" tanya Ben mengalihkan materi percakapan.


"Semuanya hampir rampung, lusa ruangan itu sudah bisa kau gunakan untuk pameran fotomu." kata Faith lalu menjelaskan beberapa perubahan yang sudah dia buat di studio Ben ini.


"Setelah pameran foto itu selesai, aku ingin kau mengubah ruangan itu secara permanen."


"Carilah arsitek lain, Ben."


"Aku hanya mau kamu. Ezekiel juga sudah mengijinkannya. Jadi tak ada alasanmu untuk menolak pekerjaan ini" Ben tersenyum. Ia sudah tahu bahwa Faith akan menolaknya. Makanya ia membujuk Ezekiel untuk memberikan Faith waktu untuk merenofasi studionya yang memang dirancang oleh Faith. Ezekiel awalnya menolak namun saat memikirkan bahwa ia akan lebih sering ketemu Faith karena jarak studio dan kantornya hanya dibatasi oleh sebuah jalan, pria posesif itu pun mengijinkannya.

__ADS_1


Faith akan bicara namun suaranya seakan tercekal di kerongkongannya melihat Maura memasuki ruang kerja Ben diikuti oleh Ficlen dan Lerry.


Maura mengambil dokumen dari tangan Lerry dan melemparkannya di atas meja kerja Ben, tepat dihadapan pria itu.


"Cepat tanda tangan itu agar aku resmi terbebas dari lelaki brengsek sepertimu!" kata Maura ketus.


Ben menarik napas panjang mencoba tersenyum diantara perih yang seakan menusuk jantungnya.


Faith berdiri dari tempat duduknya. Ia berusaha tersenyum kepada Maura namun wanita itu sama sekali tak membalas senyumnya.


"Aku harap kalian membicarakannya dengan kepala dingin.!" Maura melangkah keluar setelah terlebih dahulu mengajak Ficlen dan Lerry keluar bersamanya.


Setelah 3 orang itu meninggalkan mereka dengan menutup pintu ruangan, Ben dan Maura saling diam. Maura masih berdiri dengan kedua tangannya memegang dompetnya. Wajahnya nampak merah, menahan marah dan juga rasa kesal karena Ben tak menanggapi dokumen yang ada di atas meja itu.


Ben memandang wajah Maura yang sedang menatap ke arah lain. Ia sesaat menikmati cantiknya wajah Maura yang nampak sedikit tirus dari biasanya. Maura nampak kurus dan lingkaran hitam dibawa matanya itu menunjukan juga kalau dia kurang tidur akhir-akhir ini.


Mata Ben kini turun ke leher Maura. Kemeja tanpa krak yang dikenakan Maura menunjukan jelas bahwa ia tak memakai lagi kalung yang diberikan Ben padanya. Saat mata Ben semakin ke bawa menatap jari-jari Faith yang memegang dompetnya dengan kedua tangannya, Ben pun semakin sakit hati saat melihat tak ada lagi cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Maura.


Merasa dirinya diperhatikan oleh Ben, Maura menatap pria itu dengan seringai kebencian. Namun ketika mata mereka bertemu, ada kehangatan yang terpancar dari mata Ben, menyusup hangat ke hati Maura yang dipenuhi oleh berbagai rasa.


Maura menunduk sedikit, matanya nanar menatap tangan Ben yang terletak di atas meja dengan kilatan cincin pernikahan mereka yang masih melingkar di jari manis lelaki tampan itu.


"Cepatlah tanda tangan. Apalagi yang kau tungguh? Aku ingin hubungan diantara kita jelas sehingga aku dapat membuka hatiku kembali untuk orang lain" Kata Maura tegas namun tanpa memandang ke arah Ben.


Ben tiba-tiba berdiri. Ia berjalan ke arah Maura dan berdiri tepat di depan istrinya itu.


"Tatap aku dan katakan kalau kau memang tidak mencintaiku!" kata Ben pelan namun sangat menggetarkan hati Maura.


Ben tersenyum.Tangannya terangkat hendak menyentuh wajah Maura namun perempuan itu dengan cepat memalingkan wajahnya sehingga tangan Ben akhirnya mengambang diudara.


"Pergilah! Jika memang kau ingin pergi dariku. Menjauhlah, sejauh jarak yang ingin kau bentangkan diantara kita. Tapi aku percaya itu semua tak akan membunuh semua yang telah tumbuh dihatimu tentang aku. Kau mencintaiku, Maura!" kata Ben lalu menyentuh tangan Maura.


Maura mundur beberapa langkah sekaligus melepaskan tangannya dari genggaman Ben.


"Kau selalu begitu yakin kalau aku mencintaimu?" Maura tersenyum sinis.


"Ya!"


"Tanda tanganlah surat perceraian itu!"


"Pergilah! Aku akan membacanya sebelum menandatnganinya. Aku pastikan besok kau akan mendapatkan salinan akte perceraian kita"


Maura membalikan badannya dan melangkah pergi. Tapi di depan pintu ia berbalik.


"Besok, akan ku kirim semua perhiasan yang pernah kau berikan padaku. Aku juga akan meminta sopir papa untuk menjemput motorku yang masih ada di garasimu"


"Ambilah apa yang harus kau ambil. Dan kembalikan apa yang ingin kau kembalikan. Karena aku melepaskanmu dengan ikhlas"


Maura segera membuka pintu dan melangkah keluar dari ruang kerja Ben. Ia tak ingin Ben melihatnya menangis.


"Maura...!" Faith yang ada di loby menahan tangan Maura.

__ADS_1


"Aku mau pulang nyonya Thomson!" kata Maura sambil menarik tangannya yang dipegang Faith.


"Kau harus mendengarkan kebenarannya. Foto itu...!"


"Biarkan dia pergi, Faith.!" teriak Ben memotong ucapan Faith. Ia sudah berdiri di belakang Maura.


"Tapi Ben....!"


"Kami sudah sepakat untuk berpisah. Ada atau tidak adanya penjelasan itu" imbuh Ben dengan suara tegas.


Faith nampak kesal. Apalagi saat Maura kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Lerrry pengacaranya.


"Kau bodoh, Ben. Kau mencintainya dan kau melepaskannya?" kata Ficlen yang sudah berdiri diantara mereka.


Ben tersenyum " Mari ke ruanganku, Fic. Kita akan membicarakan tentang dokumen yang harus ku tandatangani itu"


Faith memandang Ben dengan wajah kesal "Fic benar. Kau memang bodoh. Bule yang sangat bodoh!" umpat Faith dalam bahasa Indonesia lalu segera meninggalkan Ben san Ficlen.


"Dia bilang apa?" tanya Ficlen bingung.


"Dia bilang aku sangat ganteng!" jawab Ben asal sambil tertawa lalu melangkah kembali ke ruangannya.


********


Ezekiel membelai punggung polos Faith yang tidur membelakanginya. Mereka berdua baru saja saling melepaskan diri dari keintiman yang menggairahkan.


"Sayang..., kau belum tidurkan? Ada sesuatu yang membuatmu bersedih?"


Faith membalikan tubuhnya. Menatap Ezekiel yang sedang menantinya dengan tatapan lembut yang menyejukan hati.


"Aku memikirkan, Ben"


"Kau memikirkan pria lain di kamar tempat peraduan kita? Kau tahu aku ini adalah pria pencemburu kan?"


Faith tersenyum. Tangannya yang satu menarik selimut yang sedikit melorot sedangkan tangannya yang lain membelai wajah tampan suaminya.


"Jangan marah, ya. Aku hanya kesal saja memikirkan sikap Ben yang kesannya masa bodoh."


Ezekiel menatap istrinya "Apa yang akan kamu lakukan?"


Faith tersenyum. Ia senang Ezekiel mengerti isi hatinya.


"Aku bolehkan berbicara dengan Maura? Aku janji takan melanggar janji yang sudah kuucapkan pada Ben"


Ezekiel mengangguk "Boleh. Asalkan kau harus melakukan satu hal dulu"


"Apa?" tanya Faith penasaran. Namun sedetik kemudian dia langsung berteriak dengan kaget karena selimut yang menutupi tubuhnya sudah ditarik dan dilemparkan Ezekiel ke atas lantai.


*Dasar suka sekali memaanfaatkan kesempatan


MAKASI SUDAH BACA...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA*???


__ADS_2