My Best Photo

My Best Photo
Pagelaran Busana


__ADS_3

Selesai berendam dengan sabun aroma terapi, Maura keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk ditubuhnya. Ia memilih baju rumah dan berdiri di depan kaca sambil membuka handuknya.


Apa ini? Kenapa dileherku ada tanda merah?


Apakah semalam aku beneran bercinta dengam Ben? Tapi, tadi malam aku hanya mimpi kan? Mana mungkin bercinta dalam mimpi dan bisa menghasilkan tanda merah ini?


Maura langsung mengambil hp nya. Ia menghubungi Ben.


"Hallo sayang..." sapa Ben dari seberang.


"Ben, semalam kamu nggak pulang ke apartemen kan?"


"Kenapa memangnya? kamu ke apartemen ya?"


"Eh.....nggak. Aku....bye...Ben..." Maura menutup percakapan dengan bingung. Ia tak tahu harus bertanya apa pada Ben. Membicarakan tentang mimpinya yang seperti kenyataan itu justru akan membuat Maura kehilangan akal sehatnya.


Di pegangnya tanda merah dilehernya itu. Ia benar-benar tak mengingat kalau kejadian itu sungguh terjadi.


Maura terpaksa membuka rambutnya yang diikatnya untuk menutupi bagian lehernya yang merah. Setelah mengenakan pakaiannya, ia pun turun ke bawa.


Nampak Naomi yang sedang memasak.


"Good morning, miss" sapa Naomi sopan.


"Good morning" balas Maura sambil mencium pipi Naomi.


Pelayan berkulit hitam itu tersenyum senang. Maura memang menyayanginya. Bahkan suka memberikan bonus pada Naomi.


"Kemana semalam? kenapa tidak pulang? Wah sudah baikan sama tuan Ben ya...?" goda Naomi.


"Tidak. Aku memang ke apartemennya. Namun Ben sedang keluar kota." Maura menuangkan susu ke gelasnya.


"Terus....tanda merah di leher itu..."


Maura membetulkan letak rambutanya "Ini alergiku"


Naomi tersenyum. Sambil menyiapkan sarapan Maura, wanita berusia 50an itu bicara.


"Nona, apakah nona mencintai tuan Ben?"


"Ya" jawab Maura.


"Kenapa tidak tinggal bersama?"


"Karena dia belum mencintaiku"


"Nona ingin tuan Ben mencintai nona kan?"


"Tentu saja. "


"Jangan jauh darinya, nona. Bagaimana ia akan jatuh cinta pada nona kalau nona menjauhinya. Seperti ada yang bilang, supaya mendapatkan hangatnya, kita harus mendekati sumber apinya. Tuan Ben akan merasakan hangatnya cinta nona kalau nona ada didekatnya."


Maura menatap Naomi dengan wajah serius "Tapi Naomi, aku ingin Ben yang merasakan membutuhkan aku. Aku ingin Ben yang tergila-gila padaku. Aku ingin Ben yang mengejar-ngejar aku."


"Nona...., apakah nona juga sudah jujur mengatakan perasaan nona pada tuan Ben?"


"Dia itu playboy pastilah tahu bagaimana menebak isi hati seorang gadis"


Naomi menggelengkan kepalanya. "Kalau nona begini terus, jangan marah kalau muncul gadis lain yang mampu mencuri perhatian tuan Ben."


"Naomi.....!" Maura protes.


"Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tuan Ben laki-laki normal yang membutuhkan kehangatan dari seorang wanita. Pekerjaannya membuat dia bisa mendapatkan banyak kesempatan bertemu wanita cantik, menarik dan yang pasti selalu ingin mendapatkan laki-laki seperti Ben."


Maura diam mendengarkan perkataan Naomi. Apa yang Naomi katakan ada benarnya juga. Tapi disatu sisi Maura ingin Ben mencintainya secara benar. Maura ingin Ben menjadikannya sebagai wanita terakhir dalam hidupnya. Karena sesungguhnya Maura masih ragu dengan kesetiaan Ben padanya.


************


Alicia mengundang Maura untuk datang ke butiknya karena dia ingin memberikan beberapa gaun untuk menantunya itu.


"Mommy senang melihat kau datang" Alicia memeluk Maura dengan penuh kasih.


"Duduklah, nak" ujarnya setelah pelukan itu berakhir.

__ADS_1


"Makasih, mom" Maura duduk berhadapan dengan mertuanya. Ia merasa agak canggung karena semenjak di pengadilan itu, baru kali ini mereka bertemu lagi.


"Mommy membuatkan beberapa gaun untukmu..


eh...sebentar ya, mommy jawab dulu panggilan ini" Alicia meraih hp nya.


"Hallo.....what? Oh...My God, what can i do now? ok...thanks for your attention. Bye..." wajah ceriah Alicia seketika menjadi sedih.


"What happen, mom?" tanya Maura.


"Salah satu orang kepercayaan mommy yang mengatur konsep panggung untuk peragaan busana mengalami kecelakaan dan sampai sekarang belum sadar. Laptopnya yang menyimpan semua konsep acara itu hilang saat kecelakaan. Mommy pusing mau cari siapa lagi? Peragaan busananya sudah dijadwalkan 5 hari lagi. Masa harus dibatalkan. Para model sudah siap. Aduh....mommy biasanya tinggal naik ke atas panggung menerima bunga. Semuanya sudah disiapkan olehnya" Alicia memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit.


"Mom....konsep seperti apa yang mommy inginkan?"


"Ini busana musim semi, jadi harus suasananya yang gembira. Penuh warna dan memiliki semangat yang membara. kenapa memangnya? Oh ya...kamu lulusan dibagian itu kan? Maura...tolong mommy ya..."


"Aku mau merekomendasikan temanku "


"No...mommy mau kamu! Mami ingat pernah diajak oleh Iriana saat menonton sebuah pagelaran seni dan kamu yang menjadi penata panggungnya. Itu sangat indah"


"Tapi mommy, aku masih amatiran. Sedangkan peragaan busana mommy skalanya internasional. Aku nanti membuat mommy malu" Maura merendah.


"Kita bersama yang akan membuatnya. Mulai malam ini, kau pindah dulu ke mansion mommy."


"Tapi...."


"Mommy tak akan bilang pada Ben, jika kamu ada di sana."


"Bolehkah aku melibatkan teman-teman dancerku dipanggung nanti?"


Alicia mengangguk "Semua mommy percayakan padamu"


Maura tersenyum senang. sudah lama ia merindukan membuat konsep panggung yang megah.


Setelah melihat koleksi baju yang akan diperagakan oleh Alicia, keduanya pulang ke mansion.


Ada perasaan lain yang Maura rasakan karena ia berada di kamar Ben. Rasanya ia semakin bersemangat untuk membuat konsepnya.


Satu malam Maura sibuk dengan laptopnya untuk mencoba menyiapkan segala sesuatunya. Untuk sesaat, ia melupakan kerinduannya untuk bersama, Ben.


"Siang ini kita akan rapat dengan tim mommy. Mereka akan menyiapkan apa yang kau butuhkan."


Maura pun semakin bersemangat. Ia menghubungi teman-temannya di The Crown. Tak butuh setengah hari, mereka semua sudah datang ke gedung tempat pelaksanaan peragaan busana. Teman-temannya sangat senang ketika Maura menjelaskan konsep acaranya. Mereka pun berjanji akan memberikan penampilan terbaik.


"Mommy, apakah kau bisa membujuk Arnold Manola untuk tampil?" tanya Maura.


Alicia mengangguk "Biar Ben yang mengurus itu"


**********


Maura memperhatikan para model yang akan memperagakan busana rancangan mertuanya. Semuanya cantik dan nampak elegan.


Hari ini karya pertamanya sebagai penata panggung akan ditampilkan. Maura agak tegang sehingga ia merasa perlu mengambil air putih.


Selama 5 hari ini, Ben pun sebenarnya selalu memperhatikan Maura. Bahkan ia sering memasuki kamar tempat Maura tidur. Melihatnya secara diam-diam. Dia akan pergi dari kamar itu ketika hari sudah menjelang subuh. Ia tak ingin Maura tahu kehadirannya di sana.


Seorang perempuan cantik nampak memasuki ruang tunggu itu. Dia adalah seorang model ternama.


"Patricia.....apa kabarmu sayang?" Alicia senang melihat Patricia Monde, model ternama itu kembali lagi ke agensinya.


"Aku baik, tente."


"Senang sekali kau bergabung lagi di sini


Minggu depan, kau sudah bisa tampil bersama yang lain. Hari ini kau jadi penonton dulu ya?"


Patricia mengangguk.


Ben yang datang ke ruangan itu untuk mencari Maura terkejut sàat melihat mantan pacarnya Patricia ada di sana.


"Ben....i miss you so much..!" teriak Patricia dan langsung memeluk Ben.


Maura yang baru saja masuk ke ruangan itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Melihat ada perempuan cantik yang memeluk Ben sungguh menyakitkan hatinya. Apalagi dengan genitnya perempuan itu mencium pipi Ben dengan gemas. Dan Ben hanya tersenyum mendapatkan ciuman itu.


Dasar genit, aku ingin mencabik-cabik wajahnya


"Maura sayang.....!" panggil Alicia.


Ben dan Patricia sama-sama menoleh. Saat melihat Maura, Ben segera mendekat.


"Hai sayang..!" sapanya manis sambil menghadiahkan ciuman didahi Maura.


Patricia sedikit kecewa melihat hal itu. Ia takpercaya kalau yang dikatakan orang benar bahwa Ben akhirnya menikah.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Alicia.


"Ya. 15 menit lagi akan dimulai" kata Maura berusaha menenangkan debaran di hatinya. Jujur, ia rindu pada Ben.


Alicia segera mengajak Patricia untuk ke depan. Ia sengaja ingin memberi waktu bagi Ben dan Maura.


"Panggungnya cantik. Aku suka" kata Ben.


"Makasih. Aku sebenarnya sedikit gugup"


"Kamu pasti bisa sayang....aku berdoa yang terbaik untukmu" Ben menyentuh wajah Maura "Setelah ini, istirahat yang banyak ya. Matamu terlihat lelah"


"Terima kasih atas perhatianmu. Aku ke belakang panggung dulu ya..."Maura melangkah namun Ben tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Apakah kau tidak merindukan aku?" tanya Ben sedikit berbisik.


Aku selalu merindukanmu, Ben.


Maura melepaskan tangan Ben yang melingkar dipinggangnya. "Aku harus kerja, Ben" ucap Maura lalu segera pergi.


Dasar keras kepala. Dia masih saja bertahan sekalipun merindukan aku.


Ben pun segera menuju ke ruang tempat pelaksanaan busana.


Penampilan The Crown membuka peragaan busana malam ini. Tak lama kemudian para model mulai muncul satu persatu. Panggung terlihat seperti taman bunga yang indah. Permainan lampu dan gambar yang ada membuat semua pengunjung seperti menikmati senja di sebuah taman.


Penampilan Arnold Manola yang hadir di sana membuat pagelaran busana ini menjadi tambah meriah.


Semua pun bertepuk tangan saat Alicia naik ke ata panggung menandakan pagelaran busana ini sudah selesai.


Selesai paragaan busana, mereka pun disugukan dengan jamuan makan malam.


Maura melihat banyak orang terkenal yang hadir malam ini. Ibu mertuanya itu memang perancang hebat. Maura kagum padanya.


"Panggung yang sangat indah. Aku suka sekali. Ada team dancernya, ada penyanyinya"


"Ya. Panggungnya terlihat sangat alami. Aku dengar kalau yang menjadi penata panggungnya adalah menantunya Alicia."


Maura sedikit merona mendengar berbagai pujian untuknya. Ia menatap Letty yang berdiri di sampingnya.


"Semua menyukai konsep panggungnya. Kau hebat temanku" puji Letty.


"Kalian juga hebat. Oh ya siapa yang mensponsori kalian sehingga tetap latihan?"


"Alan. Dia menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi club. Kami akan ikut lomba ke Amerika"


"Semoga sukses ya..."


"Kami merindukanmu"


"Aku juga. Tapi aku memang sudah tak bisa bersama kalian."


"Kami mengerti sayang...."Letty tersenyum sehingga membuat wajah sedih Maura kembali tersenyum juga.


Maura pun berpamitan pada teman-temannya. Ia bermaksud akan ke bagia lain ruangan. Ia mencari Ben.


Langkah Maura terhenti melihat Ben sedang berdiri di salah satu sudut bersama Patricia. Keduanya nampak tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan namun mereka nampak bahagia.


Kenapa hatiku sakit ya ?


MAKASI SUDAH BACA BAGIAN INI

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA


__ADS_2